Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan


Kau tahu kalau bintang itu tipuan mata terbesar di jagat raya?
Bintang yang kau lihat pada malam hari bukanlah bintang yang sesungguhnya. Yang kau lihat hanyalah wujud sinar bintang yang melewati jarak jutaan tahun cahaya.
Misalnya, jika malam ini kau lihat bintang yang berjarak dua juta tahun cahaya, itu artinya, bintang yang kau lihat adalah bintang dua tahun lalu.
Bagiku sendiri, sebetulnya ada hal yang—kurasa—lebih pantas disematkan titel ‘Tipuan Mata Terbesar di Jagat Raya’ dibanding bintang. Kau tahu apa itu?
Dirimu.
***
Pagi ini, sama seperti pagi-pagi lain yang kulalui selama tujuh belas tahun ini, langit tetaplah biru. Kau duduk di sana, di atas meja bambu di dekat pohon di samping kelasku, dengan wajah penuh warna. Dapat dengan jelas kulihat, matamu yang mengayunkan cinta, rambut hitammu yang kau pangkas sebahu, serta senyumanmu yang lugu, seperti anak panda yang habis mengunyah bambu.
Aku tanpa kesadaranku tiba-tiba bergerak ke arahmu. Gegas kuhiraukan buku yang belum sempat kusimpan dengan baik di atas meja. Jangan salahkan kedua tanganku ini yang begitu tak tahu diri ini karena coba mengapaimu, sebab angin membisikkan deru napasmu, dan dedaunan yang saling bergesekkan terus menyemangatiku.
Terhitung baru tiga langkah dari pintu kelas, saat kudengar satu suara memanggil namamu, aku terpaku.
“Lina, ayo ke kelas,” ajak lelaki itu.
Secara tiba-tiba kau menjauh. Antara tanah yang kau pijak dan tanah yang kuinjak terbentang bidang hitam yang tak terkira luasnya. Seolah jika satu senti saja aku mencoba menapaki bidang hitam itu, aku akan tenggelam dalam kegelapan.
Aku masih terpaku saat kau bangkit dan tersenyum pada lelaki itu.
Dapat dengan jelas kulihat, matamu yang mengayunkan cinta, rambut hitammu yang kau pangkas sebahu, serta senyumanmu yang lugu, seperti anak panda yang habis mengunyah bambu. Tapi, semua itu bukanlah untukku. Semua itu untuk lelaki yang berjalan di sampingmu.
Kau tahu bukan, kalau bintang itu tipuan mata terbesar di jagat raya?
Bagiku, kaulah tipuan terbesar di jagat raya.
Kau yang kulihat bukanlah dirimu yang sekarang; kau yang kulihat adalah dirimu tiga tahun lalu, saat masih jadi kekasihku. []

Catatan              :
[Cerita ini ikut meramaikan tantangan @KampusFiksi bertema #FiksiBuatPacarku]
Nama tokoh cewek dalam cerita ini Lina. Hmm, sebenarnya Lina itu empat huruf yang saya ambil dan saya susun ulang dari nama seorang cewek yang selama ini terus saya kagumi. Saya belum sempat jadi pacarnya, hehehehe.
Banyak sih yang ingin ditulis. Tapi, karena ‘dia’ juga pasti baca cerita ini, lebih baik jangan ditulis semua deh, bisa kepayahan saya nanti, ckckck. Satu saja yang ingin saya sampaikan, mengutip lagu Perfect Time dari Sheila On 7:
There is always a way for love
But sometimes not on the same road
Dreaming is the only land
Fits for you and me


Tipuan Mata Terbesar di Jagat Raya

Posted by : Unknown
Rabu, 08 April 2015
0 Comments
Surat dan Pesan

Gadis itu sedang asyik-asyiknya menggandrungi lembaran-lembaran surat bertuliskan ceker ayam. Satu-satunya yang membuat mata bulat gadis itu tidak sakit meski membacanya di keremangan hanyalah cinta.
Pukul sepuluh sudah terlewat empat puluh menit yang lalu. Jangkrik makin mengukuhkan kentalnya hening malam ini. jika bukan karena kelihaian gadis itu dalam melipat dan membuka kertas, pastilah bunyi kertas sudah berdiaspora ke segala arah.
Puas melihat-lihat surat yang ditulis Jaka, Dewi dengan hati-hati dan penuh cermat sambil memekakan telinga, melipat kertas kuning tersebut menjadi empat bagian, memasukkannya ke dalam amplop, lalu menyelundupkannya ke bawah kasur. Hatinya sesak oleh cinta. Padahal surat terakhir itu ditulis minggu lalu, di pertemuan mereka terakhir.
Dewi baru mengemasi tiga surat, dan masih tersisa enam di depan bantalnya, saat tiba-tiba bunyi pintu terbuka menyobek ketenangan. Lalu terdengar bunyi ketukan-ketukan kecil yang menggetarkan. Cepat-cepat gadis itu menelungkup, menutupi surat-surat yang masih berserakan dengan cara menindih.
Ditariknya pula selimut sampai dada. Tapi tak berguna. Dingin yang ikut bersama bunyi sandal yang diseret-seret itu kian pekat membekukan suasana. Gadis itu memejamkan mata. Tapi telinganya bergerak-gerak peka.
Kaget meremukkan tubuh gadis itu hingga ke tulang tatkala pemilik suara sandal yang diseret-seret itu memanggilnya.
“Dewi!”
Gadis itu tidak berkutik sama sekali. Bahkan untuk sekadar meniup nyamuk yang dengan nyaman bertengger di batang hidungnya yang pas-pasan itu. Barulah setelah suara sandal yang diseret-seret itu menjauh, gadis itu tanpa segan membunuh nyamuk itu.
Ayahnya hanya ingin memastikan kalau anak gadisnya sedang tidur.
***
Pertama kali Dewi bertemu Jaka tentu berawal dari ketidaksengajaan yang biasa.
Saat itu malam habis tujuh-belasan. Seperti yang dilakukan tahun-tahun yang lalu, di lapangan desa Dewi digelar layar tancap membosankan yang memutar film perang.
Jika bukan karena Ayah dan Ibunya yang pergi untuk mengobrol, pasti Dewi tak akan berdiam di sudut lapangan, bersandar pada tembok rumah seorang yang tidak ia kenal, mengawasi orang-orang dengan kepala menengadah pada layar putih yang memutar gambar-gambar bergerak, sementara telinga mereka bergerak-gerak, dan kening mereka berkedut saat suara dar-der-dor meluncur dari pengeras suara.
“Sangat mengganggu, bukan?”
Dewi terkejut bukan main saat seseorang berkata seperti itu. Awalnya ia agak kesulitan menemukan sumber suara dari malam yang tak mengizinkannya mengenali wajah dengan cepat. Tapi saat suara itu berkata lagi, barulah Dewi menengok ke atas.
Dari lantai dua rumah yang sedang ia sandari, tampak seorang pemuda tersenyum bodoh. Dengan serta merta pemuda itu berkata, “Naiklah ke atas sini. Ada sesuatu yang lebih sedap untuk dipandang.”
Mendengar itu, Dewi, entah bagaimana merasa tertarik. Mungkin terpikat pada polos senyum bibir merah apel yang tampak manis itu atau memang terlampau bosan menunggu film yang baru akan berakhir satu jam lagi, Dewi memutuskan untuk pergi ke atas menemui lelaki itu lewat tangga yang ada tak jauh dari situ.
Betapa terkejutnya Dewi begitu sampai di atas karena yang ada hanyalah atap kosong sebagai tempat jemuran. Tapi pemuda itu melambaikan tangannya untuk menarik Dewi ke tepian.
Ternyata di sana sudah ada segelas teh manis dan radio yang sedang membunyikan iklan. Ragu-ragu Dewi ikut duduk.
“Kamu Dewi, bukan?”
“Dan kamu?”
Dahi pemuda itu mengernyit mendengarnya. Sejurus kemudian lesung pipitnya terbit berbarengan dengan gelak tawanya yang renyah. “Panggil saja aku Jaka.”
“Jadi, apa sesuatu yang sedap untuk dipandang yang kamu tawarkan tadi?” dengan sinis Dewi melirik ke segala arah. Tapi tak ada apa pun.
“Duduklah. Sebenarnya ini bukanlah sesuatu yang untuk dilihat menggunakan mata, tapi untuk dinikmati tiap detiknya.”
Tangan Jaka memutar volume di radio itu hingga suaranya membesar. Setidaknya nyaman terdengar karena suara dar-der-dor sudah tak lagi dimuntahkan pengeras suara itu. Dan kini, dari radio muncul lagu Ahmad Albar – Kendal Dendam.
“Apa isti—”
Jaka menempelkan telunjuknya cepat-cepat. “Dengar. Lihat. Rasakan.”
Bak sebuah mantra, usai mendengar itu Dewi memejamkan mata. Gelap sepenuhnya, tapi tidak buta. Dapat dilihatnya sesuatu bergerak-gerak. Warna oranye yang berdiaspora. Dan mengapung di udara, seolah suara Ahmad Albar yang begitu khas tampak dalam bentuk gelombang.
Lalu tercium bau udara basah. Malam yang kering. Lelehan mentega pada jagung bakar. Asap kacang rebus. Gula-gula. Serta segala macam wewangian merebak menyeruaki hidung Dewi.
Tanpa terasa lagu pun usai. Dewi membuka mata dengan perasaan gemas. Bagai seorang anak kecil yang ingin odong-odong yang dinaikinya memutar satu lagu lagi.
“Tapi tak bisa,” ucap Jaka seraya memperkecil lagi volumenya. “Untuk bisa mendengarkan lagu itu lagi, kamu harus menunggu minggu depan. Kamu pun harus mengirim permintaan supaya lagu itu diputar.”
Lagi-lagi, bagai tersihir oleh ucapan Jaka, Dewi hanya mampu mengangguk ringan.
“Ngomong-ngomong, aku sudah lama menyukaimu, tahu. Apa kamu keberatan kalau kita lebih dekat?”
Sesuatu meletup-letup di hati Dewi. Bagai bunga api yang menemukan melompat dari kembang api yang baru saja dinyalakan. Lebat, deras, hangat, begitu nyata, hingga tanpa sadar Dewi mengangguk.
ooOoo
Tapi sayang, tak semudah yang dikira. Ternyata orang tua Dewi benar-benar keras soal pergaulan anak satu-satunya itu. Setelah tertangkap sedang mengobrol di beranda pada suatu sore, Dewi dilarang lagi bertemu Jaka. Plus, hari itu, Jaka pun menerima sebuah tamparan dari ayah Dewi.
Tentu saja Dewi marah. Siapa sih yang tak kesal kalau kesenangannya direnggut begitu saja? Saat memikirkan itu, anak-anak yang melintas di depan rumah merengek saat ditarik orang tua mereka, enggan menyudahi permainan. Orang tua memang brengsek. Kalau bisa, Dewi tak ingin jadi orang tua. Ia ingin langsung saja jadi nenek yang ompong dan mengunyah sepah sirih dan memberi receh pada cucu-cicitnya.
Alhasil, jadilah Dewi hanya berkirim surat dan bertemu seminggu sekali, seperti kali ini.
Sudah nyaris setengah jam Dewi berdiri di depan sebuah toko di Plaza Kelapa Gading, namun sosok Jaka tak juga tampak. Mungkinkah lelaki itu lupa kalau di surat minggu lalu, dia sendirilah yang menulis toko baju Duta merupakan tempat janjiannya kali ini.
Kecewa memeluk Dewi. Padahal ia sudah bersolek sedemikian rupa. Keramas mengenakan shampo agar rambut bergelombang sebahunya harum, mengenakan rok hijau pekat yang dipadukan kaus merah kotak-kotak berkerah.
Padahal minggu-minggu sebelumnya, Jaka selalu datang lebih awal di tempat yang dijanjikan.
Mungkin ada hal yang harus ia lakukan, batin Dewi. Baru saja Dewi meniti langkah pertama menuju rumah, suara dari informan mengudara.
“Kepada saudari Cinta ditunggu kehadirannya oleh saudara Jaka di lobi utama. Terima kasih.”

Itu pesan untuknya.

Surat Dan Pesan

Posted by : Unknown
Senin, 20 Oktober 2014
0 Comments

Tak salah jika aku memang menganugerahkan kagumku padanya. Dio Ramadhan. Karena kalau bukan karenanya, pastilah aku tak akan menderita sehebat ini. Terlebih atas pesan yang ia ukir.
Pertemuan pertama kami hanyalah sebuah cerita yang biasa terjadi antara turis dan anak seorang boss penginapan di desa Ciapus. Pagi itu, seorang pemuda—sepertinya lebih tua satu atau dua tahun dariku—mengetuk pintu. Aku menyambutnya dengan hangat. Lebih hangat lagi saat pemuda itu memesan kamar untuk satu bulan di penginapanku.
Selepas pagi itu, tak ada lagi pembicaraan di antara kami. Aku pun tak terlalu mempedulikan lelaki yang pada tangannya membubuhkan magis pada tiap sentuhan. Bahkan saat kuamati goresan tanda tangan di buku tamu yang ia isi tadi pagi, aku terkesima.
Malam itu juga, sambil mengantarkan teh hangat pesanannya, aku mencoba menyusun kerangka wajahnya yang tak mudah dilukiskan.
Rambut hitam yang dicukur halus bersambung pada dahi agak lebar. Lalu mata itu. Iris hitam dengan cincin putih yang mengisap siapa saja yang menatapnya lamat-lamat. Pandanganku merosot lewat hidung bangirnya. Mendarat pada bibir tipis yang jika tersenyum amat menggoda rindu untuk tidur di sana. Dan terakhir, pada dagu lancip ramai oleh janggut tipis yang menyengat.
Yang kulakukan hanyalah masuk dengan sopan. Menaruh nampan pada meja persegi yang mulai ramai dengan peralatan untuk menggambar, lalu pergi.
Ah, tapi sebelum aku pergi, lelaki itu memberikanku kejadian lain.
“Permisi, apa kamu tahu tempat yang cocok untuk menggambar?” lelaki itu bertanya teramat sopan.
“Maaf?”
“Semacam tempat yang tenang,” ucap pemuda itu.  “Dan tak ramai.”
Saat kutatap, bola matanya sudah mendikteku untuk tidak mengatakan Curug Salak yang sudah pasti ramai. Dan saat itulah, untuk pertama kalinya aku merasa malu yang teramat sangat karena tak kenal daerahku sendiri yang megah karena keindahan alamnya.
Jadi, langkah paling bijak yang kuambil malam itu adalah meminta maaf padanya sambil menjanjikan tempat terbaik yang kutahu keesokan hari. Dan akhirnya pergi tanpa meminta persetujuan.
ooOoo
Hari ketiga.
Pemuda yang menyewa kamar di penginapanku tampak menyenangkan untuk diajak bicara. Dio Ramadhan. Sepertinya tak berlebihan kalau Dio ini anti-tesis dari semua laki-laki yang kukenal di lingkar sederhana kampungku.
Lelaki ini tak banyak cakap. Tatapannya tenang seperti telaga yang sengaja diciptakan jauh dari goncangan. Bibirnya hanya meluncurkan kata-kata yang ringkas dan tegas, tapi dengan sigap berhasil menarik perhatianku.
Mungkin Dio menarik perhatianku karena dia datang dengan impianku yang dua bulan lalu putus. Kuliah ke Jakarta. Atau mungkin karena..., seperti yang kukatakan tadi, peringainya yang sungguh berlawanan denganku.
Aktivitas Dio hanyalah menggambar komik. Pada pagi harinya mengelilingi desa yang masih diduduki kabut, bermasyarakat layaknya penghuni tetap yang hendak berbauh, lalu tepekur di atas meja pada malam hari.
Hari ketujuh, aku tak tahan hanya melihat kepergian Dio ke hulu citiis.
Ah, aku lupa menceritakan hari kedua.
Sesuai janjiku pada malam pertama, semoga kalian ingat, aku akan memberitahukan tempat yang sesuai dengan pertanyaan Dio. Nyaman dan tak ramai. Selepas sarapan pagi itu, Dio kuberitahu sungai citiis.
Tak pernah kuduga sebelumnya kalau Dio akan pergi hari itu juga ke tempat yang kuberitahu. Dan pada hari itu juga, sepertinya Dio sudah menanam hatinya di hulu sungai citiis.
Kembali ke hari ketujuh, pagi ini aku menyelinap lewat pintu belakang. Penasaranku meminta jawaban yang lebih tentang apa yang dilakukan Dio di sungai citiis. Tapi agaknya nasib berkata lain.
Pada tengah perjalanan, langkahku terhenti di antara semak. Bukan karena ada ular atau sesuatu yang mengerikan, tapi karena aku ketahuan mengikuti Dio. Aku malu bukan kepalang.
Namun yang membuatku lebih terkejut adalah Dio yang menjawil tanganku saat hendak kabur.
“Kenapa tidak ikut saja?”
Aku menggeleng. “Aku takut mengganggu.”
“Hahaha,” Dio tertawa renyah. Kontur wajahnya ikut naik-turun menghasilkan kesan tersendiri. “Sudahlah, ikut saja.”
Lalu Dio menuntunku masuk lebih dalam menuju hutan. Pada jalan yang aku sendiri belum hafal. Tak kurasakan sedikit pun takut, malah aku senang. Genggaman lelaki itu punya makna tersendiri bagiku. Seolah dia hendak membawaku ke Jakarta.
Akhirnya kami muncul di hulu sungai citiis. Tempat yang tak pernah kudatangi karena Abah selalu melarangku pergi ke sini. Tak pelak khawatirku menyeruak mengingat pesan Abah itu.
Belum sempat aku lepas dari khawatir itu, ingatanku diberondoli berbagai mitos yang sering ditanam Abah pada diriku, serta cerita-cerita kawanku tentang hutan dan hulu sungai citiis. Bodohnya aku ini, kenapa baru ingat semua itu sekarang?
“Kang, kata Abah di sini ada buaya putih,” ucapku takut.
Senyumnya mengembang. Pada tegas tatapannya, tampak jelas betapa belum dewasanya diriku.
“Daripada di desa, ada buaya darat.”
