Tampilkan postingan dengan label CERMIN. Tampilkan semua postingan
Kau tahu kalau bintang itu tipuan mata
terbesar di jagat raya?
Bintang yang kau lihat pada malam hari bukanlah
bintang yang sesungguhnya. Yang kau
lihat hanyalah wujud sinar bintang yang melewati jarak jutaan tahun cahaya.
Misalnya, jika malam ini kau lihat bintang
yang berjarak dua juta tahun cahaya, itu artinya, bintang yang kau lihat adalah
bintang dua tahun lalu.
Bagiku sendiri, sebetulnya ada hal yang—kurasa—lebih
pantas disematkan titel ‘Tipuan Mata Terbesar di Jagat Raya’ dibanding bintang. Kau
tahu apa itu?
Dirimu.
***
Pagi ini, sama seperti pagi-pagi lain yang
kulalui selama tujuh belas tahun ini, langit tetaplah biru. Kau duduk di sana, di
atas meja bambu di dekat pohon di samping kelasku, dengan wajah penuh warna. Dapat
dengan jelas kulihat, matamu yang mengayunkan cinta, rambut hitammu yang kau
pangkas sebahu, serta senyumanmu yang lugu, seperti anak panda yang habis
mengunyah bambu.
Aku tanpa kesadaranku tiba-tiba bergerak ke
arahmu. Gegas kuhiraukan buku yang belum sempat kusimpan dengan baik di atas meja.
Jangan salahkan kedua tanganku ini yang begitu tak tahu diri ini karena coba
mengapaimu, sebab angin membisikkan deru napasmu, dan dedaunan yang saling
bergesekkan terus menyemangatiku.
Terhitung baru tiga langkah dari pintu kelas,
saat kudengar satu suara memanggil namamu, aku terpaku.
“Lina, ayo ke kelas,” ajak lelaki itu.
Secara tiba-tiba kau menjauh. Antara tanah
yang kau pijak dan tanah yang kuinjak terbentang bidang hitam yang tak terkira
luasnya. Seolah jika satu senti saja aku mencoba menapaki bidang hitam itu, aku
akan tenggelam dalam kegelapan.
Aku masih terpaku saat kau bangkit dan tersenyum
pada lelaki itu.
Dapat dengan jelas kulihat, matamu yang
mengayunkan cinta, rambut hitammu yang kau pangkas sebahu, serta senyumanmu
yang lugu, seperti anak panda yang habis mengunyah bambu. Tapi, semua itu
bukanlah untukku. Semua itu untuk lelaki yang berjalan di sampingmu.
Kau tahu bukan, kalau bintang itu tipuan mata
terbesar di jagat raya?
Bagiku, kaulah tipuan terbesar di jagat raya.
Kau yang kulihat bukanlah dirimu yang
sekarang; kau yang kulihat adalah dirimu tiga tahun lalu, saat masih jadi
kekasihku. []
Catatan :
[Cerita ini ikut meramaikan tantangan @KampusFiksi bertema #FiksiBuatPacarku]
Nama tokoh cewek dalam cerita ini Lina. Hmm,
sebenarnya Lina itu empat huruf yang saya ambil dan saya susun ulang dari nama
seorang cewek yang selama ini terus saya kagumi. Saya belum sempat jadi pacarnya,
hehehehe.
Banyak sih yang ingin ditulis. Tapi, karena ‘dia’
juga pasti baca cerita ini, lebih baik jangan ditulis semua deh, bisa kepayahan
saya nanti, ckckck. Satu saja yang ingin saya sampaikan, mengutip lagu Perfect Time dari Sheila On 7:
There is always a way for love
But sometimes not on the same road
Dreaming is the only land
Fits for you and me
Tipuan Mata Terbesar di Jagat Raya
Ice Cream
Kamu masih tepekur di sudut terjauh taman. Dengan buku tempo hari , hanya saja jemarimu kini terselip agak
jauh ke belakang.
