Archive for Maret 2015

Untuk Rizki,
Maafkan aku kalau surat ini datang agak telat. Belakangan aku sibuk sekali, hingga baru punya waktu luang untuk menulis surat kali ini.
Mungkin karena jadwalku yang padat juga, aku jadi lupa suratku yang kemarin membahas tentang apa, hehehe. Yah, kupikir dalam surat kali ini aku akan menceritakan saat kelulusan hingga tes masuk SMA saja.
Apa kamu masih ingat saat perpisahan dulu? Kalau aku sendiri masih mengingatnya dengan jelas. Gedung Balai Binarum yang masih kokoh berdiri, langit-langitnya yang berbentuk segitiga begitu tinggi, serta susunan kursinya yang apabila dilihat dari atas membentuk tanda + di tengah-tengah.
Semuanya masih dapat kuingat dengan jelas, seolah peristiwa itu baru saja terjadi kemarin. Tapi saat aku menyadarinya, sudah 4 tahun terlewat....
***
Setelah melewati pelajaran dan jadwal yang begitu mengerikan selama enam bulan terakhir, akhirnya aku lulus dari sekolah dengan NEM memuaskan, 36.80. Aku juga memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 4 Bogor, yang kebetulan sekolahnya tepat berada di hadapan SMP-ku.
Di waktu upacara kelulusan, aku tak menangis, hanya merasakan sedikit sedih. Hari itu aku dan teman-teman banyak berbincang mengenai masa depan, mau meneruskan sekolah ke mana, tanyaku. Kebanyakan sih menjawab ingin meneruskan ke SMAN 4, hanya Devita yang mengatakan ingin mencoba tes ke SMA 5. Hebat, semoga kamu diterima, ucapku.
Hari itu Rizki menjadi salah seorang dari sekitar tiga puluh anak yang mendapatkan plakat dari Kepala Sekolah atas prestasinya menjuarai perlombaan. Setahuku, Rizki itu juara satu lomba cipta puisi tingkat Provinsi.
Pembawa acara pagi itu membacakan sederet prestasi yang dicapai siswa angkatan 2011/2012. Hanya lima orang yang mendapat prestasi di bidang seni, sementara sisanya di bidang olahraga. Setelah itu sedikit kata-kata dari kepala sekolah, penyerahan plakat, dan penampilan-penampilan dari adik kelas.
Satu-satunya yang mampu membuatku sedikit gemetar itu saat tim paduan suara menyanyikan himne Pahlawan Tanpa Tanda Jasa secara bersama-sama. Detik itulah aku baru sadar, meski bagaimana jengkelnya aku pada guru, merekalah yang membuatku bisa berdiri di tempat ini.
Acara selanjutnya tak ada lagi yang menyenangkan. Teman-temanku selalu mengajakku berfoto, aku menurut saja. Acara utama selesai pukul satu siang. 1/3 anak pulang bersama orang tuanya. Ibuku sendiri memilih pulang duluan, membiarkanku berbicara pada teman-teman sepuasnya.
Aku mencari-cari Rizki. Rupanya sedang bersama komplotannya, orang-orang yang suka sekali tertawa. Melihatnya aku jadi berpikir, kenapa orang sekalem Rizki bisa begitu akrab dengan mereka yang sangat berisik?
“Rizki, si Vena nungguin kamu, nih!” teriak Dea.
Temanku yang satu ini sepertinya tak punya malu. Dan aku berani bertaruh kalau salah satu cita-citanya pastilah menjadi mak comblang. Terima kasih untuknya, karena berkat dia, seisi kelas menggosipkan aku dan Rizki pacaran.
Rizki berjalan ke arahku. Kemeja batik biru yang ia kenakan tampak begitu cocok dengan rambut hitamnya yang dipotong tipis. Terlebih celana hitam serta sepatu yang dikenakannya pun menambah kesan dewasa dalam dirinya.
“Mau keluar sebentar?” tawar Rizki.
Aku berjalan ke luar gedung di samping Rizki. Tampaknya di luar malah lebih berwarna dibanding di dalam. Kami mengitari gedung yang cukup luas itu untuk sampai di sebuah tempat duduk yang nyaman. Sebuah kursi yang agak teduh.
Rizki duduk terlebih dulu, kemudian aku. Rerumputan yang setinggi jari kelingking yang bagai karpet kupermainkan sedikit demi sedikit. Di atasku, ada pohon yang entah jenisnya apa. Rantingnya kurus, tapi daunnya cukup meneduhkanku.
“Kamu mau meneruskan ke SMA 4, ya?”
“Ya, kamu sendiri?”
“Mungkin...,” Rizki bersuara seperti angin yang lembut. “Aku juga akan ke SMA 4.”
Aku terperajat. “Nggak jadi ke SMA 5?”
Rizki hanya mengulas senyum. Tulus sekali, seperti seekor anak panda sesuai memakan daun bambu.
Kenapa harus SMA 4, pikirku dalam hati. Ingin rasanya aku meyakinkan ia untuk membatalkan niatnya dan mendaftar ke SMA 5 saja. Pasalnya, SMA 5 tentu lebih bagus dalam hal pendidikannya daripada SMA 4. Dan juga, dengan otak seencer Rizki, tentu ia bisa menembus ujian masuknya andai belajar dengan giat.
Aku kadang mendapatkan kiriman puisi dari Rizki. Kata-katanya begitu lembut seperti sebarisan semut yang berjalan di atas tanganku menuju tengkuk. Di lain hari, kata-katanya bisa berubah setajam mata pisau; di lain hari pula kata-katanya seperti awan. Tak dapat kumengerti, tapi tetaplah indah. Dengan kemampuan berpuisinya, tentu ia amat dekat menjadi seorang sastrawan, barangkali penulis.
Tapi melihat wajahnya yang detik ini, setan mana pun tak akan sanggup membias senyum di wajahnya.
Akhirnya aku memilih menundukkan kepala dan diam. Mencoba mengunci berbagai kata-kata yang berkecamuk di dalam kepalaku. Apa seorang merpati dapat mencegah niatan yang singa?
