Posted by : Unknown
Rabu, 09 April 2014
(ilustrasi. Sumber: kaskus.co.id)
Teriakmu aku gila,
Saat aku tertawa bahagia sambil bersuit-suit menyaksikan panggung sandiwara dunia. Kamu berkoar-koar memuntahkan kata-kata kasar pada pemeran sandiwara yang kalah, bukan pada yang salah. Karena mereka mengingatkan siapa dirimu.
Teriakmu aku gila,
Saat kusenyumi fajar yang sunyi, pada matahari yang meradang, pada senja tua, dan pada malam yang padam. Kamu mengaduh pada fajar yang terlalu subuh, mengerang pada matahari yang garang, lalu menjahit mimpi suram pada malam yang kelam.
Teriakmu aku bisu,
Saat persediaan senangku habis, kuisi waktuku dengan melipat diam. Kamu menjajakan kebusukan orang lain, agar sekiranya dapat mengais-ngais percakapan, karena kamu sangat bermusuhan dengan keheningan.
Teriakmu aku penakut,
Saat senyumku yang mulai terisi malah tercekat kilat yang merambat, aku tertunduk lalu duduk tepekur. Kamu malah mengumpat, dengan tegak mengenakan panji berani yang semu, padahal nyalimu terbirit-birit ke entah.
Teriakmu aku gila,
Tapi kenapa tiap malam kudengar kamu menggeluti frustasi dengan amarah saat aku mengulas senyum dalam lelap?
Lalu kenapa kaucibir tiap senyum tulus wajah-wajah yang hanya ingin beramah-tamah itu?
Kalau kamu merasa tersiksa hidup bersama derita, kenapa tidak kamu berubah saja menjadi gila sepertiku?
Lalu kita berdua akan menyantap malam dengan tawa, saling mengayomi saat angin menguliti. Bukankah dunia akan terasa lebih indah?