Tubuhmu masih kokoh. Tak bergerak sedikit pun meski
kursi yang kamu duduki itu rapuh, seperti hubungan kita. Bahkan hingga jarak
kita tersisa satu langkah, kamu masih diam. Sampai kapan kamu akan tetap diam?
Lamat kupandangi garis tenang yang kamu lukis di wajah cantik
seputih lilin itu. Begitu tenang, hingga tenggelam benar aku di sana. Lupa
untuk berenang ke permukaan, untuk membaca pesan hatimu pada dunia yang lama
kamu simpan.
Lalu angin mengaproksimasi perasaan kita. Saat bibir bunga dedap serta mata kopimu berputar menatapku,
berhasil kuintip sebatang ice cream masih terselip di saku kirimu. Sebuah pesan yang lama ingin kamu ucapkan.
I Scream.
ooOoo
#FiksiLaguKu
ini terinspirasi lagu Goose House – Photograph. Semoga pesan ini tersampaikan >_<
Ice Cream
Dunia tak pernah tahu kalau lintasan rel selalu membisikkan rahasia.
Di bawah teriknya guyuran sinar matahari adalah saat terbaik untuk
berjalan di atas rel. Biar sekalian beberapa kenangan ikut menguap. Hei, coba
tilap beberapa helai rambut hitammu. Siapa tahu ada rindu yang terjatuh. Iris
hitammu tak bergetar. Bibir yang merekah bagai kelopak mawar itu tetap saja
segar, seperti kedua pipimu yang mulus. Benar-benar belum berubah.
Sudah berapa lama kita berjalan? Sudah berapa banyak kenangan yang kita
injak? Entahlah. Kita menolak mengetahuinya.
Terus kutendangi kerikil yang berkumpul di sekitar, siapa tahu ada masa
lalu yang mengelupas. Oh, lihat! Kristal berwarna biru yang bersinar itu.
Cantik, bukan? Tapi, kenapa benda secantik itu dibuang?
Tak tahu, katamu?
Ah, dasar. Bukankah kristal itu bagai serpihan kenangan kita? Berkilau.
Indah. Langka. Lalu, kenapa pula harus dihancurkan?
Ya. Kamu benar. Tak perlu alasan untuk itu.
Lihat! Bukankah itu koin kuno? Ah, indahnya... meski berdebu, terinjak,
terlindas, dan terbuang, koin ini tetap berharga kok.
Eh? Sama seperti hubungan kita?
Ah, ya... maaf memaksamu mengingatnya. Sakit, bukan? Aku juga.
Tapi... manusia mana yang mau hatinya sakit?
Apa kamu merasa gerah? Kalau aku, ya. Dijejali perasaan yang begitu
sesak. Kamu juga?
Sudah berapa meter kita lipat kenangan kita? Bukankah kita sudah cukup
jauh berjalan di atas rel—yang kamu sebut lintasan cinta ini? Seratus meter?
Lima ratus meter? Ah, mungkin seribu meter baru saja terinjak. Tapi, masih ada
sesuatu yang hilang.
Bukan cinta, tapi alasan.
Kenapa dulu—bahkan sekarang aku begitu mencintaimu?
***
Trivia :
Flashfic ini aku buat karena lelah tak kunjung menemukan tentang Benteng Aldimir atau festival Lamia yang ada di Bulgaria... Dan penulisannya, aku baru jatuh cinta pada gaya bertuturnya Sayuri di novel Girls in The Dark. (Tentang dua hal yang sedang kucaritahu itu pun dapet dari novel ini)
Meski pun masih jauh di bawah penulisan Akiyoshi-sensei, tapi aku akan terus berlatih!!!
Di Antara Rel
Akui saja, kawan, aku yakin sebenarnya kau takut.
Tak masalah jika kau mengakuinya, karena kuakui, aku juga takut.
Kita berdua akan melangkah ke entah, hanya didampingi pengetahuan dan
kemauan yang menggebu-gebu meminta lagi dan lagi. Kutatap langit barat,
sementara kau siap melangkah ke langit timur. Kita akan berpisah.
