Posted by : Unknown
Selasa, 22 April 2014
Berawal dari membaca buku Nihon Kara O Miyage karya Supriyanto yang saya pinjam dari perpustakaan, saya mendapatkan sebuah cerita yang sungguh membuat saya terenyuh, begitulah kata pak Supriyanto.
Ada baiknya kita mengetahui dulu siapa itu Hikubasha, yang saya sebut sebagai "Pembisik Perdamaian Yang Tak Pernah Bungkam." Secara bahasa Jepang, Hibakusha artinya 'orang yang terkena dampak ledakan.' Sedangkan ledakan yang dimaksud yaitu ledakan bom atom yang begitu dahsyat pada tahun 1945. Pasti tahu, bukan?
Menurut informasi yang saya dapat dari beberapa situs, Hingga saat ini para Hibakusha masih saja mendapatkan diskriminasi karena luka atau penyakit yang mereka derita. Sungguh menyedihkan.
Penyakit yang mereka derita pun bukan penyakit yang bisa disembuhkan dengan cepat, karena mereka menderita penyakit yang cukup parah dan membutuhkan biaya yang sangat besar untuk mengobatinya, contohnya Leukemia. Tak perlu ditanya lagi, betapa mengerikannya penyakit itu. Apalagi biaya untuk menanganinya. Luar biasa mahal. Untuk itulah, pemerintah Jepang memberikan asuransi kesehatan bagi mereka. Alhamdulillah.
Hibakusha ini dibagi menjadi dua kelompok:
- Pertama yaitu orang-orang yang berada di sekitar satu mil dari pusat ledakan bom.
- Kategori kedua yaitu orang-orang yang berada pada jarak satu dan satu seperempat mil dari pusat ledkan bom (Hiposentrum)
Orang-orang yang terkena dampak radiasi secara tidak langsung juga dianggap Hibakusha, misalkan anak-anak yang masih dalam kandungan dan terkena radiasi.
Saya sangat tersentuh membaca kisah tuturan Chiyoko Watanabe, seorang ketua Himpunan Perawat Daerah Hiroshima sejak 1987 (Buku yang saya kutip itu ditulis berdasarkan pengalaman tahun 2003). Saat peristiwa pengeboman itu, Chiyoko masih berusia 23 Tahun dan menjadi salah seorang perawat di sebuah rumah sakit yang berjarak 1,5km dari hiposentrum. Berikut saya kutip ceritanya yang ada dalam buku.
kilat dan topan bagaikan topan mencapai ruang kami melalui gang dan menghancurkan segala-galanya yang ada di depannya. Saya terhempas ke bawah meja. Bernafas menjadi sukar karena debu beterbangan. Tidak dapat saya buka mata saya. Sesudah beberapa menit saya baru sadar kembali. Dahi saya luka oleh pecahan kaca dan darah menghalangi penglihatan saya, sehingga dengan susah-payah saya bisa keluar. Waktu saya turun ke bawah, saya terperanjat oleh apa yang saya lihat. Staf dan pasien mondar-mandir dalam kebingungan. Seorang siswa SMP, laki-laki, yang kulitnya terbakar sampai hitam, mukanya mengembung, bibir membengkak, kemeja terbakar dan tanpa sepatu, lari ke arah saya dan berkata : "Tolong, tolonglah saya."
Lalu saya skip beberapa bagian yang menjelaskan kalau masih ada orang yang terjebak di rumah yang terbakar. Setelah hari itu, mereka membuat bangsal sementara dan tak mendapatkan makan. Lalu saya kutip lagi.
Luka bakar; yang dibiarkan hampir tidak diobati selama sehari, sangat mengerikan untuk dilihat. Kami membuat larutan asam borat banyak-banyak untuk mendesinfeksinya, dan membuat pembalut untuk menutup luka-luka itu, karena tak dapat kami jahit.Waktu mengganti pembalut, saya sendiri hampir pingsan, karena nyeri dan kehilangan darah.
Kami terkejut melihat kenyataan yang tak terperi di rumah sakit. Belatung menetas dalam otot-otot yang terbakar. Yang dapat kami lakukan hanya mendesinfeksi dan mencuci luka-luka itu. Di daerah yang terbakar lepuh muncul dan terkupas. Larva berbagai ukuran dikeluarkan. Bau yang sangat busuk menyerang hidung saya.1Saya kira dua kutipan di atas cukup untuk mengingatkan betapa ngerinya dampak bom atom. Saya tekankan. Itu bom atom pada tahun 1945. Lalu, bagaimana dengan daya rusak bom atom sekarang ini, yang sudah terbantu dengan mewahnya teknologi? Sungguh tak terbayang, dan saya pun tak mau membayangkan dampaknya yang pasti sangat dahsyat.
Lalu apa hubungannya Hibakusha dengan pembisik perdamaian?
Ternyata setiap tahun ada peringatan hari perdamaian yang diselenggarakan di Hiroshima. Nah, cobalah tanya para Hibakusha yang masih ada tentang betapa nyerinya dampak bom atom yang berakar dari perang.
Maka dari itu, tak berlebihan bukan, jika saya mengatakan Hibakusha ini para pembisik perdamaian yang tak pernah bungkam?
Referensi:
1 Supriyanto, 2006, Nihon Kara O Miyage, Bandung,
Sinergi Pustaka Indonesia, halaman 133-135
