Posted by : Unknown Minggu, 06 April 2014

*Tulisan ini buat tantangan dari @kampusfiksi tentang #DeskripsiSetting*


***
 (1)
***

Hingar bingar kota mulai redup seiring langkahku yang menjauh. Selesai kudaki bukit yang cukup tinggi ini, angin malam langsung menyambutku dengan dinginnya. Membuatku makin merapatkan jaket.
Mataku beringsut membesar saat kusadari bangunan itu tampak begitu indah. Tokyo Tower. Ia bagaikan matahari yang menyinari Tokyo di malam hari, sementara gedung-gedung di sekelilingnyayang semuanya nyaris mengeluarkan cahaya biru, bagaikan planet dan asteroid yang mengelilinginya.
Bising sudah lenyap. Bau kehidupan pun nyaris tak tercium di sini. Yakinlah aku sekarang, Tokyo Tower benar-benar nyawa kota Tokyo, membuat kota ini bernyawa dan berwarna, yang kemudian memaksaku mengingat seseorang.
Hiyori…
Baru saja kusadari satu hal, nyaris tak ada bintang yang terlihat. Pasti kalah terang dibanding kota ini.
Ah, aku tak bisa berlama-lama memandangi bangunan itu, yang benar-benar mirip dengan Hiyori bagiku. Pemberi kehidupan, pemberi warna, penawar hambar, begitu menyilaukan.
Untuk terakhir kalinya, kutatap selama mungkin bangunan yang terangnya masih tak berkurang itu. Tak ada bangunan lain yang setara dengannya. Sesaat setelahnya, sebuah pertanyaan menggelitik meloncati pikiranku.
Apa Tokyo Tower tidak merasa kesepian?
           


***
(2)
***


Tokyo Tower?
Ah, itu sudah biasa.
Inubōsaki lighthouse yang begitu menjulang di hadapanku tampak lebih megah dengan latar yang menakjubkan. Awan yang bagiku tampak berarakan seolah menyatu dengan laut yang membiru di ujungnya.
Putih yang menyelimutinya seolah berbisik padaku tentang pribadinya: Kuat, tegar, namun suci dan lembut. Itulah yang membuatnya lebih menarik daripada Tokyo Tower—yang tiap hari kulewati hingga bosan.
Deburan ombak yang bergulung di telingaku, rasa geli karena rumput menggelitiki kakiku yang tak bersepatu, udara segar yang menyeruaki hidungku, serta pijatan angin yang terasa sangat nyaman, membuatku betah berlama-lama menikmati tirai imaji yang begitu mempesona.
Kurogoh ponsel dari saku celanaku, mengarahkannya pada sepotong langit yang bisa diabadikan kamera ponselku, lalu memijat tombolnya.
Bip.
Setelah kulihat hasilnya, aku pun tertawa bodoh. Ponselku tak bisa menandingi indahnya pandangan yang diberikan mataku.

***
(3)
***


Awan mendung kembali memperingatkanku untuk pulang lewat angin dinginnya yang menderu. Sebentar lagi badai akan muncul, itulah yang coba dikatakan deburan ombak padaku. Tapi aku tak menghiraukannya.
Kulirik arlojiku gelisah. Pukul setengah enam. Kembali kutatap langit yang masih saja bermuram durja, seolah tak rela melepasku hariini. Ah, mungkin aku terlalu lama memanjakan senja.
Rerumputan yang menggelitiku pun seolah menjerat langkahku agar tidak pergi lebih jauh. Aku merindukan kalian, senja, debur ombak, rerumputan, bahkan angin yang terdengar mendesah tertahan. Dan tentu saja, yang paling kurindukan adalah Inubōsaki lighthouse, si raksasa putih yang tampak sangat gagah.
Semburat jingga tampak menyeruak di ujung langit, dimana gelap awan dan biru laut bertautan. Perlahan namun pasti, jingga-nya yang begitu menawan sangat memikatku. Aku yakin dengan sangat, wajahku pasti merona sekarang.
Benar saja. Dalam beberapa saat, jingga sudah merebut segaris langit dari awan gelap, membuat sebuah ‘batas’ antara langit dan laut. Ayah menyebutnya ‘Kyoukai’.
Aku ingat benar, saat itu Ayah menjawilku yang sedang menangis. Telunjuknya mengarah pada segaris senja yang begitu sama dengan apa yang kulihat sekarang—10 Tahun kemudian. Awan yang murung dipisahkan dari laut yang biru nan suci.
Kyoukai itu pemisah dunia manusia dan roh. Kalau Sora-chan ingin bertemu mama, Sora-chan bisa bicara dengan mama di saat seperti ini.”
Kuulas senyum terakhir di kota ini pada senja terakhir yang mungkin saja akan kulihat di kota ini. Mataku perlahan terpejam, kutautkan lenganku. Wajahku tertunduk.
Do’akan anakmu yang akan segera menjadi seorang ibu, Okaa-san.


            

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2013 Peziarah Kata - Shiroi - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -