Archive for 2015
Kau tahu kalau bintang itu tipuan mata
terbesar di jagat raya?
Bintang yang kau lihat pada malam hari bukanlah
bintang yang sesungguhnya. Yang kau
lihat hanyalah wujud sinar bintang yang melewati jarak jutaan tahun cahaya.
Misalnya, jika malam ini kau lihat bintang
yang berjarak dua juta tahun cahaya, itu artinya, bintang yang kau lihat adalah
bintang dua tahun lalu.
Bagiku sendiri, sebetulnya ada hal yang—kurasa—lebih
pantas disematkan titel ‘Tipuan Mata Terbesar di Jagat Raya’ dibanding bintang. Kau
tahu apa itu?
Dirimu.
***
Pagi ini, sama seperti pagi-pagi lain yang
kulalui selama tujuh belas tahun ini, langit tetaplah biru. Kau duduk di sana, di
atas meja bambu di dekat pohon di samping kelasku, dengan wajah penuh warna. Dapat
dengan jelas kulihat, matamu yang mengayunkan cinta, rambut hitammu yang kau
pangkas sebahu, serta senyumanmu yang lugu, seperti anak panda yang habis
mengunyah bambu.
Aku tanpa kesadaranku tiba-tiba bergerak ke
arahmu. Gegas kuhiraukan buku yang belum sempat kusimpan dengan baik di atas meja.
Jangan salahkan kedua tanganku ini yang begitu tak tahu diri ini karena coba
mengapaimu, sebab angin membisikkan deru napasmu, dan dedaunan yang saling
bergesekkan terus menyemangatiku.
Terhitung baru tiga langkah dari pintu kelas,
saat kudengar satu suara memanggil namamu, aku terpaku.
“Lina, ayo ke kelas,” ajak lelaki itu.
Secara tiba-tiba kau menjauh. Antara tanah
yang kau pijak dan tanah yang kuinjak terbentang bidang hitam yang tak terkira
luasnya. Seolah jika satu senti saja aku mencoba menapaki bidang hitam itu, aku
akan tenggelam dalam kegelapan.
Aku masih terpaku saat kau bangkit dan tersenyum
pada lelaki itu.
Dapat dengan jelas kulihat, matamu yang
mengayunkan cinta, rambut hitammu yang kau pangkas sebahu, serta senyumanmu
yang lugu, seperti anak panda yang habis mengunyah bambu. Tapi, semua itu
bukanlah untukku. Semua itu untuk lelaki yang berjalan di sampingmu.
Kau tahu bukan, kalau bintang itu tipuan mata
terbesar di jagat raya?
Bagiku, kaulah tipuan terbesar di jagat raya.
Kau yang kulihat bukanlah dirimu yang
sekarang; kau yang kulihat adalah dirimu tiga tahun lalu, saat masih jadi
kekasihku. []
Catatan :
[Cerita ini ikut meramaikan tantangan @KampusFiksi bertema #FiksiBuatPacarku]
Nama tokoh cewek dalam cerita ini Lina. Hmm,
sebenarnya Lina itu empat huruf yang saya ambil dan saya susun ulang dari nama
seorang cewek yang selama ini terus saya kagumi. Saya belum sempat jadi pacarnya,
hehehehe.
Banyak sih yang ingin ditulis. Tapi, karena ‘dia’
juga pasti baca cerita ini, lebih baik jangan ditulis semua deh, bisa kepayahan
saya nanti, ckckck. Satu saja yang ingin saya sampaikan, mengutip lagu Perfect Time dari Sheila On 7:
There is always a way for love
But sometimes not on the same road
Dreaming is the only land
Fits for you and me
Tipuan Mata Terbesar di Jagat Raya
CHAPTER 6
Aproksimasi
(Bagian Kedua)
Untuk Rizki,
Wah, sangat disayangkan, ternyata kamu benar-benar tak
ingat. Huh, padahal aku yakin bakal seru jadinya kalau kita saling bertukar
cerita lewat surat. Eh, ngomong-ngomong, aku jadi menemukan kesenangan lho saat
menulis surat ini!
Seolah, aku tidak
sendirian!
Tapi, tentu aku tidak mungkin memegang pulpen dan kertas
setiap saat, jadi ada waktu di mana aku jauh dari pulpen dan kertas, dan di
saat itu aku benar-benar tersiksa. Aku jadi ingin tidak melakukan apa pun
kecuali menulis.
Baiklah, pada surat kali ini, aku akan menceritakan
padamu tentang bagaimana masa awal-awal SMA yang bisa dikatakan sebagai mawar
yang berwarnakan pink. :p
ooOoo
Hari
pertamaku di sekolah, sambil melihat teman-teman baru aku pun berkata dalam
hati. Di kehidupan SMA yang baru ini, aku akan mencoba untuk berubah! Tidak
akan lagi menjadi perempuan yang pendiam, yang gampang menangis, yang malas
belajar. Aku ingin membanggakan orangtua!
Begitulah.
Kemudian saat aku memasuki gerbang, hembusan angin yang begitu kencang datang
dari arah halaman sekolah, menggetarkan aku yang masih ragu-ragu untuk masuk.
Tapi kurekatkan tas yang kupakai.
Kalau
kulihat-lihat, desain sekolah baruku ini tidak terlalu bagus. Gerbangnya meski
baru dicat agak sulit dibuka. Pagar yang mengelilinginya tampak tak terurus.
Begitu melewati gerbang, ada ruang kosong untuk parkir kendaraan yang cukup
luas. Di sebelah kiri, ada satu jajar bangunan satu tingkat yang begitu suram
(Aku baru tahu itu bangunan ekskul KAMPALA, Pramuka, dan sanggar). Di depan
bangunan suram itu, ada ruang perpustakaan yang atapnya berlubang, serta
buku-bukunya berdebu. Tempat itu saat pertama kumasuki lebih mirip tempat
penjual buku loak dibanding perpustakaan.
