Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan
Saya menulis
ini diakibatkan sebuah keinginan tertawa saat mengingat kejadian sewaktu UAS
beberapa hari kemarin, tepatnya pada saat pelajaran PLH, yang paradoks dengan
postingan di halaman facebook saya malam ini.
Karena saya
tipe orang yang suka good ending, maka, kita awali saja dengan hal ini.
Ada sebuah
kejadian yang mengejutkan, tentang tweet Ustadz Yusuf Mansur yang isinya
mengkritisi sebuah postingan yang muncul di laman sebuah portal berita online,
yang secara sengaja saya tidak cantumkan agar tidak menimbulkan dikotomis yang
makin panjang.
Intinya,
berita itu seolah-olah berkata kalau cara berdo’a di sekolah akan diganti,
karena dianggap tidak BerkeTuhanan Yang Masa Esa, melainkan berdasarkan tradisi
satu agama, dalam hal ini Islam. Dan, masih dalam kutipan berita itu, Anies
Baswedan mengatakan sedang mengkaji perubahan tata cara berdo’a yang sekarang
diterapkan.
Nah, usai
Ustadz Yusuf Mansur men-tweet protesnya terhadap postingan itu, malam
harinya, Pak Anies menghubungi Ustadz guna klarifikasi. Intinya, portal berita
itu salah kutip. Saat itu juga Ustadz langsung mengumumkan klarifikasi itu. Clear.
Padahal
cerita kita ini sudah usai dengan happy ending, di mana Ustadz Yusuf
Mansur dengan elegan menampilkan secara sederhana dan kentara tentang
kerendahan hati dan berani meminta maaf.
Pun dengan pak Anies yang fast response menanggapi berita ini.
Tapi, eh
tapi, pembaca sepertinya kurang puas, seolah meminta halaman lebih setelah
epilog. Maka, bermunculanlah berbagai postingan berbau ‘miring’ (Sebetulnya
saya heran, sejak kapan miring jadi keluarga bebauan?) yang dengan konyolnya,
bukan lagi membahas tentang masalah aqidah, tapi malah menyeretnya ke
ranah politik.
’Kan lucu,’ lalu saya
ingat dialek khusus pak Tantan, lengkap dengan gerakan tangannya. Ya, amat lucu
sekaligus mengerikan memang, saat sebuah perdamaian malah dipakai meruncingkan
dikotomi; memanasi hal yang memang sudah panas.
Tak berhenti
sampai di situ, pada saat saya iseng membuka facebook guna mengontak
seorang kawan, di beranda saya dengan jelas ada seorang kawan—yang nama dan
suaranya disamarkan seperti acara investigasi di The Snow White Murder
Case—menyebar postingan dari situs abal-abal, sambil menambahkan kalimat
beraroma marah yang kira-kira barang tentu tidak pantas saya ungkit kembali.
Intinya, kawan saya ini marah pada Pemerintahan Jokowi berlandaskan berita
tanggapan orang lain terhadap kasus Ustadz Yusuf Mansur – pak Anies Baswedan.
Saya dengan
kalem berkata, “Bro, kita berantem aja, yuk!” eh, salah. Maksud saya, kira-kira
begini: “Soal ini, Pak Anies sudah klarifikasi. Intinya, penulis berita itu
salah kutip. Sila cek tweet Ustadz Yusuf Mansur.” Dan, sampai saat
tulisan ini diposting, kawan saya itu belum menjawab komentar saya. Mungkin dia
sedang asyik menggandrungi ranah twitter yang mengasyikkan itu.
Malah, ada
lagi salah seorang kawan, lagi-lagi kawan facebook, yang memposting
berita senada dengan kawan saya di atas, yakni kalau kita sekarang sedang diuji
reaksi terhadap sebuah kebijakan. Situsnya tidak akan saya beritahu, karena
nanti banyak sapi yang memakan rumput di pekarangan rumah.
Apa yang
menarik dari dua kawan saya diatas adalah, bagaimana reaksi marah mereka tanpa
fondasi yang kokoh. Ya, tanpa fondasi yang jelas, pendapatnya pun tidak rapi,
cacat logika, baik dilihat dari sudut diakronik maupun sinkronik. Kenapa? Karena mereka belum tahu berita yang
sebetulnya, mungkin juga mereka tidak punya waktu untuk berstereotip, karena
sibuk menyapu isi kepala mereka yang berbunyi “Kelentang, Kelentong.” tiap
digoncangkan.
Marah mereka
sungguh tak rasional di mata saya. Seolah baru melihat separuh Interstellar,
lalu pergi dan membuat review, “Awal Interstellar itu gak jelas, masa’
film scifi tapi ngebahas hantu yang ngejatuhin buku?” padahal semua itu
dibahas di ending film. Sama seperti mereka, tak tahu alur ceritanya,
bahkan tak tahu kalau ending-nya sudah happy antara Ustadz Yusuf
Mansur dan pak Anies Baswedan.
Nah, bagian
pertama sudah, sekarang kita ngelantur di bagian kedua.
Jadi,
ceritanya, saya lagi UAS di hari keentah, yang jelas mata pelajarannya PLH. Di
soal essay, ada sebuah pertanyaan yang kira-kira begini: “Jika ada teman
sekolahmu yang membuang sampah sembarangan dan melakukan vandalisme. Langkah
apa yang akan kamu lakukan?”
Saya, dengan
ngawurnya langsung mengambil pulpen dan menulis di LJU, sampai lupa membuka
tutup pulpennya. Eh, ternyata habis. Yasudah saya pakai pensil saja. Dengan
penuh semangat dan dengan bibir yang terus menyeringai, saya tak henti menulis,
sampai kira-kira tiga menit kemudian, selesai. Bangga betul saya dengan jawaban
saya.
Lalu jawaban
itu saya putar ke beberapa orang. (Kebetulan pengawasnya santai-santai saja),
dan semua orang tersenyum, ada beberapa yang tertawa. Entah menertawakan
kebodohan saya, atau sepaham dengan saya betapa konyolnya pertanyaan ini.
Awalnya
jawaban saya begini:
Saya
prihatin. Awalnya saya mau menulis #BukanUrusanSaya, tapi saya urungkan. Jadi,
inilah yang akan saya lakukan.
1) Menegurnya.
Ini merupakan langkah mudah.
2) Memungut
sampah yang dibuang teman saya itu. Meski pun tindakan ini membuat saya tampak
seperti seorang pecundang, tapi setelah saya pikir masak-masak, daripada saya
menegurnya lalu kami berantem dan masing-masing dari kami dapat Surat
Peringatan, alangkah bijaknya jika saya memungut sampahnya diam-diam.
Seperti
itulah jawaban saya. Lalu, pada saat saya memperlihatkan jawaban saya pada
seorang kawan—berinisial ‘I’, dengan riangnya dia merampas kertas saya, dan
membubuhkan kekoplakannya di atas LJU saya.
Kawan saya
itu menambahkan tulisan ini: “3) Saya juga akan joget harlem shake dengan
sampah untuk menunjukkan kepedulian saya terhadap lingkungan. Dan juga saya
akan membawa karung goni untuk memunguti sampah.”
Nah,
sekarang, apa yang dapat saya simpulkan dari kelakuan saya dan teman saya ini?
Ya. Kami memang koplak. Tak akan marah saya jika ada bilang saya ini bego, atau
bodoh, barangkali dungu, atau memang dungu. Saya tak peduli.
Yang ingin
saya katakan, kenapa saya menulis jawaban seperti itu? Alasannya mudah. Karena
saya terlalu lama menulis omong kosong di tiap ulangan. Mengadakan seminar
tentang lingkungan? Menyadarkan betapa pentingnya lingkungan? Omong kosong!
Memang
berapa kali Pembina Upacara ngomel tentang kebersihan? Lalu, apa hasilnya?
Nihil.
Jadi, saya
kira, kita ini butuh jawaban yang dapat dilaksanakan secara konkrit dan real
dan tidak melulu itu-itu saja. Teman saya malah lebih gila. Poin ketiga itu
menyiratkan kalau “kepedulian” kita terhadap lingkungan hanya ada di mulut,
terselip di antara jigong dan kebohongan esok hari.
Inilah yang
saya maksud dengan ‘Ngawur Yang Rasional’. Meski terkesan ngawur, tapi jawaban
saya memang betul adanya. Saya prihatin. Betul. Saya akan menegurnya. Ini kalau
orang yang membuang sampah / melakukan vandalisme itu tidak mudah marah. Dan
memungut sampahnya, itu pun kalau ada gadis yang saya suka.
Nah,
sebetulnya, apanya yang good ending dari tulisan ini? Padahal saya sudah
menulis kalau tulisan ini bakal good ending di awal.
Ah, biarlah.
Marah Yang Tak Rasional Dan Ngawur Yang Rasional
Entah harus saya mulai dari mana tulisan ini.
Banyak hal yang ingin saya sampaikan,
tapi saya terlalu malas untuk menulisnya dan Anda pun malas membaca artikel ini
jika kelewat panjang. Tapi, biarlah saya coba membagi pengalaman saya kali ini.
Dalam acara #KreatiFiksi yang digelar Klub
Buku Bogor dengan penerbit Moka Media, hadir dua pembicara, yakni mas AS.
Laksana dan Adam T. Fusama. Tak menarik rasanya jika saya bahas lengking speaker
yang amat mengganggu selama jalannya acara. Atau mungkin saja hal itu menarik,
bila diceritakan bukan oleh saya. Yang sampai pada kesimpulan kalau saya ini bukan
pencerita yang baik.
Oke. Saya tak memperhatikan berapa lama sesi
mas Sulak dalam acara ini, karena saya hanyut dalam pembicaraannya yang
terkesan ngawur. Yang jelas, mas Sulak membuka pembicaraan dengan Free
Writing dan sebuah statement yang menarik: Kecakapan seorang penulis
merupakan output. Sedangkan input-nya adalah bacaan.
Bacaan yang baik akan membuat seseorang
menelurkan karya yang baik pula. Saya setuju betul dengan pernyataan ini.
Dilanjutkan dengan sebuah pernyataan jenaka mas Sulak, bahwasanya seorang
dengan bacaan baik, ngawurnya saja akan bagus. Tentu, ngawur dalam konteks ini
bukan berarti membicarakan omong kosong yang amat sia-sia bila kita perhatikan.
Sebagai contoh, bila tiba-tiba kita bertemu
Anies Baswedan, kemudian bertanya tentang suatu hal, jawaban yang diberikan
beliau—yang sama sekali tidak pernah berencana menjawab pertanyaan kita—itu
pastilah pakem dan oke, tidak akan ngalor-ngidul, meski jawabannya ngawur.
Hemat saya, bacaan yang mempengaruhi pola
pikir—state of mind jika meminjam istilah Pak Edi—seseorang, yang secara
tidak langsung berdampak besar pada tulisannya.
Usai membicarakan soal ke-ngawur-an,
sebetulnya mas Sulak beralih ke pembicaraan tentang novel. Tapi itu nanti saja.
Saya sedang malas menyusun artikel ini secara sistematis. Jadi, hal yang akan
saya bahas selanjutnya tentang siapa itu penulis.
Layaknya bacaan yang mempengaruhi kualitas
tulisan seseorang, kebiasaan dan kedisiplinan pun sama pentingnya. Penulis
harus bisa memposisikan kegiatan menulis sebagai hal vital dalam kesehariannya,
layaknya kebutuhan makan dan minum, atau tidak minum kopi bagi pecinta kopi,
atau ngopi tanpa rokok, atau bernapas. Bahkan mas Sulak menyarankan kita
beranggapan seperti ini: “Kalau kita tidak menulis, umur kita berkurang. Barang
lima menit, saja.”
Tujuannya apa? Agar kita terbiasa menulis. Kita jadi tahu betapa penting kegiatan rutin menulis itu
sendiri bagi para penulis—yang mana sering kali dianggap enteng oleh penulis
amatir seperti saya. Bahkan, mas Sulak punya beberapa metode unik untuk membuatnya
tetap menulis setiap hari.
Jika beliau bangun di pagi hari, hal apa yang
ia lihat akan ia tulis. Entah itu cangkir, atau sendok, atau kopi, atau hujan,
bahkan ke-tidak-ada-an akan apa pun itu bisa saja ditulis. Ini disebut sebagai Free
Writing; Atau saat mas Sulak sedang bingung mau menulis apa, maka, beliau
akan mengambil stoples berisi kata yang ia tulis di secarik kertas. Beliau akan
mengambil tiga kertas, dan menulis barang satu paragraf dengan tiga kata itu. Bisa
juga menulis dengan cara menjawab pertanyaan 5W + 1H.
Mendekati akhir pembicaraan, beliau
memberikan sebuah analogi yang menggelitik.
“Penulis itu seharusnya menulis tiap hari,
seperti tukang bakso yang tiap hari berjualan bakso.”
Di bagian ini, kita sadari betapa perlunya
kita menjadikan menulis itu bukan lagi hanya menunggu mood, tapi sebagai
rutinitas. Sebuah kegiatan yang bilamana alfa kita kerjakan, tubuh akan
uring-uringan.
