Posted by : Unknown Sabtu, 19 April 2014

Distrik 15, Negara Wyver
Musim Panas Kelabu Ke – 200
3 Agustus, 2000.


Seisi kota Wyver dibuat kocar-kacir saat bangsa Aquilan menghantamkan angin berbentuk bola berduri pada pusat kota, menghancurkan istana yang tak terlindungi Shishou. Jumlah wyzard yang tersisa bisa dihitung jari, dan kini hanya mengelilingi Ratu Wyveriana III yang ketakutan setengah mati di singgasana.
  Sementara selusin pasukan Aquilan memborbardir istana, satu-dua Aquilan yang berbadan tegap serta hidung panjang-patah itu mengepakkan sayapnya di antara susunan rumah beratap datar di distrik 15.


Mengamati lewat jendela-jendela yang pecah, kiranya apakah ada perempuan dewasa yang terlewat. Salah satu Aquilan berhenti tepat di ujung distrik. Hidungnya mendengus beberapa kali, sebelum dilemparkannya pandangan menelisik para satu rumah di sebelah kanannya.
Pintunya masih tertutup, tapi atapnya ternganga. Dalam sekejap mata, Aquilan itu sudah menghalangi bulan yang bersinarkan kelabu menyorot isi rumah itu, dimana seorang Wyzard terkapar tak berdaya dengan koyakan besar di lengan kanannya.
“Mama, Aquilan itu ada di atas,” rengekan bocah bernama Dimitri Hez itu benar-benar digigit ketakutan yang teramat. Bergetar dengan aksen yang ditekan sangat dalam. Makin ditenggelamkan wajahnya pada pelukan sang ibu.
Telapak tangan sang ibu yang bernama Dimitri Viona mengelus lembut Hez, tapi guratan-guratan ketakutan jelas sekali nampak. Sekuat mungkin ia menekan rasa takutnya, setidaknya agar sang anak tak makin ketakutan.
Craaaack!
Jeritan yang melengking dari Aquilan itu memecahkan keheningan. Kepakan sayapnya sayup-sayup terdengar telinga Viona yang bersembunyi di kolong meja, dikelilingi bawang merah yang dicincang halus.
Matanya terpejam, semoga saja bawang merah itu bisa mengaburkan penciuman Aquilan yang terkenal tak pernah melewatkan satu pun perempuan tiap kedatangannya.
Wuuuz... Wuuuz... Wuuuz...
Suara kepakan itu terdengar mendapat perlahan. Sang Aquilan merendahkan jarak terbangnya, hingga kini cakarnya menapak di atap rumah yang belum roboh. Ia tampak ragu, karena samar-samar mencium bau wanita, lalu hilang kembali.
Menit-menit yang menegangkan itu sangat mencekik Viona yang tak henti-hentinya merutuki kebodohannya yang baru ia sadari. Jejak wanginya bisa saja tercium karena tadi sempat menghampiri suaminya yang kini meregang nyawa, Dimitri Karl.
“Mama... Aquilan itu masih ada,” bisik Hez lagi. Mata gemetarnya benar-benar menjerit meminta rasa aman yang telah hilang sejak tiga hari lalu, saat para Aquilan itu pertama kali melancarkan serangannya yang ke – 200.
“Tak masalah, Ayah masih melindungi kita.” Viona mengulas senyumnya yang benar-benar terpaksa. Ia berharap anak tunggalnya itu tak melihat ketakutan yang sama di dalamnya.
“Tapi... Ayah sudah—”
Telunjuk Viona menempel pada bibir tipis Hez saat suara kepakan itu makin terdengar keras, keras, menjauh, menjauh, hingga hanya terdengar desahan angin. Aquilan itu telah pergi.
Hembusan nafas lega Viona dan Hez berbarengan berlomba keluar. Satu jerat yang mencekik sudah terlepas. Separuh hati Viona bersorak bahagia, karena mengira ia akan bisa melewati serangan Aquilan kali ini, dan hidup sepuluh tahun lagi, hingga serangan berikutnya.
Tapi separuh hatinya yang lain meneriakinya untuk tetap waspada. Walau malam sudah semakin kelam, bukan berarti semua bangsa Aquilan telah kembali ke pulau Gladius. Karena serangan baru benar-benar berhenti jika waktu tepat menusuk titik nol.
Tak masalah. Kukira ada baiknya aku sedikit santai, batin Viona.
Sekonyong-konyongnya Hez berdiri kegirangan hingga membenturkan kepalanya pada meja tempatnya bersembunyi, terdengar lengkingan khas Aquilan dari kejauhan. Selanjutnya bunyi kepakan sayap yang benar-benar menghembuskan angin di sekitar terdengar mengamuk.
Ini dia, masalah terbesar...
Viona kembali mendekap erat Hez, saat ujian terberatnya merangkak dengan kecepatan kuda ke arahnya.
Great Aquilan, begitulah orang-orang mengenal sang pemimpin Aquilan berukuran dua kali Aquilan biasa. Yang pertama kali melayangkan kerusakan, dan biasanya yang terakhir nampak di langit, sebelum lenyap bersama pulau Gladius.
Pasti si raksasa itu sedang melakukan patroli sebelum menghilang. Suaranya makin mendekat, seiring dengan angin yang makin mengamuk. Jarak rumah Viona dengan Great Aquilan itu tinggal seratus meter, saat raksasa itu berhenti melaju, mengepakkan sayapnya dalam diam.
Tangisan wanita muda memang selalu menghentikannya, tapi tak pernah membuatnya merusak rumah, apalagi menculiknya. Setelah beberapa detik berdiam, si raksasa itu melanjutkan amukan angin.
Viona terus meracaukan do’a-do’a. Dekapannya pada Hez makin erat saat angin serasa makin tak karuan, menggedor-gedorkan jendela mereka yang pecah. Viona memicingkan mata pada jendela di hadapannya yang memecah hening.
Angin makin kacau. Kain yang menutup meja dan menyembunyikan Hez dan Viona makin berkibar. Ia berharap televisi yang sengaja ia simpan sebagai penahan kain itu dapat bekerja maksimal.
Wuuuz... Wuuuz... Wuuuz...
Kepakan itu lagi, pasti si Great Aquilan. Suaranya jauh lebih mengerikan dibanding kepakan Aquilan yang sudah pergi tadi, seolah menyebarkan ketakutan yang teramat. Tangisan di samping serta depan rumah Viona melengking.
Satu tangisan itu ia kenali, Stephani. Gadis yang seumuran dengan anaknya, Hez. Mendadak perasaan ingin ikut mendekap gadis itu menyeruaki hatinya, tapi ia tahan. Seorang anak biasanya menangis karena ibunya telah pergi.
“Ma—”
Kali ini jemari Viona lebih cepat bereaksi. Tatapan khawatirnya terus mengintip di antara kibaran yang membiarkan Viona sedikit mengintip bulu kecoklatan dari kaki Great Aquilan itu. Keringatnya berlarian menuruni pelipis serta punggungnya.
Tenang Viona, tenang...
Sebuah lengkingan tajam benar-benar menghancurkan gelisah Viona menjadi ketakutan yang teramat sangat. Ia baru sadar kalau bawang merah yang ada di sekeliling meja sudah tak tersisa, dan pasti sisa baunya sudah lenyap.
Duar!
Gemuruh meruntuhkan pertahanan terakhir Viona. Aquilan itu pasti sudah menyadari keberadaannya. Setelah satu dekapan yang sangat erat ia berikan pada Hez, Viona melepaskan kepala Hez dari peluknya.
Lengkingan itu lagi, kini bagai peringatan terakhir bagi Viona. Ia harus menjauhkan Hez jika ingin anak itu selamat, seperti yang dilakukan kebanyakan wanita yang diculik.
Kedua mata bulat Hez yang banjir membelalak saat dekapannya terlepas. Terkejut. Ia menangis sejadi-jadinya saat Viona merangkak keluar meja yang sudah meminta terbang menghantam dinding karena angin yang semakin kuat.
“Mama, jangan pergi, Mama!” Hez berteriak dengan suara yang tercekat tangisnya yang menyatu dengan tangisan Stephani, atau dengan tangisan anak lain dari distrik 15.
Hez tahu, jeritnya mungkin saja tak terdengar dalam bunyi kekacauan yang dihasilkan Great Aquilan. Tapi ia terus menerus menjeritkan ‘Mama’ berulang kali, hingga pita suaranya mencekiknya untuk berhenti teriak. Kini mulutnya terbuka dengan suara lengkingan tak menyenangkan, sebelum benar-benar tak bersuara.
Viona menatap Great Aquilan yang menciptakan lubang lebih besar di atap rumahnya. Tatapannya takut, ngerti, sedih, juga pasrah. Ia merentangkan tangannya, membiarkan lengan yang sekeras batu milik Aquilan itu terulur lalu menariknya.
Sesaat sebelum Great Aquilan itu meninggalkan rumahnya, ujung pandang Viona tersenyum saat melihat Hez yang tampak berdiri di samping Karl, sang ayah.
Tatapan Hez kini berganti menjadi tatapan bengis. Ketakutan seolah lenyap dari sorotnya yang memandang tajam Great Aquilan yang terbang menjauh. Lengannya mengepal sedemikian keras, begitu pun rahangnya yang terus gemertak.
Anak berumur tujuh tahun itu menggenggam sisa angin kacau yang dibuat kepakan sayap Great Aquilan, kemudian menciumnya yang nyaris tak terendus. Tapi wangi ibunya yang masih tercium di ujung hidungnya akan ia simpan terus, bersama rasa sekepal angin yang ia cengkram tadi.
Anak berumur tujuh tahun itu menantang bulan yang menggantung mendung, bahwa suatu hari nanti ia akan membalaskan dendam ayahnya, dan mengambil kembali sang ibu, meski hati bocahnya tahu, itu tak mungkin.


            

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2013 Peziarah Kata - Shiroi - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -