Posted by : Unknown
Sabtu, 21 Maret 2015
Minggu pagi aku memutuskan
untuk lari. Dari rumah, aku menggenakan training
merah marun dan baju tiga-perempat yang hanya sampai siku.
Setelah melakukan sedikit peregangan,
aku berjalan menerobos jalan setapak kampungku yang apabila di pagi hari
seperti saat ini penuh oleh pejalan kaki; entah itu penjual oncom; atau ibu-ibu
yang membeli sayur dari pasar. Alhasil, begitu sampai di lingkaran Kebun Raya, kaosku
ditempeli bermacam bau.
Aku berlari santai saja
sambil mendengarkan musik lewat headset.
Udara sejuk Bogor di pagi hari menyeruak memenuhi dada. Tak ada bising klakson,
hanya ada deru teredam dari mesin yang melintas dengan kecepatan cepat, dan di
atasku langit yang begitu biru tampak terhalang dedaunan yang begitu lebat dari
pepohonan. Karena menggunakan sepatu beralaskan karet, hentakan kakiku nyaris
tak bersuara.
Tak berapa lama kemudian aku
sampai di lapangan sempur. Istirahat sejenak, melakukan pemanasan, dan berlari
secara konstan. Musik di telingaku masih bertalu-talu. Di putaran ketiga, aku
pacu seluruh tenagaku. Saat tak ada lagi tenaga yang bisa kuhabiskan untuk
lari, tubuhku kuseret ke sebuah kursi dan beristirahat. Keringat deras dan
terasa tegas seolah butir-butir air asin itu sebesar biji jagung.
Dadaku kembang-kempis begitu
cepat. Lewat mataku tampak orang-orang yang masih berlari di lapangan seperti
tak nyata. Mereka ada di sana, tapi kabur seolah aku sedang bermimpi; aku
sejengkal pun tak bisa menjangkau mereka, dan mereka pun mengabaikan
keberadaanku. Aku ada di sini, sedangkan orang-orang ada di seberang sana.
Suara mereka pun tak terdengar, padahal dengan jelas mataku melihat bibir
mereka bergerak-gerak, mengatakan hal tanpa mengeluarkan suara, benar-benar
seperti mimpi. Seketika aku pun sadar kalau headset
yang masih menempel di telingaku pun tidak mengeluarkan bunyi.
Apa ini?
Tiba-tiba aku merasa begitu
kesepian. Begitu terpejam, jauh di pelupuk mata terlihat air terjun yang
bulir-bulir airnya bisa kulihat dengan jelas satu per satu melompat dari atas
kemudian berpencar saat menghantam batu tajam di bawah. Air itu kemudian
berenang membentuk aliran sungai yang kecil. Di sekeliling air terjun itu
banyak pepohonan yang lebat. Suasana begitu sunyi sampai detak jantungku
terdengar seperti sedang menari. Seolah aku dapat menangkap pesan-pesan dari
detakan yang begitu konstan. Tangan dan leherku bergetar, sesuatu mengular
begitu cepat. Itu darah yang diedarkan jantung. Jantung memompanya ke seluruh
tubuh lewat pembuluh darah. Pembuluh vena.
Vena?
“Kamu sakit?”
Sekonyong-konyong kepalaku
terasa seperti dikocok hebat sekali. Dunia berputar dalam pusaran yang dahsyat.
Aku merasakan kembali tekstur dari celana katun yang agak licin. Di udara
tercium bau sesuatu yang terbakar. Apa ya, wangi ini? Ah, aku ingat, wangi
sosis bakar dari penjual sosis yang mangkal tepat di samping kelasku, hanya
terhalang pagar setinggi dua meter. Begitu aku membuka mata, pemandangan itu
jelas sekali.
“Vena, kau sakit, ya?”
Suara itu terdengar lagi.
Renyah, jernih, serta tenang, tapi begitu ringkih, seperti bunyi telaga yang
dicelupi koin secara perlahan. Begitu melihat ke samping, Vena duduk di
sampingku mengenakan seragam SMP.
“Tidak, hanya kepalaku saja
yang sakit.”
Bukan. Mendadak diriku
tertarik menjauh, dan dari kedua mata ini, kulihat diriku yang masih mengenakan seragam SMP. Di sampingnya duduk Vena
yang tampak kesakitan memegangi kepala dan mulut.
“Kau barusan muntah. Sudah
makan siang?”
“Tadi beli popmie di
koperasi,” sahut Vena. Poni yang menutupi dahinya selembar demi selembar pergi
ke samping begitu dia mengangkat wajahnya. “hehehe.”
“Itu sama saja belum makan,”
diriku yang lain bicara. “Mau kuantar pulang?”
“Jangan. Nanti kamu ketinggalan
pelajaran tambahan,” Vena mengulas senyum ironi.
Diriku yang lain menggeleng.
“Kenapa kau masih mementingkan orang lain? Sudahlah. Ayo pulang. Biar aku yang
minta izin pada pak Agus.”
“Gak takut dimarahi?”
“Lebih takut kamu sakit.”
Aku sekarang ingat betul di
mana dan kapan lokasi ini. Tak salah lagi. Ruangan serba-putih dengan sepotong
tempat tidur tinggi dan bau obat yang begitu pekat pastilah UKS. Kalau melihat
dari janggutku yang belum tumbuh, pastilah ini kelas tiga SMP.
“Tak harus kugendong, bukan?”
tanyaku.
Vena sekali lagi mengulas
senyum.
Sore itu, untuk pertama
kalinya dalam hidup, aku dapat merasa dengan jelas tubuh utuh Vena. Kulihatnya
yang begitu lembut, keringatnya yang beraromakan balsem begitu lengket menempel
di lenganku, serta langkah dan geraknya yang ringkih, seolah jika tanpa aku
topang, dia seketika terjatuh tanpa daya.
ooOoo
Ingatan sewaktu SMP itu
muncul secara tiba-tiba di saat tubuhku mencapai titik kelelahan yang
tertinggi. Dan karena kemunculannya yang tiba-tiba, kehilangannya pun secara
tiba-tiba pula, tanpa peringatan sebelumnya. Hilang begitu saja, seolah terisap
gravitasi kuat blackhole dan
bersemayan di titik terhitam pikiranku.
Aku merasa begitu hampa.
Tubuhku seolah berlubang, meski pun tertutupi baju, angin masih dapat
melaluinya dan menempelkan rasa dingin dan sakit. Dengan gegas aku bangkit,
membeli air dari penjual eceran dan meneguknya sampai habis, lalu pulang
secepat mungkin, dan berharap rasa sakit dan hampa ini hilang dengan melakukan
aktivitas lain.
Entah keputusanku ini tepat
atau tidak, aku tak tahu, dan memang tak ada niat untuk menyelaminya lebih
dalam. Bisa saja keputusanku ini tepat karena biasanya untuk orang sepertiku
cara seperti inilah yang paling tepat; atau bisa saja keputusanku ini salah,
karena jika dilihat dari perspektif rasional, keputusanku merupakan bentuk lain
dari pelarian diri.
Di rumah, aku tak ada
kegiatan lain selain membaca buku. Minggu ini kuputuskan untuk menghabiskan
buku pertama tetralogi buru-nya Pram. Bumi Manusia. Sebelum lebih jauh membaca,
aku menyiapkan terlebih dulu teh manis dan kudapan. Aku membaca di lantai dua
rumahku yang tempatnya terang oleh cahaya matahari pagi agar lebih mudah
membaca. Pasalnya, buku Pram ini bukanlah buku asli, melainkan versi bajakan.
Sebetulnya agak ringkih juga
aku membaca buku bajakan. Bukan masalah cetakannya yang buram dan kertasnya
yang murahan, tapi lebih pada harga diri dan rasa respekku pada penulis. Aku
selalu mengutamakan buku asli dibandingkan buku bajakan. Tapi, untuk karya
tetralogi buruh ini, tentu kita mafhum bahwa buku ini amatlah langka. Sekali
pun ada yang menjual, harganya tentu bisa membuatku tidak makan selama
seminggu.
Toh, jika buku merupakan
jendela dunia, tak penting bukan asli-tidaknya buku tersebut? Apa sebuah gunung
akan terlihat berbeda jika ditinjau lewat jendela orang butut dan jendela
berlapis emas? Semata hanya rasa respekku yang tinggi terhadap ilmu dan
penulislah yang membuatku tetap menjunjung tinggi buku original.
Pukul sepuluh, kututup buku.
Melanjutkan pembicaraan dengan Vena tempo hari, sekarang aku akan datang ke
rumahnya. Langit pagi ini biru sekali. Aku berjalan perlahan, lalu naik angkot
untuk sampai ke rumahnya.
“Kalau begitu, bagaimana
kalau minggu depan aku ceritakan padamu? Tak cukup satu-dua jam untuk
menceritakan semuanya, bukan?”
“Ya, kurasa kau benar.” Lewat sedotan kuisap
air es yang dingin. “Apa kita janjian di sini lagi?”
“Wah, jangan dong, bisa-bisa
uangku habis. Kecuali kalau kamu mau mentraktirku, hehe.”
“Akan kutraktir kalau
royalti untuk bukuku sudah cair.”
“Benar? Kapan?”
“Mungkin bulan depan.”
“Kalau begitu, janji, ya,”
Vena memberikan jari kelingkingnya padaku sambil tersenyum. Tapi melihatku yang
agak kaget, Vena cepat-cepat menarik kembali tangannya. “maaf, aku lupa. Kamu
tak boleh menyentuhku, ya?”
“Kalau Adrian masih ada,
tentu aku tak akan menyentuhmu.”
Vena menyilangkan kelingkingnya
padaku. Dia menyuruhku datang ke rumahnya minggu depan untuk menceritakan
semuanya. Kukatakan padanya aku akan datang sambil menerima alamat rumahnya
yang ditulis di selembar tisu. Sambil tertawa, dia pun melambaikan tangan dan
pergi.
Yang tidak pernah kusangka
sebelumnya, kepergiannya hari itu serta janjinya hari itu merupakan janji
terakhirnya padaku.
Begitu tiba di depan gapura
merah-putih seperti yang dibicarakannya kemarin, aku turun, berbelok ke kanan
dua kali, berjalan lurus sampai rumah bercat krem, belok kanan lagi, dan rumah
Vena ada di sana. Rumah sederhana dengan atap merah bata. Halamannya luas, tapi
memancarkan kesan ditinggalkan begitu saja.
Kuucapkan permisi, karena
tak mungkin mengucapkan salam pada keluarganya. Permisi. Permisi. Permisi. Begitu
aku terus mengulang untuk mengucapkan kata permisi. Entah di ucapan keberapa,
seorang tetangga keluar dari rumahnya.
“Keluarga Pak Budi pindah ke
Purwokerto,” seru Ibu Tetangga itu ketus.
“Benarkah? Kapan pindahnya?”
“Selasa.” Ibu itu membanting
pintu sebagai tanda penolakan bicara.
Lubang dalam diriku mendadak
menganga kembali. Kehampaannya bertambah berat dan bulat. Vena, meski aku tak
pernah memahaminya, aku selalu bisa memprediksi dan menyangka akan
pergerakannya. ‘Aku bertaruh Vena akan pergi ke sini’ atau ‘Vena setelah ini
pasti akan bicara denganku’ atau semacamnya. Dan itu selalu benar. Setidaknya
sampai tahun lalu.
Yang tidak pernah kusangka sebelumnya,
kepergiannya hari itu serta janjinya hari itu merupakan janji terakhirnya
padaku. Mengetahui hal itu, kehampaan dalam diriku berubah wujud jadi nelangsa
yang tak terkira.