“Kok tiba-tiba diam?” suara Rizki membangunkanku.
“Mmm, boleh tanya sesuatu, nggak?” aku menggigit bibir bawah saat mengatakannya.
Kepala Rizki dimiringkan sedikit.
“Kenapa..., kenapa kamu daftar ke SMA 4?”
Usai kata-kata itu terucap, hatiku berharap dia tidaklah marah. Sejenak aku terpejam. Dunia terdiam. Kurasakan detak jantung kian berbisik, apa aku berharap jawabannya karena aku? Alasan dia mendaftar ke SMA 4..., karena aku?
Separuh hati ini bahagia, sedangkan sisanya merana. Betapa tega aku menarik malaikat ke bumi hanya untuk menemani gadis kecil yang kesepian.
“Alasannya karena.....”
Rizki menggantungkan jawabannya.
“Karena apa?” rengekku.
“Karena....”
Aku mulai gemas.
“Nanti juga kamu tahu sendiri,” pungkasnya sembari melebarkan senyum.
Aku merajuk. “Rizkiiii!” jeritku sambil memukul bahunya pelan.
Kami tertawa keras sekali, lepas sekali. Seumur-umur, belum pernah aku tertawa selepas ini. Seolah semua beban yang kutahan keluar bersama tenaga yang kugunakan. Seolah guratan-guratan kekesalan bias bersama lebarnya senyum..
Selepas itu, Rizki mengajakku ke sebuah kafe terlebih dulu sebelum pulang.
ooOoo
Sesuai dugaan, aku lolos seleksi. Mengenai hal ini, Rizki mengucapkan selamat padaku. Katanya, “Wah, sepertinya untuk tiga tahun ke depan, kita akan mengenakan almamater yang sama lagi.” Yang kutahu, untuk orang secerdas Rizki, tentu tidaklah sulit baginya untuk masuk SMAN 4 ini.
Untuk merayakan keberhasilanku masuk SMA 4, Rizki mengajakku makan di restoran. Restoran tempat kami makan tidaklah menyediakan kursi, jadi kami makan secara lesehan. Menunya pun tak jauh dari makanan sehari-hari: lalapan; ayam goreng; sambal; sup. Meski begitu, rasanya tak perlu ditanya. Enak!
Usai menyantap makanan hingga nyaris kekenyangan, kami berbincang mengenai banyak hal. Bagaimana kehidupan di SMA nanti? Banyakkah orang-orang tengil yang kerjaannya hanya menyontek? Apa guru-gurunya juga masih menyebalkan? Lebih jauh, Rizki memancingku tentang pacaran.
Untuk topik yang satu ini, aku—entah kenapa—merasa sedikit jengah membicarakannya dengan Rizki. Lelaki itu bertanya, apa nanti aku bakal dapat seorang pacar di SMA.
“Mmm, kalau pacar sih gak mau,” aku membuka mulut meski malu. “Soalnya, aku itu pengennya punya satu pasangan yang setia seumur hidup.”
“Pasangan sejati?”
“Iya.”
“Bagaimana kalau Tuhan menakdirkan kamu dapat pacar, terus putus di tengah jalan?”
Aku memicing. “Tuhan gak akan sejahat itu. Aku percaya. Nggak dengan hal sesuci cinta. Buatku sendiri, cinta itu bukan main-main. Pacaran itu main-main! Apalagi waktu SMA. Aku banyak denger cewek yang punya pacar lebih dari 2. Ih, aku sih nggak mau sampai kayak gitu. Makanya, aku milih pacaran pas kuliah aja, biar lebih serius.”
Rizki hanya menggumamkan sesuatu sambil menyeruput teh manisnya. “Gimana hubunganmu sama si itu?”
“Si itu?”
“Itu lho, yang katanya suka padamu,” Rizki mengarahkan ingatanku. “Kamu belum memberitahu siapa nama lelaki itu.”
 “Oh, dia...,” kumainkan ujung rambutku dengan jari. “Hmm, mungkin hubunganku sama dia stagnan, gak ada kemajuan. Dia masih fokus sama beladirinya. Tapi..., dia ngasih janji sama aku.”
“Janji?”
“Dia bakal ngelindungi aku kalau udah ahli beladiri itu.”
So sweet,” celetuk Rizki sembari nyengir.
Kurasakan pipiku memerah. “Orangnya asyik sih, cuman aku agak ringkih kalau dia mulai gerakan-gerakan beladirinya di depan umum. Kesannya sombong!”
“Berarti dia belum siap dengan ilmunya,” Rizki nyeletuk lagi, kali ini sambil mengunyah es batu.
“Maksud kamu?”
“Iya. Aku pernah membaca di sebuah buku, kalau sifat sombong itu muncul dari hati yang belum siap menerima suatu ilmu.”
Untuk kesekian kalinya, aku dibuat kagum oleh ucapan Rizki, hingga tak sadar aku memandanginya cukup lama dalam tatapan mata yang lebar. Aku buru-buru mengalihkan topik lain, bersikap seolah tak terjadi apa pun, meski dalam hatiku sesuatu mulai meletup-letup.
Sekitar pukul dua siang, aku pamit pulang karena merasa harus menemui orangtuaku atas keberhasilanku ini. Kami berpisah karena rute angkot kami berbeda usai membayar menu makanan masing-masing.
Di dalam angkot menuju rumah, aku mengulas senyum. Tak kusangka Rizki menganggap hal itu sungguhan. Padahal aku hanya mengarang cerita soal lelaki yang aku sukai itu. Sebetulnya, aku sampai saat ini belum menyukai siapa pun.
***
Bagaimana? Ingat sesuatu setelah membaca surat ini?
Ngomong-ngomong, aku mulai merasa bosan kalau hanya menulis surat satu-arah seperti ini, seolah aku ini sedang menulis memoar. Jujur, sekarang aku merasa kesepian. Bahkan di beberapa malam, aku sering menangis kalau mengingat-ingat tidak ada satu pun orang yang menyayangiku lagi. Apa ya namanya..., Alienasi, bukan? Ya, aku tahu istilah itu dari status facebookmu. :p
Aduh, maaf membuatmu membaca pernyataan sedih ini. Mungkin karena aku teringat akan Adrian, ya? Hehehe.
Sudah dulu ya, surat dariku kali ini. Tetap kirimi aku doa! Soalnya, belakangan ini aku sering kena flu.