Dio berhasil mengikis resahku perlahan-lahan. Aku yang takut—Wanita mana yang tak takut—pada mitos-mitos desa tentang hantu-hantu atau larangan-larangan desa perlahan mulai berani memainkan jernihnya air yang dialirkan langsung dari gunung halimun.
Cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok.
Ungkapan apa lagi yang tepat untuk menggambarkan keadaanku pada hari ke-empat belas?
Cerita-cerita Dio tentang kehidupan kuliahnya sebagai mahasiswa seni UNJ mengikis kerasnya batu penghalang yang selama ini menghalangi niatku untuk kembali berjuang mendapat izin Abah agar bisa pergi Jakarta.
Makin hari, Dio makin sering bicara denganku. Mengeluhkan panasnya Jakarta, macetnya, baunya, sampai memuji Bogor; sejuknya, tenangnya, dan indahnya.
Aneh memang. Di saat aku makin keranjingan merengek pada Abah agar diizinkan untuk kuliah di Jakarta, lelaki itu justru sangat ingin tinggal di kampungku.
ooOoo
Pembicaraanku dengan Dio makin hari makin intens.
Sering kali dia mengisahkan berbagai hal tentang perkuliahan: bagaimana belajar di kampus, kawan-kawan, dosen-dosen yang minim rasa peduli, organisasi-organisasi seperti BEM, sampai rute mikrolet yang ia lalui kalau hendak pergi ke kampus.
Tak pelak makin hari perdebatanku dengan Abah pun makin intens.
Abah bersikeras dengan alasan aku tak punya sanak-saudara di Jakarta. Kubalas dengan cerita-cerita Dio tentang kawannya yang berasal dari Maluku, Sulawesi, atau Kalimantan. Abah masih tak mau. Dia juga menceramahiku tentang kerasnya pergaulan Jakarta. Lalu kuceritakan dengan runtut tentang organisasi-organisasi keislaman yang banyak bertebaran di Jakarta.
Tetap saja, Abah tak mengizinkan.
Hingga pada malam ke-dua puluh tiga, aku bertengkar hebat dengan Abah. Satu piring pecah. Malam itu, aku pulang ke rumah. Adikku Mia terkejut saat aku datang. Tapi aku tak peduli. Aku  menangis pada Umi yang hanya bisa memeluk sambil mengusap tubuh rapuh ini.
Dua hari setelahnya, aku tak kunjung kembali ke penginapan. Ada sedikit khawatir di hatiku saat meninggalkan Abah yang tak lagi muda sendirian mengurus penginapan. Tapi kesal masih menahanku di kaki rumah, bersama Ibu yang tak pernah beranjak dari ranjang.
Lalu pada hari ke-dua puluh enam, secara mengejutkan, Dio datang ke rumahku yang jaraknya agak jauh dari penginapan. Pagi itu dia mengajakku ke hulu sungai citiis. Aku hanya menurut saja.
Perjalanan kali ini lain dari perjalanan sebelumnya. Rasa ganjil sangat kentara. Dio lebih diam dari biasanya selama di perjalanan. Dan ketika sampai di hulu sungai citiis, Dio terdiam cukup lama sambil melempar-lemparkan kerikil ke permukaan sungai.
“Ayahmu terlihat kesepian di penginapan,” Dio mengatakannya perlahan. Suaranya lembut merayap pada telingaku.
Kubuang pandangku sembarang tanpa menjawab apa pun.
“Menurutku kamu lebih baik tinggal di sini.”
Aku menyolotkan tatapan liarku saat lelaki itu mengatakannya. “Apa maksudmu?!”
“Di sini, kamu punya banyak hal. Ayah yang peduli, lingkungan yang nyaman, dan mungkin, masa depan yang lumayan bagus.”
“Maksudmu aku akan mengalami kegagalan kalau tinggal di kota?”
Dio menggelengkan kepalanya lembut. Senyumnya melucuti kejengahanku. “Aku hanya ingin mengatakan kalau tak semua keinginan bisa terwujud.”
“Orang kota sepertimu tak akan mengerti,” keluhku.
Saat aku hendak pergi, tangan itu kembali mengalirkan sesuatu padaku. Harapan. Impian. Kerasnya hidup dari kota yang kuidamkan. Sentuhan Dio hanya membuatku makin ingin pergi ke Jakarta.
“Aku juga ingin tinggal di kampung ini,” ucapnya lebih tenang. “Tapi aku tak bisa.”
“Kenapa kita tidak tukar kehidupan saja?”
Bunyi aliran air yang merangkak lewat batu-batu besar makin jelas terdengar. Dengan polosnya kutatap wajah lelaki itu. Tersenyum ironi tanpa mengatakan apa pun.
Rasanya aku seperti dikoyak sepi!
Sakit yang teramat dalam saat bola mata Dio dalam menatapku. Masih dengan bibir yang tak mengatakan apa pun.
Aku tepekur sejenak, mencoba mengerti sambil menawar pedih dengan hijau pepohonan yang berdiri rapat di seberang. Pada putih bunga kapas yang dihembus angin. Pada bunyi gesekan bambu di belakangku saat angin mengaproksimasikan jaraknya satu sama lain.
Hingga tanah berbatu yang kududuki serasa tak lagi nyaman, aku masih belum mengerti. Sesuatu dalam hatiku meledak. Aku pulang lebih awal hari itu.
ooOoo
Begitu sampai rumah, aku langsung melemparkan tubuh pada kasur yang lama tak dijemur.
Tanganku menyentuh dinding berwarnakan kuning pastel. Dingin merasuki jemari-jemari. Pada detik selanjutnya, kupandangi ijazah SMA yang dengan manis bertengger di samping meja belajar.
Sejurus kemudian, terbayang wajah Dio di pikiranku. Terputar pula ucapan-ucapannya tentang kehidupan di Jakarta yang begitu kuidam-idamkan. Begitu memukau dan menghipnotis. Lalu ingatan itu hancur dipukul piring yang pecah. Wajah Abah yang marah. Bayangan Abah yang kesepian di penginapan.
Rasa kesal dan benci mulai tumbuh keesokan harinya. Saat kembali ke penginapan, kulihat Dio membawa barang bawannya yang tersimpan dalam tas dan koper yang sama seperti saat pertama kali ia datang.
Untuk apa lelaki itu menceritakan indahnya kehidupan di Jakarta, jika sebenarnya dia tak pernah berniat membela mimpiku pergi ke sana?

