Archive for Maret 2015
Untuk Rizki,
Maafkan aku kalau surat ini datang agak telat. Belakangan
aku sibuk sekali, hingga baru punya waktu luang untuk menulis surat kali ini.
Mungkin karena jadwalku yang padat juga, aku jadi lupa
suratku yang kemarin membahas tentang apa, hehehe. Yah, kupikir dalam surat
kali ini aku akan menceritakan saat kelulusan hingga tes masuk SMA saja.
Apa kamu masih ingat saat perpisahan dulu? Kalau aku
sendiri masih mengingatnya dengan jelas. Gedung Balai Binarum yang masih kokoh
berdiri, langit-langitnya yang berbentuk segitiga begitu tinggi, serta susunan
kursinya yang apabila dilihat dari atas membentuk tanda + di tengah-tengah.
Semuanya masih dapat kuingat dengan jelas, seolah peristiwa itu baru saja terjadi kemarin. Tapi saat aku menyadarinya, sudah 4 tahun terlewat....
***
Setelah
melewati pelajaran dan jadwal yang begitu mengerikan selama enam bulan
terakhir, akhirnya aku lulus dari sekolah dengan NEM memuaskan, 36.80. Aku juga
memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 4 Bogor, yang kebetulan
sekolahnya tepat berada di hadapan SMP-ku.
Di
waktu upacara kelulusan, aku tak menangis, hanya merasakan sedikit sedih. Hari
itu aku dan teman-teman banyak berbincang mengenai masa depan, mau meneruskan
sekolah ke mana, tanyaku. Kebanyakan sih menjawab ingin meneruskan ke SMAN 4,
hanya Devita yang mengatakan ingin mencoba tes ke SMA 5. Hebat, semoga kamu
diterima, ucapku.
Hari
itu Rizki menjadi salah seorang dari sekitar tiga puluh anak yang mendapatkan
plakat dari Kepala Sekolah atas prestasinya menjuarai perlombaan. Setahuku,
Rizki itu juara satu lomba cipta puisi tingkat Provinsi.
Pembawa
acara pagi itu membacakan sederet prestasi yang dicapai siswa angkatan
2011/2012. Hanya lima orang yang mendapat prestasi di bidang seni, sementara
sisanya di bidang olahraga. Setelah itu sedikit kata-kata dari kepala sekolah,
penyerahan plakat, dan penampilan-penampilan dari adik kelas.
Satu-satunya
yang mampu membuatku sedikit gemetar itu saat tim paduan suara menyanyikan
himne Pahlawan Tanpa Tanda Jasa secara bersama-sama. Detik itulah aku baru
sadar, meski bagaimana jengkelnya aku pada guru, merekalah yang membuatku bisa
berdiri di tempat ini.
Acara
selanjutnya tak ada lagi yang menyenangkan. Teman-temanku selalu mengajakku
berfoto, aku menurut saja. Acara utama selesai pukul satu siang. 1/3 anak
pulang bersama orang tuanya. Ibuku sendiri memilih pulang duluan, membiarkanku
berbicara pada teman-teman sepuasnya.
Aku
mencari-cari Rizki. Rupanya sedang bersama komplotannya, orang-orang yang suka
sekali tertawa. Melihatnya aku jadi berpikir, kenapa orang sekalem Rizki bisa
begitu akrab dengan mereka yang sangat berisik?
“Rizki,
si Vena nungguin kamu, nih!” teriak Dea.
Temanku
yang satu ini sepertinya tak punya malu. Dan aku berani bertaruh kalau salah
satu cita-citanya pastilah menjadi mak comblang. Terima kasih untuknya, karena
berkat dia, seisi kelas menggosipkan aku dan Rizki pacaran.
Rizki
berjalan ke arahku. Kemeja batik biru yang ia kenakan tampak begitu cocok
dengan rambut hitamnya yang dipotong tipis. Terlebih celana hitam serta sepatu
yang dikenakannya pun menambah kesan dewasa dalam dirinya.
“Mau
keluar sebentar?” tawar Rizki.
Aku
berjalan ke luar gedung di samping Rizki. Tampaknya di luar malah lebih
berwarna dibanding di dalam. Kami mengitari gedung yang cukup luas itu untuk
sampai di sebuah tempat duduk yang nyaman. Sebuah kursi yang agak teduh.
Rizki
duduk terlebih dulu, kemudian aku. Rerumputan yang setinggi jari kelingking
yang bagai karpet kupermainkan sedikit demi sedikit. Di atasku, ada pohon yang
entah jenisnya apa. Rantingnya kurus, tapi daunnya cukup meneduhkanku.
“Kamu
mau meneruskan ke SMA 4, ya?”
“Ya,
kamu sendiri?”
“Mungkin...,”
Rizki bersuara seperti angin yang lembut. “Aku juga akan ke SMA 4.”
Aku
terperajat. “Nggak jadi ke SMA 5?”
Rizki
hanya mengulas senyum. Tulus sekali, seperti seekor anak panda sesuai memakan
daun bambu.
Kenapa
harus SMA 4, pikirku dalam hati. Ingin rasanya aku meyakinkan ia untuk
membatalkan niatnya dan mendaftar ke SMA 5 saja. Pasalnya, SMA 5 tentu lebih
bagus dalam hal pendidikannya daripada SMA 4. Dan juga, dengan otak seencer
Rizki, tentu ia bisa menembus ujian masuknya andai belajar dengan giat.
Aku
kadang mendapatkan kiriman puisi dari Rizki. Kata-katanya begitu lembut seperti
sebarisan semut yang berjalan di atas tanganku menuju tengkuk. Di lain hari,
kata-katanya bisa berubah setajam mata pisau; di lain hari pula kata-katanya
seperti awan. Tak dapat kumengerti, tapi tetaplah indah. Dengan kemampuan
berpuisinya, tentu ia amat dekat menjadi seorang sastrawan, barangkali penulis.
Tapi
melihat wajahnya yang detik ini, setan mana pun tak akan sanggup membias senyum
di wajahnya.
Akhirnya
aku memilih menundukkan kepala dan diam. Mencoba mengunci berbagai kata-kata
yang berkecamuk di dalam kepalaku. Apa seorang merpati dapat mencegah niatan
yang singa?
“Kok
tiba-tiba diam?” suara Rizki membangunkanku.
“Mmm,
boleh tanya sesuatu, nggak?” aku menggigit bibir bawah saat mengatakannya.
Kepala
Rizki dimiringkan sedikit.
“Kenapa...,
kenapa kamu daftar ke SMA 4?”
Usai
kata-kata itu terucap, hatiku berharap dia tidaklah marah. Sejenak aku
terpejam. Dunia terdiam. Kurasakan detak jantung kian berbisik, apa aku
berharap jawabannya karena aku? Alasan dia mendaftar ke SMA 4..., karena aku?