Temanmu,

Vena

Chapter 5 - Aproksimasi (Bagian Pertama)

Posted by : Unknown
Senin, 30 Maret 2015
0 Comments

Untuk Rizki,
Maaf tidak memberitahumu sebelumnya tentang kepindahanku. Kamu pasti kaget, bukan? Hehehe. Karena aku punya janji akan menceritakan tentang masa lalu kita padamu, maka, kutulis surat ini di kereta yang sedang mengular menuju Purwokerto.
Melihat persawahan yang begitu menghampar bagai karpet membuatku teringat rerumputan tak terurus yang ada di samping kelas IX - F, kelas kita dulu, tempat aku mengenalmu.
ooOoo
Menginjak kelas sembilan, aku benar-benar merasa tak ada satu hal pun yang berubah dalam diriku. Padahal, aku—Vena Dila Handayani—ini sebentar lagi keluar dari SMP; mendaftar ke SMA lain; dan terpisah dari teman-teman. Tapi beginilah aku, benar-benar merasa tak ada bedanya.
Kelas IX – F. Minggu pertama, seperti biasa, diadakan pembentukan pengurus kelas. Orang-orang mulai mengajukan calon mereka masing-masing. Aku menurut saja. Mengangkat jari dan memberikan pilihan saat diminta, serta bertepuk tangan saat Surya terpilih jadi ketua kelas. Tak ada yang menarik.
Aku sendiri lebih senang menghabiskan waktu untuk bicara dengan teman sebangkuku, Disti. Meski banyak bicara, Disti ini orangnya lucu. Tubuhnya kecil, rambutnya seperti mangkuk, serta bola matanya begitu bulat. Sayang, karena lelaki di kelas sering meledeknya, dia jadi sering menangis. Dan biasanya akulah yang menjadi tempatnya menangis.
Kehidupanku sungguh biasa saja. Belajar, bermain dengan wajar, mengikuti pelajaran tambahan, les, lalu pulang dan tidur. Begitu dan terus begitu. Sesekali mengeluh, di lain waktu tertawa, menangis, atau tertawa sambil menangis.
Menginjak semester terakhir masa SMP, suasana kelas berubah. Meski tidak terlalu drastis, tapi aku dapat merasakannya dengan jelas. Anak-anak jadi lebih serius. Disti jadi tidak sering diganggu, malah karena kepintarannya kini dia selalu didekati orang-orang untuk berdiskusi soal pelajaran-pelajaran. Syukurlah.
“Kamu tau si Aldi, gak?” tanya Disti.
Sore itu, kira-kira dua bulan sebelum UN, aku mengunjungi rumah Disti untuk belajar bersama. Hanya kami berdua, sebab aku tidak pernah bisa fokus kalau belajar terlalu banyak orang.
“Si Aldi yang bandel itu?”
“Iya!” Disti berseru kencang. Kelopak matanya terbuka lebar. “Belakangan ini dia sering banget sms aku.”
“Kamu seneng?”
“Hmm, gimana ya, seneng sih...,” Disti meletakkan pensil. Punggungnya disandarkan pada dinding kamarnya yang berwarnakan biru. “Awalnya dia nanya-nanya tugas gitu. Pas udah beres, dia malah nanyain hal-hal gak lain, terus gak kerasa smsan sampai malem.”
Aku melipat tangan di atas paha. Melihat gerak-geriknya, jelas Disti sedang bahagia. Ya, wajar saja sih, soalnya dia kan selama ini—setahuku—tak pernah didekati lelaki mana pun.
Disti meraih gelas dari atas meja dan meminum airnya hingga tak tersisa. Meja bundar dari kayu mahoni itu dipoles halus sekali. Barang-barang di kamar Disti memang tergolong mewah. Karpet yang lembut, tempat tidur yang empuk, bingkai cerminnya pun tampak elegan dengan motif yang tak kuketahui bentuknya. Di balik semua itu, Disti pandai menyembunyikan derajat orangtua-nya yang bisa digolongkan sebagai orang kaya.
Tanpa sadar Disti sedang membicarakan sesuatu, dan aku kehilangan beberapa paragrafnya, jadilah di penghujung kalimat aku hanya bisa mengiyakan.
“Siapa?” todong Disti penasaran.
“Apanya?”
“Itu, cowok yang ngedeketin kamu,” Disti menggodaku dengan suaranya. “Kamu bilang ada.”
“Eh, bercanda, tahu!”
“Nggak, pasti ada,” Disti merangkak mendekatiku lagi. “Vena, kamu itu cantik, rambutmu panjang dan bagus. Kulit kamu juga bersih. Pasti ada yang suka.”
Yeah, jika saja aku mengenakan kerudung, bukan kalung salib, batinku.
“Nggak ada kok, beneran.”
“Kemaren aku lihat isi hapemu, kok kebanyakan smsnya dari Rizki....”
Oh, Rizki. Rizki pertama kali mengirimkan pesan padaku di hari yang sama saat kami menjadi teman satu kelompok tugas praktik drama bahasa Inggris. Sekitar satu bulan yang lalu. Meski sudah saling kenal sejak awal tahun pelajaran, dia baru mengajakku bicara santai di penghujung semester dua.
Kalau dipikir-pikir, mirip juga kelakuan Rizki dengan Aldi. Seperti Aldi, Rizki juga sering mengirim pesan soal pelajaran. Kalau sudah selesai, dia biasanya akan membahas sesuatu yang lain, disertai argumennya. Misalnya saja, kemarin kami membicarakan sebuah anime berjudul Baka To Test.
Argumen yang dikemukakan Rizki dapat kutangkap dengan mudah, dan kebanyakan aku sependapat dengannya.
Aku paling senang kalau dia sudah membahas tentang antariksa. Rizki bilang, seharusnya manusia yang belajar astronomi itu taat beragama, karena di angkasa sana banyak sekali ciptaan Tuhan yang belum terjamah manusia. Lebih jauh lagi, Rizki membandingkan ukuran-ukuran planet bumi dengan matahari, matahari dengan bintang lain yang ukurannya jauh lebih besar: 10x, 100x, sampai jutaan kali, dan itu membuktikan tak ada apa-apanya manusia.
