Posted by : Unknown
Sabtu, 21 Maret 2015
Untuk Vena,
Salam. Maaf tiba-tiba
surat ini datang padamu. Aku sendiri pun tak pernah menyangka akan menulis
surat ini sebelumnya; dan memang aku tak pernah ada niat untuk mengirimnya. Ini
terjadi begitu saja.
Tujuan dari datangnya
surat ini padamu tak lain adalah menanyakan apa kita bisa bertemu akhir pekan
ini? Ada sesuatu yang mengganjal pikiranku, dan aku tahu, hanya dengan cara
bicara bersamamulah sesuatu yang mengganjal ini bisa enyah.
Mungkin saja surat ini
agak memaksa, tapi sebetulnya tidak. Kamu bisa saja hiraukan surat ini.
Merobeknya; mengacuhkannya di bawah lemari, mungkin? Ya, ya, kamu bisa
melakukannya, tapi aku tahu, kamu tak akan melakukannya, bukan?
Aku nantikan balasanmu.
Teman
Lamamu,
Rizki.
Untuk Rizki,
Temanku, aku tak bohong
saat kukatakan betapa aku kaget dapat surat ini darimu. Sabtu lalu, aku
membukakan pintu untuk seorang pegawai kantor pos. Kukira itu untuk Ibuku, tapi
ternyata itu ditujukan padaku: Vena Dila Hanandiya.
Mohon jangan tertawakan
ini. Tapi, ini pertama kalinya aku dapat surat!
Hei, kamu tertawa,
bukan? Awas saja kalau sampai menceritakannya pada orang lain. Seperti biasa,
ya, tulisanmu selalu bertele-tele. Mungkin itu ciri khasmu; atau karena itu
juga kamu mampu menulis sebuah novel setebal 507 halaman.
Tentang janjimu, mungkin
kita bisa bertemu minggu depan, saat jadwalku kosong.
P.S: Aku sungguh merasa
bahagia saat mengantarkan ini ke kantor pos, entah karena apa. Hihihi.
Vena
Untuk Vena,
Terima kasih atas surat balasanmu. Aku sangat senang
menerima sekaligus mengetahui kalau kamu menyetujui permintaanku yang konyol
ini. Untuk tempat, bagaimana kalau di Ramenochi? Aku sudah lama tak makan
ramen. Aku akan menunggu di sana jam 4 sore, ya.
Omong-omong, maaf lupa menanyakan bagaimana kabarmu di
surat pertama. Jadi, kutanyakan saja di surat ini. Bagaimana kabarmu? Semoga
Tuhan menyertaimu.
Kamu tahu kalau aku menulis novel? Bagaimana mungkin,
padahal aku tidak mencantumkan biodata dan memakai nama pena. Tapi, syukurlah.
Apa kamu menyukainya? Semoga saja.
Oya, kalau kamu senang, mungkin aku akan kirimkan padamu
novel ketigaku yang akan terbit bulan depan.
Rizki
Untuk Rizki,
Ramenochi? Ah, memangnya toko itu masih buka, ya? Sudah 1
tahun aku tidak ke sana. Kabarku baik, sepertinya do’amu sampai padaku. Meski pun
kita menyembah Tuhan yang sama dengan cara yang beda.
Mengenai novelmu, aku tak sengaja menemukannya. Mungkin
ini terdengar agak lucu, tapi saat sedang berjalan-jalan di toko buku, seolah
bukumu itu bercahaya, dan tiba-tiba saja aku mengambilnya.
Hmm, saat menulis ini aku jadi terpikir, bagaimana
wajahmu sekarang? Kalau tidak salah, kamu diterima di UI jurusan sastra
Indonesia, bukan? Apa kamu masih mengocehkan filsafat seperti tahun lalu?
Hahaha, mengingatnya, aku jadi tertawa sendiri.
Baiklah, akan kutunggu novel ketigamu.
Vena