Separuh
hati ini bahagia, sedangkan sisanya merana. Betapa tega aku menarik malaikat ke
bumi hanya untuk menemani gadis kecil yang kesepian.
“Alasannya
karena.....”
Rizki
menggantungkan jawabannya.
“Karena
apa?” rengekku.
“Karena....”
Aku
mulai gemas.
“Nanti
juga kamu tahu sendiri,” pungkasnya sembari melebarkan senyum.
Aku
merajuk. “Rizkiiii!” jeritku sambil memukul bahunya pelan.
Kami
tertawa keras sekali, lepas sekali. Seumur-umur, belum pernah aku tertawa
selepas ini. Seolah semua beban yang kutahan keluar bersama tenaga yang
kugunakan. Seolah guratan-guratan kekesalan bias bersama lebarnya senyum..
Selepas
itu, Rizki mengajakku ke sebuah kafe terlebih dulu sebelum pulang.
ooOoo
Sesuai
dugaan, aku lolos seleksi. Mengenai hal ini, Rizki mengucapkan selamat padaku.
Katanya, “Wah, sepertinya untuk tiga tahun ke depan, kita akan mengenakan
almamater yang sama lagi.” Yang kutahu, untuk orang secerdas Rizki, tentu
tidaklah sulit baginya untuk masuk SMAN 4 ini.
Untuk
merayakan keberhasilanku masuk SMA 4, Rizki mengajakku makan di restoran. Restoran
tempat kami makan tidaklah menyediakan kursi, jadi kami makan secara lesehan.
Menunya pun tak jauh dari makanan sehari-hari: lalapan; ayam goreng; sambal;
sup. Meski begitu, rasanya tak perlu ditanya. Enak!
Usai
menyantap makanan hingga nyaris kekenyangan, kami berbincang mengenai banyak
hal. Bagaimana kehidupan di SMA nanti? Banyakkah orang-orang tengil yang
kerjaannya hanya menyontek? Apa guru-gurunya juga masih menyebalkan? Lebih
jauh, Rizki memancingku tentang pacaran.
Untuk
topik yang satu ini, aku—entah kenapa—merasa sedikit jengah membicarakannya
dengan Rizki. Lelaki itu bertanya, apa nanti aku bakal dapat seorang pacar di
SMA.
“Mmm,
kalau pacar sih gak mau,” aku membuka mulut meski malu. “Soalnya, aku itu
pengennya punya satu pasangan yang setia seumur hidup.”
“Pasangan
sejati?”
“Iya.”
“Bagaimana
kalau Tuhan menakdirkan kamu dapat pacar, terus putus di tengah jalan?”
Aku
memicing. “Tuhan gak akan sejahat itu. Aku percaya. Nggak dengan hal sesuci
cinta. Buatku sendiri, cinta itu bukan main-main. Pacaran itu main-main!
Apalagi waktu SMA. Aku banyak denger cewek yang punya pacar lebih dari 2. Ih,
aku sih nggak mau sampai kayak gitu. Makanya, aku milih pacaran pas kuliah aja,
biar lebih serius.”
Rizki
hanya menggumamkan sesuatu sambil menyeruput teh manisnya. “Gimana hubunganmu
sama si itu?”
“Si
itu?”
“Itu
lho, yang katanya suka padamu,” Rizki mengarahkan ingatanku. “Kamu belum
memberitahu siapa nama lelaki itu.”
“Oh, dia...,” kumainkan ujung rambutku dengan
jari. “Hmm, mungkin hubunganku sama dia stagnan, gak ada kemajuan. Dia masih
fokus sama beladirinya. Tapi..., dia ngasih janji sama aku.”
“Janji?”
“Dia
bakal ngelindungi aku kalau udah ahli beladiri itu.”
“So sweet,” celetuk Rizki sembari
nyengir.
Kurasakan
pipiku memerah. “Orangnya asyik sih, cuman aku agak ringkih kalau dia mulai gerakan-gerakan
beladirinya di depan umum. Kesannya sombong!”
“Berarti
dia belum siap dengan ilmunya,” Rizki nyeletuk lagi, kali ini sambil mengunyah
es batu.
“Maksud
kamu?”
“Iya.
Aku pernah membaca di sebuah buku, kalau sifat sombong itu muncul dari hati
yang belum siap menerima suatu ilmu.”
Untuk
kesekian kalinya, aku dibuat kagum oleh ucapan Rizki, hingga tak sadar aku
memandanginya cukup lama dalam tatapan mata yang lebar. Aku buru-buru
mengalihkan topik lain, bersikap seolah tak terjadi apa pun, meski dalam hatiku
sesuatu mulai meletup-letup.
Sekitar
pukul dua siang, aku pamit pulang karena merasa harus menemui orangtuaku atas
keberhasilanku ini. Kami berpisah karena rute angkot kami berbeda usai membayar
menu makanan masing-masing.
Di
dalam angkot menuju rumah, aku mengulas senyum. Tak kusangka Rizki menganggap
hal itu sungguhan. Padahal aku hanya mengarang cerita soal lelaki yang aku
sukai itu. Sebetulnya, aku sampai saat ini belum menyukai siapa pun.
***
Bagaimana? Ingat sesuatu setelah membaca surat ini?
Ngomong-ngomong, aku mulai merasa bosan kalau hanya
menulis surat satu-arah seperti ini, seolah aku ini sedang menulis memoar.
Jujur, sekarang aku merasa kesepian. Bahkan di beberapa malam, aku sering
menangis kalau mengingat-ingat tidak ada satu pun orang yang menyayangiku lagi.
Apa ya namanya..., Alienasi, bukan? Ya, aku tahu istilah itu dari status
facebookmu. :p
Aduh, maaf membuatmu membaca pernyataan sedih ini.
Mungkin karena aku teringat akan Adrian, ya? Hehehe.
Sudah dulu ya, surat dariku kali ini. Tetap kirimi aku
doa! Soalnya, belakangan ini aku sering kena flu.
Temanmu,
Vena
Chapter 5 - Aproksimasi (Bagian Pertama)
Untuk Rizki,
Maaf tidak memberitahumu sebelumnya tentang kepindahanku.
Kamu pasti kaget, bukan? Hehehe. Karena aku punya janji akan menceritakan
tentang masa lalu kita padamu, maka, kutulis surat ini di kereta yang sedang
mengular menuju Purwokerto.
Melihat persawahan yang begitu menghampar bagai karpet
membuatku teringat rerumputan tak terurus yang ada di samping kelas IX - F,
kelas kita dulu, tempat aku mengenalmu.
ooOoo
Menginjak kelas sembilan, aku benar-benar merasa tak ada satu hal pun yang
berubah dalam diriku. Padahal, aku—Vena Dila Handayani—ini sebentar lagi
keluar dari SMP; mendaftar ke SMA lain; dan terpisah dari teman-teman. Tapi
beginilah aku, benar-benar merasa tak ada bedanya.
Kelas IX – F. Minggu pertama, seperti biasa, diadakan pembentukan pengurus
kelas. Orang-orang mulai mengajukan calon mereka masing-masing. Aku menurut
saja. Mengangkat jari dan memberikan pilihan saat diminta, serta bertepuk
tangan saat Surya terpilih jadi ketua kelas. Tak ada yang menarik.
Aku sendiri lebih senang menghabiskan waktu untuk bicara dengan teman
sebangkuku, Disti. Meski banyak bicara, Disti ini orangnya lucu. Tubuhnya
kecil, rambutnya seperti mangkuk, serta bola matanya begitu bulat. Sayang,
karena lelaki di kelas sering meledeknya, dia jadi sering menangis. Dan
biasanya akulah yang menjadi tempatnya menangis.
Kehidupanku sungguh biasa saja. Belajar, bermain dengan wajar, mengikuti
pelajaran tambahan, les, lalu pulang dan tidur. Begitu dan terus begitu.
Sesekali mengeluh, di lain waktu tertawa, menangis, atau tertawa sambil
menangis.
Menginjak semester terakhir masa SMP, suasana kelas berubah. Meski tidak
terlalu drastis, tapi aku dapat merasakannya dengan jelas. Anak-anak jadi lebih
serius. Disti jadi tidak sering diganggu, malah karena kepintarannya kini dia
selalu didekati orang-orang untuk berdiskusi soal pelajaran-pelajaran. Syukurlah.
“Kamu tau si Aldi, gak?” tanya Disti.
Sore itu, kira-kira dua bulan sebelum UN, aku mengunjungi rumah Disti untuk
belajar bersama. Hanya kami berdua, sebab aku tidak pernah bisa fokus kalau
belajar terlalu banyak orang.
“Si Aldi yang bandel itu?”
“Iya!” Disti berseru kencang. Kelopak matanya terbuka lebar. “Belakangan
ini dia sering banget sms aku.”
“Kamu seneng?”
“Hmm, gimana ya, seneng sih...,” Disti meletakkan pensil. Punggungnya disandarkan
pada dinding kamarnya yang berwarnakan biru. “Awalnya dia nanya-nanya tugas
gitu. Pas udah beres, dia malah nanyain hal-hal gak lain, terus gak kerasa
smsan sampai malem.”
Aku melipat tangan di atas paha. Melihat gerak-geriknya, jelas Disti sedang
bahagia. Ya, wajar saja sih, soalnya dia kan selama ini—setahuku—tak pernah
didekati lelaki mana pun.
Disti meraih gelas dari atas meja dan meminum airnya hingga tak tersisa. Meja
bundar dari kayu mahoni itu dipoles halus sekali. Barang-barang di kamar Disti
memang tergolong mewah. Karpet yang lembut, tempat tidur yang empuk, bingkai
cerminnya pun tampak elegan dengan motif yang tak kuketahui bentuknya. Di balik
semua itu, Disti pandai menyembunyikan derajat orangtua-nya yang bisa
digolongkan sebagai orang kaya.
Tanpa sadar Disti sedang membicarakan sesuatu, dan aku kehilangan beberapa
paragrafnya, jadilah di penghujung kalimat aku hanya bisa mengiyakan.
“Siapa?” todong Disti penasaran.
“Apanya?”
“Itu, cowok yang ngedeketin kamu,” Disti menggodaku dengan suaranya. “Kamu
bilang ada.”
“Eh, bercanda, tahu!”
“Nggak, pasti ada,” Disti merangkak mendekatiku lagi. “Vena, kamu itu
cantik, rambutmu panjang dan bagus. Kulit kamu juga bersih. Pasti ada yang
suka.”
Yeah, jika saja aku mengenakan kerudung, bukan
kalung salib, batinku.
“Nggak ada kok, beneran.”
“Kemaren aku lihat isi hapemu, kok kebanyakan smsnya dari Rizki....”
Oh, Rizki. Rizki pertama kali mengirimkan pesan padaku di hari yang sama
saat kami menjadi teman satu kelompok tugas praktik drama bahasa Inggris. Sekitar
satu bulan yang lalu. Meski sudah saling kenal sejak awal tahun pelajaran, dia baru
mengajakku bicara santai di penghujung semester dua.
Kalau dipikir-pikir, mirip juga kelakuan Rizki dengan Aldi. Seperti Aldi,
Rizki juga sering mengirim pesan soal pelajaran. Kalau sudah selesai, dia
biasanya akan membahas sesuatu yang lain, disertai argumennya. Misalnya saja,
kemarin kami membicarakan sebuah anime
berjudul Baka To Test.
Argumen yang dikemukakan Rizki dapat kutangkap dengan mudah, dan kebanyakan
aku sependapat dengannya.
Aku paling senang kalau dia sudah membahas tentang antariksa. Rizki bilang,
seharusnya manusia yang belajar astronomi itu taat beragama, karena di angkasa
sana banyak sekali ciptaan Tuhan yang belum terjamah manusia. Lebih jauh lagi,
Rizki membandingkan ukuran-ukuran planet bumi dengan matahari, matahari dengan
bintang lain yang ukurannya jauh lebih besar: 10x, 100x, sampai jutaan kali,
dan itu membuktikan tak ada apa-apanya manusia.
“Oh, Rizki emang sering sms, tapi
gak tiap hari,” aku membela diri.
“Tapi deket, kan?”
“Deket sebagai temen, iya,” kututup pembincangan hari ini karena waktu
sudah menunjuk pukul lima sore. “Eh, aku pamit pulang dulu ya, takut orangtuaku
khawatir.”
Disti mengantarku pulang sampai ke pinggir jalan. Saat angkot yang kunaiki
melaju, di jalan yang tadi kulihat Disti melambaikan tangan. Angkot terus
melaju.
ooOoo
Kira-kira pukul sembilan malam aku keluar dari kamar dan mengamati langit
malam. Rizki mengirimkan pesan padaku, memberitahukan kalau langit saat ini
sedang cerah, jadi aku bisa mengamati rasi bintang dengan nyaman.
Lantai dua rumahku memang sengaja dibiarkan terbuka tanpa atap sebagai
tempat jemuran. Ternyata benar. Dari sini aku bisa melihat bintang yang
berkedip di tengah hitamnya langit malam. Bintang-bintang itu, kalau
kuperhatikan seperti intan yang ditabur di angkasa. Betapa kaya Tuhan yang
memiliki segalanya.
Ada rasi bintang pari atau salib di langit sebelah selatan. Tergambar juga
meski buram rasi bintang biduk, aku menyebutnya Beruang Besar. Di sebelahnya
ada Beruang Kecil. Hanya itu yang dapat kukenali, sisanya, hanya memancarkan
gemerlap cahaya.
Selang beberapa saat, Rizki menelepon.
“Bagaimana? Indah, bukan?” ucapnya di ujung sana.
Aku mengangguk. Sesaat kemudian aku tersenyum geli. Memangnya anggukan bisa
terdengar ke ujung sana. “Ya, indah, hehe. Kamu lagi liat bintang apa?”
“Scorpion.”
Kepalaku berputar. “Rasi bintang scorpion itu ada di mana?”
“Di timur, agak ke bawah sedikit...,” nada bicara Rizki seolah dia melihat
setiap gerakanku. “Ketemu?”
“Nggak.”
“Hahaha, memang gak terlalu jelas, sih.”
Kami terdiam. Ponselku masih menempel di telinga, dan di seberang sana pun
Rizki belum memutus sambungan. Hening menyergap. Angin mulai membelaiku dengan
dingin, tapi aku masih enggan pergi. Senyap sekali. Jangkrik terdengar berisik
tapi merdu bersenandung dengan bunyi dedaunan yang bersentuhan satu sama lain.
Aku mendadak merasa dalam kesunyian, hanya aku dan Rizki manusia yang ada di
bumi.
“Coba lihat langit,” ujar Rizki. Aku menurut. “Rasi bintang apa yang kamu
lihat dengan jelas? Biduk? Orion?” saat mengucapkan salib, aku mengiyakan. “Ya,
di sini juga terlihat jelas. Indah sekali, seolah ada benang sutra yang menyambungkan
mereka.”
“Aku setuju,” sahutku.
“Meski kita berada di tempat yang berbeda, kita masih dapat melihat langit
yang sama,” suaranya terdengar lirih, seperti bunyi belalang yang digoyang
angin. “Menurutmu, apa Tuhan menciptakan bintang-bintang di langit hanya untuk
keindahan dan fungsi astronomis?”
“Sebagai penunjuk arah?” tebakku.
“Kalau menurutku, selain semua fungsi itu, bintang juga sebagai penanda. Ya,
bisa penanda apa saja. Sebuah peristiwa bersejarah, peristiwa besar, seperti
peristiwa penggulingan Raja Harold oleh William The Conqueror yang dipercaya ditandai berbarengan dengan munculnya
komet Halley tahun 1066, atau bisa juga sebagai penanda akan sebuah cita-cita.”
Aku menggumamkan ungkapan setuju.
“Coba kamu tunjuk satu bintang. Sambil mengingat-ingat bintang itu,
sebutkan cita-citamu. Suatu hari nanti, kalau kamu sedang bingung atau
kehilangan arah, keluarlah di malam hari, lihat lagi bintang itu. Aku sering
melakukannya, dan kadang aku merasa bintang itu bicara padaku, ‘hei, Rizki! Kenapa
kau putus asa seperti itu? Bukankah kau sudah berjanji padaku akan menjadi
sukses?’ dan tiba-tiba saja aku merasa semangat lagi.”
Ucapannya menggelikan bagiku. Suatu kehangatan mendekap hatiku. Rasa hangat
ini membuatku tersenyum. “Terima kasih.”
“Kembali kasih.”
...
“Omong-omong, ini sudah pukul sepuluh,” Rizki seolah mengatakan padaku
jangan lupa tidur.
“Belum ngantuk, kamu aja yang tidur duluan.”
ooOoo
Surat dari Vena itu datang
tiga hari setelah aku datang ke rumahnya yang kosong. Aku membaca surat itu
saat sedang menaiki commuter line untuk
keperluan bisnis di Jakarta Barat.
Saat membaca surat itu,
sesuatu dalam hatiku menggeliat. Rasa hampa masih saja terasa, tapi kata-kata
dari Vena hangat bagai kunang-kunang yang terbang ke bagian terhampa dalam
tubuhku.
Di bagian terhampa itu tak
ada apa-apa selain kehampaan itu sendiri. Dan sepertinya, kupu-kupu itu melebur
dalam kehampaan, karena satu-dua jam setelah membaca surat itu, aku bersikap
seolah tak ada apa-apa, dan aku pun belum dapat mengingat-ingat perjalanan
hidupku dengan jelas.
Seperti yang ditulis Vena
di penghujung suratnya, aku memang tak harus melakukan apa-apa selain
menunggu surat lain darinya untuk sekarang.
ooOoo
Sekian surat dariku untuk kali ini. Saat kamu menerima
surat ini, aku sudah sampai Purwokerto.
Kira-kira tiga sampai empat hari ke depan aku banyak
kegiatan, jadi mungkin suratnya baru akan kutulis di hari minggu atau pada
malam hari kalau aku tidak kelelahan. Hehehe, tetap do’akan aku sehat agar bisa
terus menulis surat untukmu, ya!
Temanmu,
Vena.
Chapter 4 - Konstelasi
Surat Yang Melewati Jutaan Tahun
Cahaya
Penulis : Ridzgank
Genre : Romance
Status : Ongoing
Blurb :
Suatu siang, tiba-tiba saja Rizki menuliskan
sebuah surat untuk pacar mendiang sahabatnya. Tanpa diduga-duga, Vena membalas
surat itu, dan menyanggupi permintaan Rizki untuk bertemu. Dan sekarang,
pertemuan mereka kembali membuka masa lalu yang dikotori pengkhianatan atas
sahabat, drama remaja lugu, impian, serta kesepian.
DAFTAR CERITA
Chapter 4 : Konstelasi
Chapter 5 : Aproksimasi
Chapter 6 : Aproksimasi (Bagian Kedua)
Chapter 7 : Coming Soon....
Chapter 5 : Aproksimasi
Chapter 6 : Aproksimasi (Bagian Kedua)
Chapter 7 : Coming Soon....
Surat Yang Melewati Jutaan Tahun Cahaya
Minggu pagi aku memutuskan
untuk lari. Dari rumah, aku menggenakan training
merah marun dan baju tiga-perempat yang hanya sampai siku.
Setelah melakukan sedikit peregangan,
aku berjalan menerobos jalan setapak kampungku yang apabila di pagi hari
seperti saat ini penuh oleh pejalan kaki; entah itu penjual oncom; atau ibu-ibu
yang membeli sayur dari pasar. Alhasil, begitu sampai di lingkaran Kebun Raya, kaosku
ditempeli bermacam bau.
Aku berlari santai saja
sambil mendengarkan musik lewat headset.
Udara sejuk Bogor di pagi hari menyeruak memenuhi dada. Tak ada bising klakson,
hanya ada deru teredam dari mesin yang melintas dengan kecepatan cepat, dan di
atasku langit yang begitu biru tampak terhalang dedaunan yang begitu lebat dari
pepohonan. Karena menggunakan sepatu beralaskan karet, hentakan kakiku nyaris
tak bersuara.
Tak berapa lama kemudian aku
sampai di lapangan sempur. Istirahat sejenak, melakukan pemanasan, dan berlari
secara konstan. Musik di telingaku masih bertalu-talu. Di putaran ketiga, aku
pacu seluruh tenagaku. Saat tak ada lagi tenaga yang bisa kuhabiskan untuk
lari, tubuhku kuseret ke sebuah kursi dan beristirahat. Keringat deras dan
terasa tegas seolah butir-butir air asin itu sebesar biji jagung.
Dadaku kembang-kempis begitu
cepat. Lewat mataku tampak orang-orang yang masih berlari di lapangan seperti
tak nyata. Mereka ada di sana, tapi kabur seolah aku sedang bermimpi; aku
sejengkal pun tak bisa menjangkau mereka, dan mereka pun mengabaikan
keberadaanku. Aku ada di sini, sedangkan orang-orang ada di seberang sana.
Suara mereka pun tak terdengar, padahal dengan jelas mataku melihat bibir
mereka bergerak-gerak, mengatakan hal tanpa mengeluarkan suara, benar-benar
seperti mimpi. Seketika aku pun sadar kalau headset
yang masih menempel di telingaku pun tidak mengeluarkan bunyi.
Apa ini?
Tiba-tiba aku merasa begitu
kesepian. Begitu terpejam, jauh di pelupuk mata terlihat air terjun yang
bulir-bulir airnya bisa kulihat dengan jelas satu per satu melompat dari atas
kemudian berpencar saat menghantam batu tajam di bawah. Air itu kemudian
berenang membentuk aliran sungai yang kecil. Di sekeliling air terjun itu
banyak pepohonan yang lebat. Suasana begitu sunyi sampai detak jantungku
terdengar seperti sedang menari. Seolah aku dapat menangkap pesan-pesan dari
detakan yang begitu konstan. Tangan dan leherku bergetar, sesuatu mengular
begitu cepat. Itu darah yang diedarkan jantung. Jantung memompanya ke seluruh
tubuh lewat pembuluh darah. Pembuluh vena.
Vena?
“Kamu sakit?”
Sekonyong-konyong kepalaku
terasa seperti dikocok hebat sekali. Dunia berputar dalam pusaran yang dahsyat.
Aku merasakan kembali tekstur dari celana katun yang agak licin. Di udara
tercium bau sesuatu yang terbakar. Apa ya, wangi ini? Ah, aku ingat, wangi
sosis bakar dari penjual sosis yang mangkal tepat di samping kelasku, hanya
terhalang pagar setinggi dua meter. Begitu aku membuka mata, pemandangan itu
jelas sekali.
“Vena, kau sakit, ya?”
Suara itu terdengar lagi.
Renyah, jernih, serta tenang, tapi begitu ringkih, seperti bunyi telaga yang
dicelupi koin secara perlahan. Begitu melihat ke samping, Vena duduk di
sampingku mengenakan seragam SMP.
“Tidak, hanya kepalaku saja
yang sakit.”
Bukan. Mendadak diriku
tertarik menjauh, dan dari kedua mata ini, kulihat diriku yang masih mengenakan seragam SMP. Di sampingnya duduk Vena
yang tampak kesakitan memegangi kepala dan mulut.
“Kau barusan muntah. Sudah
makan siang?”
“Tadi beli popmie di
koperasi,” sahut Vena. Poni yang menutupi dahinya selembar demi selembar pergi
ke samping begitu dia mengangkat wajahnya. “hehehe.”
“Itu sama saja belum makan,”
diriku yang lain bicara. “Mau kuantar pulang?”
“Jangan. Nanti kamu ketinggalan
pelajaran tambahan,” Vena mengulas senyum ironi.
Diriku yang lain menggeleng.
“Kenapa kau masih mementingkan orang lain? Sudahlah. Ayo pulang. Biar aku yang
minta izin pada pak Agus.”
“Gak takut dimarahi?”
“Lebih takut kamu sakit.”
Aku sekarang ingat betul di
mana dan kapan lokasi ini. Tak salah lagi. Ruangan serba-putih dengan sepotong
tempat tidur tinggi dan bau obat yang begitu pekat pastilah UKS. Kalau melihat
dari janggutku yang belum tumbuh, pastilah ini kelas tiga SMP.
“Tak harus kugendong, bukan?”
tanyaku.
Vena sekali lagi mengulas
senyum.
Sore itu, untuk pertama
kalinya dalam hidup, aku dapat merasa dengan jelas tubuh utuh Vena. Kulihatnya
yang begitu lembut, keringatnya yang beraromakan balsem begitu lengket menempel
di lenganku, serta langkah dan geraknya yang ringkih, seolah jika tanpa aku
topang, dia seketika terjatuh tanpa daya.
ooOoo
Ingatan sewaktu SMP itu
muncul secara tiba-tiba di saat tubuhku mencapai titik kelelahan yang
tertinggi. Dan karena kemunculannya yang tiba-tiba, kehilangannya pun secara
tiba-tiba pula, tanpa peringatan sebelumnya. Hilang begitu saja, seolah terisap
gravitasi kuat blackhole dan
bersemayan di titik terhitam pikiranku.
Aku merasa begitu hampa.
Tubuhku seolah berlubang, meski pun tertutupi baju, angin masih dapat
melaluinya dan menempelkan rasa dingin dan sakit. Dengan gegas aku bangkit,
membeli air dari penjual eceran dan meneguknya sampai habis, lalu pulang
secepat mungkin, dan berharap rasa sakit dan hampa ini hilang dengan melakukan
aktivitas lain.
Entah keputusanku ini tepat
atau tidak, aku tak tahu, dan memang tak ada niat untuk menyelaminya lebih
dalam. Bisa saja keputusanku ini tepat karena biasanya untuk orang sepertiku
cara seperti inilah yang paling tepat; atau bisa saja keputusanku ini salah,
karena jika dilihat dari perspektif rasional, keputusanku merupakan bentuk lain
dari pelarian diri.
Di rumah, aku tak ada
kegiatan lain selain membaca buku. Minggu ini kuputuskan untuk menghabiskan
buku pertama tetralogi buru-nya Pram. Bumi Manusia. Sebelum lebih jauh membaca,
aku menyiapkan terlebih dulu teh manis dan kudapan. Aku membaca di lantai dua
rumahku yang tempatnya terang oleh cahaya matahari pagi agar lebih mudah
membaca. Pasalnya, buku Pram ini bukanlah buku asli, melainkan versi bajakan.
Sebetulnya agak ringkih juga
aku membaca buku bajakan. Bukan masalah cetakannya yang buram dan kertasnya
yang murahan, tapi lebih pada harga diri dan rasa respekku pada penulis. Aku
selalu mengutamakan buku asli dibandingkan buku bajakan. Tapi, untuk karya
tetralogi buruh ini, tentu kita mafhum bahwa buku ini amatlah langka. Sekali
pun ada yang menjual, harganya tentu bisa membuatku tidak makan selama
seminggu.
Toh, jika buku merupakan
jendela dunia, tak penting bukan asli-tidaknya buku tersebut? Apa sebuah gunung
akan terlihat berbeda jika ditinjau lewat jendela orang butut dan jendela
berlapis emas? Semata hanya rasa respekku yang tinggi terhadap ilmu dan
penulislah yang membuatku tetap menjunjung tinggi buku original.
Pukul sepuluh, kututup buku.
Melanjutkan pembicaraan dengan Vena tempo hari, sekarang aku akan datang ke
rumahnya. Langit pagi ini biru sekali. Aku berjalan perlahan, lalu naik angkot
untuk sampai ke rumahnya.
“Kalau begitu, bagaimana
kalau minggu depan aku ceritakan padamu? Tak cukup satu-dua jam untuk
menceritakan semuanya, bukan?”
“Ya, kurasa kau benar.” Lewat sedotan kuisap
air es yang dingin. “Apa kita janjian di sini lagi?”
“Wah, jangan dong, bisa-bisa
uangku habis. Kecuali kalau kamu mau mentraktirku, hehe.”
“Akan kutraktir kalau
royalti untuk bukuku sudah cair.”
“Benar? Kapan?”
“Mungkin bulan depan.”
“Kalau begitu, janji, ya,”
Vena memberikan jari kelingkingnya padaku sambil tersenyum. Tapi melihatku yang
agak kaget, Vena cepat-cepat menarik kembali tangannya. “maaf, aku lupa. Kamu
tak boleh menyentuhku, ya?”
“Kalau Adrian masih ada,
tentu aku tak akan menyentuhmu.”
Vena menyilangkan kelingkingnya
padaku. Dia menyuruhku datang ke rumahnya minggu depan untuk menceritakan
semuanya. Kukatakan padanya aku akan datang sambil menerima alamat rumahnya
yang ditulis di selembar tisu. Sambil tertawa, dia pun melambaikan tangan dan
pergi.
Yang tidak pernah kusangka
sebelumnya, kepergiannya hari itu serta janjinya hari itu merupakan janji
terakhirnya padaku.
Begitu tiba di depan gapura
merah-putih seperti yang dibicarakannya kemarin, aku turun, berbelok ke kanan
dua kali, berjalan lurus sampai rumah bercat krem, belok kanan lagi, dan rumah
Vena ada di sana. Rumah sederhana dengan atap merah bata. Halamannya luas, tapi
memancarkan kesan ditinggalkan begitu saja.
Kuucapkan permisi, karena
tak mungkin mengucapkan salam pada keluarganya. Permisi. Permisi. Permisi. Begitu
aku terus mengulang untuk mengucapkan kata permisi. Entah di ucapan keberapa,
seorang tetangga keluar dari rumahnya.
“Keluarga Pak Budi pindah ke
Purwokerto,” seru Ibu Tetangga itu ketus.
“Benarkah? Kapan pindahnya?”
“Selasa.” Ibu itu membanting
pintu sebagai tanda penolakan bicara.
Lubang dalam diriku mendadak
menganga kembali. Kehampaannya bertambah berat dan bulat. Vena, meski aku tak
pernah memahaminya, aku selalu bisa memprediksi dan menyangka akan
pergerakannya. ‘Aku bertaruh Vena akan pergi ke sini’ atau ‘Vena setelah ini
pasti akan bicara denganku’ atau semacamnya. Dan itu selalu benar. Setidaknya
sampai tahun lalu.
Yang tidak pernah kusangka sebelumnya,
kepergiannya hari itu serta janjinya hari itu merupakan janji terakhirnya
padaku. Mengetahui hal itu, kehampaan dalam diriku berubah wujud jadi nelangsa
yang tak terkira.
Chapter 3 - Jarak Di Antara Kita
Pada hari yang dijanjikan,
sebelum melangkah keluar mengenakan sepatu kets yang menurutnya paling bagus, Rizki
membaca lagi surat terakhir dari Vena yang sampai ke rumahnya tiga hari yang
lalu. Guratan kata yang ditulis di atas kertas dengan alas yang tidak rata itu
tiba-tiba saja membuat wajah Vena terbayang: Mata bulat hitamnya; rambut kuncir
kudanya; telinga lancipnya.
Oh tidak. Rizki merasakan
hatinya berdebam lagi. Tidak, perintahnya pada diri sendiri. Kau tak boleh
mengacaukannya hari ini. Tidak ada lagi pengulangan untuk hari ini. Jika hari
berakhir, maka berakhirlah sudah.
Untuk Rizki,
Jadi, kamu akan mengenakan kaus biru
bertuliskan Life is Good If You Do Nothing dengan jaket abu-abu? Biar kutebak,
kamu pasti akan memakai terusan celana bahan hitam. Betul, bukan? Gaya
pakaianmu, entah kenapa aku mudah mengingatnya. Ada baiknya aku juga mengatakan
akan memakai pakaian apa nanti, siapa tahu kamu tak lagi mengenali wajahku,
hihihi.
Atasanku kemeja biru tua dengan
garis beragam: putih, abu, hitam. Aku akan menggulung lengan baju hingga siku,
dan untuk bawahan, aku akan mengenakan celana jeans yang tidak terlalu ketat,
tidak juga terlalu longgar. Normal saja. Kamu tak perlu tahu sepatu apa yang
akan kupakai, kan?
Haaah, setelah kamu bilang akan
cukur rambut sebelum bertemu, aku jadi kepikiran bagaimana wajahmu. Apa kamu
bertambah tinggi? Apa bicaramu jadi lebih tegas? Memikirkan itu, aku jadi tak
sabar untuk bertemu. Jangan buat aku menunggu, ya!
Vena.
Waktu sore memang waktu yang
paling tepat untuk berjalan kaki mengitari kota Bogor. Terutama bila hari
sedang tidak hujan. Rizki bisa melihat orang-orang berdasi tanpa basa-basi
membunyikan klaksonnya seolah dunia punya dia sendiri; langit yang pelan-pelan
dilumuri kunyit; serta udara yang jadi lembab. Tanpa terasa, usai berjalan kaki
selama dua puluh menit ditambah satu kali naik angkot, Rizki sudah sampai di
depan kedai Ramenochi yang mencolok dengan cat merah di permukaan luarnya.
Masih ada sepuluh menit sebelum pukul empat.
Rizki menaiki tangga kayu
satu per satu. Di kedai yang terletak di lantai dua ruko itu, tampak pelayan di
hadapan kasir mengucapkan selamat datang dalam bahasa Jepang, beberapa pembeli
yang menyantap pesanan, serta pemutar musik di pojokan yang mengalunkan lagu
berbahasa Jepang. Dilewatinya beberapa pasang meja dan kursi, Rizki terus
berjalan menuju bagian ujung kedai.
Pemuda itu memang senang
sekali duduk di tempatnya sekarang. Atapnya hanyalah fiber hijau yang dihias
tanaman merambat. Di sebelah kirinya tembok yang terbuat dari papan bergambar
pohon bambu, dan jika menengok ke sebelah kanan, Rizki bisa melihat langit yang
pelan-pelan tampak membosankan. Tak jauh dari tempatnya duduk, ada ornamen air
mancur yang mendengungkan gemericik air.
Terdengar dari bagian tengah
kedai mengalun lagu Supercell – Kimi no
Shiranai Monogatari. Mendengar lagu itu, serta-merta kepala Rizki seperti
dikocok demikian keras hingga sadar-tak-sadar dia melihat pemandangan tiga
tahun lalu, di tempat yang sama, di sore yang sama.
Rizki mengangkat tangannya,
dan telinganya mendengar namanya dipanggil. Harum dari kuah ramen menyengat
hidung. Kepalanya terasa sakit. Dia melihat lagi pemandangan tiga tahun lalu.
Rakish menepuk pundaknya, kembali membicarakan manga Hayate The Combat Butler, dan Ade yang sedang bicara dengan
Kevin tentang kelakuan si Andika. Semua terasa nyata. Meski Rizki tahu ini
hanyalah memorinya yang keluar begitu saja tanpa dia kehendaki, dia sama sekali
tak bisa menghentikannya; dia hanya bicara mendengar Rakish bicara tanpa henti
dan melihat Ade serta Kevin yang saling tertawa.
Semua itu lalu terhenti. Ada
bunyi hentakan kaki yang menggema. Dari lubang tempat munculnya tangga itu datang
Vena serta Adrian dengan tatapan bahagia. Satu tebasan menyayat hatinya.
Jika saja pelayan kedai tidak
mengantarkan buku menu, mungkin Rizki tak akan keluar dari kenangan itu.
“Satu porsi udon katsu dengan es teh ramenochi.
Untuk ramennya pedes atau miso?” pelayan itu bertanya.
“Pedas.”
“Untuk pedesnya, kami punya
lima level,” pelayan itu menerangkan lagi dengan riang, layaknya tour guide museum yang menunjukkan
prasasti langka pada anak SD. “mulai dari level TK sampai kuliah. Mas mau pilih
yang mana?”
“Yang sedeng itu SMP atau SMA?” Rizki mengajukan pertanyaan.
“SMP, mas.”
“Kalau begitu saya pilih SMA
saja.”
Selagi pelayan membacakan
pesanan, Rizki melihat Vena muncul dari lubang tangga dengan wajah kebingungan.
Lelaki itu melambaikan tangan, mengabaikan pelayan, dan memanggil nama Vena
satu kali dengan suara yang tegas hingga gadis itu tersenyum dan berjalan ke
arahnya. Pelayan itu pergi.
Vena berjalan ke arahnya
sambil sedikit menunduk. Langkahnya mengetuk-ngetuk lantai kayu, dan begitu
sampai di meja, Vena pelan-pelan duduk. Senyum dipasang, dan napasnya yang
masih tersengal-sengal diatur terlebih dahulu hingga agak tenang, barulah ia
tersenyum kembali.
“Di pahlawan macet,” keluh
Vena. “Terus angkotnya juga ngetem
dulu di deket Sidomampir. Maaf ya kalau sedikit telat.”
“Gak apa-apa.”
Ternyata Vena mengenakan
pakaian yang sama seperti yang dia tulis di surat. Dan kalau Rizki lihat, tak
banyak yang berubah dari gadis itu kecuali rambutnya yang diurai, tak lagi
dikuncir kuda.
“Ciee ganti gaya rambut,” Rizki
mencoba mencairkan suasana.
Vena mengusap ujung
rambutnya sejenak. “Hehe, ganti rambut, ganti juga kepribadian. Memangnya kamu,
dari dulu gak ada kemajuan sedikit pun soal gaya.”
“Yang penting pola pikir
berubah,” sahut Rizki diselingi senyum tipis.
Gadis itu ingin menjawab
tapi bingung harus bagaimana, jadi dia lebih melempar senyum lalu memilih diam.
Kaki kecilnya hanya tampak telapaknya saja yang seputih porselen, sementara
mata kaki sampai ke atasnya tertutup celana jeans. Kaki kecil itu bergerak
bergantian, dan wajahnya mengedarkan pandangan ke sekeliling, lalu sedikit
berdecak kagum.
Dalam waktu satu tahun, Vena
sudah sedemikian pesat berubah jadi gadis matang yang begitu menawan. Rambutnya
yang seperti bulu kucing hitam begitu legam hingga punggung. Bola matanya yang
bagaikan mutiara disandingkan dengan telinga lancip yang terkadang
bergerak-gerak. Di bawahnya, ada hidung yang halus serta bibir merah muda
sempurna. Ditambah tingginya yang semampai, sungguh membuatnya begitu aduhai.
Es teh pesanan Rizki datang.
Pada pelayan, Vena minta dipesankan menu yang sama dengan Rizki. Tapi saat Rizki
bilang dia memesan makanan yang pedas, Vena mengatakan tak masalah. Usai
perbincangan soal menu makanan itu, tak ada lagi yang bicara.
Berselang beberapa menit,
mereka memakan pesanan mereka tanpa bicara sedikit pun. Rizki menambahkan
sedikit merica ke mangkuk, menyeruput kuahnya, sementara Vena mencubit tisu dan
mengusap dahinya yang basah oleh keringat. Bunyi sumpit yang beradu, aroma kuah
yang pedas, serta lagu yang mengalun menuntun Rizki mengingat kembali memori
yang sedang dia rangkai secara sistematis.
“Kamu belum
menghabiskannya?”
Vena memicingkan mata.
“Pedes, tau!”
“Kan tadi udah dikasih tau,”
Rizki terkekeh melihat bibir gadis itu yang mengilap.
Iris mata Vena yang seperti
kelereng hitam mengamati wajah Rizki. “Ngomong-ngomong, kenapa kamu harus kirim
surat padaku, padahal ‘kan jarak rumah kita paling cuman dari 8 kilometer?”
“Kan sudah kubilang,” Rizki
mengangkat bahu. “surat itu kutulis begitu saja tanpa pernah merencanakan
sebelumnya. Dan kebetulan saja aku sedang ingin pergi ke kantor pos, membeli
perangko terbaru.”
“Pasti kamu terpengaruh film
5cm/s .”
“Favoritku.”
“Kalau dipikir-pikir, aneh
juga ya aku balas suratmu, lewat pos lagi. Terus, kenapa coba aku tak minta
nomer hpmu?” lesung pipit muncul di wajah Vena yang tersenyum. “Kita ini
sedikit aneh, ya.”
“Menurutku itu tak aneh,
lho. Soalnya, ada rasa khusus yang kita dapat kalau mengirimkan pesan lewat
surat. Kamu paham?”
“Paham aja deh, biar cepat
selesai, hahaha,” terusnya sambil tertawa renyah.
Rizki mengamati wajah gadis
di depannya sambil mengingat-ingat kapan terakhir kali mereka bicara seperti
ini. Butuh waktu agak lama sampai Rizki teringat sosok Vena sewaktu kelas 10
dengan seragam abu-abu yang masih baru. Dalam ingatan itu, Rizki teringat dia
ada di McD, makan burger ditemani soft
drink, masih malu-malu saat beberapa kenalan mereka secara tidak terduga
muncul di tempat itu.
Ingatan itu hanya bertahan
beberapa saat, sebelum memudar dan hilang. Saat Rizki mencoba mengingatnya
kembali, kesulitan yang dia hadapi begitu hebat, dan sampai saat Vena selesai
menghabiskan pesanannya, Rizki tak dapat mengingatnya secara sempurna kembali.
“Jadi, bisa kita langsung ke
inti?”
“Bicaramu kayak lagi rapat,”
komentar Vena.
“Mungkin ini sedikit konyol.
Tapi, maukah kamu mendengar satu permintaanku? Mungkin ini akan menyakiti kita
berdua; atau mungkin hanya aku yang akan tersakiti, aku tak tahu.”
“Tunggu, aku sedang minum,”
sergah Vena.
Rizki bersikeras. “Yang
jelas, aku harus menyelesaikan semua ini sekarang.”
“Menyelesaikan apa?” Vena
menaruh gelas, mengelap bibir dengan tisu sekenanya, lalu menatap lawan
bicaranya.
“Bagian cerita yang rumpang dari
masa lalu.”
Vena mengernyit, tapi Rizki
segera melanjutkan pembicaraannya yang mengambang.
“Aku dapat mimpi. Dalam
mimpi itu, aku sedang menulis sebuah novel tentang pengalaman romansaku selama
SMA. Tentang sebuah pengkhianatan, tentang cinta pertama yang begitu lugu, dan
semua yang menyeretku hingga jadi seperti sekarang. Dalam mimpi itu aku tampak
bahagia, seolah semua beban hilang dan aku bisa sebebasnya memeluk beruang
besar berbulu lembut di padang rumput.”
“Cara bicaramu aneh,” Vena
bersungut sambil menyeruput teh dinginnya. “Apa hubungannya beruang dengan
mimpi menulis novel?”
“Hanya kiasan. Kamu tahu?
Selama SMA dulu, rasanya ada suatu sekat penghalang yang membuatku tidak dapat
melihat dunia dengan jelas,” Rizki menjeda. “Dan aku tahu, itu semua karena aku
tak mau mengingat-ingat saat itu di masa depan. Dan sekarang, aku malah ingin
mengingatnya kembali. Intinya, maukah kamu menceritakan kembali cerita sewaktu
SMA yang berhubungan denganku? Secara sistematis, sejak kita kelas sembilan SMP
dulu, hingga lulus di kelas dua belas. Hanya kamu yang bisa menyelesaikannya.”
“Memangnya kamu tidak bisa
menulisnya sendiri?” tanya Vena sambil menggigit bibir bawahnya.
“Aku hanya ingat beberapa
bagian saja. Dan sepertinya..., aku sudah melupakan banyak kejadian penting
selama ini.”
Gadis itu terbengong.
Gemericing hiasan di langit-langit bersuara disentuh angin sore yang membawa
suasana lembab. Udara terasa lengket, dan aroma malam samar-samar merebak di
udara. Klakson mobil masih berlomba siapa yang paling keras.
“Apa kamu masih menyukaiku?”
dengan suara ragu, Vena bertanya.
“Aku suka kamu...,” Rizki
mengambangkan jawaban, otot-otot di wajahnya secara cepat tertarik karena malu,
dan dia pun menambahkan, “dan seluruh umat manusia yang baik.”
Tak ada suara. Bahkan alunan
lagu bergenre rock yang sedang berputar pun tak sampai ke telinga Rizki. Lelaki
itu terus menatap Vena yang tampak sedang memutar otak. Bibirnya berharap akan
muncul jawaban Ya, meski dia tahu, sedikit sekali peluang jawaban itu akan
muncul.
Begini: Ada seorang lelaki
yang dulu mengejarmu, kemudian gagal menjadi pacarmu karena kamu menyukai
sahabatnya, dan lelaki ini tidak lagi bersahabat dengan sahabatnya karena
sahabatnya pacaran denganmu. Kini, setelah dua tahun tak lagi bicara empat
mata, lelaki itu memintamu menceritakan tentang perasaanmu yang dulu padanya.
Rumit, bukan?
“Kamu tak perlu menjawab
pertanyaan itu sekarang, kok. Kalau kamu tak ingat pun, kamu tak usah
menceritakannya—”
“Ya!”
“Aku juga sadar betapa tidak
sopannya aku meminta itu padamu—”
“Ya!”
“Terlebih, Adrian pasti tak
akan—”
“Jawaban untuk
permintaanmu,” Vena menekankan kata-katanya dalam-dalam. “Ya.”
Rizki terbengong. Tangannya
masih melekat di meja, dan dia sudah bangkit, seolah hendak memukul meja karena
kesal terhadap lawan debat.
“Tapi sebelum itu, aku mau
menanyakan sesuatu padamu.”
Rizki duduk lagi dan
mendengarkan dengan baik. “Apa itu?”
“Aku akan menceritakannya,
tapi sebelum itu, aku mau bertanya..., apa kamu akan baik-baik saja setelah aku menceritakannya? Bukannya kamu
sangat-tidak-ingin mendengar kisah itu lagi?”
Ternyata itu yang menjadi
pertimbangan Vena hingga tak bicara beberapa saat. Mendengarnya, Rizki untuk
beberapa alasan menjadi lega. Dia menjawab dengan yakin.
“Dulu aku memang
sangat-sangat-tak-ingin mendengarnya,” bola mata Rizki terbuka. “Tapi sekarang,
rasa itu hilang. Aku ingin mendengarnya, meski aku akan menerima rasa tebasan
pedang di hati; meski telinga ini meleleh menolak mendengarnya; meski bibir ini
menjerit memintamu berhenti, aku tetap ingin mendengarnya.”
Vena mengulas senyum. “Kalau
begitu, bagaimana kalau minggu depan aku ceritakan padamu? Tak cukup satu-dua
jam untuk menceritakan semuanya, bukan?”
Sepasang muda-mudi itu
saling tersenyum, meski tentu saja, senyum keduanya punya konotasi yang
berbeda.