 “Oh, Rizki emang sering sms, tapi gak tiap hari,” aku membela diri.
“Tapi deket, kan?”
“Deket sebagai temen, iya,” kututup pembincangan hari ini karena waktu sudah menunjuk pukul lima sore. “Eh, aku pamit pulang dulu ya, takut orangtuaku khawatir.”
Disti mengantarku pulang sampai ke pinggir jalan. Saat angkot yang kunaiki melaju, di jalan yang tadi kulihat Disti melambaikan tangan. Angkot terus melaju.
ooOoo
Kira-kira pukul sembilan malam aku keluar dari kamar dan mengamati langit malam. Rizki mengirimkan pesan padaku, memberitahukan kalau langit saat ini sedang cerah, jadi aku bisa mengamati rasi bintang dengan nyaman.
Lantai dua rumahku memang sengaja dibiarkan terbuka tanpa atap sebagai tempat jemuran. Ternyata benar. Dari sini aku bisa melihat bintang yang berkedip di tengah hitamnya langit malam. Bintang-bintang itu, kalau kuperhatikan seperti intan yang ditabur di angkasa. Betapa kaya Tuhan yang memiliki segalanya.
Ada rasi bintang pari atau salib di langit sebelah selatan. Tergambar juga meski buram rasi bintang biduk, aku menyebutnya Beruang Besar. Di sebelahnya ada Beruang Kecil. Hanya itu yang dapat kukenali, sisanya, hanya memancarkan gemerlap cahaya.
Selang beberapa saat, Rizki menelepon.
“Bagaimana? Indah, bukan?” ucapnya di ujung sana.
Aku mengangguk. Sesaat kemudian aku tersenyum geli. Memangnya anggukan bisa terdengar ke ujung sana. “Ya, indah, hehe. Kamu lagi liat bintang apa?”
“Scorpion.”
Kepalaku berputar. “Rasi bintang scorpion itu ada di mana?”
“Di timur, agak ke bawah sedikit...,” nada bicara Rizki seolah dia melihat setiap gerakanku. “Ketemu?”
“Nggak.”
“Hahaha, memang gak terlalu jelas, sih.”
Kami terdiam. Ponselku masih menempel di telinga, dan di seberang sana pun Rizki belum memutus sambungan. Hening menyergap. Angin mulai membelaiku dengan dingin, tapi aku masih enggan pergi. Senyap sekali. Jangkrik terdengar berisik tapi merdu bersenandung dengan bunyi dedaunan yang bersentuhan satu sama lain. Aku mendadak merasa dalam kesunyian, hanya aku dan Rizki manusia yang ada di bumi.
“Coba lihat langit,” ujar Rizki. Aku menurut. “Rasi bintang apa yang kamu lihat dengan jelas? Biduk? Orion?” saat mengucapkan salib, aku mengiyakan. “Ya, di sini juga terlihat jelas. Indah sekali, seolah ada benang sutra yang menyambungkan mereka.”
“Aku setuju,” sahutku.
“Meski kita berada di tempat yang berbeda, kita masih dapat melihat langit yang sama,” suaranya terdengar lirih, seperti bunyi belalang yang digoyang angin. “Menurutmu, apa Tuhan menciptakan bintang-bintang di langit hanya untuk keindahan dan fungsi astronomis?”
“Sebagai penunjuk arah?” tebakku.
“Kalau menurutku, selain semua fungsi itu, bintang juga sebagai penanda. Ya, bisa penanda apa saja. Sebuah peristiwa bersejarah, peristiwa besar, seperti peristiwa penggulingan Raja Harold oleh William The Conqueror yang dipercaya ditandai berbarengan dengan munculnya komet Halley tahun 1066, atau bisa juga sebagai penanda akan sebuah cita-cita.”
Aku menggumamkan ungkapan setuju.
“Coba kamu tunjuk satu bintang. Sambil mengingat-ingat bintang itu, sebutkan cita-citamu. Suatu hari nanti, kalau kamu sedang bingung atau kehilangan arah, keluarlah di malam hari, lihat lagi bintang itu. Aku sering melakukannya, dan kadang aku merasa bintang itu bicara padaku, ‘hei, Rizki! Kenapa kau putus asa seperti itu? Bukankah kau sudah berjanji padaku akan menjadi sukses?’ dan tiba-tiba saja aku merasa semangat lagi.”
Ucapannya menggelikan bagiku. Suatu kehangatan mendekap hatiku. Rasa hangat ini membuatku tersenyum. “Terima kasih.”
“Kembali kasih.”
...
“Omong-omong, ini sudah pukul sepuluh,” Rizki seolah mengatakan padaku jangan lupa tidur.
“Belum ngantuk, kamu aja yang tidur duluan.”
ooOoo
Surat dari Vena itu datang tiga hari setelah aku datang ke rumahnya yang kosong. Aku membaca surat itu saat sedang menaiki commuter line untuk keperluan bisnis di Jakarta Barat.
Saat membaca surat itu, sesuatu dalam hatiku menggeliat. Rasa hampa masih saja terasa, tapi kata-kata dari Vena hangat bagai kunang-kunang yang terbang ke bagian terhampa dalam tubuhku.
Di bagian terhampa itu tak ada apa-apa selain kehampaan itu sendiri. Dan sepertinya, kupu-kupu itu melebur dalam kehampaan, karena satu-dua jam setelah membaca surat itu, aku bersikap seolah tak ada apa-apa, dan aku pun belum dapat mengingat-ingat perjalanan hidupku dengan jelas.
Seperti yang ditulis Vena di penghujung suratnya, aku memang tak harus melakukan apa-apa selain menunggu surat lain darinya untuk sekarang.
ooOoo
Sekian surat dariku untuk kali ini. Saat kamu menerima surat ini, aku sudah sampai Purwokerto.
Kira-kira tiga sampai empat hari ke depan aku banyak kegiatan, jadi mungkin suratnya baru akan kutulis di hari minggu atau pada malam hari kalau aku tidak kelelahan. Hehehe, tetap do’akan aku sehat agar bisa terus menulis surat untukmu, ya!

Temanmu,
Vena.


Chapter 4 - Konstelasi

Posted by : Unknown
Rabu, 25 Maret 2015
0 Comments
Surat Yang Melewati Jutaan Tahun Cahaya


Penulis          : Ridzgank

Genre             : Romance

Status             : Ongoing

Blurb          : Suatu siang, tiba-tiba saja Rizki menuliskan sebuah surat untuk pacar mendiang sahabatnya. Tanpa diduga-duga, Vena membalas surat itu, dan menyanggupi permintaan Rizki untuk bertemu. Dan sekarang, pertemuan mereka kembali membuka masa lalu yang dikotori pengkhianatan atas sahabat, drama remaja lugu, impian, serta kesepian.



DAFTAR CERITA







Surat Yang Melewati Jutaan Tahun Cahaya

Posted by : Unknown
Sabtu, 21 Maret 2015
0 Comments
Minggu pagi aku memutuskan untuk lari. Dari rumah, aku menggenakan training merah marun dan baju tiga-perempat yang hanya sampai siku.
Setelah melakukan sedikit peregangan, aku berjalan menerobos jalan setapak kampungku yang apabila di pagi hari seperti saat ini penuh oleh pejalan kaki; entah itu penjual oncom; atau ibu-ibu yang membeli sayur dari pasar. Alhasil, begitu sampai di lingkaran Kebun Raya, kaosku ditempeli bermacam bau.
Aku berlari santai saja sambil mendengarkan musik lewat headset. Udara sejuk Bogor di pagi hari menyeruak memenuhi dada. Tak ada bising klakson, hanya ada deru teredam dari mesin yang melintas dengan kecepatan cepat, dan di atasku langit yang begitu biru tampak terhalang dedaunan yang begitu lebat dari pepohonan. Karena menggunakan sepatu beralaskan karet, hentakan kakiku nyaris tak bersuara.
Tak berapa lama kemudian aku sampai di lapangan sempur. Istirahat sejenak, melakukan pemanasan, dan berlari secara konstan. Musik di telingaku masih bertalu-talu. Di putaran ketiga, aku pacu seluruh tenagaku. Saat tak ada lagi tenaga yang bisa kuhabiskan untuk lari, tubuhku kuseret ke sebuah kursi dan beristirahat. Keringat deras dan terasa tegas seolah butir-butir air asin itu sebesar biji jagung.
Dadaku kembang-kempis begitu cepat. Lewat mataku tampak orang-orang yang masih berlari di lapangan seperti tak nyata. Mereka ada di sana, tapi kabur seolah aku sedang bermimpi; aku sejengkal pun tak bisa menjangkau mereka, dan mereka pun mengabaikan keberadaanku. Aku ada di sini, sedangkan orang-orang ada di seberang sana. Suara mereka pun tak terdengar, padahal dengan jelas mataku melihat bibir mereka bergerak-gerak, mengatakan hal tanpa mengeluarkan suara, benar-benar seperti mimpi. Seketika aku pun sadar kalau headset yang masih menempel di telingaku pun tidak mengeluarkan bunyi.
Apa ini?
Tiba-tiba aku merasa begitu kesepian. Begitu terpejam, jauh di pelupuk mata terlihat air terjun yang bulir-bulir airnya bisa kulihat dengan jelas satu per satu melompat dari atas kemudian berpencar saat menghantam batu tajam di bawah. Air itu kemudian berenang membentuk aliran sungai yang kecil. Di sekeliling air terjun itu banyak pepohonan yang lebat. Suasana begitu sunyi sampai detak jantungku terdengar seperti sedang menari. Seolah aku dapat menangkap pesan-pesan dari detakan yang begitu konstan. Tangan dan leherku bergetar, sesuatu mengular begitu cepat. Itu darah yang diedarkan jantung. Jantung memompanya ke seluruh tubuh lewat pembuluh darah. Pembuluh vena.
Vena?
“Kamu sakit?”
Sekonyong-konyong kepalaku terasa seperti dikocok hebat sekali. Dunia berputar dalam pusaran yang dahsyat. Aku merasakan kembali tekstur dari celana katun yang agak licin. Di udara tercium bau sesuatu yang terbakar. Apa ya, wangi ini? Ah, aku ingat, wangi sosis bakar dari penjual sosis yang mangkal tepat di samping kelasku, hanya terhalang pagar setinggi dua meter. Begitu aku membuka mata, pemandangan itu jelas sekali.
“Vena, kau sakit, ya?”
Suara itu terdengar lagi. Renyah, jernih, serta tenang, tapi begitu ringkih, seperti bunyi telaga yang dicelupi koin secara perlahan. Begitu melihat ke samping, Vena duduk di sampingku mengenakan seragam SMP.
“Tidak, hanya kepalaku saja yang sakit.”
Bukan. Mendadak diriku tertarik menjauh, dan dari kedua mata ini, kulihat diriku yang masih mengenakan seragam SMP. Di sampingnya duduk Vena yang tampak kesakitan memegangi kepala dan mulut.
“Kau barusan muntah. Sudah makan siang?”
“Tadi beli popmie di koperasi,” sahut Vena. Poni yang menutupi dahinya selembar demi selembar pergi ke samping begitu dia mengangkat wajahnya. “hehehe.”
“Itu sama saja belum makan,” diriku yang lain bicara. “Mau kuantar pulang?”
“Jangan. Nanti kamu ketinggalan pelajaran tambahan,” Vena mengulas senyum ironi.
Diriku yang lain menggeleng. “Kenapa kau masih mementingkan orang lain? Sudahlah. Ayo pulang. Biar aku yang minta izin pada pak Agus.”
“Gak takut dimarahi?”
“Lebih takut kamu sakit.”
Aku sekarang ingat betul di mana dan kapan lokasi ini. Tak salah lagi. Ruangan serba-putih dengan sepotong tempat tidur tinggi dan bau obat yang begitu pekat pastilah UKS. Kalau melihat dari janggutku yang belum tumbuh, pastilah ini kelas tiga SMP.
“Tak harus kugendong, bukan?” tanyaku.
Vena sekali lagi mengulas senyum.
Sore itu, untuk pertama kalinya dalam hidup, aku dapat merasa dengan jelas tubuh utuh Vena. Kulihatnya yang begitu lembut, keringatnya yang beraromakan balsem begitu lengket menempel di lenganku, serta langkah dan geraknya yang ringkih, seolah jika tanpa aku topang, dia seketika terjatuh tanpa daya.
ooOoo
Ingatan sewaktu SMP itu muncul secara tiba-tiba di saat tubuhku mencapai titik kelelahan yang tertinggi. Dan karena kemunculannya yang tiba-tiba, kehilangannya pun secara tiba-tiba pula, tanpa peringatan sebelumnya. Hilang begitu saja, seolah terisap gravitasi kuat blackhole dan bersemayan di titik terhitam pikiranku.
Aku merasa begitu hampa. Tubuhku seolah berlubang, meski pun tertutupi baju, angin masih dapat melaluinya dan menempelkan rasa dingin dan sakit. Dengan gegas aku bangkit, membeli air dari penjual eceran dan meneguknya sampai habis, lalu pulang secepat mungkin, dan berharap rasa sakit dan hampa ini hilang dengan melakukan aktivitas lain.
Entah keputusanku ini tepat atau tidak, aku tak tahu, dan memang tak ada niat untuk menyelaminya lebih dalam. Bisa saja keputusanku ini tepat karena biasanya untuk orang sepertiku cara seperti inilah yang paling tepat; atau bisa saja keputusanku ini salah, karena jika dilihat dari perspektif rasional, keputusanku merupakan bentuk lain dari pelarian diri.
Di rumah, aku tak ada kegiatan lain selain membaca buku. Minggu ini kuputuskan untuk menghabiskan buku pertama tetralogi buru-nya Pram. Bumi Manusia. Sebelum lebih jauh membaca, aku menyiapkan terlebih dulu teh manis dan kudapan. Aku membaca di lantai dua rumahku yang tempatnya terang oleh cahaya matahari pagi agar lebih mudah membaca. Pasalnya, buku Pram ini bukanlah buku asli, melainkan versi bajakan.
Sebetulnya agak ringkih juga aku membaca buku bajakan. Bukan masalah cetakannya yang buram dan kertasnya yang murahan, tapi lebih pada harga diri dan rasa respekku pada penulis. Aku selalu mengutamakan buku asli dibandingkan buku bajakan. Tapi, untuk karya tetralogi buruh ini, tentu kita mafhum bahwa buku ini amatlah langka. Sekali pun ada yang menjual, harganya tentu bisa membuatku tidak makan selama seminggu.
Toh, jika buku merupakan jendela dunia, tak penting bukan asli-tidaknya buku tersebut? Apa sebuah gunung akan terlihat berbeda jika ditinjau lewat jendela orang butut dan jendela berlapis emas? Semata hanya rasa respekku yang tinggi terhadap ilmu dan penulislah yang membuatku tetap menjunjung tinggi buku original.
Pukul sepuluh, kututup buku. Melanjutkan pembicaraan dengan Vena tempo hari, sekarang aku akan datang ke rumahnya. Langit pagi ini biru sekali. Aku berjalan perlahan, lalu naik angkot untuk sampai ke rumahnya.
“Kalau begitu, bagaimana kalau minggu depan aku ceritakan padamu? Tak cukup satu-dua jam untuk menceritakan semuanya, bukan?”
“Ya, kurasa kau benar.” Lewat sedotan kuisap air es yang dingin. “Apa kita janjian di sini lagi?”
“Wah, jangan dong, bisa-bisa uangku habis. Kecuali kalau kamu mau mentraktirku, hehe.”
“Akan kutraktir kalau royalti untuk bukuku sudah cair.”
“Benar? Kapan?”
“Mungkin bulan depan.”
“Kalau begitu, janji, ya,” Vena memberikan jari kelingkingnya padaku sambil tersenyum. Tapi melihatku yang agak kaget, Vena cepat-cepat menarik kembali tangannya. “maaf, aku lupa. Kamu tak boleh menyentuhku, ya?”
“Kalau Adrian masih ada, tentu aku tak akan menyentuhmu.”
Vena menyilangkan kelingkingnya padaku. Dia menyuruhku datang ke rumahnya minggu depan untuk menceritakan semuanya. Kukatakan padanya aku akan datang sambil menerima alamat rumahnya yang ditulis di selembar tisu. Sambil tertawa, dia pun melambaikan tangan dan pergi.
Yang tidak pernah kusangka sebelumnya, kepergiannya hari itu serta janjinya hari itu merupakan janji terakhirnya padaku.
Begitu tiba di depan gapura merah-putih seperti yang dibicarakannya kemarin, aku turun, berbelok ke kanan dua kali, berjalan lurus sampai rumah bercat krem, belok kanan lagi, dan rumah Vena ada di sana. Rumah sederhana dengan atap merah bata. Halamannya luas, tapi memancarkan kesan ditinggalkan begitu saja.
Kuucapkan permisi, karena tak mungkin mengucapkan salam pada keluarganya. Permisi. Permisi. Permisi. Begitu aku terus mengulang untuk mengucapkan kata permisi. Entah di ucapan keberapa, seorang tetangga keluar dari rumahnya.
“Keluarga Pak Budi pindah ke Purwokerto,” seru Ibu Tetangga itu ketus.
“Benarkah? Kapan pindahnya?”
“Selasa.” Ibu itu membanting pintu sebagai tanda penolakan bicara.
Lubang dalam diriku mendadak menganga kembali. Kehampaannya bertambah berat dan bulat. Vena, meski aku tak pernah memahaminya, aku selalu bisa memprediksi dan menyangka akan pergerakannya. ‘Aku bertaruh Vena akan pergi ke sini’ atau ‘Vena setelah ini pasti akan bicara denganku’ atau semacamnya. Dan itu selalu benar. Setidaknya sampai tahun lalu.

Yang tidak pernah kusangka sebelumnya, kepergiannya hari itu serta janjinya hari itu merupakan janji terakhirnya padaku. Mengetahui hal itu, kehampaan dalam diriku berubah wujud jadi nelangsa yang tak terkira.

Chapter 3 - Jarak Di Antara Kita

Posted by : Unknown 0 Comments
Pada hari yang dijanjikan, sebelum melangkah keluar mengenakan sepatu kets yang menurutnya paling bagus, Rizki membaca lagi surat terakhir dari Vena yang sampai ke rumahnya tiga hari yang lalu. Guratan kata yang ditulis di atas kertas dengan alas yang tidak rata itu tiba-tiba saja membuat wajah Vena terbayang: Mata bulat hitamnya; rambut kuncir kudanya; telinga lancipnya.
Oh tidak. Rizki merasakan hatinya berdebam lagi. Tidak, perintahnya pada diri sendiri. Kau tak boleh mengacaukannya hari ini. Tidak ada lagi pengulangan untuk hari ini. Jika hari berakhir, maka berakhirlah sudah.
Rizki memasukkan surat terakhir itu ke dalam saku jaket abu-abu yang dia kenakan. Rambutnya yang dipotong cepak dibiarkan terbuka. Di langit, dilihatnya ada sekawanan awan yang sedang melintas. Awan baik. Sepertinya tak akan turun hujan. Rizki pun mulai melangkah mengikuti bayangan yang diciptakan Awan baik itu.

Untuk Rizki,
Jadi, kamu akan mengenakan kaus biru bertuliskan Life is Good If You Do Nothing dengan jaket abu-abu? Biar kutebak, kamu pasti akan memakai terusan celana bahan hitam. Betul, bukan? Gaya pakaianmu, entah kenapa aku mudah mengingatnya. Ada baiknya aku juga mengatakan akan memakai pakaian apa nanti, siapa tahu kamu tak lagi mengenali wajahku, hihihi.
Atasanku kemeja biru tua dengan garis beragam: putih, abu, hitam. Aku akan menggulung lengan baju hingga siku, dan untuk bawahan, aku akan mengenakan celana jeans yang tidak terlalu ketat, tidak juga terlalu longgar. Normal saja. Kamu tak perlu tahu sepatu apa yang akan kupakai, kan?
Haaah, setelah kamu bilang akan cukur rambut sebelum bertemu, aku jadi kepikiran bagaimana wajahmu. Apa kamu bertambah tinggi? Apa bicaramu jadi lebih tegas? Memikirkan itu, aku jadi tak sabar untuk bertemu. Jangan buat aku menunggu, ya!
Vena.

Waktu sore memang waktu yang paling tepat untuk berjalan kaki mengitari kota Bogor. Terutama bila hari sedang tidak hujan. Rizki bisa melihat orang-orang berdasi tanpa basa-basi membunyikan klaksonnya seolah dunia punya dia sendiri; langit yang pelan-pelan dilumuri kunyit; serta udara yang jadi lembab. Tanpa terasa, usai berjalan kaki selama dua puluh menit ditambah satu kali naik angkot, Rizki sudah sampai di depan kedai Ramenochi yang mencolok dengan cat merah di permukaan luarnya. Masih ada sepuluh menit sebelum pukul empat.
Rizki menaiki tangga kayu satu per satu. Di kedai yang terletak di lantai dua ruko itu, tampak pelayan di hadapan kasir mengucapkan selamat datang dalam bahasa Jepang, beberapa pembeli yang menyantap pesanan, serta pemutar musik di pojokan yang mengalunkan lagu berbahasa Jepang. Dilewatinya beberapa pasang meja dan kursi, Rizki terus berjalan menuju bagian ujung kedai.
Pemuda itu memang senang sekali duduk di tempatnya sekarang. Atapnya hanyalah fiber hijau yang dihias tanaman merambat. Di sebelah kirinya tembok yang terbuat dari papan bergambar pohon bambu, dan jika menengok ke sebelah kanan, Rizki bisa melihat langit yang pelan-pelan tampak membosankan. Tak jauh dari tempatnya duduk, ada ornamen air mancur yang mendengungkan gemericik air.
Terdengar dari bagian tengah kedai mengalun lagu Supercell – Kimi no Shiranai Monogatari. Mendengar lagu itu, serta-merta kepala Rizki seperti dikocok demikian keras hingga sadar-tak-sadar dia melihat pemandangan tiga tahun lalu, di tempat yang sama, di sore yang sama.
Rizki mengangkat tangannya, dan telinganya mendengar namanya dipanggil. Harum dari kuah ramen menyengat hidung. Kepalanya terasa sakit. Dia melihat lagi pemandangan tiga tahun lalu. Rakish menepuk pundaknya, kembali membicarakan manga Hayate The Combat Butler, dan Ade yang sedang bicara dengan Kevin tentang kelakuan si Andika. Semua terasa nyata. Meski Rizki tahu ini hanyalah memorinya yang keluar begitu saja tanpa dia kehendaki, dia sama sekali tak bisa menghentikannya; dia hanya bicara mendengar Rakish bicara tanpa henti dan melihat Ade serta Kevin yang saling tertawa.
Semua itu lalu terhenti. Ada bunyi hentakan kaki yang menggema. Dari lubang tempat munculnya tangga itu datang Vena serta Adrian dengan tatapan bahagia. Satu tebasan menyayat hatinya.
Jika saja pelayan kedai tidak mengantarkan buku menu, mungkin Rizki tak akan keluar dari kenangan itu.
“Satu porsi udon katsu dengan es teh ramenochi. Untuk ramennya pedes atau miso?” pelayan itu bertanya.
“Pedas.”
“Untuk pedesnya, kami punya lima level,” pelayan itu menerangkan lagi dengan riang, layaknya tour guide museum yang menunjukkan prasasti langka pada anak SD. “mulai dari level TK sampai kuliah. Mas mau pilih yang mana?”
“Yang sedeng itu SMP atau SMA?” Rizki mengajukan pertanyaan.
“SMP, mas.”
“Kalau begitu saya pilih SMA saja.”
Selagi pelayan membacakan pesanan, Rizki melihat Vena muncul dari lubang tangga dengan wajah kebingungan. Lelaki itu melambaikan tangan, mengabaikan pelayan, dan memanggil nama Vena satu kali dengan suara yang tegas hingga gadis itu tersenyum dan berjalan ke arahnya. Pelayan itu pergi.
Vena berjalan ke arahnya sambil sedikit menunduk. Langkahnya mengetuk-ngetuk lantai kayu, dan begitu sampai di meja, Vena pelan-pelan duduk. Senyum dipasang, dan napasnya yang masih tersengal-sengal diatur terlebih dahulu hingga agak tenang, barulah ia tersenyum kembali.
“Di pahlawan macet,” keluh Vena. “Terus angkotnya juga ngetem dulu di deket Sidomampir. Maaf ya kalau sedikit telat.”
“Gak apa-apa.”
Ternyata Vena mengenakan pakaian yang sama seperti yang dia tulis di surat. Dan kalau Rizki lihat, tak banyak yang berubah dari gadis itu kecuali rambutnya yang diurai, tak lagi dikuncir kuda.
“Ciee ganti gaya rambut,” Rizki mencoba mencairkan suasana.
Vena mengusap ujung rambutnya sejenak. “Hehe, ganti rambut, ganti juga kepribadian. Memangnya kamu, dari dulu gak ada kemajuan sedikit pun soal gaya.”
“Yang penting pola pikir berubah,” sahut Rizki diselingi senyum tipis.
Gadis itu ingin menjawab tapi bingung harus bagaimana, jadi dia lebih melempar senyum lalu memilih diam. Kaki kecilnya hanya tampak telapaknya saja yang seputih porselen, sementara mata kaki sampai ke atasnya tertutup celana jeans. Kaki kecil itu bergerak bergantian, dan wajahnya mengedarkan pandangan ke sekeliling, lalu sedikit berdecak kagum.
Dalam waktu satu tahun, Vena sudah sedemikian pesat berubah jadi gadis matang yang begitu menawan. Rambutnya yang seperti bulu kucing hitam begitu legam hingga punggung. Bola matanya yang bagaikan mutiara disandingkan dengan telinga lancip yang terkadang bergerak-gerak. Di bawahnya, ada hidung yang halus serta bibir merah muda sempurna. Ditambah tingginya yang semampai, sungguh membuatnya begitu aduhai.
Es teh pesanan Rizki datang. Pada pelayan, Vena minta dipesankan menu yang sama dengan Rizki. Tapi saat Rizki bilang dia memesan makanan yang pedas, Vena mengatakan tak masalah. Usai perbincangan soal menu makanan itu, tak ada lagi yang bicara.
Berselang beberapa menit, mereka memakan pesanan mereka tanpa bicara sedikit pun. Rizki menambahkan sedikit merica ke mangkuk, menyeruput kuahnya, sementara Vena mencubit tisu dan mengusap dahinya yang basah oleh keringat. Bunyi sumpit yang beradu, aroma kuah yang pedas, serta lagu yang mengalun menuntun Rizki mengingat kembali memori yang sedang dia rangkai secara sistematis.
“Kamu belum menghabiskannya?”
Vena memicingkan mata. “Pedes, tau!”
“Kan tadi udah dikasih tau,” Rizki terkekeh melihat bibir gadis itu yang mengilap.
Iris mata Vena yang seperti kelereng hitam mengamati wajah Rizki. “Ngomong-ngomong, kenapa kamu harus kirim surat padaku, padahal ‘kan jarak rumah kita paling cuman dari 8 kilometer?”
“Kan sudah kubilang,” Rizki mengangkat bahu. “surat itu kutulis begitu saja tanpa pernah merencanakan sebelumnya. Dan kebetulan saja aku sedang ingin pergi ke kantor pos, membeli perangko terbaru.”
“Pasti kamu terpengaruh film 5cm/s .”
“Favoritku.”
“Kalau dipikir-pikir, aneh juga ya aku balas suratmu, lewat pos lagi. Terus, kenapa coba aku tak minta nomer hpmu?” lesung pipit muncul di wajah Vena yang tersenyum. “Kita ini sedikit aneh, ya.”
“Menurutku itu tak aneh, lho. Soalnya, ada rasa khusus yang kita dapat kalau mengirimkan pesan lewat surat. Kamu paham?”
“Paham aja deh, biar cepat selesai, hahaha,” terusnya sambil tertawa renyah.
Rizki mengamati wajah gadis di depannya sambil mengingat-ingat kapan terakhir kali mereka bicara seperti ini. Butuh waktu agak lama sampai Rizki teringat sosok Vena sewaktu kelas 10 dengan seragam abu-abu yang masih baru. Dalam ingatan itu, Rizki teringat dia ada di McD, makan burger ditemani soft drink, masih malu-malu saat beberapa kenalan mereka secara tidak terduga muncul di tempat itu.
Ingatan itu hanya bertahan beberapa saat, sebelum memudar dan hilang. Saat Rizki mencoba mengingatnya kembali, kesulitan yang dia hadapi begitu hebat, dan sampai saat Vena selesai menghabiskan pesanannya, Rizki tak dapat mengingatnya secara sempurna kembali.
“Jadi, bisa kita langsung ke inti?”
“Bicaramu kayak lagi rapat,” komentar Vena.
“Mungkin ini sedikit konyol. Tapi, maukah kamu mendengar satu permintaanku? Mungkin ini akan menyakiti kita berdua; atau mungkin hanya aku yang akan tersakiti, aku tak tahu.”
“Tunggu, aku sedang minum,” sergah Vena.
Rizki bersikeras. “Yang jelas, aku harus menyelesaikan semua ini sekarang.”
“Menyelesaikan apa?” Vena menaruh gelas, mengelap bibir dengan tisu sekenanya, lalu menatap lawan bicaranya.
“Bagian cerita yang rumpang dari masa lalu.”
Vena mengernyit, tapi Rizki segera melanjutkan pembicaraannya yang mengambang.
“Aku dapat mimpi. Dalam mimpi itu, aku sedang menulis sebuah novel tentang pengalaman romansaku selama SMA. Tentang sebuah pengkhianatan, tentang cinta pertama yang begitu lugu, dan semua yang menyeretku hingga jadi seperti sekarang. Dalam mimpi itu aku tampak bahagia, seolah semua beban hilang dan aku bisa sebebasnya memeluk beruang besar berbulu lembut di padang rumput.”
“Cara bicaramu aneh,” Vena bersungut sambil menyeruput teh dinginnya. “Apa hubungannya beruang dengan mimpi menulis novel?”
“Hanya kiasan. Kamu tahu? Selama SMA dulu, rasanya ada suatu sekat penghalang yang membuatku tidak dapat melihat dunia dengan jelas,” Rizki menjeda. “Dan aku tahu, itu semua karena aku tak mau mengingat-ingat saat itu di masa depan. Dan sekarang, aku malah ingin mengingatnya kembali. Intinya, maukah kamu menceritakan kembali cerita sewaktu SMA yang berhubungan denganku? Secara sistematis, sejak kita kelas sembilan SMP dulu, hingga lulus di kelas dua belas. Hanya kamu yang bisa menyelesaikannya.”
“Memangnya kamu tidak bisa menulisnya sendiri?” tanya Vena sambil menggigit bibir bawahnya.
“Aku hanya ingat beberapa bagian saja. Dan sepertinya..., aku sudah melupakan banyak kejadian penting selama ini.”
Gadis itu terbengong. Gemericing hiasan di langit-langit bersuara disentuh angin sore yang membawa suasana lembab. Udara terasa lengket, dan aroma malam samar-samar merebak di udara. Klakson mobil masih berlomba siapa yang paling keras.
“Apa kamu masih menyukaiku?” dengan suara ragu, Vena bertanya.
“Aku suka kamu...,” Rizki mengambangkan jawaban, otot-otot di wajahnya secara cepat tertarik karena malu, dan dia pun menambahkan, “dan seluruh umat manusia yang baik.”
Tak ada suara. Bahkan alunan lagu bergenre rock yang sedang berputar pun tak sampai ke telinga Rizki. Lelaki itu terus menatap Vena yang tampak sedang memutar otak. Bibirnya berharap akan muncul jawaban Ya, meski dia tahu, sedikit sekali peluang jawaban itu akan muncul.
Begini: Ada seorang lelaki yang dulu mengejarmu, kemudian gagal menjadi pacarmu karena kamu menyukai sahabatnya, dan lelaki ini tidak lagi bersahabat dengan sahabatnya karena sahabatnya pacaran denganmu. Kini, setelah dua tahun tak lagi bicara empat mata, lelaki itu memintamu menceritakan tentang perasaanmu yang dulu padanya. Rumit, bukan?
“Kamu tak perlu menjawab pertanyaan itu sekarang, kok. Kalau kamu tak ingat pun, kamu tak usah menceritakannya—”
“Ya!”
“Aku juga sadar betapa tidak sopannya aku meminta itu padamu—”
“Ya!”
“Terlebih, Adrian pasti tak akan—”
“Jawaban untuk permintaanmu,” Vena menekankan kata-katanya dalam-dalam. “Ya.”
Rizki terbengong. Tangannya masih melekat di meja, dan dia sudah bangkit, seolah hendak memukul meja karena kesal terhadap lawan debat.
“Tapi sebelum itu, aku mau menanyakan sesuatu padamu.”
Rizki duduk lagi dan mendengarkan dengan baik. “Apa itu?”
“Aku akan menceritakannya, tapi sebelum itu, aku mau bertanya..., apa kamu akan baik-baik saja setelah aku menceritakannya? Bukannya kamu sangat-tidak-ingin mendengar kisah itu lagi?”
Ternyata itu yang menjadi pertimbangan Vena hingga tak bicara beberapa saat. Mendengarnya, Rizki untuk beberapa alasan menjadi lega. Dia menjawab dengan yakin.
“Dulu aku memang sangat-sangat-tak-ingin mendengarnya,” bola mata Rizki terbuka. “Tapi sekarang, rasa itu hilang. Aku ingin mendengarnya, meski aku akan menerima rasa tebasan pedang di hati; meski telinga ini meleleh menolak mendengarnya; meski bibir ini menjerit memintamu berhenti, aku tetap ingin mendengarnya.”
Vena mengulas senyum. “Kalau begitu, bagaimana kalau minggu depan aku ceritakan padamu? Tak cukup satu-dua jam untuk menceritakan semuanya, bukan?”

Sepasang muda-mudi itu saling tersenyum, meski tentu saja, senyum keduanya punya konotasi yang berbeda.

Chapter 2 - Sebuah Permintaan

Posted by : Unknown 0 Comments

- Copyright © 2013 Peziarah Kata - Shiroi - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -