Posted by : Unknown Sabtu, 21 Maret 2015

Pada hari yang dijanjikan, sebelum melangkah keluar mengenakan sepatu kets yang menurutnya paling bagus, Rizki membaca lagi surat terakhir dari Vena yang sampai ke rumahnya tiga hari yang lalu. Guratan kata yang ditulis di atas kertas dengan alas yang tidak rata itu tiba-tiba saja membuat wajah Vena terbayang: Mata bulat hitamnya; rambut kuncir kudanya; telinga lancipnya.
Oh tidak. Rizki merasakan hatinya berdebam lagi. Tidak, perintahnya pada diri sendiri. Kau tak boleh mengacaukannya hari ini. Tidak ada lagi pengulangan untuk hari ini. Jika hari berakhir, maka berakhirlah sudah.
Rizki memasukkan surat terakhir itu ke dalam saku jaket abu-abu yang dia kenakan. Rambutnya yang dipotong cepak dibiarkan terbuka. Di langit, dilihatnya ada sekawanan awan yang sedang melintas. Awan baik. Sepertinya tak akan turun hujan. Rizki pun mulai melangkah mengikuti bayangan yang diciptakan Awan baik itu.

Untuk Rizki,
Jadi, kamu akan mengenakan kaus biru bertuliskan Life is Good If You Do Nothing dengan jaket abu-abu? Biar kutebak, kamu pasti akan memakai terusan celana bahan hitam. Betul, bukan? Gaya pakaianmu, entah kenapa aku mudah mengingatnya. Ada baiknya aku juga mengatakan akan memakai pakaian apa nanti, siapa tahu kamu tak lagi mengenali wajahku, hihihi.
Atasanku kemeja biru tua dengan garis beragam: putih, abu, hitam. Aku akan menggulung lengan baju hingga siku, dan untuk bawahan, aku akan mengenakan celana jeans yang tidak terlalu ketat, tidak juga terlalu longgar. Normal saja. Kamu tak perlu tahu sepatu apa yang akan kupakai, kan?
Haaah, setelah kamu bilang akan cukur rambut sebelum bertemu, aku jadi kepikiran bagaimana wajahmu. Apa kamu bertambah tinggi? Apa bicaramu jadi lebih tegas? Memikirkan itu, aku jadi tak sabar untuk bertemu. Jangan buat aku menunggu, ya!
Vena.

Waktu sore memang waktu yang paling tepat untuk berjalan kaki mengitari kota Bogor. Terutama bila hari sedang tidak hujan. Rizki bisa melihat orang-orang berdasi tanpa basa-basi membunyikan klaksonnya seolah dunia punya dia sendiri; langit yang pelan-pelan dilumuri kunyit; serta udara yang jadi lembab. Tanpa terasa, usai berjalan kaki selama dua puluh menit ditambah satu kali naik angkot, Rizki sudah sampai di depan kedai Ramenochi yang mencolok dengan cat merah di permukaan luarnya. Masih ada sepuluh menit sebelum pukul empat.
Rizki menaiki tangga kayu satu per satu. Di kedai yang terletak di lantai dua ruko itu, tampak pelayan di hadapan kasir mengucapkan selamat datang dalam bahasa Jepang, beberapa pembeli yang menyantap pesanan, serta pemutar musik di pojokan yang mengalunkan lagu berbahasa Jepang. Dilewatinya beberapa pasang meja dan kursi, Rizki terus berjalan menuju bagian ujung kedai.
Pemuda itu memang senang sekali duduk di tempatnya sekarang. Atapnya hanyalah fiber hijau yang dihias tanaman merambat. Di sebelah kirinya tembok yang terbuat dari papan bergambar pohon bambu, dan jika menengok ke sebelah kanan, Rizki bisa melihat langit yang pelan-pelan tampak membosankan. Tak jauh dari tempatnya duduk, ada ornamen air mancur yang mendengungkan gemericik air.
Terdengar dari bagian tengah kedai mengalun lagu Supercell – Kimi no Shiranai Monogatari. Mendengar lagu itu, serta-merta kepala Rizki seperti dikocok demikian keras hingga sadar-tak-sadar dia melihat pemandangan tiga tahun lalu, di tempat yang sama, di sore yang sama.
Rizki mengangkat tangannya, dan telinganya mendengar namanya dipanggil. Harum dari kuah ramen menyengat hidung. Kepalanya terasa sakit. Dia melihat lagi pemandangan tiga tahun lalu. Rakish menepuk pundaknya, kembali membicarakan manga Hayate The Combat Butler, dan Ade yang sedang bicara dengan Kevin tentang kelakuan si Andika. Semua terasa nyata. Meski Rizki tahu ini hanyalah memorinya yang keluar begitu saja tanpa dia kehendaki, dia sama sekali tak bisa menghentikannya; dia hanya bicara mendengar Rakish bicara tanpa henti dan melihat Ade serta Kevin yang saling tertawa.
Semua itu lalu terhenti. Ada bunyi hentakan kaki yang menggema. Dari lubang tempat munculnya tangga itu datang Vena serta Adrian dengan tatapan bahagia. Satu tebasan menyayat hatinya.
Jika saja pelayan kedai tidak mengantarkan buku menu, mungkin Rizki tak akan keluar dari kenangan itu.
“Satu porsi udon katsu dengan es teh ramenochi. Untuk ramennya pedes atau miso?” pelayan itu bertanya.
“Pedas.”
“Untuk pedesnya, kami punya lima level,” pelayan itu menerangkan lagi dengan riang, layaknya tour guide museum yang menunjukkan prasasti langka pada anak SD. “mulai dari level TK sampai kuliah. Mas mau pilih yang mana?”
“Yang sedeng itu SMP atau SMA?” Rizki mengajukan pertanyaan.
“SMP, mas.”
“Kalau begitu saya pilih SMA saja.”
Selagi pelayan membacakan pesanan, Rizki melihat Vena muncul dari lubang tangga dengan wajah kebingungan. Lelaki itu melambaikan tangan, mengabaikan pelayan, dan memanggil nama Vena satu kali dengan suara yang tegas hingga gadis itu tersenyum dan berjalan ke arahnya. Pelayan itu pergi.
Vena berjalan ke arahnya sambil sedikit menunduk. Langkahnya mengetuk-ngetuk lantai kayu, dan begitu sampai di meja, Vena pelan-pelan duduk. Senyum dipasang, dan napasnya yang masih tersengal-sengal diatur terlebih dahulu hingga agak tenang, barulah ia tersenyum kembali.
“Di pahlawan macet,” keluh Vena. “Terus angkotnya juga ngetem dulu di deket Sidomampir. Maaf ya kalau sedikit telat.”
“Gak apa-apa.”
Ternyata Vena mengenakan pakaian yang sama seperti yang dia tulis di surat. Dan kalau Rizki lihat, tak banyak yang berubah dari gadis itu kecuali rambutnya yang diurai, tak lagi dikuncir kuda.
“Ciee ganti gaya rambut,” Rizki mencoba mencairkan suasana.
Vena mengusap ujung rambutnya sejenak. “Hehe, ganti rambut, ganti juga kepribadian. Memangnya kamu, dari dulu gak ada kemajuan sedikit pun soal gaya.”
“Yang penting pola pikir berubah,” sahut Rizki diselingi senyum tipis.
Gadis itu ingin menjawab tapi bingung harus bagaimana, jadi dia lebih melempar senyum lalu memilih diam. Kaki kecilnya hanya tampak telapaknya saja yang seputih porselen, sementara mata kaki sampai ke atasnya tertutup celana jeans. Kaki kecil itu bergerak bergantian, dan wajahnya mengedarkan pandangan ke sekeliling, lalu sedikit berdecak kagum.
Dalam waktu satu tahun, Vena sudah sedemikian pesat berubah jadi gadis matang yang begitu menawan. Rambutnya yang seperti bulu kucing hitam begitu legam hingga punggung. Bola matanya yang bagaikan mutiara disandingkan dengan telinga lancip yang terkadang bergerak-gerak. Di bawahnya, ada hidung yang halus serta bibir merah muda sempurna. Ditambah tingginya yang semampai, sungguh membuatnya begitu aduhai.
Es teh pesanan Rizki datang. Pada pelayan, Vena minta dipesankan menu yang sama dengan Rizki. Tapi saat Rizki bilang dia memesan makanan yang pedas, Vena mengatakan tak masalah. Usai perbincangan soal menu makanan itu, tak ada lagi yang bicara.
Berselang beberapa menit, mereka memakan pesanan mereka tanpa bicara sedikit pun. Rizki menambahkan sedikit merica ke mangkuk, menyeruput kuahnya, sementara Vena mencubit tisu dan mengusap dahinya yang basah oleh keringat. Bunyi sumpit yang beradu, aroma kuah yang pedas, serta lagu yang mengalun menuntun Rizki mengingat kembali memori yang sedang dia rangkai secara sistematis.
“Kamu belum menghabiskannya?”
Vena memicingkan mata. “Pedes, tau!”
“Kan tadi udah dikasih tau,” Rizki terkekeh melihat bibir gadis itu yang mengilap.
Iris mata Vena yang seperti kelereng hitam mengamati wajah Rizki. “Ngomong-ngomong, kenapa kamu harus kirim surat padaku, padahal ‘kan jarak rumah kita paling cuman dari 8 kilometer?”
“Kan sudah kubilang,” Rizki mengangkat bahu. “surat itu kutulis begitu saja tanpa pernah merencanakan sebelumnya. Dan kebetulan saja aku sedang ingin pergi ke kantor pos, membeli perangko terbaru.”
“Pasti kamu terpengaruh film 5cm/s .”
“Favoritku.”
“Kalau dipikir-pikir, aneh juga ya aku balas suratmu, lewat pos lagi. Terus, kenapa coba aku tak minta nomer hpmu?” lesung pipit muncul di wajah Vena yang tersenyum. “Kita ini sedikit aneh, ya.”
“Menurutku itu tak aneh, lho. Soalnya, ada rasa khusus yang kita dapat kalau mengirimkan pesan lewat surat. Kamu paham?”
“Paham aja deh, biar cepat selesai, hahaha,” terusnya sambil tertawa renyah.
Rizki mengamati wajah gadis di depannya sambil mengingat-ingat kapan terakhir kali mereka bicara seperti ini. Butuh waktu agak lama sampai Rizki teringat sosok Vena sewaktu kelas 10 dengan seragam abu-abu yang masih baru. Dalam ingatan itu, Rizki teringat dia ada di McD, makan burger ditemani soft drink, masih malu-malu saat beberapa kenalan mereka secara tidak terduga muncul di tempat itu.
Ingatan itu hanya bertahan beberapa saat, sebelum memudar dan hilang. Saat Rizki mencoba mengingatnya kembali, kesulitan yang dia hadapi begitu hebat, dan sampai saat Vena selesai menghabiskan pesanannya, Rizki tak dapat mengingatnya secara sempurna kembali.
“Jadi, bisa kita langsung ke inti?”
“Bicaramu kayak lagi rapat,” komentar Vena.
“Mungkin ini sedikit konyol. Tapi, maukah kamu mendengar satu permintaanku? Mungkin ini akan menyakiti kita berdua; atau mungkin hanya aku yang akan tersakiti, aku tak tahu.”
“Tunggu, aku sedang minum,” sergah Vena.
Rizki bersikeras. “Yang jelas, aku harus menyelesaikan semua ini sekarang.”
“Menyelesaikan apa?” Vena menaruh gelas, mengelap bibir dengan tisu sekenanya, lalu menatap lawan bicaranya.
“Bagian cerita yang rumpang dari masa lalu.”
Vena mengernyit, tapi Rizki segera melanjutkan pembicaraannya yang mengambang.
“Aku dapat mimpi. Dalam mimpi itu, aku sedang menulis sebuah novel tentang pengalaman romansaku selama SMA. Tentang sebuah pengkhianatan, tentang cinta pertama yang begitu lugu, dan semua yang menyeretku hingga jadi seperti sekarang. Dalam mimpi itu aku tampak bahagia, seolah semua beban hilang dan aku bisa sebebasnya memeluk beruang besar berbulu lembut di padang rumput.”
“Cara bicaramu aneh,” Vena bersungut sambil menyeruput teh dinginnya. “Apa hubungannya beruang dengan mimpi menulis novel?”
“Hanya kiasan. Kamu tahu? Selama SMA dulu, rasanya ada suatu sekat penghalang yang membuatku tidak dapat melihat dunia dengan jelas,” Rizki menjeda. “Dan aku tahu, itu semua karena aku tak mau mengingat-ingat saat itu di masa depan. Dan sekarang, aku malah ingin mengingatnya kembali. Intinya, maukah kamu menceritakan kembali cerita sewaktu SMA yang berhubungan denganku? Secara sistematis, sejak kita kelas sembilan SMP dulu, hingga lulus di kelas dua belas. Hanya kamu yang bisa menyelesaikannya.”
“Memangnya kamu tidak bisa menulisnya sendiri?” tanya Vena sambil menggigit bibir bawahnya.
“Aku hanya ingat beberapa bagian saja. Dan sepertinya..., aku sudah melupakan banyak kejadian penting selama ini.”
Gadis itu terbengong. Gemericing hiasan di langit-langit bersuara disentuh angin sore yang membawa suasana lembab. Udara terasa lengket, dan aroma malam samar-samar merebak di udara. Klakson mobil masih berlomba siapa yang paling keras.
“Apa kamu masih menyukaiku?” dengan suara ragu, Vena bertanya.
“Aku suka kamu...,” Rizki mengambangkan jawaban, otot-otot di wajahnya secara cepat tertarik karena malu, dan dia pun menambahkan, “dan seluruh umat manusia yang baik.”
Tak ada suara. Bahkan alunan lagu bergenre rock yang sedang berputar pun tak sampai ke telinga Rizki. Lelaki itu terus menatap Vena yang tampak sedang memutar otak. Bibirnya berharap akan muncul jawaban Ya, meski dia tahu, sedikit sekali peluang jawaban itu akan muncul.
Begini: Ada seorang lelaki yang dulu mengejarmu, kemudian gagal menjadi pacarmu karena kamu menyukai sahabatnya, dan lelaki ini tidak lagi bersahabat dengan sahabatnya karena sahabatnya pacaran denganmu. Kini, setelah dua tahun tak lagi bicara empat mata, lelaki itu memintamu menceritakan tentang perasaanmu yang dulu padanya. Rumit, bukan?
“Kamu tak perlu menjawab pertanyaan itu sekarang, kok. Kalau kamu tak ingat pun, kamu tak usah menceritakannya—”
“Ya!”
“Aku juga sadar betapa tidak sopannya aku meminta itu padamu—”
“Ya!”
“Terlebih, Adrian pasti tak akan—”
“Jawaban untuk permintaanmu,” Vena menekankan kata-katanya dalam-dalam. “Ya.”
Rizki terbengong. Tangannya masih melekat di meja, dan dia sudah bangkit, seolah hendak memukul meja karena kesal terhadap lawan debat.
“Tapi sebelum itu, aku mau menanyakan sesuatu padamu.”
Rizki duduk lagi dan mendengarkan dengan baik. “Apa itu?”
“Aku akan menceritakannya, tapi sebelum itu, aku mau bertanya..., apa kamu akan baik-baik saja setelah aku menceritakannya? Bukannya kamu sangat-tidak-ingin mendengar kisah itu lagi?”
Ternyata itu yang menjadi pertimbangan Vena hingga tak bicara beberapa saat. Mendengarnya, Rizki untuk beberapa alasan menjadi lega. Dia menjawab dengan yakin.
“Dulu aku memang sangat-sangat-tak-ingin mendengarnya,” bola mata Rizki terbuka. “Tapi sekarang, rasa itu hilang. Aku ingin mendengarnya, meski aku akan menerima rasa tebasan pedang di hati; meski telinga ini meleleh menolak mendengarnya; meski bibir ini menjerit memintamu berhenti, aku tetap ingin mendengarnya.”
Vena mengulas senyum. “Kalau begitu, bagaimana kalau minggu depan aku ceritakan padamu? Tak cukup satu-dua jam untuk menceritakan semuanya, bukan?”

Sepasang muda-mudi itu saling tersenyum, meski tentu saja, senyum keduanya punya konotasi yang berbeda.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2013 Peziarah Kata - Shiroi - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -