Posted by : Unknown
Senin, 14 April 2014
Seringai senyum kutarik paksa di bibirku yang terbalut gugup. Kurekatkan lagi blazer hitam yang memelukku, saat pandangku berlabuh pada pendaran lampu dari lantai dua rumah yang benderang itu. Dia melambai padaku, sosoknya berhasil kucuri saat rembulan malu-malu memberikan sinarnya. Adinda.
Adinda makin
memancarkan cantiknya seiring langkahku yang kini berada di hadapan pintu
rumahnya. Senyumnya mempersilahkanku masuk, sementara lelaki di sampingnya
mengusirku dengan tatapan sinisnya.
Aku malah membalas usiran itu dengan seringai dan langkah kaki yang yakin.
***
Riuh memecah
seisi ruangan saat Adinda menuruni satu per satu anak tangga, menyebarkan
pesonanya yang sempurna. Malam itu ia bersinar, lebih menyilaukan dari lampu
yang menggantung di atasku.
Langkahnya
makin merekahkan tiap pasang mata, membuat sebagian pandang terkesiap melihat
bidadari yang menjentikkan jarinya pada pegangan kayu yang halus. Mataku seolah
tertuju padanya, padahal kusorot lelaki di sampingnya yang menampakkan kemuakkan
luar biasa di tiap langkahnya.
Tak ada yang
memperdulikan seorang manusia saat berjalan di samping bidadari.
Setelahnya
ruangan kembali tenang, meski bisik-bisik masih melayang, nyaris tak terdengar.
Setelah tetek-bengek lain tentang prosesi pertunangan, tiba saat-saat yang
paling kutunggu.
Senyumku
bertemu senyum Adinda, tapi pandangku terus mencuri-curi wajah lelaki yang
duduk terhalang tubuh bidadari di hadapanku ini. Lengannya terlihat mencengkram
lututnya keras-keras. Kutusukkan seringai padanya.
Lalu kurendahkan
tubuhku, dan kujawil jemari lentik Adinda. Desahan tertahan terdengar
sayup-sayup, tapi aku tak peduli. Kulanjutkan dengan memasangkan cincin
pertunangan pada jari manis Adinda.
Kuangkat
wajahku, dan kudapati pelupuk mata Adinda berair. Terharu. Sementara aku,
tersenyum kecut.
Maafkan aku,
Adinda. Maaf telah menebar benih kebusukan di tengah ladang cintamu yang suci.
Kembali
kucuri pandang ke arah lelaki yang kini rahangnya gemertak. Wajahnya merah
padam. Tentu saja tak akan ada yang menyorot lelaki yang termakan amarah setan
saat di hadapannya ada bidadari yang bertemu pangeran tampan.
Kuangkat
senyum dan alisku berbarengan dalam sekian detik padanya, sebelum akhirnya mencium
punggung lengan Adinda. Lembut.
***
“Tadi
romantis sekali, bukan?”
“Ya... Kukira
begitu.”
“Mana ucapan
selamatmu?”
“Selamat.”
“Hanya itu?”
Kutahan
langkahku hanya untuk mendengar pembicaraan yang berakhir dengan sendirinya
itu. Suara Adinda terdengar melenguh kesal, saat tak lagi kudengar suara lelaki
itu. Segera kujejakkan langkahku.
Ternyata dia
langsung bereaksi saat melihatku. Bengis. Sementara Adinda terlihat kikuk,
sepertinya dia memilah-milah mau bicara apa di depanku. Kukembangkan saja
senyumku sambil terus mendekat.
“Langitnya
indah, yah,” Adinda bergumam sambil membalikkan tubuhnya. Kini ia
memunggungiku.
“Ya, indah,”
sahutku. Kusandarkan punggungku pada pagar kayu yang terasa menyesakkan,
dipenuhi kebencian lelaki itu yang menjalar. “Bisakah aku bicara berdua dengan
Devan?”
Devan
menyikutkan pandangnya padaku. Ia pasti merasa terganggu, karena memang
seharusnya tak ada yang perlu kami bicarakan. Bahkan aku pun ragu, masihkah aku
berhak bicara padanya setelah apa yang kulakukan?
“Aku ikut.”
Adinda menatapku teguh. Beginilah sikapnya, selalu ingin ikut campur. Tak
terlalu bagus menurutku.
“Perbincangan
antar lelaki.” Kusentuh hidung manisnya dengan jemariku. Membuat bekas merona
di kedua pipi Adinda, tapi berhasil membuat gadis itu beringsut pergi dengan
senyum malu.
Setelah
langkah Adinda tak lagi terdengar, hening langsung menyergap.
Kutelusuri
guratan pagar kayu ini perlahan, lalu dengan iseng jemariku berhenti di bahu
Devan yang bergeming. Kaku. Entah sumpah-serapah macam apa yang ia muntahkan
dalam hatinya, yang jelas ia benar-benar tak ingin bicara denganku.
“Malam yang
indah, bukan?”
Kubuka
percakapan yang beku ini, meski aku tahu kalau Devan tak akan menyahut sedikit
pun. Dia pasti hanya akan terus berdiam, dan berdiam, lalu pergi dan mengatakan
pada Adinda kalau aku sudah selesai bicara.
Selalu
seperti itu.
Tapi malam
ini berbeda. Setidaknya, inilah hal terakhir yang bisa kulakukan untukmu,
kawan.
Dalam gerakan
cepat, aku duduk selonjor di hadapannya. Pandangnya dipalingkan, membuatku
merasa makin lelah bersamanya.
“Lihatlah
dirimu, Devan. Sungguh menyedihkan,” cibirku. Tingkah Devan yang tetap
bergeming membuat kesalku meninggi. “Apa yang kau miliki sekarang? Aku sudah merebut
Adinda, adik tiri yang dulu kau cintai sebelum orangtua kalian menikah!”
Devan masih
mengunci mulutnya, membuatku benar-benar mencekik otakku untuk mengatakan
sesuatu yang lain.
“Lembut dan
wangi,” kuendus telapak tangan kananku yang terbuka. Seringaiku mengekor.
“Apa?”
Dia bereaksi. “Punggung lengan Adinda.”
Terdengar
geraman tertahan yang kuhiraukan. Selanjutnya kulingkarkan lenganku sendiri,
seperti sedang memeluk seseorang. Bibir hidungku merekah, pura-pura menghirup
sesuatu.
“Tubuhnya
terasa hangat, rapuh, dan wangi.”
“Brengsek...”
Kata itu nyaris tak terdengar, jika saja gertakan gerahamnya tak
mengucapkannya. Bagus, keluarkan lagi, kawan... Lagi!
Inilah
senjata terakhirku. Kugoreskan jemariku pada bibir tipisku, lalu mengecapnya,
seolah ada rasa manis di ujung jemariku yang hampa. Sekuat tenaga kutarik
senyum sinisku sambil berkata. “Terutama bibirnya, seperti stroberi.”
“BRENGSEK!”
Sebuah
pukulan menghantam wajahku. Telak. Wajahku terpaling, imbas luapan emosinya
yang tertahan selama setahun penuh. Aku belum puas, belum puas! Kutarik lagi
seringai sambil menatapnya dengan ekor pandangku.
“Kau kesal?
Kenapa tidak kau katakan dari dulu kalau kau menyukainya?” Aku setengah
berteriak mengatakannya sambil berdiri. Sorot kami bertautan.
“DIAM!”
Hardiknya. Pukulan lain menghujam perutku, membuatku terhuyung beberapa
langkah, lalu berpegangan pada salah satu tiang rumah yang beku. Daven
menundukkan kepalanya. “Kau tidak tahu apa-apa!”
Aku masih
belum puas! Langkahku yang lemas kembali mendekatinya, lalu kucengkram kerah
pakaiannya yang sudah pasti akan ia buang setelah hari berganti.
“Kalau kau
mengatakannya sejak dulu—”
Tendangan
kekesalan yang terpendam selama setahun tertanam di perutku. Punggungku terpaku
pada tiang tadi, sebelum tubuhku perlahan merosot.
“—Mungkin aku
tak akan melamarnya malam ini—”
Wajahnya
dipalingkan, tapi bulan menyorot matanya yang menampakkan penyesalan luar
biasa.
“—sahabatku.”
Pandangku
berkunang-kunang. Dengan sisa tenagaku, kembali kulanjutkan ucapakanku di
sela-sela nafasku yang terbatuk-batuk.
“Tak ada yang
melarangmu menyukai adik tirimu sendiri, kawan.”
Sesaat
sebelum duniaku menggelap, hatiku bersorak girang. Aku bahagia, karena bisa membuat Devan jujur
pada perasaannya sendiri.
Kuharap
luapan emosinya tadi yang meneriakkan rasa cintanya yang tak kunjung dicuapkan
mulutnya, walau sudah sangat telat. Sungguh. Sangat. Telat.
***
Cerita ini diikutsertakan
dalam tantangan menulis @KampusFiksi tentang #KarakterJahat
***