Pembunuhan 30 Hari

Posted by : Unknown
Sabtu, 04 Oktober 2014
0 Comments

Suatu ketika, Ibu pernah datang dengan mata seterang bintang sirius. Pancarannya menghangatkan tubuhku yang sedang didekap dinginnya sepi sehabis perginya Ayah dengan wanita lain.
“Ibu berhasil, Rin!” pekiknya.
Kami berpelukan. Di depan khalayak penghuni cafe yang kebingungan dengan datangnya seorang wanita paruh baya berbusana serba putih. Jas yang menjuntai lembut sampai ke betis.
Ibu tak berbohong saat mengirimkan pesan kalau ia akan langsung menemuinya selepas dari bandara.
 Bibir Ibu tersenyum selebar kelopak mawar. Pipi yang biasanya tirus itu kini hidup, bersamaan dengan lesung pipit manisnya yang kembali datang, menghisap rindu. Hidungku bersentuhan dengan hidung Ibu yang semulus lambang integral tulisannya.
“Dev, aku pesen cappucino dua,” pesanku pada Devi, sahabatku yang menjadi pelayan sekaligus pemilik cafe ini. Beres memesan, tak kusia-siakan waktu untuk mencumbu tatapan Ibu yang hangat.
“Ibu berhasil, Rin! Akhirnya...,” ucapnya. Lagi. Dengan nafas yang lebih teratur.
Pandanganku menelisik jas putih kusam yang dikenakan Ibu. “Berapa hari Ibu pakai baju itu?”
“Satu bulan, kalau tidak salah. Eh, itu tidak penting!” Ibu memprotes. Bibirnya menikung seperti payung. Tapi tetap manis. “Yang penting Ibu harus ngasih tau kalau Ibu berhasil menemukan apa yang selama ini Ibu cari, Rin!”
“Pacar baru?” tebakku. Asal. Tapi memang itu yang kuinginkan. Ayah baru. Pelindung baru.
“Ish, itu bisa dilakukan kapan saja kalau Ibu mau.”
Aku terkekeh mendengarnya. Tidak berlebihan apa yang dikatakan Ibu. Sebulan setelah Ayahku memutuskan bercerai, terhitung sudah tiga pria memberikanku hadiah. Ketiganya kenalan Ibu sewaktu kuliah atau SMA.
“Jadi, apa yang membuat Ibuku tersayang ini jadi sesenang ini?”
Ibu melucuti senyum terindah miliknya. “Dimensi keempat. Waktu.”
***
Kukira setelah peristiwa malam itu, hubunganku dengan Ibu akan semakin membaik. Dalam artian, Ibu akan lebih banyak diam di rumah dibandingkan di tempat kerjanya.
Ternyata, aku memang masih naif. Setelah tiga hari menghabiskan waktu, Ibu kembali berangkat ke Jenewa, Swiss. Katanya, masih ada banyak hal yang harus ia lakukan. Mungkin ia akan lebih sibuk dibanding sebelumnya.
“Mungkin Ibu akan lebih sering mengirim surat padamu. Kalau ada kesempatan, pasti Ibu akan pulang.”
Itu pesan Ibu tiap kali hendak pergi. Bahkan aku sudah hafal intonasi dan pelafalan ibu saat mengucapkannya.
Dan seperti biasa juga, aku akan jadi anak baik. Mengangguk sambil mengulum senyum, sedangkan hati menggigiti sesal. Kenapa harus secepat ini waktu yang kupunya untuk berduaan dengan Ibu?
Ingin rasanya aku menyuruh Ibu menghentikan segala macam pekerjaannya tentang fisika. Tentang waktu. Tentang mesin waktu. Tentang black hole. Tentang anti-materi. Tentang LHC. Tentang CERN.
Tapi apa daya. Ibunya sudah sedemikian menggilai profesinya sebagai fisikawan, bahkan sebelum aku lahir 16 tahun lalu.
Tapi kali ini, sebelum Ibu menarik kopernya lebih jauh, aku sempat bertanya.
“Kapan Ibu akan pulang lagi?”
Tak ada jawaban.
***
Ibu memang sengaja tak memberi jawaban agar aku makin giat belajar.
Semakin pintar aku dalam hal fisika, semakin dekat aku menuju Ibu. Suatu hari nanti, aku ingin bekerja di tempat yang sama dengan Ibu. Atau mungkin menggantikan posisinya. Ah, sepertinya yang terakhir itu harus kutarik lagi. Aku tak mau bekerja jika harus berpisah dengan Ibu.
Fisika kuantum menjadi bidang yang kukagumi. Meski belum diajarkan secara mendalam di SMA, tetap saja aku melahap permukaannya. Berbekal buku-buku referensi dari teman yang kudapat di dunia maya, aku belajar fisika kuantum secara otodidak.
Aku juga mempelajari tentang astro-fisika. Tentang benda hitam yang ternyata tak selalu berwarna hitam, atau tentang trigonometri planet. Semua itu menyenangkan, meski kadang membuat isi kepalaku berantakan.
Semakin aku berusaha keras, semakin cepat aku bisa berlama-lama dengan Ibu. Benar, kan?
***
 Tapi semua itu berakhir sudah. Tiba-tiba Ibu mengirimkan email yang isinya mengatakan kalau ia akan pulang. Ia juga memutuskan berhenti bekerja di CERN. Aku tak tahu bagaimana penjelasannya, yang jelas, Ibu akan segera pulang.
Dan benar saja. Dua minggu setelah pesan itu sampai padaku, Ibu datang.
Hanya berupa daging tak bercahaya. Pandangannya bagai bintang katai putih yang siap menghisap segala hal sebelum akhirnya meledak. Pipinya tirus, seolah hendak sobek saat kusentuh. Senyumnya masih bangkit, tapi kehilangan sesuatu.
Tak banyak yang kutanyakan saat itu. Meski masih SMA, tapi aku tahu kalau Ibu sedang tak ingin ditanyai macam-macam. Yang ia inginkan hanyalah kedamaian. Itu tergurat di kerutan wajahnya yang makin banyak.
Tiga hari sepulangnya Ibu, yang ia lakukan hanyalah melakukan pekerjaan Ibu Rumah Tangga. Memasak, mencuci, menyetrika, menonton tv, atau melakukan hal membosankan lainnya.
Dari bibirnya yang makin redup tak pernah terucap apa pun tentang fisika. Apalagi dimensi keempat yang beberapa waktu yang lalu ia banggakan teramat sangat.
Aku masih belajar fisika. Meski kini tersendat, tak segiat tempo hari sebelum Ibu pulang.
Dan di suatu malam, usai menulis sesuatu di kamarnya yang sengaja dibuat remang, Ibu keluar. Cahaya lilin masih bersinar di iris hitamnya. Dia menghampiriku yang sedang membaca buku fisika kuantum.
“Rin,” panggilnya.
Kutengok wajahnya. Agak baikan. Lebih cantik, tapi tak seenerjik dulu. Guratan wajahnya agak hilang, berganti jadi sesuatu yang lembut.
“Ada apa, Bu?”
Ibu menarik buku fisika yang hendak kujadikan bantal. Menggantinya dengan buku tebal yang judulnya dicetak timbul. Dunia Sophie.
Mataku menatap heran Ibu.
Seolah mendengar pertanyaan yang belum kuucap, Ibu mengatakan sesuatu. “Time waits for no one.
***
Usai malam itu terlewat, Ibu benar-benar berubah.
Bacaannya adalah novel-novel sastra atau buku-buku filsafat. Lagu yang mengitari telinganya pun kebanyakan sesuatu yang tenang. Damai.
Ibu masih secantik dulu, juga sebaik dulu. Hanya saja ucapannya tak lagi berapi-api seperti saat ia yakin sekali akan sukses melakukan suatu percobaan, dan gerakannya jadi lambat. Tidak seperti dulu. Gesit dan efektif.
Wajahnya benar-benar membuatku bingung. Pembelajaran fisikaku tersendat karena Ibu memaksaku belajar filsafat. Dia menyuruhku bersenang-senang di siang hari, dan tekun belajar di malam hari. Bukan lagi Ibu yang disiplin.
Kesal. Hatiku geram. Jika pada akhirnya semua harus seperti ini, untuk apa semua memori tentang fisika di otakku? Untuk apa aku mengerti hal yang sulit dimengerti orang lain jika pada akhirnya hanya akan dibuang?
Hingga suatu hari, tanpa sadar aku membentaknya. Tepat di kamarnya yang remang.
“Kenapa Ibu jadi seperti ini? Kenapa Ibu berhenti melakukan pencarian tentang waktu?!”
Ibu tak marah. Dia tersenyum. Tenang. Justru ketenangannya itu yang membuatku makin kesal. “Ibu sudah menemukannya.”
“Bohong!”
Remang lilin di meja baca membuatku agak pusing. Ibu tersenyum. Mistis.
“Ibu sudah menemukannya, Rin. Dimensi keempat. Waktu. Dan kamu tahu apa isinya? Sesuatu yang tak ingin kamu lihat. Itu akan menghantuimu tiap malam.”
Jantungku seolah diperas sesuatu. Sesak. “Kalau sudah menemukannya, kenapa Ibu tak mempublikasikannya ke dunia agar semua orang tahu?”
“Karena lebih baik itu tak diketahui. Selamanya jadi misteri.”

                

Time Waits For No One

Posted by : Unknown
Minggu, 17 Agustus 2014
1 Comment
Ucapanku terhenti saat pandangku bersitatap dengan lelaki yang membukakan pintu. Bibir bunga dedapnya itu benar-benar membawaku pada peristiwa kemarin. 

ooOoo

Usai duduk di kursi kosong taman koleksi, kukeluarkan novel yang baru saja kubeli. Mengusap judul yang dicetak timbul secara berulang, membuka sembarang halaman, lalu menyesap bau kertas yang khas.
Ah..., ritual ini memang menyenangkan tiap kali membeli buku baru.
Perlahan jemariku membuka prolog. Senyumku mencuat membaca kalimat pembuka yang begitu menjerat hati.
Baru saja aku membaca beberapa paragraf, sebuah nyanyian mengganggu.
Because tonight will be the night that i will fall for you....”
Huh! Siapa sih yang bernyanyi?! Aku ‘kan paling tidak bisa membaca kalau ada suara yang mengiterupsi. Sekali pun itu penyanyi favoritku.
Jadi, kuangkat tatapan buasku, menatap arah suara yang ada di hadapanku.
Darahku seolah terhisap pada senyum tipis nan manis itu. Rajukan yang baru saja kuteriakkan dalam hati pun ikut meleleh bersama kesal, berganti jadi kagum.
Lelaki itu menerbitkan matanya, menampakkan irisnya yang sewarna kopi. Lembut. Aku seolah tenggelam dalam lesung pipit di kedua pipinya. Juga, bibir yang sewarna bunga dedap itu mengecup kenangan di hatiku.
Tak ada yang bisa kulakukan selain tertegun menatap mug di ujung gitar yang menagih sesuatu padaku.
“Permisi,” ucapnya agak sungkan, menghentikan lagunya sejenak.
Perlu waktu agak lama bagiku untuk menyadari semuanya. Mug yang terpasang di ujung gitar itu meminta imbalan rupiah atas suara yang dia keluarkan. Dengan cepat kukeluarkan selembar dua ribuan dari dompet, lantas memasukkannya agak malu-malu pada mug berwarna hijau terang.
Ternyata lelaki itu mengembalikannya dengan senyum yang lebih manis. Sayang, senyum itu hanya bertahan beberapa detik saja, karena pandangannya sudah beralih pada orang lain yang duduk di kursi melingkar dekat restoran taman.
“Anu...,” bibirku melenguh, mengeluarkan suara yang teramat kecil.
Setelah membisikkan itu, tak ada lagi yang bisa kukatakan. Yang bisa kulakukan hanyalah mengamati punggung kokoh yang tertutup kaus putih itu. Berpindah dari satu kursi ke kursi lain, dari satu wajah ke wajah lain, meski tak semuanya memberi rupiah.
Hingga punggung itu semakin kecil, buram, lalu menghilang. Tak lagi terjangkau mataku.

ooOoo

Seminggu terlewat sejak aku pindah ke sekolah baruku, SMA Cipta Rasa. Agak sulit mencari teman bagi orang introvert sepertiku. Jadi, mendapat kawan sebangku saja sudah cukup. Tapi peraturan sekolah ini agak menyusahkan, yakni mewajibkan muridnya mengikuti satu klub.
Dari semua klub yang ada, tentu aku memilih yang paling cepat pulang dan yang tak terlalu menyusahkan. Jadi, kupilih saja Klub Sastra.
“Wah, jangan-jangan kamu juga kepincut Kak Venaldi, yah?”
Sejujurnya aku agak risih mendengar ucapan Linda—temanku satu-satunya—saat dia mengantarku mengirim formulir ke ruangan klub sastra.
“Kak Venaldi itu..., siapa?”
“HAH?!” Linda berteriak tanpa ragu-ragu. Dengan cepat kusumpal mulutnya itu. Setelah agak tenang, barulah kulepas lagi. “Kamu nggak tau? Dia itu dapat julukan ‘Pangeran’ lho! Dia itu... pokoknya perfect, deh!
Aku mangut-mangut. Sepertinya memang setiap sekolah itu selalu punya shining star. Kalau di sekolahku yang sebelumnya, ada Kak Adrian. Pemain voli yang sangat terkenal.
Usai mengetuk pintu tiga kali, aku mengucap salam. Pintu ruang klub yang terbuat dari jati dibuka dari dalam.
“Permisi, saya mau—”
Ucapanku terhenti saat pandangku bersitatap dengan lelaki yang membukakan pintu. Bibir bunga dedapnya itu benar-benar membawaku pada peristiwa kemarin.
Reaksiku pasti tampak layaknya seorang fans yang bertemu idol. Maksudku, raut wajahku. Tapi kutahan sedemikian rupa. 
Senggolan yang agak keras menghantam bahu kiriku. Itu Linda. Ah, benar juga. Aku harus menyerahkan formulir. Kenapa harus pakai acara bengong segala, sih?
“Ah, itu... saya mau menyerahkan formulir klub sastra.”
Lelaki itu menerima kertas formulirku. Mengeceknya dengan cepat, lalu menyodorkan senyum manisnya padaku. Ah! Itu senyum yang kemarin!
“Oke, kamu bisa ikut kegiatan klub mulai minggu depan. Kegiatannya setiap hari senin dan kamis. Ada yang perlu ditanyakan?”
“Tidak....”
“Kalau begitu, sampai jumpa minggu depan, Rin.”
Hembusan angin saat pintu ruang klub ditutup itu menggetarkan hatiku. Sayang, kawanku satu-satunya, Linda, malah mengacaukannya dengan suara cengengesan.
“Cie yang beneran kepincut Kak Venaldi.”
Baru kusadari kalau wajahku pasti semerah plum sekarang. Ah, jadi malu rasanya!

ooOoo

Begitu naifnya aku saat mengira kalau hubunganku dengan Kak Venaldi bisa berjalan lancar, hanya karena aku tahu kalau tiap minggunya dia mengamen di taman koleksi.
Nyatanya, di ruang klub, kehadiranku sungguh tak penting. Meski Kak Venaldi sering tersenyum padaku, tapi hasratku meminta lebih. Diriku berontak.
Haruskah kugertak Kak Venaldi agar lebih dekat denganku menggunakan ancaman kegiatan mengamennya yang kuketahui? Ah, tidak. Pasti dia malah membenciku.
Kucoba beberapa cara yang agak ringan untuk menarik perhatiannya. Berusaha mengikuti buku-buku yang ia sukai, menulis puisi untuknya, atau hal lain. Tapi, semuanya gagal.
Dan kini, tiga bulan setelah aku bergabung dengan klub, rasanya tak ada sesuatu yang menarik. Layaknya anak babi yang kalah cepat mendapatkan puting susu saat pertama berebut, aku menyerah mengejar perhatian Kak Venaldi.