Kita duduk di salah satu kursi bandara, canda dan tawa kita saling
merangkul. Kuharap bukan untuk yang terakhir kalinya. Berbincang tentang masa
lalu yang tersusun rapi di langit bersih pagi ini, sesekali terdiam. Merenung.
Aku tahu langkah kita berat.
Kita pernah membahas ini, bukan?
Tentang ketakutan kita yang sama. Takut tersesat saat tak ada yang
mengayomi di tengah badai keasingan. Saat membaca di kegelapan hening, kita
takut langkah kita salah. Lalu kita akan menangis dalam diam, menyesali
perpisahan kita.
Tapi tak masalah, kawan. Sendiri bukan berarti tersesat, dan tersesat tak
selalu sendiri. Kalau kau ragu, coba kau rangkai kesendirianmu menyerupaiku,
yang akan selalu setia mendengarmu. Aku pun akan melakukan bersama.
Jika kau merasa hilang dalam kegelapan rasa takut, dengarlah suaraku yang
akan dihantarkan angin. Kita akan saling menyemangati dalam damai. Bukankah kau
sendiri yang selalu mengatakan kalau dalam kegelapan, atau pun kesendirian
selalu ada kedamaian? Nah, pada saat itulah suaraku akan mendatangimu.
Panggilan pesawatmu terdengar. Kopermu siap kau seret, saat jabatan
tanganmu terasa hangat dan bergetar. Banyak rasa tercampur. Takut. Sedih.
Rindu. Senang. Entah rasa apalagi yang tak bisa kujelaskan dalam sekian detik
jabatmu.
Lalu kau melambaikan tanganmu.
Hingga saat terakhir, kau terus tersenyum. Tidakkah kau merasa sedih
sepertiku? Jujur saja, jika saja aku perempuan, akan kupeluk tubuhmu dengan
tangisku selama mungkin, tak peduli pada apa kata orang. Hingga akan terlepas
saat kau meminta.
Tapi kita lelaki, dan ego kita masih terlalu tebal melapisi wajah kita
yang terus menautkan senyum miris.
Tanpa kuduga, kau kembali. Menyodorkan kepalan tanganmu sambil tersenyum
padaku.
“Kawan, ayo kita bertemu lagi. Lalu akan kutunjukkan bidadari yang
kudapat selama belajar. Kau juga, oke?”
Kuadukan kepalan tanganku yang meringis.
“Ya, ayo kita lakukan.”
Salam Perpisahan
Secercah sinar yang tiap pagi kau hidangkan padaku adalah semu. Nyatanya, meja makanku kini kosong, dan aku pun sangat lapar akan senyummu yang memuaskan hati buasku tiap kupandang. Langkahmu yang menyelinap melewati senyap bagai alarm pagiku, yang kini aku meringkuk menantinya di atas kursi.
Kau adalah bayang yang diciptakan kesendirian yang lelah mendengar lolonganku yang kian mengerikan.
Pandangmu yang teduh hanya pendaran lampu yang tergantung di sudut. Pelukmu yang hangat tak lebih dari dekapan angin yang kian garang menggagahiku. Juga bibirmu yang merah semu... Ah! Aku tak kuasa mengungkapnya!
Kau sangat kejam.
Menerangiku dengan secercah lilin harapan, lalu menelanku pada kenyataan yang dulu kuacuhkan. Berkata padaku bahwa semuanya baik-baik saja, bahwa angin dingin tak akan lagi menyergapku karena kau akan selalu memelukku.
"Kau tidak berbohong. Dunialah yang berbohong padamu," katamu sebelum hilang kemarin.
Mana mungkin aku mempercayainya, jika kini hadirmu tak lebih dari keheningan yang membisu. Aku seorang pembohong yang dipasung kebohonganku sendiri, dan kamu... mungkin kamu adalah semu yang dibuat untuk mengingatkan siapa diriku.