Agaknya bisa juga saya buat sebuah
kesimpulan, bahwa Writer’s Block itu memang tak pernah eksis. Dia hanya
ada pada mereka yang tak rajin menulis dan mengganggap pekerjaan mengarang itu
mudah.
Ya. Mengarang memang amat tidak mudah.
“Mereka yang mengatakan kalau mengarang itu
mudah pasti belum pernah menuliskan sesuatu yang bagus,” tegas mas Sulak.
Menulis itu pekerjaan yang membutuhkan
ketahanan diri yang amat luar biasa. Dan menurut mas Sulak, bagian paling
memakan waktu ialah membaca. Memperkaya ruang-ruang pemikiran dalam otak kita.
Menjejalkan diksi-diksi baru; metafora keren; belajar bagaimana pengarang lain
membuat sebuah kalimat.
Belum lagi, penulis juga haruslah menjadi
seorang pendongeng hebat yang dipercaya, seperti Ibu yang menyihir anaknya agar
percaya pada dongeng yang dibacakan sebelum tidur. Adalah wajar bagi penulis
untuk berbohong pada pembaca tentang beberapa hal, dan tugas penulislah agar
pembaca percaya pada hal fiktif yang ada dalam tulisannya.
Jenis tulisan itu ada dua: Yang membuat orang
berpikir, dan membuat orang hanyut di dalamnya. Sedang dalam urusan genre, mas
Sulak berucap kalau tidak tragedi, pasti komedi. Masalahnya, bagaimana cara
menyampaikan kebohongan yang dibungkus dalam bentuk beragam, entah itu rumit
atau mengalir, entah itu air mata atau tawa, agar disebut sebagai kenyataan
dalam pikiran pembaca.
Itulah beberapa kesulitan menjadi seorang
penulis. Tapi, tentu saja itu bisa diatasi dengan bacaan yang bagus dan
disiplin menulis yang teratur. Bakat memang diperlukan, tapi perlu sebuah batu
asah agar bakat itu menajam.
Penjual bakso berbakat, jika kerjaannya hanya
diam saja atau berkutat dengan buku resep bakso tanpa meraciknya sama sekali,
atau dia membuat baksonya, tapi tidak menjajakannya, pasti tak akan disebut
sebagai pembuat bakso enak. Begitu pun penulis. Akan jadi buang-buang waktu bila
ide tulisannya hanya mengambang begitu saja tanpa dituliskan, atau sudah
dituliskan tapi ditinggalkan lama-lama, hingga tak kunjung selesai, yang
menyebabkan namanya tak pernah dikenal sebagai pengarang ternama Indonesia.
Penulis Dan Tukang Bakso
(ilustrasi. Sumber: kaskus.co.id)
Teriakmu aku gila,
Saat aku tertawa bahagia sambil bersuit-suit menyaksikan panggung sandiwara dunia. Kamu berkoar-koar memuntahkan kata-kata kasar pada pemeran sandiwara yang kalah, bukan pada yang salah. Karena mereka mengingatkan siapa dirimu.
Teriakmu aku gila,
Saat kusenyumi fajar yang sunyi, pada matahari yang meradang, pada senja tua, dan pada malam yang padam. Kamu mengaduh pada fajar yang terlalu subuh, mengerang pada matahari yang garang, lalu menjahit mimpi suram pada malam yang kelam.
Teriakmu aku bisu,
Saat persediaan senangku habis, kuisi waktuku dengan melipat diam. Kamu menjajakan kebusukan orang lain, agar sekiranya dapat mengais-ngais percakapan, karena kamu sangat bermusuhan dengan keheningan.
Teriakmu aku penakut,
Saat senyumku yang mulai terisi malah tercekat kilat yang merambat, aku tertunduk lalu duduk tepekur. Kamu malah mengumpat, dengan tegak mengenakan panji berani yang semu, padahal nyalimu terbirit-birit ke entah.
Teriakmu aku gila,
Tapi kenapa tiap malam kudengar kamu menggeluti frustasi dengan amarah saat aku mengulas senyum dalam lelap?
Lalu kenapa kaucibir tiap senyum tulus wajah-wajah yang hanya ingin beramah-tamah itu?
Kalau kamu merasa tersiksa hidup bersama derita, kenapa tidak kamu berubah saja menjadi gila sepertiku?
Lalu kita berdua akan menyantap malam dengan tawa, saling mengayomi saat angin menguliti. Bukankah dunia akan terasa lebih indah?
