Posted by : Unknown Selasa, 08 April 2014


Kau pembohong.
Secercah sinar  yang tiap pagi kau hidangkan padaku adalah semu. Nyatanya, meja makanku kini kosong, dan aku pun sangat lapar akan senyummu yang memuaskan hati buasku tiap kupandang. Langkahmu yang menyelinap melewati senyap bagai alarm pagiku, yang kini aku meringkuk menantinya di atas kursi.

Kau adalah bayang yang diciptakan kesendirian yang lelah mendengar lolonganku yang kian mengerikan.
Pandangmu yang teduh hanya pendaran lampu yang tergantung di sudut. Pelukmu yang hangat tak lebih dari dekapan angin yang kian garang menggagahiku. Juga bibirmu yang merah semu... Ah! Aku tak kuasa mengungkapnya!

Kau sangat kejam.
Menerangiku dengan secercah lilin harapan, lalu menelanku pada kenyataan yang dulu kuacuhkan. Berkata padaku bahwa semuanya baik-baik saja, bahwa angin dingin tak akan lagi menyergapku karena kau akan selalu memelukku.

"Kau tidak berbohong. Dunialah yang berbohong padamu," katamu sebelum hilang kemarin.
Mana mungkin aku mempercayainya, jika kini hadirmu tak lebih dari keheningan yang membisu. Aku seorang pembohong yang dipasung kebohonganku sendiri, dan kamu... mungkin kamu adalah semu yang dibuat untuk mengingatkan siapa diriku.

Aku hanyalah seonggok hati yang termakan kesendirian hingga menjadi buas, sementara kau bagaikan inti matahari yang menyinariku, memberiku harapan, memberitahuku bahwa setidaknya aku masih hidup. 

Atau mungkin saja... Kau adalah kebohonganku yang menjadi kenyataan?

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2013 Peziarah Kata - Shiroi - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -