Archive for Mei 2014
“Keberuntungan itu tak ada.”
“Ada!”
“Hmmph! Kalau pun ada—” Adrian melempar bola volinya ke
atas. “—Keberuntungan itu akan kupukul—” Adrian melompat, lalu bunyi telapak
tangannya yang menampar bola begitu menggema di seluruh ruang olahraga yang
kosong. “—Seperti bola itu.”
Kuambil bola yang berada di sebelah lapangan. Mengangkatnya
ke hadapan wajahku, lalu pandanganku menelusuri seluruh permukaan bola.
Apa sih istimewanya bola ini?
***
Langit sudah jingga saat aku dan Adrian pulang bersama.
Ditemani dua gelas es cendol yang tadi kubeli, kami berbincang-bincang mengenai
apa pun.
Yang kumaksud ‘apa pun’ itu hanya apa yang kubicarakan,
karena Adrian sejak tadi terus mengoceh tentang voli. Smash, kepercayaan teman, pertandingan final, dan yang paling
membuatku geram itu saat Adrian berbicara tentang bola voli.
Huh! Apa menurutnya aku peduli dengan bola-voli-persetan
itu?
Aku tak menyukai olahraga, terutama voli. Selain karena
tubuhku lemah, voli juga banyak merenggut waktu Adrian yang sudah super-sedikit
untuk mengobrol denganku.
Lihat saja jadwalnya yang mengerikan! Sampai-sampai dia
hanya punya waktu luang untuk mengobrol denganku pada hari sabtu. Itu pun
sesudah ia latihan voli. Arrgh! Karena voli jugalah, sampai saat ini Adrian
belum menyadari perasaanku padanya.
Aku menyukainya sejak pertama bertemu di kelas 8 dulu. Dan
hingga kini, mendekati akhir semester kelas 11, aku masih menyukainya. Aku terus memberikan kode-kode perasaanku
padanya, tapi…
Dia tidak
menyadarinya.
Oke, mungkin aku terlalu naif. Menginginkan seorang pelajar
sibuk seperti Adrian yang—kurasa—tak pernah membicarakan cinta dengan siapa pun, untuk mengerti kode yang
kuberikan. Tapi, salahkah aku berharap?
Maksudku, ayolah! Kami hampir empat tahun bersama, dan
masih terjebak dalam lingkaran bernama sahabat. Dan ini semua karena ia terlalu
sibuk latihan voli.
“Cynthia, kamu dengar apa yang kukatakan?” Adrian
sepertinya menyadari kalau aku terus membeo dalam hati. Telunjuknya menusuk
pipiku yang menggembung, membuatku mendelik padanya.
“Aku dengar.”
Alis Adrian bertautan. “Benarkah?”
“Benar,” tukasku cepat. Kurasakan hembusan angin meniupi
kulitku, dengan suara desahan yang nyaris tak terdengar. Kepalaku mendongkak,
menatap segaris hitam yang mulai tampak di langit senja. Sebentar lagi malam,
dan di ujung jalan, rumahku sudah terlihat.
Adrian masih melempar-lempar bolanya pelan sambil bersiul
di sampingku. Bau keringatnya bercampur parfum menyerang hidungku tanpa ampun.
“Sampai besok, Cynthia,” Adrian berbelok ke kanan tanpa
menoleh padaku.
“Adrian!” panggilku setelah menutup gerbang. Lelaki itu
menoleh, bola matanya yang coklat cemerlang menatapku dalam-dalam. “Apa kamu
tahu kalau ada seseorang yang menyukaimu sejak SMP dulu?”
“Hah? Memangnya ada?” Adrian berhenti memainkan bolanya.
Langkahnya mendekati pagarku.
Seringaiku mengembang. Dengan iseng, sengaja aku menjauh
dari pagar. Begitu membuka pintu, kubalikkan tubuhku sejenak. “Ada. Bahkan
sampai sekarang, dia masih menyukaimu, lho!”
“Siapa? Beritahu aku dong,” pintanya dengan nada seperti anak kecil.
Orang itu aku, bodoh! “Kata gadis itu, kalau kamu mau tahu siapa dia, berhentilah bermain
voli.”
***
Pagi-pagi sekali, Adrian sudah tampak menunggu di depan
pagar rumahku. Aku tersenyum dibuatnya. Namun saat kulihat bola voli di telapak
tangannya, senyumku luntur. Padahal ini hari minggu, pasti ia mau latihan.
Tapi, tumben sekali dia menungguku.
Kusibakkan gorden, lalu dengan cepat keluar rumah dengan celana training dan
sweater abu-abu favoritku. Kulihat Adrian tersenyum padaku. Apa ia mengajakku
jogging bersama?
“Kamu mau olahraga pagi?” sapanya sambil membukakan gerbang
rumahku.
“Begitulah,” sahutku penuh harap.
Adrian melempar bolanya cukup tinggi, lalu menangkapnya
dengan cekatan. “Orang yang menyukaiku itu... Bisakah kamu beritahu aku siapa
dia?”
