Archive for Agustus 2014
Suatu ketika,
Ibu pernah datang dengan mata seterang bintang sirius. Pancarannya menghangatkan
tubuhku yang sedang didekap dinginnya sepi sehabis perginya Ayah dengan wanita
lain.
“Ibu berhasil,
Rin!” pekiknya.
Kami berpelukan.
Di depan khalayak penghuni cafe yang kebingungan dengan datangnya seorang
wanita paruh baya berbusana serba putih. Jas yang menjuntai lembut sampai ke
betis.
Ibu tak
berbohong saat mengirimkan pesan kalau ia akan langsung menemuinya selepas dari
bandara.
Bibir Ibu tersenyum selebar kelopak mawar. Pipi
yang biasanya tirus itu kini hidup, bersamaan dengan lesung pipit manisnya yang
kembali datang, menghisap rindu. Hidungku bersentuhan dengan hidung Ibu yang
semulus lambang integral tulisannya.
“Dev, aku
pesen cappucino dua,” pesanku pada Devi, sahabatku yang menjadi pelayan
sekaligus pemilik cafe ini. Beres memesan, tak kusia-siakan waktu untuk mencumbu
tatapan Ibu yang hangat.
“Ibu berhasil,
Rin! Akhirnya...,” ucapnya. Lagi. Dengan nafas yang lebih teratur.
Pandanganku menelisik
jas putih kusam yang dikenakan Ibu. “Berapa hari Ibu pakai baju itu?”
“Satu bulan,
kalau tidak salah. Eh, itu tidak penting!” Ibu memprotes. Bibirnya menikung
seperti payung. Tapi tetap manis. “Yang penting Ibu harus ngasih tau kalau Ibu
berhasil menemukan apa yang selama ini Ibu cari, Rin!”
“Pacar baru?”
tebakku. Asal. Tapi memang itu yang kuinginkan. Ayah baru. Pelindung baru.
“Ish, itu bisa
dilakukan kapan saja kalau Ibu mau.”
Aku terkekeh
mendengarnya. Tidak berlebihan apa yang dikatakan Ibu. Sebulan setelah Ayahku
memutuskan bercerai, terhitung sudah tiga pria memberikanku hadiah. Ketiganya kenalan
Ibu sewaktu kuliah atau SMA.
“Jadi, apa
yang membuat Ibuku tersayang ini jadi sesenang ini?”
Ibu melucuti
senyum terindah miliknya. “Dimensi keempat. Waktu.”
***
Kukira setelah
peristiwa malam itu, hubunganku dengan Ibu akan semakin membaik. Dalam artian,
Ibu akan lebih banyak diam di rumah dibandingkan di tempat kerjanya.
Ternyata, aku
memang masih naif. Setelah tiga hari menghabiskan waktu, Ibu kembali berangkat
ke Jenewa, Swiss. Katanya, masih ada banyak hal yang harus ia lakukan. Mungkin ia
akan lebih sibuk dibanding sebelumnya.
“Mungkin Ibu
akan lebih sering mengirim surat padamu. Kalau ada kesempatan, pasti Ibu akan
pulang.”
Itu pesan Ibu
tiap kali hendak pergi. Bahkan aku sudah hafal intonasi dan pelafalan ibu saat
mengucapkannya.
Dan seperti
biasa juga, aku akan jadi anak baik. Mengangguk sambil mengulum senyum,
sedangkan hati menggigiti sesal. Kenapa harus secepat ini waktu yang kupunya
untuk berduaan dengan Ibu?
Ingin rasanya
aku menyuruh Ibu menghentikan segala macam pekerjaannya tentang fisika. Tentang
waktu. Tentang mesin waktu. Tentang black hole. Tentang anti-materi. Tentang
LHC. Tentang CERN.
Tapi apa daya.
Ibunya sudah sedemikian menggilai profesinya sebagai fisikawan, bahkan sebelum
aku lahir 16 tahun lalu.
Tapi kali ini,
sebelum Ibu menarik kopernya lebih jauh, aku sempat bertanya.
“Kapan Ibu
akan pulang lagi?”
Tak ada
jawaban.
***
Ibu memang
sengaja tak memberi jawaban agar aku makin giat belajar.
Semakin pintar
aku dalam hal fisika, semakin dekat aku menuju Ibu. Suatu hari nanti, aku ingin
bekerja di tempat yang sama dengan Ibu. Atau mungkin menggantikan posisinya. Ah,
sepertinya yang terakhir itu harus kutarik lagi. Aku tak mau bekerja jika harus
berpisah dengan Ibu.
Fisika kuantum
menjadi bidang yang kukagumi. Meski belum diajarkan secara mendalam di SMA,
tetap saja aku melahap permukaannya. Berbekal buku-buku referensi dari teman
yang kudapat di dunia maya, aku belajar fisika kuantum secara otodidak.
Aku juga
mempelajari tentang astro-fisika. Tentang benda hitam yang ternyata tak selalu
berwarna hitam, atau tentang trigonometri planet. Semua itu menyenangkan, meski
kadang membuat isi kepalaku berantakan.
Semakin aku
berusaha keras, semakin cepat aku bisa berlama-lama dengan Ibu. Benar, kan?
***
Tapi semua itu berakhir sudah. Tiba-tiba
Ibu mengirimkan email yang isinya mengatakan kalau ia akan pulang. Ia juga
memutuskan berhenti bekerja di CERN. Aku tak tahu bagaimana penjelasannya, yang
jelas, Ibu akan segera pulang.
Dan benar
saja. Dua minggu setelah pesan itu sampai padaku, Ibu datang.
Hanya berupa
daging tak bercahaya. Pandangannya bagai bintang katai putih yang siap
menghisap segala hal sebelum akhirnya meledak. Pipinya tirus, seolah hendak
sobek saat kusentuh. Senyumnya masih bangkit, tapi kehilangan sesuatu.
Tak banyak
yang kutanyakan saat itu. Meski masih SMA, tapi aku tahu kalau Ibu sedang tak
ingin ditanyai macam-macam. Yang ia inginkan hanyalah kedamaian. Itu tergurat
di kerutan wajahnya yang makin banyak.
Tiga hari
sepulangnya Ibu, yang ia lakukan hanyalah melakukan pekerjaan Ibu Rumah Tangga.
Memasak, mencuci, menyetrika, menonton tv, atau melakukan hal membosankan
lainnya.
Dari bibirnya
yang makin redup tak pernah terucap apa pun tentang fisika. Apalagi dimensi
keempat yang beberapa waktu yang lalu ia banggakan teramat sangat.
Aku masih
belajar fisika. Meski kini tersendat, tak segiat tempo hari sebelum Ibu pulang.
Dan di suatu
malam, usai menulis sesuatu di kamarnya yang sengaja dibuat remang, Ibu keluar.
Cahaya lilin masih bersinar di iris hitamnya. Dia menghampiriku yang sedang
membaca buku fisika kuantum.
“Rin,”
panggilnya.
Kutengok wajahnya.
Agak baikan. Lebih cantik, tapi tak seenerjik dulu. Guratan wajahnya agak
hilang, berganti jadi sesuatu yang lembut.
“Ada apa, Bu?”
Ibu menarik
buku fisika yang hendak kujadikan bantal. Menggantinya dengan buku tebal yang
judulnya dicetak timbul. Dunia Sophie.
Mataku menatap
heran Ibu.
Seolah mendengar
pertanyaan yang belum kuucap, Ibu mengatakan sesuatu. “Time waits for no
one.”
***
Usai malam itu
terlewat, Ibu benar-benar berubah.
Bacaannya adalah
novel-novel sastra atau buku-buku filsafat. Lagu yang mengitari telinganya pun
kebanyakan sesuatu yang tenang. Damai.
Ibu masih
secantik dulu, juga sebaik dulu. Hanya saja ucapannya tak lagi berapi-api
seperti saat ia yakin sekali akan sukses melakukan suatu percobaan, dan
gerakannya jadi lambat. Tidak seperti dulu. Gesit dan efektif.
Wajahnya benar-benar
membuatku bingung. Pembelajaran fisikaku tersendat karena Ibu memaksaku belajar
filsafat. Dia menyuruhku bersenang-senang di siang hari, dan tekun belajar di
malam hari. Bukan lagi Ibu yang disiplin.
Kesal. Hatiku geram.
Jika pada akhirnya semua harus seperti ini, untuk apa semua memori tentang
fisika di otakku? Untuk apa aku mengerti hal yang sulit dimengerti orang lain
jika pada akhirnya hanya akan dibuang?
Hingga suatu
hari, tanpa sadar aku membentaknya. Tepat di kamarnya yang remang.
“Kenapa Ibu
jadi seperti ini? Kenapa Ibu berhenti melakukan pencarian tentang waktu?!”
Ibu tak marah.
Dia tersenyum. Tenang. Justru ketenangannya itu yang membuatku makin kesal. “Ibu
sudah menemukannya.”
“Bohong!”
Remang lilin
di meja baca membuatku agak pusing. Ibu tersenyum. Mistis.
“Ibu sudah
menemukannya, Rin. Dimensi keempat. Waktu. Dan kamu tahu apa isinya? Sesuatu yang
tak ingin kamu lihat. Itu akan menghantuimu tiap malam.”
Jantungku seolah
diperas sesuatu. Sesak. “Kalau sudah menemukannya, kenapa Ibu tak
mempublikasikannya ke dunia agar semua orang tahu?”
“Karena lebih
baik itu tak diketahui. Selamanya jadi misteri.”
Time Waits For No One
Ucapanku
terhenti saat pandangku bersitatap dengan lelaki yang membukakan pintu. Bibir
bunga dedapnya itu benar-benar membawaku pada peristiwa kemarin.
ooOoo
Usai
duduk di kursi kosong taman koleksi, kukeluarkan novel yang baru saja kubeli.
Mengusap judul yang dicetak timbul secara berulang, membuka sembarang halaman,
lalu menyesap bau kertas yang khas.
Ah...,
ritual ini memang menyenangkan tiap kali membeli buku baru.
Perlahan
jemariku membuka prolog. Senyumku mencuat membaca kalimat pembuka yang begitu menjerat
hati.
Baru
saja aku membaca beberapa paragraf, sebuah nyanyian mengganggu.
“Because
tonight will be the night that i will fall for you....”
Huh!
Siapa sih yang bernyanyi?! Aku ‘kan paling tidak bisa membaca kalau ada suara
yang mengiterupsi. Sekali pun itu penyanyi favoritku.
Jadi, kuangkat tatapan buasku, menatap arah suara yang ada di hadapanku.
Jadi, kuangkat tatapan buasku, menatap arah suara yang ada di hadapanku.
Darahku
seolah terhisap pada senyum tipis nan manis itu. Rajukan yang baru saja
kuteriakkan dalam hati pun ikut meleleh bersama kesal, berganti jadi kagum.
Lelaki
itu menerbitkan matanya, menampakkan irisnya yang sewarna kopi. Lembut. Aku
seolah tenggelam dalam lesung pipit di kedua pipinya. Juga, bibir yang sewarna
bunga dedap itu mengecup kenangan di hatiku.
Tak
ada yang bisa kulakukan selain tertegun menatap mug di ujung gitar yang menagih
sesuatu padaku.
“Permisi,”
ucapnya agak sungkan, menghentikan lagunya sejenak.
Perlu
waktu agak lama bagiku untuk menyadari semuanya. Mug yang terpasang di ujung
gitar itu meminta imbalan rupiah atas suara yang dia keluarkan. Dengan cepat
kukeluarkan selembar dua ribuan dari dompet, lantas memasukkannya agak
malu-malu pada mug berwarna hijau terang.
Ternyata
lelaki itu mengembalikannya dengan senyum yang lebih manis. Sayang, senyum itu
hanya bertahan beberapa detik saja, karena pandangannya sudah beralih pada
orang lain yang duduk di kursi melingkar dekat restoran taman.
“Anu...,”
bibirku melenguh, mengeluarkan suara yang teramat kecil.
Setelah
membisikkan itu, tak ada lagi yang bisa kukatakan. Yang bisa kulakukan hanyalah
mengamati punggung kokoh yang tertutup kaus putih itu. Berpindah dari satu
kursi ke kursi lain, dari satu wajah ke wajah lain, meski tak semuanya memberi
rupiah.
Hingga
punggung itu semakin kecil, buram, lalu menghilang. Tak lagi terjangkau mataku.
ooOoo
Seminggu
terlewat sejak aku pindah ke sekolah baruku, SMA Cipta Rasa. Agak sulit mencari
teman bagi orang introvert sepertiku. Jadi, mendapat kawan sebangku saja
sudah cukup. Tapi peraturan sekolah ini agak menyusahkan, yakni mewajibkan
muridnya mengikuti satu klub.
Dari
semua klub yang ada, tentu aku memilih yang paling cepat pulang dan yang tak
terlalu menyusahkan. Jadi, kupilih saja Klub Sastra.
“Wah,
jangan-jangan kamu juga kepincut Kak Venaldi, yah?”
Sejujurnya
aku agak risih mendengar ucapan Linda—temanku satu-satunya—saat dia mengantarku
mengirim formulir ke ruangan klub sastra.
“Kak
Venaldi itu..., siapa?”
“HAH?!”
Linda berteriak tanpa ragu-ragu. Dengan cepat kusumpal mulutnya itu. Setelah
agak tenang, barulah kulepas lagi. “Kamu nggak tau? Dia itu dapat julukan
‘Pangeran’ lho! Dia itu... pokoknya perfect, deh!
Aku
mangut-mangut. Sepertinya memang setiap sekolah itu selalu punya shining
star. Kalau di sekolahku yang sebelumnya, ada Kak Adrian. Pemain voli yang
sangat terkenal.
Usai
mengetuk pintu tiga kali, aku mengucap salam. Pintu ruang klub yang terbuat
dari jati dibuka dari dalam.
“Permisi,
saya mau—”
Ucapanku
terhenti saat pandangku bersitatap dengan lelaki yang membukakan pintu. Bibir
bunga dedapnya itu benar-benar membawaku pada peristiwa kemarin.
Reaksiku
pasti tampak layaknya seorang fans yang bertemu idol. Maksudku,
raut wajahku. Tapi kutahan sedemikian rupa.
Senggolan
yang agak keras menghantam bahu kiriku. Itu Linda. Ah, benar juga. Aku harus
menyerahkan formulir. Kenapa harus pakai acara bengong segala, sih?
“Ah,
itu... saya mau menyerahkan formulir klub sastra.”
Lelaki
itu menerima kertas formulirku. Mengeceknya dengan cepat, lalu menyodorkan
senyum manisnya padaku. Ah! Itu senyum yang kemarin!
“Oke,
kamu bisa ikut kegiatan klub mulai minggu depan. Kegiatannya setiap hari senin
dan kamis. Ada yang perlu ditanyakan?”
“Tidak....”
“Kalau
begitu, sampai jumpa minggu depan, Rin.”
Hembusan
angin saat pintu ruang klub ditutup itu menggetarkan hatiku. Sayang, kawanku
satu-satunya, Linda, malah mengacaukannya dengan suara cengengesan.
“Cie
yang beneran kepincut Kak Venaldi.”
Baru
kusadari kalau wajahku pasti semerah plum sekarang. Ah, jadi malu rasanya!
ooOoo
Begitu
naifnya aku saat mengira kalau hubunganku dengan Kak Venaldi bisa berjalan
lancar, hanya karena aku tahu kalau tiap minggunya dia mengamen di taman
koleksi.
Nyatanya,
di ruang klub, kehadiranku sungguh tak penting. Meski Kak Venaldi sering
tersenyum padaku, tapi hasratku meminta lebih. Diriku berontak.
Haruskah
kugertak Kak Venaldi agar lebih dekat denganku menggunakan ancaman kegiatan
mengamennya yang kuketahui? Ah, tidak. Pasti dia malah membenciku.
Kucoba
beberapa cara yang agak ringan untuk menarik perhatiannya. Berusaha mengikuti
buku-buku yang ia sukai, menulis puisi untuknya, atau hal lain. Tapi, semuanya
gagal.
Dan
kini, tiga bulan setelah aku bergabung dengan klub, rasanya tak ada sesuatu
yang menarik. Layaknya anak babi yang kalah cepat mendapatkan puting susu saat
pertama berebut, aku menyerah mengejar perhatian Kak Venaldi.
ooOoo
Terakhir
kali aku ke taman koleksi itu dua bulan lalu, saat aku masih berusaha mengejar
perhatian Kak Venaldi.
Tak
banyak yang berubah dari taman ini, kecuali pengunjungnya yang kini lebih
banyak. Bahkan aku dapat tempat duduk di sebelah pria perokok yang menyebalkan.
Hanya untuk menonton ‘konser’ Kak Venaldi.
Rupanya
Kak Venaldi masih belum punya penikmat tetap, karena saat ia mulai bernyanyi,
tak terlalu banyak yang memperhatikan. Hingga lagu menyentuh bagian reff,
barulah Kak Venaldi menyodorkan satu mug ke mug lain.
Sengaja
kukenakan kacamata hitam agar Kak Venaldi tak mengenaliku. Begitu Kak Venaldi
datang, Koin seribuanku jatuh nyaman di mug. Kak Venaldi agak
membungkuk, memberikan senyum tipis nan manis yang sering kudapat kalau
menyapanya.
Ah,
senyum itu! Candu aku dibuatnya.
Tapi
kali ini, ada sesuatu yang berbeda.
Senyum
itu seolah hanya milikku seorang. Senyum yang hanya bisa didapat setelah
memberikan uangku padanya. Senyum itu milikku. Seorang.
...
...
Satu
ledakan kembang api seolah meledak di hati, aku kegirangan sampai-sampai
tersenyum sangat lebar.
Kenapa
juga aku harus bersaing, saat aku bisa membeli senyum itu?
Dan
mungkin, untuk itulah kenapa Kak Venaldi—yang setahuku cukup kaya—melakukan
kegiatan yang sering dianggap mengemis ini. Untuk memberikan senyum khususnya
pada orang-orang yang membutuhkan.
Senyum Milik Pribadi
Dunia tak pernah tahu kalau lintasan rel selalu membisikkan rahasia.
Di bawah teriknya guyuran sinar matahari adalah saat terbaik untuk
berjalan di atas rel. Biar sekalian beberapa kenangan ikut menguap. Hei, coba
tilap beberapa helai rambut hitammu. Siapa tahu ada rindu yang terjatuh. Iris
hitammu tak bergetar. Bibir yang merekah bagai kelopak mawar itu tetap saja
segar, seperti kedua pipimu yang mulus. Benar-benar belum berubah.
Sudah berapa lama kita berjalan? Sudah berapa banyak kenangan yang kita
injak? Entahlah. Kita menolak mengetahuinya.
Terus kutendangi kerikil yang berkumpul di sekitar, siapa tahu ada masa
lalu yang mengelupas. Oh, lihat! Kristal berwarna biru yang bersinar itu.
Cantik, bukan? Tapi, kenapa benda secantik itu dibuang?
Tak tahu, katamu?
Ah, dasar. Bukankah kristal itu bagai serpihan kenangan kita? Berkilau.
Indah. Langka. Lalu, kenapa pula harus dihancurkan?
Ya. Kamu benar. Tak perlu alasan untuk itu.
Lihat! Bukankah itu koin kuno? Ah, indahnya... meski berdebu, terinjak,
terlindas, dan terbuang, koin ini tetap berharga kok.
Eh? Sama seperti hubungan kita?
Ah, ya... maaf memaksamu mengingatnya. Sakit, bukan? Aku juga.
Tapi... manusia mana yang mau hatinya sakit?
Apa kamu merasa gerah? Kalau aku, ya. Dijejali perasaan yang begitu
sesak. Kamu juga?
Sudah berapa meter kita lipat kenangan kita? Bukankah kita sudah cukup
jauh berjalan di atas rel—yang kamu sebut lintasan cinta ini? Seratus meter?
Lima ratus meter? Ah, mungkin seribu meter baru saja terinjak. Tapi, masih ada
sesuatu yang hilang.
Bukan cinta, tapi alasan.
Kenapa dulu—bahkan sekarang aku begitu mencintaimu?
***
Trivia :
Flashfic ini aku buat karena lelah tak kunjung menemukan tentang Benteng Aldimir atau festival Lamia yang ada di Bulgaria... Dan penulisannya, aku baru jatuh cinta pada gaya bertuturnya Sayuri di novel Girls in The Dark. (Tentang dua hal yang sedang kucaritahu itu pun dapet dari novel ini)
Meski pun masih jauh di bawah penulisan Akiyoshi-sensei, tapi aku akan terus berlatih!!!