Di
sebelah kanan dari gerbang ada lapangan upacara serta bangunan dua tingkat
milik kelas 12, ruang guru, Tata Usaha, serta Laboratorium. Di belakang ruang
guru ada ruangan kelas 11, dan begitu aku melangkah lebih dalam, aku melihat
ruang Konseling berada di samping perpustakaan, serta gedung dua tingkat milik
kelas 10 yang kokoh di samping ruang Konseling, terpisah oleh lorong. Ada juga
masjid dan lapangan olahraga saat aku melangkah lebih jauh. Di bagian paling
kanan dan paling belakang, ada kantin.
Langit
masih gelap saat aku duduk di depan kelas yang masih terkunci bersama beberapa
siswa lain. Ya, sekarang sedang MOPDB, kami—murid-murid baru—disuruh hadir di
sekolah paling telat pukul lima pagi lebih empat puluh tiga menit dua puluh
satu detik. Ya! 5:43:21! Mengerikan, bukan?
Saat
pertama kali mendapat surat edaran pun aku bergumam, wah, apa-apaan ini? Kenapa
aku harus ke sekolah sepagi ini? Tapi karena ini rutinitas tiap tahun, dan aku
pun tak berani bicara, maka aku menurut saja.
Aku
duduk di lantai yang dingin. Selain jam masuk yang menyebalkan itu, ada juga
peraturan lain yang tak kalah menyebalkan: papan nama dari karton yang ditulisi
nama,gugus kelas,dan cita-cita, kemudian aku harus menggantungkannya di leher;
tas yang kami gunakan haruslah dari kardus; perempuan harus mengenakan pita
merah-putih di rambut; sepatu harus hitam; serta sederet peraturan lain yang
bila kusebutkan semua pasti aku akan berteriak tidak tahan.
Baru
saja aku dapat berbicara dengan seorang murid dari sekolah lain bernama Marlin,
tiba-tiba dari arah lapangan datang seorang lelaki yang mengenakan seragam
putih-abu dan di lengannya ada pita biru. OSIS.
Kami—siswa
baru—dengan sigap langsung bangkit dan berbaris. Kakak OSIS itu sambil melipat tangan
di dada memandangi kami satu per satu secara bergantian. Lelaki di barisanku
yang paling kanan menjadi komandan.
“Salam
Kakak OSIS!” ucapnya keras.
Dan
yang paling menyebalkan, tiap kali bertemu OSIS dan dia minta salam, salam
seperti inilah yang harus kami lakukan. Kutekuk kakiku sedikit hingga tubuh
agak menjongkok, telapak tangan dibuka dan diangkat setinggi dada, kemudian
mulai mengucapkan salam.
“Kakak-kakak
OSIS, kakaknyaa ganteng. Kakaknyaa ganteng. Berasa kerennya!”
Sambil
menyanyikan itu, tangan kami haruslah berputar-putar, dan bibir harus
tersenyum. Seperti iklan tori-tori chees yang
sempat populer itu. Apa ini selesai? Tentu tidak. Ada lagi
satu-penghinaan-lain.
“Cememem!”
kata lelaki di paling kanan, kali ini lebih mirip umpatan.
Kami
memasang pose seperti tadi. “Ce-e-ceu em-e-me em-eme em! Cememem! Cememem!
Cememem! Aye!”
Memalukan,
bukan? Arrgh! Aku saja sampai ingin menangis tiap kali melakukan ini. Usai
melakukan dua-penghinaan itu, kami berdiri tegak. Kakak OSIS itu mengamati
perlengkapan yang kami gunakan. Dua orang di samping kiriku—seorang laki-laki,
ditanya kenapa di papan namanya tidak tertulis cita-cita.
“Malu,
kak,” anak itu berkelit.
“Memangnya
kamu mau apa? Jadi copet?” Kakak OSIS itu membentak. “Yang punya pulpen atau
spidol, sini, saya pinjem!”
Salah
seorang dari kami memberi. Kakak OSIS itu menuliskan sesuatu di papan nama
lelaki tadi. Selesai menulis, Kakak OSIS itu mengatakan kalau dia akan jadi
penanggungjawab kami, Gugus Elang. Beres menjelaskan, pintu kelas dibuka, kami
pun dipersilahkan masuk.
Begitu
duduk, aku melihat anak lelaki tadi ternyata mendapat sebuah hadiah, yakni poin 5 buah, plus kolom
cita-cita di papan namanya diisi seperti ini: Cita-cita saya mendapatkan nilai matematika 100. Bukannya tertawa,
aku malah merasa kasihan.
MOPDB
berlangsung dari senin hingga kamis. Dan setiap hari, kami diberi tugas untuk
membawa makanan yang diminta Kakak OSIS. Masalahnya, Kakak OSIS hanya
memberikan riddle tentang makanan
yang harus kami bawa. Misalnya, pensil Persebaya FC. Nah, tahu apa artinya?
Pensil Faber Casttle. Kalau pensil ini, aku masih tahu fungsinya.
Nah,
pernah aku disuruh membawa nasi buruk rupa. Nasi goreng, karena goreng dalam arti
Sunda berarti jelek. Wah, aku pun berpikir, buat apa bawa nasi goreng ke
sekolah? Mungkin untuk makan bareng. Tapi ternyata nasi-buruk-rupa itu
dikumpulkan dan tak tahu ke mana lenyapnya. Selagi makan bekal sewaktu
istirahat, aku jadi ingin ketawa memikirkan anggota OSIS yang jumlahnya tak
sampai 30 itu makan nyaris 300 kotak nasi goreng. Apa mereka sebegitu laparnya?
Sebetulnya,
kalau bukan karena tingkah dan peraturan menyebalkan dari OSIS, MOPDB ini
tidaklah buruk, sebab sekolahku memang betul-betul mengorientasikan kami dengan
sistem SMAN 4. Mengenalkan sekolah beserta tata terbitnya; staff pengajar dan
tata usaha; lokasi-lokasi sekolah; serta sistem pembelajaran.
Di
hari pertama, usai upacara pembukaan, kami kembali ke kelas. Lorong begitu
penuh hingga harus berdesak-desakan. Dikelas, Kakak OSIS memeriksa barang
bawaan yang harus kami bawa. Kalau tidak membawa sesuatu, akan dapat poin. Konon,
kalau poin kami sampai di angka tertentu, kami akan dibawa ke ‘Ruang Pengakuan
Dosa’. Aku sendiri karena takut dengan ruangan itu, tak pernah berpikir untuk
mendapat satu butir poin pun.
Usai
pengecekan barang-barang, Kakak pembimbing kami memperkenalkan diri. Yang
perempuan bernama Rahmi, yang laki-laki berkulit gelap namanya Fadli, sedangkan
yang laki-laki berkulit putih namanya Fauzan.
“Pasal
istimewa,” Kak Fauzan mengucapkan keras-keras. “Satu. Senior selalu benar. Dua.
Jika senior salah, ingat pasal satu. Tiga. Bila bertemu senior, ucapkan salam. Empat.
Gunakan EYD yang benar. Lima. Terapkan lima S. Ada pertanyaan?”
Perempuan
di depanku mengangkat jari.
“Maaf
Kak, untuk pasal nomor tiga, apa tiap bertemu senior harus cememem?”
“Salam
yang satu lagi, bukan cememem. Cememem dan Kakak OSIS hanya jika diminta.”
“Salam
yang bagaimana?” tanya gadis itu. Oh, sepertinya dia tidak masuk sewaktu hari
jumat sebelum MOPDB, padahal saat itu dijelaskan peraturan dan salam-salam.
Tapi
nyatanya Kak Fauzan tidak protes. “Untuk laki-laki, salamnya seperti ini: Wilujeng enjing raden kanjeng roro kang mas,
dan sebutkan namanya. Untuk perempuan, salamnya seperti ini: Wilujeng enjing raden ajeng ayu roro dewi,
dan sebutkan namanya. Paham? Tidak, tak ada pengulangan.”
Kejam.
Kak
Rahmi melirik jam dan mengambil alih situasi. Ia mendekati Kak Fauzan dan
membisikkan sesuatu. “Oke, sekarang waktunya materi. Siapkan catatan kalian,
dengarkan baik-baik, dan pahami apa yang disampaikan oleh guru. Mengerti?”
Terdengar
sahutan rendah.
“Mengerti?”
Kak Fauzan seperti berteriak.
“Mengerti....”
Tak
lama setelah itu seorang guru laki-laki masuk dan menjelaskan materi keagamaan.
Aku kaget saat ternyata materi yang disampaikan adalah materi Islam. Dalam hati,
aku ingin sekali meminta izin untuk keluar, tapi takut dimarahi. Alhasil, aku
terus berdiam sampai materi usai.
ooOoo
Kegiatan hari itu dilanjutkan dengan berbagai games dan latihan. Kami disuruh
menghafal tiga buah lagu: Mars sekolah, Mars patriot olahraga, serta yel-yel
gugus. Saat pertama kali ambil suara untuk Mars sekolah, suara kami betul-betul
berantakan. Begitu latihan mencapai lima kali, suara kami mulai enak didengar.
Belajarlah...
Berjuanglah...
SMA Negeri 4 pasti jaya...
Kegiatan
berakhir pukul lima sore. Saat senja merekah, dengan wajah yang lelah kami
pulang. Karena tidak diperbolehkan membawa handphone,
aku pulang naik angkot berdesakan dengan siswa lain yang sama sepertiku, ingin
cepat-cepat semua ini berakhir.
Malam
hari sekitar pukul sembilan, tubuhku seperti tercerai berai saking lelahnya.
Yang bisa kulakukan hanyalah terbaring usai menyiapkan barang bawaan buat
besok. Aku nyaris terlelap jika saja telepon dari Rizki tidak muncul.
“Ya?”
“Suaramu
lelah sekali,” sahut Rizki di seberang sana. “Semoga kamu tidak lupa kalau kita
akan menjalani hal seperti ini tiga hari ke depan.”
“Kamu
itu ngerusak mood, tahu!”
“Biar
mood kamu membaik, bagaimana kalau
kita bicarakan soal hari ini? Setuju? Baik. Hmm, hari ini aku berkenalan dengan
Adrian. Orangnya baik, kalau kupikir masak-masak, dia termasuk dalam kategori
pendengar yang baik.”
Suara
Rizki malam itu seperti bisikan yang membangkitkan sesuatu dalam diriku.
Seberkas semangat yang menjagaku tetap terjaga. Bunyi suaranya begitu nyaman
terdengar.
“Pendengar
yang baik? Kayak gimana?”
“Begini,”
Rizki berdeham sekali, seolah aku ada di hadapannya dan dia akan menerangkan
sesuatu padaku. “Ada dua tipe orang. Satu, yang mendengar untuk menjawab. Yang
satu lagi, yang mendengar untuk mengerti. Nah, Adrian ini termasuk tipe kedua.
Bisa dipahami?”
“Ya,
kurang lebih aku ngerti.”
“Kamu
sendiri? Adakah sesuatu yang menyenangkan hari ini?”
Kupermainkan
rambut sambil mengatakan, “Maaf, aku sedang malas bicara, hehe, kamu aja yang
cerita, ya?”
“Hmm,
oke. Omong-omong, aku sendiri tak setuju pada sikap OSIS yang begitu otoriter.
Membentak hanya karena hal remeh, menghukum atas hal yang tidak masuk akal,
melarang siswa kelas 10 melintasi lapangan atas. Aku sendiri lebih heran kenapa
guru-guru membiarkan saja sikap senior yang seperti itu. Padahal, sikap seperti
itu hanya menimbulka stigma negatif pada adik kelas. Dan yang jelas, pasti
membuat MOPDB tahun depan tak jauh beda dengan tahun ini. Hanya pengulangan
akibat dendam.”
“Aku
juga berpikir begitu.”
“Eh,
daripada membicarakan OSIS, lebih baik kita bicarakan hal lain. Apa yang
sebaiknya kita bicarakan? Oh ya, apa yang kamu tulis di kolom cita-cita papan
nama?”
“Jadi
dokter, cita-cita masa kecilku, hehe.”
“Aku
sendiri menulis sastrawan. Saat membaca itu, OSIS yang melihatnya mengatakan
kalau aku pastilah jago menulis surat cinta atau puisi cinta, seolah yang ada
di otaknya hanyalah cinta. Kalau bukan masa MOPDB, pasti orang itu kudebat.
Coba pikir sedikit, untuk apa sekolah tinggi-tinggi kalau hanya untuk menulis
surat cinta atau menulis puisi cinta?”
“Wah,
aku terlalu lelah buat mikir, hehe.”
“Pokoknya,
bayangkan sajalah. Kamu benar-benar kelelahan, ya?” Rizki bertanya simpatik.
“Begitulah.
Kamu sendiri tidak lelah?”
Kutanya
begitu, Rizki tidak mengatakan apa pun beberapa saat, sampai-sampai aku
terpikir kalau mungkin tiba-tiba saja dia tertidur setelah menceritakan hal
panjang lebar padaku. Tapi ternyata tidak.
“Aku
lelah, kok. Tapi ada seseorang yang membuatku semangat,” suara Rizki terdengar
lebih hangat. Nada suaranya begitu menyelinap lembut.
“Eh?
Siapa? Kok kamu gak pernah cerita sama aku?”
“Apa
aku harus memberitahukan semua rahasiaku padamu?”
“Ih,
pelit! Cepet kasih tahu!” aku merajuk. Tapi karena Rizki bungkam, aku mulai
menebak. “Sejak kapan suka sama dia?”
“Sejak
SMP.”
“Wah,
sekarang dia sekolah di mana?”
“Sama
denganku.”
“Kelas
berapa?”
Rizki
mendengus. “Bukankah kamu lelah?”
“Tidak
untuk hal ini,” aku membela. “Kelas berapa? Rizki, jawab, kelas berapa?”
“Sepuluh.”
Bip. Panggilan berakhir.
Chapter 6 - Aproksimasi (Bagian Kedua)
Untuk Rizki,
Maafkan aku kalau surat ini datang agak telat. Belakangan
aku sibuk sekali, hingga baru punya waktu luang untuk menulis surat kali ini.
Mungkin karena jadwalku yang padat juga, aku jadi lupa
suratku yang kemarin membahas tentang apa, hehehe. Yah, kupikir dalam surat
kali ini aku akan menceritakan saat kelulusan hingga tes masuk SMA saja.
Apa kamu masih ingat saat perpisahan dulu? Kalau aku
sendiri masih mengingatnya dengan jelas. Gedung Balai Binarum yang masih kokoh
berdiri, langit-langitnya yang berbentuk segitiga begitu tinggi, serta susunan
kursinya yang apabila dilihat dari atas membentuk tanda + di tengah-tengah.
Semuanya masih dapat kuingat dengan jelas, seolah peristiwa itu baru saja terjadi kemarin. Tapi saat aku menyadarinya, sudah 4 tahun terlewat....
***
Setelah
melewati pelajaran dan jadwal yang begitu mengerikan selama enam bulan
terakhir, akhirnya aku lulus dari sekolah dengan NEM memuaskan, 36.80. Aku juga
memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 4 Bogor, yang kebetulan
sekolahnya tepat berada di hadapan SMP-ku.
Di
waktu upacara kelulusan, aku tak menangis, hanya merasakan sedikit sedih. Hari
itu aku dan teman-teman banyak berbincang mengenai masa depan, mau meneruskan
sekolah ke mana, tanyaku. Kebanyakan sih menjawab ingin meneruskan ke SMAN 4,
hanya Devita yang mengatakan ingin mencoba tes ke SMA 5. Hebat, semoga kamu
diterima, ucapku.
Hari
itu Rizki menjadi salah seorang dari sekitar tiga puluh anak yang mendapatkan
plakat dari Kepala Sekolah atas prestasinya menjuarai perlombaan. Setahuku,
Rizki itu juara satu lomba cipta puisi tingkat Provinsi.
Pembawa
acara pagi itu membacakan sederet prestasi yang dicapai siswa angkatan
2011/2012. Hanya lima orang yang mendapat prestasi di bidang seni, sementara
sisanya di bidang olahraga. Setelah itu sedikit kata-kata dari kepala sekolah,
penyerahan plakat, dan penampilan-penampilan dari adik kelas.
Satu-satunya
yang mampu membuatku sedikit gemetar itu saat tim paduan suara menyanyikan
himne Pahlawan Tanpa Tanda Jasa secara bersama-sama. Detik itulah aku baru
sadar, meski bagaimana jengkelnya aku pada guru, merekalah yang membuatku bisa
berdiri di tempat ini.
Acara
selanjutnya tak ada lagi yang menyenangkan. Teman-temanku selalu mengajakku
berfoto, aku menurut saja. Acara utama selesai pukul satu siang. 1/3 anak
pulang bersama orang tuanya. Ibuku sendiri memilih pulang duluan, membiarkanku
berbicara pada teman-teman sepuasnya.
Aku
mencari-cari Rizki. Rupanya sedang bersama komplotannya, orang-orang yang suka
sekali tertawa. Melihatnya aku jadi berpikir, kenapa orang sekalem Rizki bisa
begitu akrab dengan mereka yang sangat berisik?
“Rizki,
si Vena nungguin kamu, nih!” teriak Dea.
Temanku
yang satu ini sepertinya tak punya malu. Dan aku berani bertaruh kalau salah
satu cita-citanya pastilah menjadi mak comblang. Terima kasih untuknya, karena
berkat dia, seisi kelas menggosipkan aku dan Rizki pacaran.
Rizki
berjalan ke arahku. Kemeja batik biru yang ia kenakan tampak begitu cocok
dengan rambut hitamnya yang dipotong tipis. Terlebih celana hitam serta sepatu
yang dikenakannya pun menambah kesan dewasa dalam dirinya.
“Mau
keluar sebentar?” tawar Rizki.
Aku
berjalan ke luar gedung di samping Rizki. Tampaknya di luar malah lebih
berwarna dibanding di dalam. Kami mengitari gedung yang cukup luas itu untuk
sampai di sebuah tempat duduk yang nyaman. Sebuah kursi yang agak teduh.
Rizki
duduk terlebih dulu, kemudian aku. Rerumputan yang setinggi jari kelingking
yang bagai karpet kupermainkan sedikit demi sedikit. Di atasku, ada pohon yang
entah jenisnya apa. Rantingnya kurus, tapi daunnya cukup meneduhkanku.
“Kamu
mau meneruskan ke SMA 4, ya?”
“Ya,
kamu sendiri?”
“Mungkin...,”
Rizki bersuara seperti angin yang lembut. “Aku juga akan ke SMA 4.”
Aku
terperajat. “Nggak jadi ke SMA 5?”
Rizki
hanya mengulas senyum. Tulus sekali, seperti seekor anak panda sesuai memakan
daun bambu.
Kenapa
harus SMA 4, pikirku dalam hati. Ingin rasanya aku meyakinkan ia untuk
membatalkan niatnya dan mendaftar ke SMA 5 saja. Pasalnya, SMA 5 tentu lebih
bagus dalam hal pendidikannya daripada SMA 4. Dan juga, dengan otak seencer
Rizki, tentu ia bisa menembus ujian masuknya andai belajar dengan giat.
Aku
kadang mendapatkan kiriman puisi dari Rizki. Kata-katanya begitu lembut seperti
sebarisan semut yang berjalan di atas tanganku menuju tengkuk. Di lain hari,
kata-katanya bisa berubah setajam mata pisau; di lain hari pula kata-katanya
seperti awan. Tak dapat kumengerti, tapi tetaplah indah. Dengan kemampuan
berpuisinya, tentu ia amat dekat menjadi seorang sastrawan, barangkali penulis.
Tapi
melihat wajahnya yang detik ini, setan mana pun tak akan sanggup membias senyum
di wajahnya.
Akhirnya
aku memilih menundukkan kepala dan diam. Mencoba mengunci berbagai kata-kata
yang berkecamuk di dalam kepalaku. Apa seorang merpati dapat mencegah niatan
yang singa?
“Kok
tiba-tiba diam?” suara Rizki membangunkanku.
“Mmm,
boleh tanya sesuatu, nggak?” aku menggigit bibir bawah saat mengatakannya.
Kepala
Rizki dimiringkan sedikit.
“Kenapa...,
kenapa kamu daftar ke SMA 4?”
Usai
kata-kata itu terucap, hatiku berharap dia tidaklah marah. Sejenak aku
terpejam. Dunia terdiam. Kurasakan detak jantung kian berbisik, apa aku
berharap jawabannya karena aku? Alasan dia mendaftar ke SMA 4..., karena aku?
Separuh
hati ini bahagia, sedangkan sisanya merana. Betapa tega aku menarik malaikat ke
bumi hanya untuk menemani gadis kecil yang kesepian.
“Alasannya
karena.....”
Rizki
menggantungkan jawabannya.
“Karena
apa?” rengekku.
“Karena....”
Aku
mulai gemas.
“Nanti
juga kamu tahu sendiri,” pungkasnya sembari melebarkan senyum.
Aku
merajuk. “Rizkiiii!” jeritku sambil memukul bahunya pelan.
Kami
tertawa keras sekali, lepas sekali. Seumur-umur, belum pernah aku tertawa
selepas ini. Seolah semua beban yang kutahan keluar bersama tenaga yang
kugunakan. Seolah guratan-guratan kekesalan bias bersama lebarnya senyum..
Selepas
itu, Rizki mengajakku ke sebuah kafe terlebih dulu sebelum pulang.
ooOoo
Sesuai
dugaan, aku lolos seleksi. Mengenai hal ini, Rizki mengucapkan selamat padaku.
Katanya, “Wah, sepertinya untuk tiga tahun ke depan, kita akan mengenakan
almamater yang sama lagi.” Yang kutahu, untuk orang secerdas Rizki, tentu
tidaklah sulit baginya untuk masuk SMAN 4 ini.
Untuk
merayakan keberhasilanku masuk SMA 4, Rizki mengajakku makan di restoran. Restoran
tempat kami makan tidaklah menyediakan kursi, jadi kami makan secara lesehan.
Menunya pun tak jauh dari makanan sehari-hari: lalapan; ayam goreng; sambal;
sup. Meski begitu, rasanya tak perlu ditanya. Enak!
Usai
menyantap makanan hingga nyaris kekenyangan, kami berbincang mengenai banyak
hal. Bagaimana kehidupan di SMA nanti? Banyakkah orang-orang tengil yang
kerjaannya hanya menyontek? Apa guru-gurunya juga masih menyebalkan? Lebih
jauh, Rizki memancingku tentang pacaran.
Untuk
topik yang satu ini, aku—entah kenapa—merasa sedikit jengah membicarakannya
dengan Rizki. Lelaki itu bertanya, apa nanti aku bakal dapat seorang pacar di
SMA.
“Mmm,
kalau pacar sih gak mau,” aku membuka mulut meski malu. “Soalnya, aku itu
pengennya punya satu pasangan yang setia seumur hidup.”
“Pasangan
sejati?”
“Iya.”
“Bagaimana
kalau Tuhan menakdirkan kamu dapat pacar, terus putus di tengah jalan?”
Aku
memicing. “Tuhan gak akan sejahat itu. Aku percaya. Nggak dengan hal sesuci
cinta. Buatku sendiri, cinta itu bukan main-main. Pacaran itu main-main!
Apalagi waktu SMA. Aku banyak denger cewek yang punya pacar lebih dari 2. Ih,
aku sih nggak mau sampai kayak gitu. Makanya, aku milih pacaran pas kuliah aja,
biar lebih serius.”
Rizki
hanya menggumamkan sesuatu sambil menyeruput teh manisnya. “Gimana hubunganmu
sama si itu?”
“Si
itu?”
“Itu
lho, yang katanya suka padamu,” Rizki mengarahkan ingatanku. “Kamu belum
memberitahu siapa nama lelaki itu.”
“Oh, dia...,” kumainkan ujung rambutku dengan
jari. “Hmm, mungkin hubunganku sama dia stagnan, gak ada kemajuan. Dia masih
fokus sama beladirinya. Tapi..., dia ngasih janji sama aku.”
“Janji?”
“Dia
bakal ngelindungi aku kalau udah ahli beladiri itu.”
“So sweet,” celetuk Rizki sembari
nyengir.
Kurasakan
pipiku memerah. “Orangnya asyik sih, cuman aku agak ringkih kalau dia mulai gerakan-gerakan
beladirinya di depan umum. Kesannya sombong!”
“Berarti
dia belum siap dengan ilmunya,” Rizki nyeletuk lagi, kali ini sambil mengunyah
es batu.
“Maksud
kamu?”
“Iya.
Aku pernah membaca di sebuah buku, kalau sifat sombong itu muncul dari hati
yang belum siap menerima suatu ilmu.”
Untuk
kesekian kalinya, aku dibuat kagum oleh ucapan Rizki, hingga tak sadar aku
memandanginya cukup lama dalam tatapan mata yang lebar. Aku buru-buru
mengalihkan topik lain, bersikap seolah tak terjadi apa pun, meski dalam hatiku
sesuatu mulai meletup-letup.
Sekitar
pukul dua siang, aku pamit pulang karena merasa harus menemui orangtuaku atas
keberhasilanku ini. Kami berpisah karena rute angkot kami berbeda usai membayar
menu makanan masing-masing.
Di
dalam angkot menuju rumah, aku mengulas senyum. Tak kusangka Rizki menganggap
hal itu sungguhan. Padahal aku hanya mengarang cerita soal lelaki yang aku
sukai itu. Sebetulnya, aku sampai saat ini belum menyukai siapa pun.
***
Bagaimana? Ingat sesuatu setelah membaca surat ini?
Ngomong-ngomong, aku mulai merasa bosan kalau hanya
menulis surat satu-arah seperti ini, seolah aku ini sedang menulis memoar.
Jujur, sekarang aku merasa kesepian. Bahkan di beberapa malam, aku sering
menangis kalau mengingat-ingat tidak ada satu pun orang yang menyayangiku lagi.
Apa ya namanya..., Alienasi, bukan? Ya, aku tahu istilah itu dari status
facebookmu. :p
Aduh, maaf membuatmu membaca pernyataan sedih ini.
Mungkin karena aku teringat akan Adrian, ya? Hehehe.
Sudah dulu ya, surat dariku kali ini. Tetap kirimi aku
doa! Soalnya, belakangan ini aku sering kena flu.
Temanmu,
Vena
Chapter 5 - Aproksimasi (Bagian Pertama)
Untuk Rizki,
Maaf tidak memberitahumu sebelumnya tentang kepindahanku.
Kamu pasti kaget, bukan? Hehehe. Karena aku punya janji akan menceritakan
tentang masa lalu kita padamu, maka, kutulis surat ini di kereta yang sedang
mengular menuju Purwokerto.
Melihat persawahan yang begitu menghampar bagai karpet
membuatku teringat rerumputan tak terurus yang ada di samping kelas IX - F,
kelas kita dulu, tempat aku mengenalmu.
ooOoo
Menginjak kelas sembilan, aku benar-benar merasa tak ada satu hal pun yang
berubah dalam diriku. Padahal, aku—Vena Dila Handayani—ini sebentar lagi
keluar dari SMP; mendaftar ke SMA lain; dan terpisah dari teman-teman. Tapi
beginilah aku, benar-benar merasa tak ada bedanya.
Kelas IX – F. Minggu pertama, seperti biasa, diadakan pembentukan pengurus
kelas. Orang-orang mulai mengajukan calon mereka masing-masing. Aku menurut
saja. Mengangkat jari dan memberikan pilihan saat diminta, serta bertepuk
tangan saat Surya terpilih jadi ketua kelas. Tak ada yang menarik.
Aku sendiri lebih senang menghabiskan waktu untuk bicara dengan teman
sebangkuku, Disti. Meski banyak bicara, Disti ini orangnya lucu. Tubuhnya
kecil, rambutnya seperti mangkuk, serta bola matanya begitu bulat. Sayang,
karena lelaki di kelas sering meledeknya, dia jadi sering menangis. Dan
biasanya akulah yang menjadi tempatnya menangis.
Kehidupanku sungguh biasa saja. Belajar, bermain dengan wajar, mengikuti
pelajaran tambahan, les, lalu pulang dan tidur. Begitu dan terus begitu.
Sesekali mengeluh, di lain waktu tertawa, menangis, atau tertawa sambil
menangis.
Menginjak semester terakhir masa SMP, suasana kelas berubah. Meski tidak
terlalu drastis, tapi aku dapat merasakannya dengan jelas. Anak-anak jadi lebih
serius. Disti jadi tidak sering diganggu, malah karena kepintarannya kini dia
selalu didekati orang-orang untuk berdiskusi soal pelajaran-pelajaran. Syukurlah.
“Kamu tau si Aldi, gak?” tanya Disti.
Sore itu, kira-kira dua bulan sebelum UN, aku mengunjungi rumah Disti untuk
belajar bersama. Hanya kami berdua, sebab aku tidak pernah bisa fokus kalau
belajar terlalu banyak orang.
“Si Aldi yang bandel itu?”
“Iya!” Disti berseru kencang. Kelopak matanya terbuka lebar. “Belakangan
ini dia sering banget sms aku.”
“Kamu seneng?”
“Hmm, gimana ya, seneng sih...,” Disti meletakkan pensil. Punggungnya disandarkan
pada dinding kamarnya yang berwarnakan biru. “Awalnya dia nanya-nanya tugas
gitu. Pas udah beres, dia malah nanyain hal-hal gak lain, terus gak kerasa
smsan sampai malem.”
Aku melipat tangan di atas paha. Melihat gerak-geriknya, jelas Disti sedang
bahagia. Ya, wajar saja sih, soalnya dia kan selama ini—setahuku—tak pernah
didekati lelaki mana pun.
Disti meraih gelas dari atas meja dan meminum airnya hingga tak tersisa. Meja
bundar dari kayu mahoni itu dipoles halus sekali. Barang-barang di kamar Disti
memang tergolong mewah. Karpet yang lembut, tempat tidur yang empuk, bingkai
cerminnya pun tampak elegan dengan motif yang tak kuketahui bentuknya. Di balik
semua itu, Disti pandai menyembunyikan derajat orangtua-nya yang bisa
digolongkan sebagai orang kaya.
Tanpa sadar Disti sedang membicarakan sesuatu, dan aku kehilangan beberapa
paragrafnya, jadilah di penghujung kalimat aku hanya bisa mengiyakan.
“Siapa?” todong Disti penasaran.
“Apanya?”
“Itu, cowok yang ngedeketin kamu,” Disti menggodaku dengan suaranya. “Kamu
bilang ada.”
“Eh, bercanda, tahu!”
“Nggak, pasti ada,” Disti merangkak mendekatiku lagi. “Vena, kamu itu
cantik, rambutmu panjang dan bagus. Kulit kamu juga bersih. Pasti ada yang
suka.”
Yeah, jika saja aku mengenakan kerudung, bukan
kalung salib, batinku.
“Nggak ada kok, beneran.”
“Kemaren aku lihat isi hapemu, kok kebanyakan smsnya dari Rizki....”
Oh, Rizki. Rizki pertama kali mengirimkan pesan padaku di hari yang sama
saat kami menjadi teman satu kelompok tugas praktik drama bahasa Inggris. Sekitar
satu bulan yang lalu. Meski sudah saling kenal sejak awal tahun pelajaran, dia baru
mengajakku bicara santai di penghujung semester dua.
Kalau dipikir-pikir, mirip juga kelakuan Rizki dengan Aldi. Seperti Aldi,
Rizki juga sering mengirim pesan soal pelajaran. Kalau sudah selesai, dia
biasanya akan membahas sesuatu yang lain, disertai argumennya. Misalnya saja,
kemarin kami membicarakan sebuah anime
berjudul Baka To Test.
Argumen yang dikemukakan Rizki dapat kutangkap dengan mudah, dan kebanyakan
aku sependapat dengannya.
Aku paling senang kalau dia sudah membahas tentang antariksa. Rizki bilang,
seharusnya manusia yang belajar astronomi itu taat beragama, karena di angkasa
sana banyak sekali ciptaan Tuhan yang belum terjamah manusia. Lebih jauh lagi,
Rizki membandingkan ukuran-ukuran planet bumi dengan matahari, matahari dengan
bintang lain yang ukurannya jauh lebih besar: 10x, 100x, sampai jutaan kali,
dan itu membuktikan tak ada apa-apanya manusia.
“Oh, Rizki emang sering sms, tapi
gak tiap hari,” aku membela diri.
“Tapi deket, kan?”
“Deket sebagai temen, iya,” kututup pembincangan hari ini karena waktu
sudah menunjuk pukul lima sore. “Eh, aku pamit pulang dulu ya, takut orangtuaku
khawatir.”
Disti mengantarku pulang sampai ke pinggir jalan. Saat angkot yang kunaiki
melaju, di jalan yang tadi kulihat Disti melambaikan tangan. Angkot terus
melaju.
ooOoo
Kira-kira pukul sembilan malam aku keluar dari kamar dan mengamati langit
malam. Rizki mengirimkan pesan padaku, memberitahukan kalau langit saat ini
sedang cerah, jadi aku bisa mengamati rasi bintang dengan nyaman.
Lantai dua rumahku memang sengaja dibiarkan terbuka tanpa atap sebagai
tempat jemuran. Ternyata benar. Dari sini aku bisa melihat bintang yang
berkedip di tengah hitamnya langit malam. Bintang-bintang itu, kalau
kuperhatikan seperti intan yang ditabur di angkasa. Betapa kaya Tuhan yang
memiliki segalanya.
Ada rasi bintang pari atau salib di langit sebelah selatan. Tergambar juga
meski buram rasi bintang biduk, aku menyebutnya Beruang Besar. Di sebelahnya
ada Beruang Kecil. Hanya itu yang dapat kukenali, sisanya, hanya memancarkan
gemerlap cahaya.
Selang beberapa saat, Rizki menelepon.
“Bagaimana? Indah, bukan?” ucapnya di ujung sana.
Aku mengangguk. Sesaat kemudian aku tersenyum geli. Memangnya anggukan bisa
terdengar ke ujung sana. “Ya, indah, hehe. Kamu lagi liat bintang apa?”
“Scorpion.”
Kepalaku berputar. “Rasi bintang scorpion itu ada di mana?”
“Di timur, agak ke bawah sedikit...,” nada bicara Rizki seolah dia melihat
setiap gerakanku. “Ketemu?”
“Nggak.”
“Hahaha, memang gak terlalu jelas, sih.”
Kami terdiam. Ponselku masih menempel di telinga, dan di seberang sana pun
Rizki belum memutus sambungan. Hening menyergap. Angin mulai membelaiku dengan
dingin, tapi aku masih enggan pergi. Senyap sekali. Jangkrik terdengar berisik
tapi merdu bersenandung dengan bunyi dedaunan yang bersentuhan satu sama lain.
Aku mendadak merasa dalam kesunyian, hanya aku dan Rizki manusia yang ada di
bumi.
“Coba lihat langit,” ujar Rizki. Aku menurut. “Rasi bintang apa yang kamu
lihat dengan jelas? Biduk? Orion?” saat mengucapkan salib, aku mengiyakan. “Ya,
di sini juga terlihat jelas. Indah sekali, seolah ada benang sutra yang menyambungkan
mereka.”
“Aku setuju,” sahutku.
“Meski kita berada di tempat yang berbeda, kita masih dapat melihat langit
yang sama,” suaranya terdengar lirih, seperti bunyi belalang yang digoyang
angin. “Menurutmu, apa Tuhan menciptakan bintang-bintang di langit hanya untuk
keindahan dan fungsi astronomis?”
“Sebagai penunjuk arah?” tebakku.
“Kalau menurutku, selain semua fungsi itu, bintang juga sebagai penanda. Ya,
bisa penanda apa saja. Sebuah peristiwa bersejarah, peristiwa besar, seperti
peristiwa penggulingan Raja Harold oleh William The Conqueror yang dipercaya ditandai berbarengan dengan munculnya
komet Halley tahun 1066, atau bisa juga sebagai penanda akan sebuah cita-cita.”
Aku menggumamkan ungkapan setuju.
“Coba kamu tunjuk satu bintang. Sambil mengingat-ingat bintang itu,
sebutkan cita-citamu. Suatu hari nanti, kalau kamu sedang bingung atau
kehilangan arah, keluarlah di malam hari, lihat lagi bintang itu. Aku sering
melakukannya, dan kadang aku merasa bintang itu bicara padaku, ‘hei, Rizki! Kenapa
kau putus asa seperti itu? Bukankah kau sudah berjanji padaku akan menjadi
sukses?’ dan tiba-tiba saja aku merasa semangat lagi.”
Ucapannya menggelikan bagiku. Suatu kehangatan mendekap hatiku. Rasa hangat
ini membuatku tersenyum. “Terima kasih.”
“Kembali kasih.”
...
“Omong-omong, ini sudah pukul sepuluh,” Rizki seolah mengatakan padaku
jangan lupa tidur.
“Belum ngantuk, kamu aja yang tidur duluan.”
ooOoo
Surat dari Vena itu datang
tiga hari setelah aku datang ke rumahnya yang kosong. Aku membaca surat itu
saat sedang menaiki commuter line untuk
keperluan bisnis di Jakarta Barat.
Saat membaca surat itu,
sesuatu dalam hatiku menggeliat. Rasa hampa masih saja terasa, tapi kata-kata
dari Vena hangat bagai kunang-kunang yang terbang ke bagian terhampa dalam
tubuhku.
Di bagian terhampa itu tak
ada apa-apa selain kehampaan itu sendiri. Dan sepertinya, kupu-kupu itu melebur
dalam kehampaan, karena satu-dua jam setelah membaca surat itu, aku bersikap
seolah tak ada apa-apa, dan aku pun belum dapat mengingat-ingat perjalanan
hidupku dengan jelas.
Seperti yang ditulis Vena
di penghujung suratnya, aku memang tak harus melakukan apa-apa selain
menunggu surat lain darinya untuk sekarang.
ooOoo
Sekian surat dariku untuk kali ini. Saat kamu menerima
surat ini, aku sudah sampai Purwokerto.
Kira-kira tiga sampai empat hari ke depan aku banyak
kegiatan, jadi mungkin suratnya baru akan kutulis di hari minggu atau pada
malam hari kalau aku tidak kelelahan. Hehehe, tetap do’akan aku sehat agar bisa
terus menulis surat untukmu, ya!
Temanmu,
Vena.