Rautku berubah kecewa. Harapanku untuk jogging bersamanya luluh. Dengan kesal, aku berkata, “Sudah
kubilang, bukan? Kalau ingin tahu siapa orangnya, berhentilah bermain voli.”
***
Hari ini hari sabtu, dan Adrian terlihat masih normal
seperti biasa. Kecuali dia tak lagi bicara padaku sejak hari minggu lalu.
Sepertinya dia marah karena aku merahasiakan sesuatu darinya.
Oke, sepertinya aku salah langkah. Pada awalnya, kuharap
dengan mengatakan seperti itu, Adrian akan penasaran. Mendekatiku, dan
benar-benar berhenti bermain voli. Aku tahu dia anak yang paling tidak tahan
dengan rahasia, namun aku tak tahu kalau dia anak yang gampang marah karena
rahasia.
Itu salahku.
Tapi saat aku bersiap-siap mengemasi barang-barang untuk
pulang, Adrian tiba-tiba saja menghampiriku dengan raut serius. Dia menyodorkan
secarik tiket padaku.
“Datanglah besok. Aku akan bermain di final pertandingan
antar sekolah. Kalau aku menang, beritahu aku siapa orang yang menyukaiku.
Kalau aku kalah, aku akan berhenti bermain voli. Bagaimana?”
Bagai diguyur madu termanis, hatiku merekah luar biasa
cepat. Meski pun aku sangat sangat enggan melihat pertandingan voli yang kubenci, tapi ini
kesempatanku 1 berbanding 1000. Harus kuambil.
“Baiklah.”
***
Esoknya aku benar-benar datang ke gor, tempat dimana pertandingan final digelar. Anehnya, tribun tempatku duduk hanya terisi beberapa orang, sementara
tribun yang lainnya benar-benar penuh penonton yang tampak ramai. Setengah
kuhempaskan tubuhku ke kursi, mengenyahkan rasa enggan.
Aku pasti memenangkan taruhan ini.
Tak lama kemudian peluit berbunyi. Para pemain voli tampak
memasuki lapangan sambil berbaris, membungkuk
memberi hormat, lalu berpencar ke berbagai tempat. Pemain inti berdiri di
lapangan, sisanya di bangku cadangan.
Adrian berada di depan net sebelah kanan. Dia tampak keren
dengan balutan kaos biru.
Priiit!
Peluit berbunyi. Dan dimulailah bunyi-bunyi tamparan yang
tak kusukai.
***
Entah sejak set berapa aku mulai berhenti menutup
telingaku. Dan entah sejak skor berapa, aku mulai menyukai bunyi telapak tangan
yang menampar permukaan bola voli yang terus berpindah sisi.
Yang jelas, ini adalah babak ke – 3, dengan skor 23 – 21 untuk kemenangan sekolahku.
Adrian tampak luar biasa tegang. Begitu pun dengan seisi gor yang hening,
membiarkan bunyi tamparan servis menggema.
Bola berayun ke sisi tim musuh. Dengan beberapa kali
sentuhan, pemain musuh meluncurkan smash
keras yang tak bisa dihadang timku. 23 – 22. Adrian mendesah kecewa, sementara
gor riuh sorak bahagia.
Ketegangan kembai merebak. Musuh melakukan servis cukup
keras, tapi berhasil dibalikkan. Seseorang yang menjadi pengumpan mengangkat
bola ke arah Adrian, dan...
BAM!
Bola hasil smash
Adrian menukik tajam tanpa bisa dibalikkan. 24 – 22.
“Yeeeey!” aku berteriak kegirangan seorang diri, membuat seisi
gor memandangiku heran. Peduli setan dengan tatapan itu!
Adrian tampak menoleh padaku sambil menyikutkan senyumnya.
Ah! Wajahnya seolah bersinar karena peluh. Lama aku memandanginya, hingga bunyi
peluit mengagetkanku. Game kembali
dimulai.
Servis melayang mulus melewati net. Beberapa kali sentuhan, tapi tak ada smash. Bola berayun lagi ke tim Adrian.
Seseorang dengan kaos yang berbeda sendiri tampak menerima bola, lalu si
pengumpan kembali memberikan bola pada Adrian.
Saat itulah, seolah dunia mengalami slow motion, dengan jelas kulihat raut penuh harap saat Adrian
melompat begitu tinggi. Nafasku seolah ikut meloncat. Saat telapak tangan
Adrian beradu dengan permukaan bola, kututup mataku erat-erat.
Keberuntungan itu tak
ada. Kalau pun ada, keberuntungan itu akan kupukul seperti bola itu.
BAM!
Gor terhenyak. Hatiku serasa bergetar sedemikian hebat,
saat teriakan bahagia Adrian memecahkan hening. Kubuka mataku, ternyata Adrian
menang!
“Yaaay Adrian menang!” aku berteriak bahagia, mataku serasa
hangat karena terharu. Ah, tak pernah kubayangkan menonton voli se-menyenangkan
ini. Dengan senyum yang masih bertengger, kuseka mataku.
“Cynthia!” panggil Adrian.
Suasana mendadak kembali hening. Kurasakan darahku mendesir
saat Adrian menatapku serius.
“Katakan padaku, siapa yang menyukaiku itu.”