Aku hanyalah seonggok hati yang termakan kesendirian hingga menjadi buas, sementara kau bagaikan inti matahari yang menyinariku, memberiku harapan, memberitahuku bahwa setidaknya aku masih hidup.
Atau mungkin saja... Kau adalah kebohonganku yang menjadi kenyataan?
Pembohong
*Tulisan ini buat tantangan dari @kampusfiksi tentang #DeskripsiSetting*
***
(1)
***
Hingar bingar
kota mulai redup seiring langkahku yang menjauh. Selesai kudaki bukit yang
cukup tinggi ini, angin malam langsung menyambutku dengan dinginnya. Membuatku
makin merapatkan jaket.
Mataku
beringsut membesar saat kusadari bangunan itu tampak begitu indah. Tokyo Tower.
Ia bagaikan matahari yang menyinari Tokyo di malam hari, sementara
gedung-gedung di sekelilingnya—yang semuanya nyaris mengeluarkan cahaya biru,
bagaikan planet dan asteroid yang mengelilinginya.
Bising sudah
lenyap. Bau kehidupan pun nyaris tak tercium di sini. Yakinlah aku sekarang,
Tokyo Tower benar-benar nyawa kota Tokyo, membuat kota ini bernyawa dan
berwarna, yang kemudian memaksaku mengingat seseorang.
Hiyori…
Baru saja
kusadari satu hal, nyaris tak ada bintang yang terlihat. Pasti kalah terang
dibanding kota ini.
Ah, aku tak
bisa berlama-lama memandangi bangunan itu, yang benar-benar mirip dengan Hiyori
bagiku. Pemberi kehidupan, pemberi warna, penawar hambar, begitu menyilaukan.
Untuk
terakhir kalinya, kutatap selama mungkin bangunan yang terangnya masih tak
berkurang itu. Tak ada bangunan lain yang setara dengannya. Sesaat setelahnya,
sebuah pertanyaan menggelitik meloncati pikiranku.
Apa Tokyo
Tower tidak merasa kesepian?
LIFE
“Nanti malam, di saung”
Seutas senyum mengembang di wajah gadis bernama Ernita itu. Setelah
melakukan janji jari kelingking, dia melangkah pergi, dengan perasaan riang
yang meledak.
Laki-laki yang tadi berjanji dengannya—Aoki—tiba-tiba teringat sesuatu.
“Jangan lupa janji kita. Pikirkan dengan baik! Hanya satu permintaan!”
teriaknya pada sosok gadis yang sudah nampak blur di matanya yang rabun tanpa
kacamata.
Ernita membalikkan badannya, melambaikan tangan dan senyumnya. “Tentu
saja. Aku akan meminta hal terbaik”
***
Ernita menghempas tubuhnya ke kasurnya yang berwarnakan biru. Dia
meregangkan kedua tangannya, dan menghela nafas panjang. Masih jelas terasa kebahagiaan
di rongga-rongga hatinya.
Hari terakhir di tahun 2013 terasa begitu indah baginya. Sesuatu janji Aoki,
pada penghujung tahun, mereka akan bertukar satu permintaan yang harus
dikabulkan, selama masuk akal. Selain meminta satu permintaan, mereka juga
harus memberikan sesuatu, sebagai kenangan di tahun 2013. Itulah janji yang
mereka buat, 2 bulan lalu.
Apa yang harus kuminta? Dan apa
yang harus kuberikan?
Ernita masih kebingungan dengan permintaannya, dan juga hadiah yang
akan ia berikan. Rasanya tak mungkin memberikan koleksi boneka beruangnya pada
seorang atlet basket berdarah Jepang. Tak mungkin juga memberinya koleksi
komiknya, walaupun Aoki seorang keturunan negeri manga itu.
Kembali Ernita menghela nafas, karena tak kunjung menemukan ide. Lantas
mendesah pelan, dan menatap lemari coklat yang ada di dekat pintu.
Ia bangkit, dan mengacak-acak isi lemari itu, berharap menemukan
sesuatu yang tepat.
***



