Posted by : Unknown
Senin, 30 Maret 2015
Untuk Rizki,
Maafkan aku kalau surat ini datang agak telat. Belakangan
aku sibuk sekali, hingga baru punya waktu luang untuk menulis surat kali ini.
Mungkin karena jadwalku yang padat juga, aku jadi lupa
suratku yang kemarin membahas tentang apa, hehehe. Yah, kupikir dalam surat
kali ini aku akan menceritakan saat kelulusan hingga tes masuk SMA saja.
Apa kamu masih ingat saat perpisahan dulu? Kalau aku
sendiri masih mengingatnya dengan jelas. Gedung Balai Binarum yang masih kokoh
berdiri, langit-langitnya yang berbentuk segitiga begitu tinggi, serta susunan
kursinya yang apabila dilihat dari atas membentuk tanda + di tengah-tengah.
Semuanya masih dapat kuingat dengan jelas, seolah peristiwa itu baru saja terjadi kemarin. Tapi saat aku menyadarinya, sudah 4 tahun terlewat....
***
Setelah
melewati pelajaran dan jadwal yang begitu mengerikan selama enam bulan
terakhir, akhirnya aku lulus dari sekolah dengan NEM memuaskan, 36.80. Aku juga
memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 4 Bogor, yang kebetulan
sekolahnya tepat berada di hadapan SMP-ku.
Di
waktu upacara kelulusan, aku tak menangis, hanya merasakan sedikit sedih. Hari
itu aku dan teman-teman banyak berbincang mengenai masa depan, mau meneruskan
sekolah ke mana, tanyaku. Kebanyakan sih menjawab ingin meneruskan ke SMAN 4,
hanya Devita yang mengatakan ingin mencoba tes ke SMA 5. Hebat, semoga kamu
diterima, ucapku.
Hari
itu Rizki menjadi salah seorang dari sekitar tiga puluh anak yang mendapatkan
plakat dari Kepala Sekolah atas prestasinya menjuarai perlombaan. Setahuku,
Rizki itu juara satu lomba cipta puisi tingkat Provinsi.
Pembawa
acara pagi itu membacakan sederet prestasi yang dicapai siswa angkatan
2011/2012. Hanya lima orang yang mendapat prestasi di bidang seni, sementara
sisanya di bidang olahraga. Setelah itu sedikit kata-kata dari kepala sekolah,
penyerahan plakat, dan penampilan-penampilan dari adik kelas.
Satu-satunya
yang mampu membuatku sedikit gemetar itu saat tim paduan suara menyanyikan
himne Pahlawan Tanpa Tanda Jasa secara bersama-sama. Detik itulah aku baru
sadar, meski bagaimana jengkelnya aku pada guru, merekalah yang membuatku bisa
berdiri di tempat ini.
Acara
selanjutnya tak ada lagi yang menyenangkan. Teman-temanku selalu mengajakku
berfoto, aku menurut saja. Acara utama selesai pukul satu siang. 1/3 anak
pulang bersama orang tuanya. Ibuku sendiri memilih pulang duluan, membiarkanku
berbicara pada teman-teman sepuasnya.
Aku
mencari-cari Rizki. Rupanya sedang bersama komplotannya, orang-orang yang suka
sekali tertawa. Melihatnya aku jadi berpikir, kenapa orang sekalem Rizki bisa
begitu akrab dengan mereka yang sangat berisik?
“Rizki,
si Vena nungguin kamu, nih!” teriak Dea.
Temanku
yang satu ini sepertinya tak punya malu. Dan aku berani bertaruh kalau salah
satu cita-citanya pastilah menjadi mak comblang. Terima kasih untuknya, karena
berkat dia, seisi kelas menggosipkan aku dan Rizki pacaran.
Rizki
berjalan ke arahku. Kemeja batik biru yang ia kenakan tampak begitu cocok
dengan rambut hitamnya yang dipotong tipis. Terlebih celana hitam serta sepatu
yang dikenakannya pun menambah kesan dewasa dalam dirinya.
“Mau
keluar sebentar?” tawar Rizki.
Aku
berjalan ke luar gedung di samping Rizki. Tampaknya di luar malah lebih
berwarna dibanding di dalam. Kami mengitari gedung yang cukup luas itu untuk
sampai di sebuah tempat duduk yang nyaman. Sebuah kursi yang agak teduh.
Rizki
duduk terlebih dulu, kemudian aku. Rerumputan yang setinggi jari kelingking
yang bagai karpet kupermainkan sedikit demi sedikit. Di atasku, ada pohon yang
entah jenisnya apa. Rantingnya kurus, tapi daunnya cukup meneduhkanku.
“Kamu
mau meneruskan ke SMA 4, ya?”
“Ya,
kamu sendiri?”
“Mungkin...,”
Rizki bersuara seperti angin yang lembut. “Aku juga akan ke SMA 4.”
Aku
terperajat. “Nggak jadi ke SMA 5?”
Rizki
hanya mengulas senyum. Tulus sekali, seperti seekor anak panda sesuai memakan
daun bambu.
Kenapa
harus SMA 4, pikirku dalam hati. Ingin rasanya aku meyakinkan ia untuk
membatalkan niatnya dan mendaftar ke SMA 5 saja. Pasalnya, SMA 5 tentu lebih
bagus dalam hal pendidikannya daripada SMA 4. Dan juga, dengan otak seencer
Rizki, tentu ia bisa menembus ujian masuknya andai belajar dengan giat.
Aku
kadang mendapatkan kiriman puisi dari Rizki. Kata-katanya begitu lembut seperti
sebarisan semut yang berjalan di atas tanganku menuju tengkuk. Di lain hari,
kata-katanya bisa berubah setajam mata pisau; di lain hari pula kata-katanya
seperti awan. Tak dapat kumengerti, tapi tetaplah indah. Dengan kemampuan
berpuisinya, tentu ia amat dekat menjadi seorang sastrawan, barangkali penulis.
Tapi
melihat wajahnya yang detik ini, setan mana pun tak akan sanggup membias senyum
di wajahnya.
Akhirnya
aku memilih menundukkan kepala dan diam. Mencoba mengunci berbagai kata-kata
yang berkecamuk di dalam kepalaku. Apa seorang merpati dapat mencegah niatan
yang singa?
“Kok
tiba-tiba diam?” suara Rizki membangunkanku.
“Mmm,
boleh tanya sesuatu, nggak?” aku menggigit bibir bawah saat mengatakannya.
Kepala
Rizki dimiringkan sedikit.
“Kenapa...,
kenapa kamu daftar ke SMA 4?”
Usai
kata-kata itu terucap, hatiku berharap dia tidaklah marah. Sejenak aku
terpejam. Dunia terdiam. Kurasakan detak jantung kian berbisik, apa aku
berharap jawabannya karena aku? Alasan dia mendaftar ke SMA 4..., karena aku?
Separuh
hati ini bahagia, sedangkan sisanya merana. Betapa tega aku menarik malaikat ke
bumi hanya untuk menemani gadis kecil yang kesepian.
“Alasannya
karena.....”
Rizki
menggantungkan jawabannya.
“Karena
apa?” rengekku.
“Karena....”
Aku
mulai gemas.
“Nanti
juga kamu tahu sendiri,” pungkasnya sembari melebarkan senyum.
Aku
merajuk. “Rizkiiii!” jeritku sambil memukul bahunya pelan.
Kami
tertawa keras sekali, lepas sekali. Seumur-umur, belum pernah aku tertawa
selepas ini. Seolah semua beban yang kutahan keluar bersama tenaga yang
kugunakan. Seolah guratan-guratan kekesalan bias bersama lebarnya senyum..
Selepas
itu, Rizki mengajakku ke sebuah kafe terlebih dulu sebelum pulang.
ooOoo
Sesuai
dugaan, aku lolos seleksi. Mengenai hal ini, Rizki mengucapkan selamat padaku.
Katanya, “Wah, sepertinya untuk tiga tahun ke depan, kita akan mengenakan
almamater yang sama lagi.” Yang kutahu, untuk orang secerdas Rizki, tentu
tidaklah sulit baginya untuk masuk SMAN 4 ini.
Untuk
merayakan keberhasilanku masuk SMA 4, Rizki mengajakku makan di restoran. Restoran
tempat kami makan tidaklah menyediakan kursi, jadi kami makan secara lesehan.
Menunya pun tak jauh dari makanan sehari-hari: lalapan; ayam goreng; sambal;
sup. Meski begitu, rasanya tak perlu ditanya. Enak!
Usai
menyantap makanan hingga nyaris kekenyangan, kami berbincang mengenai banyak
hal. Bagaimana kehidupan di SMA nanti? Banyakkah orang-orang tengil yang
kerjaannya hanya menyontek? Apa guru-gurunya juga masih menyebalkan? Lebih
jauh, Rizki memancingku tentang pacaran.
Untuk
topik yang satu ini, aku—entah kenapa—merasa sedikit jengah membicarakannya
dengan Rizki. Lelaki itu bertanya, apa nanti aku bakal dapat seorang pacar di
SMA.
“Mmm,
kalau pacar sih gak mau,” aku membuka mulut meski malu. “Soalnya, aku itu
pengennya punya satu pasangan yang setia seumur hidup.”
“Pasangan
sejati?”
“Iya.”
“Bagaimana
kalau Tuhan menakdirkan kamu dapat pacar, terus putus di tengah jalan?”
Aku
memicing. “Tuhan gak akan sejahat itu. Aku percaya. Nggak dengan hal sesuci
cinta. Buatku sendiri, cinta itu bukan main-main. Pacaran itu main-main!
Apalagi waktu SMA. Aku banyak denger cewek yang punya pacar lebih dari 2. Ih,
aku sih nggak mau sampai kayak gitu. Makanya, aku milih pacaran pas kuliah aja,
biar lebih serius.”
Rizki
hanya menggumamkan sesuatu sambil menyeruput teh manisnya. “Gimana hubunganmu
sama si itu?”
“Si
itu?”
“Itu
lho, yang katanya suka padamu,” Rizki mengarahkan ingatanku. “Kamu belum
memberitahu siapa nama lelaki itu.”
“Oh, dia...,” kumainkan ujung rambutku dengan
jari. “Hmm, mungkin hubunganku sama dia stagnan, gak ada kemajuan. Dia masih
fokus sama beladirinya. Tapi..., dia ngasih janji sama aku.”
“Janji?”
“Dia
bakal ngelindungi aku kalau udah ahli beladiri itu.”
“So sweet,” celetuk Rizki sembari
nyengir.
Kurasakan
pipiku memerah. “Orangnya asyik sih, cuman aku agak ringkih kalau dia mulai gerakan-gerakan
beladirinya di depan umum. Kesannya sombong!”
“Berarti
dia belum siap dengan ilmunya,” Rizki nyeletuk lagi, kali ini sambil mengunyah
es batu.
“Maksud
kamu?”
“Iya.
Aku pernah membaca di sebuah buku, kalau sifat sombong itu muncul dari hati
yang belum siap menerima suatu ilmu.”
Untuk
kesekian kalinya, aku dibuat kagum oleh ucapan Rizki, hingga tak sadar aku
memandanginya cukup lama dalam tatapan mata yang lebar. Aku buru-buru
mengalihkan topik lain, bersikap seolah tak terjadi apa pun, meski dalam hatiku
sesuatu mulai meletup-letup.
Sekitar
pukul dua siang, aku pamit pulang karena merasa harus menemui orangtuaku atas
keberhasilanku ini. Kami berpisah karena rute angkot kami berbeda usai membayar
menu makanan masing-masing.
Di
dalam angkot menuju rumah, aku mengulas senyum. Tak kusangka Rizki menganggap
hal itu sungguhan. Padahal aku hanya mengarang cerita soal lelaki yang aku
sukai itu. Sebetulnya, aku sampai saat ini belum menyukai siapa pun.
***
Bagaimana? Ingat sesuatu setelah membaca surat ini?
Ngomong-ngomong, aku mulai merasa bosan kalau hanya
menulis surat satu-arah seperti ini, seolah aku ini sedang menulis memoar.
Jujur, sekarang aku merasa kesepian. Bahkan di beberapa malam, aku sering
menangis kalau mengingat-ingat tidak ada satu pun orang yang menyayangiku lagi.
Apa ya namanya..., Alienasi, bukan? Ya, aku tahu istilah itu dari status
facebookmu. :p
Aduh, maaf membuatmu membaca pernyataan sedih ini.
Mungkin karena aku teringat akan Adrian, ya? Hehehe.
Sudah dulu ya, surat dariku kali ini. Tetap kirimi aku
doa! Soalnya, belakangan ini aku sering kena flu.
Temanmu,
Vena