ooOoo

Terakhir kali aku ke taman koleksi itu dua bulan lalu, saat aku masih berusaha mengejar perhatian Kak Venaldi.
Tak banyak yang berubah dari taman ini, kecuali pengunjungnya yang kini lebih banyak. Bahkan aku dapat tempat duduk di sebelah pria perokok yang menyebalkan. Hanya untuk menonton ‘konser’ Kak Venaldi.
Rupanya Kak Venaldi masih belum punya penikmat tetap, karena saat ia mulai bernyanyi, tak terlalu banyak yang memperhatikan. Hingga lagu menyentuh bagian reff, barulah Kak Venaldi menyodorkan satu mug ke mug lain.
Sengaja kukenakan kacamata hitam agar Kak Venaldi tak mengenaliku. Begitu Kak Venaldi datang, Koin seribuanku jatuh nyaman di mug. Kak Venaldi agak membungkuk, memberikan senyum tipis nan manis yang sering kudapat kalau menyapanya.
Ah, senyum itu! Candu aku dibuatnya.
Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda.
Senyum itu seolah hanya milikku seorang. Senyum yang hanya bisa didapat setelah memberikan uangku padanya. Senyum itu milikku. Seorang.
...
...
Satu ledakan kembang api seolah meledak di hati, aku kegirangan sampai-sampai tersenyum sangat lebar.
Kenapa juga aku harus bersaing, saat aku bisa membeli senyum itu?
Dan mungkin, untuk itulah kenapa Kak Venaldi—yang setahuku cukup kaya—melakukan kegiatan yang sering dianggap mengemis ini. Untuk memberikan senyum khususnya pada orang-orang yang membutuhkan.

Atau..., entahlah. Aku tak terlalu peduli pada alasannya. Yang penting, akan kubeli semua senyum kak Venaldi.

Senyum Milik Pribadi

Posted by : Unknown
Minggu, 10 Agustus 2014
0 Comments
MISANGA


Chiba, Japan.
Natsu, 2015

Kukira waktunya telah habis.
Nyatanya tak butuh waktu empat tahun untuk menganggapmu mati. Karena sekarang, kamu sudah kuanggap mati. Atau lebih tepatnya, aku melukai hatiku sendiri sampai mati.
Misanga di pergelangan tanganku tanpa sadar terlepas begitu saja, seolah rontok bersama harapanku yang telah menjadi kenyataan.
Tepat di hadapanku, apa yang kuinginkan tiga tahun lalu terwujud. Tapi, kenapa rasanya menyakitkan sekali? Seolah semua duri dari mawar yang kamu genggam itu menancap tepat di uluh hatiku.
Riuh hadirin yang menggema saat dahimu dicium pria itu menjelaskan padaku tentang semuanya.
Seharusnya dulu kuharap kamu tetap bersamaku, bukan berharap kamu bahagia.
***
Hari Kelulusan SMA Hodo, Hiroshima.
2012
Dengan nafas yang terengah-engah, aku berhasil menghentikan langkahmu tepat saat jemarimu yang lentik hendak mendorong pagar rumahmu.
Sepertinya otakku kekurangan oksigen, hingga apa yang kuharapkan bisa kulihat. Kamu yang masih mengenakan blazer hitam seolah terkejut melihatku. Matamu yang secoklat kopi tampak cemerlang menatapku, dan rautmu yang sedingin salju mendadak lebur.
Nafasku seolah tercekik rambut panjangmu yang sepekat malam. Bibirku mendadak kelu, meski beberapa saat yang lalu aku terus meneriakkan nama-mu dalam hati. Aku masih jadi pengecut.
“Ki-Kirishima-san, mau ke taman sebentar? Aku punya sesuatu untukmu.”
Bibirmu yang biasanya sekaku es batu mendadak mengulas senyum yang sangat manis. Matamu terpejam senang, dan kepalamu ikut memiring. “Ya, aku juga punya sesuatu untukmu.”
Setelahnya kita jalan bersampingan sepanjang jalan. Ditemani malam yang hening, kita berbelok ke sebuah taman yang lenggang, dan duduk di salah satu kursinya yang panjang. Kuberanikan diriku untuk duduk tepat di sampingmu.
“Jadi, em...” kukeluarkan sebuah misanga berwarna hijau yang hampir jadi. Matamu mendadak melebar melihat apa yang kubawa. “Maukah kamu menungguku menyelesaikan misanga ini?”
“Ah, ya, tentu,” kamu menyahut cepat, agak kikuk. Dan dengan gerakan yang ling-lung, kamu juga mengeluarkan sesuatu dari saku blazer-mu. Itu misanga! “Aku juga harus menyelesaikan ini.”
Kuteguk kembali ludahku. Gugup. Kenapa kita sama-sama mengeluarkan misanga yang belum selesai? Punyamu warna merah, tapi sama bagusnya dengan buatanku. Apa mungkin kita punya pikiran yang sama?
Gawat, aku tak bisa konsentrasi!
Memikirkan kemungkinan jika kita memang punya niat yang sama, punya pikiran yang sama, apa mungkin kita memang ditakdirkan bersama? Aah! Kalau itu memang terjadi, rasanya lengkaplah hidupku.
“Fukuda-san, kenapa tanganmu gemetar begitu?”
“Aah, tidak...”
Aah, gawat, jangan-jangan Naomi mengetahui kalau aku sedang gugup. Bahaya, bahaya... Untung saja misanga kerjaanku hanya tinggal dikencangkan. Jadi tanganku tak harus melingkarkan benang lagi.
Kukencangkan misanga dengan gigiku, frustrasi saat jemariku tak lagi kuat mengencangkan misanga karena terlalu gemetar. Fiuh, kulihat dengan seksama buah tanganku penuh rasa bangga. Saat kulirik ke arahmu, kamu juga sepertinya sudah selesai.
“Ini untukmu,” ucapku sambil menyerahkan misanga buatanku. “Memang tak bagus. Tapi... Semoga bisa menjadi pengingat kalau kita pernah berkenalan.”
Dengan lembut jemarimu meraih misanga-ku. Menatapnya lamat-lamat, lantas tersenyum. “Arigatou, Fukuda-san. Ini juga sebagai kenang-kenangan dariku,” kamu menyodorkan misanga merah yang kamu buat.
“Benarkah?” tanyaku ragu. Dengan cepat kuraih misanga itu, dan menatapnya penuh bahagia. “Syukurlah.”
“Eh?”
“Ah,” aku tergagap sendiri. Ah, sial, mulutku langsung berujar begitu saja karena sangat bahagia. Aah, malunya! “Ma-maksudku, syukurlah, ternyata kamu menganggapku.”
“Harusnya akulah yang bersyukur, karena kamu masih mau memberiku kenang-kenangan seperti ini, padahal sikapku sangat dingin di kelas.”
Aku terdiam sejenak. Menatap wajahmu yang tersiram pendaran lampu taman. Ya, wajahmu kini sangat hangat, berbeda dengan sikapmu di kelas. Ketus, dingin, tanpa ekspresi. Tapi aku tahu, aku tahu kenapa kamu melakukan semuanya.
“Aku sangat senang saat kamu menegurku di depan rumah tadi. Aku ingin sekali berterima kasih padamu, yang selalu menemani dan membelaku  di kelas. Kamu selalu menolongku kalau aku lemas, meski pun aku terus mencaci maki dirimu. Aku sungguh sangat senang.”
Saat itu, kurasakan hatiku bergetar sangat keras. Kamu menangis sambil tersenyum. Meleburkan segala rasa yang selama ini kupendam. Perasaan itu kini tumpah bersama air mata dan tangismu yang tertahan. 
“Sudahlah, Kirishima-san. Aku tahu, kamu bersikap dingin dan ketus seperti itu karena kamu tak ingin punya teman dekat. Kamu tak ingin membuat siapa pun bersedih, karena kamu tahu, leukemia yang kamu derita sejak lahir seolah menjadi kutukan bagimu.”
Kamu kini menenggelamkan wajahmu yang sebam pada pelukanku. Air matamu menyeruaki hatiku yang ikut menangis, tapi air matanya terhalang ego laki-laki.
“Jadi, dengan misanga ini, kuharap kamu bisa hidup bahagia. Seorang Hibakusha sepertimu juga berhak bahagia.”
***
Setelah peristiwa malam itu, aku tak pernah lagi melihatmu. Aku semakin tenggelam dalam kerjaanku sebagai seorang mangaka, tapi misanga pemberianmu masih melingkari pergelangan tangan kananku.
Kukatakan pada misanga yang melingkar di tanganku, kalau dalam empat tahun aku tidak bertemu denganmu—Naomi Kirishima, aku akan mengganggapnya telah meninggal di suatu tempat, yang tak pernah kuketahui, dan juga tak ingin kuketahui.
Ayolah, bukankah empat terdengar mirip dengan “kematian”? Jadi, janjiku masuk akal, bukan?
Sesekali aku sering bertanya dalam hati, kenapa aku percaya mitos bodoh seperti misanga. Katanya, misanga merupakan simbol keberuntungan dan harapan. Jika misanga terlepas sendiri, maka harapan kita menjadi kenyataan.
Sebagai tambahan, beberapa malam yang lalu aku pun mengatakannya. Kalau sampai misanga ini terlepas sendiri, maka kuanggap dirimu telah hidup bahagia.
Haaaa....
Bodoh.
Bahkan kini aku tak tahu bagaimana nasibmu. Aku sedikit menyesal, kenapa dulu aku tak menanyakan alamat email-mu? Atau mungkin alamat rumahmu, agar kita bisa berkomunikasi lewat surat.
Kalau dipikir-pikir, sejak kapan aku mulai menyukaimu? Sejak pertama kali bertemu? Tidak. Aku yakin, saat itu perasaan jengkel yang kudapat. Jangan salahkan aku, tentu saja semua orang yang tak mengenalmu pasti merasakan hal yang sama.
Kamu—sejak gadis rapuh pengidap leukemia, malah memarahi seseorang yang mencoba menolongmu. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Bahkan aku berani bertaruh, semua orang pasti pernah kamu marahi.
Kuakui, awalnya aku tak suka padamu. Kamu adalah orang yang tak tahu terima kasih, pikirku saat itu. Tapi, saat alasan kenapa kamu melakukannya sampai di telingaku... aku berubah. Dan aku yakin...
Saat itulah aku mulai jatuh hati padamu.
"Naomi Kirishima melakukan itu karena dia tak mau punya seorang teman. Dia tak mau membuat orang lain sedih. Dia sudah tahu, leukemia yang ia derita bisa kapan saja membuat keadaannya kritis. Kamu paham maksudku, bukan?"
Aku ingat itulah yang ibumu ucapkan.
Jadi, jangan heran kalau aku akan selalu menolongmu. Kapan pun. Tak peduli seberapa keras kamu memarahiku... tak peduli sejauh apa orang-orang menyingkir dariku... aku akan selalu menemanimu.
Kesendirian menghampiriku. Kuat. Tapi, kesendirian yang kamu rasakan sebelum kita bertemu pasti lebih sakit, bukan?
Haah, aku ingin tahu bagaimana kabarmu. Volume demi volume manga gambaranku terbit, dan tiga tahun pun telah kubalik dengan begitu cepat. Tapi aku masih menantimu layaknya orang bodoh.
Lalu, di suatu hari di musim panas, secarik surat yang masuk ke mejaku bersama surat fans yang lain. Tapi rasanya surat itu berbeda. Begitu kubuka, ternyata itu surat darimu. Kamu bilang, kamu selalu membaca manga buatanku, dan kini kamu mengundangku ke rumahmu. Lengkap dengan alamatnya.
Kamu bilang kamu akan memberikan sebuah kejutan.
Hatiku mengembang begitu cepat. Dan pada hari yang dijanjikan, aku pergi ke alamat yang kamu berikan di surat itu.
***
Riuh hadirin yang memenuhi taman berdekorasi pesta pernikahan itu mulai mereda, namun kedua lututku masih saja gemetar. Dari atas panggung, kamu nampak anggun dengan balutan baju pengantin berwarnakan putih.
Sebuah misanga hijau masih melingkari pergelangan tangan kirimu. Aku tersenyum melihatnya. Setidaknya, kamu masih mengingatku. Dengan langkah yang gemetar, langkahku semakin mendekati panggung.
Di saat aku semakin dekat, kamu yang menyadari kehadiranku langsung tersenyum padaku. Aku pun balas tersenyum padamu, juga pada pria di sebelahmu. Namun saat kamu hendak mendekatiku, langkahmu terhenti karena misanga di tangan kirimu terlepas begitu saja.
Hatiku seolah mencelus sambil menatapnya nanar. Sebenarnya, harapan macam apa yang kamu buat saat menyerahkan misanga itu padaku?



Misanga

Posted by : Unknown
Kamis, 24 Juli 2014
0 Comments

- Copyright © 2013 Peziarah Kata - Shiroi - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -