Archive for Oktober 2014

Surat dan Pesan

Gadis itu sedang asyik-asyiknya menggandrungi lembaran-lembaran surat bertuliskan ceker ayam. Satu-satunya yang membuat mata bulat gadis itu tidak sakit meski membacanya di keremangan hanyalah cinta.
Pukul sepuluh sudah terlewat empat puluh menit yang lalu. Jangkrik makin mengukuhkan kentalnya hening malam ini. jika bukan karena kelihaian gadis itu dalam melipat dan membuka kertas, pastilah bunyi kertas sudah berdiaspora ke segala arah.
Puas melihat-lihat surat yang ditulis Jaka, Dewi dengan hati-hati dan penuh cermat sambil memekakan telinga, melipat kertas kuning tersebut menjadi empat bagian, memasukkannya ke dalam amplop, lalu menyelundupkannya ke bawah kasur. Hatinya sesak oleh cinta. Padahal surat terakhir itu ditulis minggu lalu, di pertemuan mereka terakhir.
Dewi baru mengemasi tiga surat, dan masih tersisa enam di depan bantalnya, saat tiba-tiba bunyi pintu terbuka menyobek ketenangan. Lalu terdengar bunyi ketukan-ketukan kecil yang menggetarkan. Cepat-cepat gadis itu menelungkup, menutupi surat-surat yang masih berserakan dengan cara menindih.
Ditariknya pula selimut sampai dada. Tapi tak berguna. Dingin yang ikut bersama bunyi sandal yang diseret-seret itu kian pekat membekukan suasana. Gadis itu memejamkan mata. Tapi telinganya bergerak-gerak peka.
Kaget meremukkan tubuh gadis itu hingga ke tulang tatkala pemilik suara sandal yang diseret-seret itu memanggilnya.
“Dewi!”
Gadis itu tidak berkutik sama sekali. Bahkan untuk sekadar meniup nyamuk yang dengan nyaman bertengger di batang hidungnya yang pas-pasan itu. Barulah setelah suara sandal yang diseret-seret itu menjauh, gadis itu tanpa segan membunuh nyamuk itu.
Ayahnya hanya ingin memastikan kalau anak gadisnya sedang tidur.
***
Pertama kali Dewi bertemu Jaka tentu berawal dari ketidaksengajaan yang biasa.
Saat itu malam habis tujuh-belasan. Seperti yang dilakukan tahun-tahun yang lalu, di lapangan desa Dewi digelar layar tancap membosankan yang memutar film perang.
Jika bukan karena Ayah dan Ibunya yang pergi untuk mengobrol, pasti Dewi tak akan berdiam di sudut lapangan, bersandar pada tembok rumah seorang yang tidak ia kenal, mengawasi orang-orang dengan kepala menengadah pada layar putih yang memutar gambar-gambar bergerak, sementara telinga mereka bergerak-gerak, dan kening mereka berkedut saat suara dar-der-dor meluncur dari pengeras suara.
“Sangat mengganggu, bukan?”
Dewi terkejut bukan main saat seseorang berkata seperti itu. Awalnya ia agak kesulitan menemukan sumber suara dari malam yang tak mengizinkannya mengenali wajah dengan cepat. Tapi saat suara itu berkata lagi, barulah Dewi menengok ke atas.
Dari lantai dua rumah yang sedang ia sandari, tampak seorang pemuda tersenyum bodoh. Dengan serta merta pemuda itu berkata, “Naiklah ke atas sini. Ada sesuatu yang lebih sedap untuk dipandang.”
Mendengar itu, Dewi, entah bagaimana merasa tertarik. Mungkin terpikat pada polos senyum bibir merah apel yang tampak manis itu atau memang terlampau bosan menunggu film yang baru akan berakhir satu jam lagi, Dewi memutuskan untuk pergi ke atas menemui lelaki itu lewat tangga yang ada tak jauh dari situ.
Betapa terkejutnya Dewi begitu sampai di atas karena yang ada hanyalah atap kosong sebagai tempat jemuran. Tapi pemuda itu melambaikan tangannya untuk menarik Dewi ke tepian.
Ternyata di sana sudah ada segelas teh manis dan radio yang sedang membunyikan iklan. Ragu-ragu Dewi ikut duduk.
“Kamu Dewi, bukan?”
“Dan kamu?”
Dahi pemuda itu mengernyit mendengarnya. Sejurus kemudian lesung pipitnya terbit berbarengan dengan gelak tawanya yang renyah. “Panggil saja aku Jaka.”
“Jadi, apa sesuatu yang sedap untuk dipandang yang kamu tawarkan tadi?” dengan sinis Dewi melirik ke segala arah. Tapi tak ada apa pun.
“Duduklah. Sebenarnya ini bukanlah sesuatu yang untuk dilihat menggunakan mata, tapi untuk dinikmati tiap detiknya.”
Tangan Jaka memutar volume di radio itu hingga suaranya membesar. Setidaknya nyaman terdengar karena suara dar-der-dor sudah tak lagi dimuntahkan pengeras suara itu. Dan kini, dari radio muncul lagu Ahmad Albar – Kendal Dendam.
“Apa isti—”
Jaka menempelkan telunjuknya cepat-cepat. “Dengar. Lihat. Rasakan.”
Bak sebuah mantra, usai mendengar itu Dewi memejamkan mata. Gelap sepenuhnya, tapi tidak buta. Dapat dilihatnya sesuatu bergerak-gerak. Warna oranye yang berdiaspora. Dan mengapung di udara, seolah suara Ahmad Albar yang begitu khas tampak dalam bentuk gelombang.
Lalu tercium bau udara basah. Malam yang kering. Lelehan mentega pada jagung bakar. Asap kacang rebus. Gula-gula. Serta segala macam wewangian merebak menyeruaki hidung Dewi.
Tanpa terasa lagu pun usai. Dewi membuka mata dengan perasaan gemas. Bagai seorang anak kecil yang ingin odong-odong yang dinaikinya memutar satu lagu lagi.
“Tapi tak bisa,” ucap Jaka seraya memperkecil lagi volumenya. “Untuk bisa mendengarkan lagu itu lagi, kamu harus menunggu minggu depan. Kamu pun harus mengirim permintaan supaya lagu itu diputar.”
Lagi-lagi, bagai tersihir oleh ucapan Jaka, Dewi hanya mampu mengangguk ringan.
“Ngomong-ngomong, aku sudah lama menyukaimu, tahu. Apa kamu keberatan kalau kita lebih dekat?”
Sesuatu meletup-letup di hati Dewi. Bagai bunga api yang menemukan melompat dari kembang api yang baru saja dinyalakan. Lebat, deras, hangat, begitu nyata, hingga tanpa sadar Dewi mengangguk.
ooOoo
Tapi sayang, tak semudah yang dikira. Ternyata orang tua Dewi benar-benar keras soal pergaulan anak satu-satunya itu. Setelah tertangkap sedang mengobrol di beranda pada suatu sore, Dewi dilarang lagi bertemu Jaka. Plus, hari itu, Jaka pun menerima sebuah tamparan dari ayah Dewi.
Tentu saja Dewi marah. Siapa sih yang tak kesal kalau kesenangannya direnggut begitu saja? Saat memikirkan itu, anak-anak yang melintas di depan rumah merengek saat ditarik orang tua mereka, enggan menyudahi permainan. Orang tua memang brengsek. Kalau bisa, Dewi tak ingin jadi orang tua. Ia ingin langsung saja jadi nenek yang ompong dan mengunyah sepah sirih dan memberi receh pada cucu-cicitnya.
Alhasil, jadilah Dewi hanya berkirim surat dan bertemu seminggu sekali, seperti kali ini.
Sudah nyaris setengah jam Dewi berdiri di depan sebuah toko di Plaza Kelapa Gading, namun sosok Jaka tak juga tampak. Mungkinkah lelaki itu lupa kalau di surat minggu lalu, dia sendirilah yang menulis toko baju Duta merupakan tempat janjiannya kali ini.
Kecewa memeluk Dewi. Padahal ia sudah bersolek sedemikian rupa. Keramas mengenakan shampo agar rambut bergelombang sebahunya harum, mengenakan rok hijau pekat yang dipadukan kaus merah kotak-kotak berkerah.
Padahal minggu-minggu sebelumnya, Jaka selalu datang lebih awal di tempat yang dijanjikan.
Mungkin ada hal yang harus ia lakukan, batin Dewi. Baru saja Dewi meniti langkah pertama menuju rumah, suara dari informan mengudara.
“Kepada saudari Cinta ditunggu kehadirannya oleh saudara Jaka di lobi utama. Terima kasih.”

Itu pesan untuknya.

Surat Dan Pesan

Posted by : Unknown
Senin, 20 Oktober 2014
0 Comments

Tak salah jika aku memang menganugerahkan kagumku padanya. Dio Ramadhan. Karena kalau bukan karenanya, pastilah aku tak akan menderita sehebat ini. Terlebih atas pesan yang ia ukir.
Pertemuan pertama kami hanyalah sebuah cerita yang biasa terjadi antara turis dan anak seorang boss penginapan di desa Ciapus. Pagi itu, seorang pemuda—sepertinya lebih tua satu atau dua tahun dariku—mengetuk pintu. Aku menyambutnya dengan hangat. Lebih hangat lagi saat pemuda itu memesan kamar untuk satu bulan di penginapanku.
Selepas pagi itu, tak ada lagi pembicaraan di antara kami. Aku pun tak terlalu mempedulikan lelaki yang pada tangannya membubuhkan magis pada tiap sentuhan. Bahkan saat kuamati goresan tanda tangan di buku tamu yang ia isi tadi pagi, aku terkesima.
Malam itu juga, sambil mengantarkan teh hangat pesanannya, aku mencoba menyusun kerangka wajahnya yang tak mudah dilukiskan.
Rambut hitam yang dicukur halus bersambung pada dahi agak lebar. Lalu mata itu. Iris hitam dengan cincin putih yang mengisap siapa saja yang menatapnya lamat-lamat. Pandanganku merosot lewat hidung bangirnya. Mendarat pada bibir tipis yang jika tersenyum amat menggoda rindu untuk tidur di sana. Dan terakhir, pada dagu lancip ramai oleh janggut tipis yang menyengat.
Yang kulakukan hanyalah masuk dengan sopan. Menaruh nampan pada meja persegi yang mulai ramai dengan peralatan untuk menggambar, lalu pergi.
Ah, tapi sebelum aku pergi, lelaki itu memberikanku kejadian lain.
“Permisi, apa kamu tahu tempat yang cocok untuk menggambar?” lelaki itu bertanya teramat sopan.
“Maaf?”
“Semacam tempat yang tenang,” ucap pemuda itu.  “Dan tak ramai.”
Saat kutatap, bola matanya sudah mendikteku untuk tidak mengatakan Curug Salak yang sudah pasti ramai. Dan saat itulah, untuk pertama kalinya aku merasa malu yang teramat sangat karena tak kenal daerahku sendiri yang megah karena keindahan alamnya.
Jadi, langkah paling bijak yang kuambil malam itu adalah meminta maaf padanya sambil menjanjikan tempat terbaik yang kutahu keesokan hari. Dan akhirnya pergi tanpa meminta persetujuan.
ooOoo
Hari ketiga.
Pemuda yang menyewa kamar di penginapanku tampak menyenangkan untuk diajak bicara. Dio Ramadhan. Sepertinya tak berlebihan kalau Dio ini anti-tesis dari semua laki-laki yang kukenal di lingkar sederhana kampungku.
Lelaki ini tak banyak cakap. Tatapannya tenang seperti telaga yang sengaja diciptakan jauh dari goncangan. Bibirnya hanya meluncurkan kata-kata yang ringkas dan tegas, tapi dengan sigap berhasil menarik perhatianku.
Mungkin Dio menarik perhatianku karena dia datang dengan impianku yang dua bulan lalu putus. Kuliah ke Jakarta. Atau mungkin karena..., seperti yang kukatakan tadi, peringainya yang sungguh berlawanan denganku.
Aktivitas Dio hanyalah menggambar komik. Pada pagi harinya mengelilingi desa yang masih diduduki kabut, bermasyarakat layaknya penghuni tetap yang hendak berbauh, lalu tepekur di atas meja pada malam hari.
Hari ketujuh, aku tak tahan hanya melihat kepergian Dio ke hulu citiis.
Ah, aku lupa menceritakan hari kedua.
Sesuai janjiku pada malam pertama, semoga kalian ingat, aku akan memberitahukan tempat yang sesuai dengan pertanyaan Dio. Nyaman dan tak ramai. Selepas sarapan pagi itu, Dio kuberitahu sungai citiis.
Tak pernah kuduga sebelumnya kalau Dio akan pergi hari itu juga ke tempat yang kuberitahu. Dan pada hari itu juga, sepertinya Dio sudah menanam hatinya di hulu sungai citiis.
Kembali ke hari ketujuh, pagi ini aku menyelinap lewat pintu belakang. Penasaranku meminta jawaban yang lebih tentang apa yang dilakukan Dio di sungai citiis. Tapi agaknya nasib berkata lain.
Pada tengah perjalanan, langkahku terhenti di antara semak. Bukan karena ada ular atau sesuatu yang mengerikan, tapi karena aku ketahuan mengikuti Dio. Aku malu bukan kepalang.
Namun yang membuatku lebih terkejut adalah Dio yang menjawil tanganku saat hendak kabur.
“Kenapa tidak ikut saja?”
Aku menggeleng. “Aku takut mengganggu.”
“Hahaha,” Dio tertawa renyah. Kontur wajahnya ikut naik-turun menghasilkan kesan tersendiri. “Sudahlah, ikut saja.”
Lalu Dio menuntunku masuk lebih dalam menuju hutan. Pada jalan yang aku sendiri belum hafal. Tak kurasakan sedikit pun takut, malah aku senang. Genggaman lelaki itu punya makna tersendiri bagiku. Seolah dia hendak membawaku ke Jakarta.
Akhirnya kami muncul di hulu sungai citiis. Tempat yang tak pernah kudatangi karena Abah selalu melarangku pergi ke sini. Tak pelak khawatirku menyeruak mengingat pesan Abah itu.
Belum sempat aku lepas dari khawatir itu, ingatanku diberondoli berbagai mitos yang sering ditanam Abah pada diriku, serta cerita-cerita kawanku tentang hutan dan hulu sungai citiis. Bodohnya aku ini, kenapa baru ingat semua itu sekarang?
“Kang, kata Abah di sini ada buaya putih,” ucapku takut.
Senyumnya mengembang. Pada tegas tatapannya, tampak jelas betapa belum dewasanya diriku.
“Daripada di desa, ada buaya darat.”
Dio berhasil mengikis resahku perlahan-lahan. Aku yang takut—Wanita mana yang tak takut—pada mitos-mitos desa tentang hantu-hantu atau larangan-larangan desa perlahan mulai berani memainkan jernihnya air yang dialirkan langsung dari gunung halimun.
Cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok.
Ungkapan apa lagi yang tepat untuk menggambarkan keadaanku pada hari ke-empat belas?
Cerita-cerita Dio tentang kehidupan kuliahnya sebagai mahasiswa seni UNJ mengikis kerasnya batu penghalang yang selama ini menghalangi niatku untuk kembali berjuang mendapat izin Abah agar bisa pergi Jakarta.
Makin hari, Dio makin sering bicara denganku. Mengeluhkan panasnya Jakarta, macetnya, baunya, sampai memuji Bogor; sejuknya, tenangnya, dan indahnya.
Aneh memang. Di saat aku makin keranjingan merengek pada Abah agar diizinkan untuk kuliah di Jakarta, lelaki itu justru sangat ingin tinggal di kampungku.
ooOoo
Pembicaraanku dengan Dio makin hari makin intens.
Sering kali dia mengisahkan berbagai hal tentang perkuliahan: bagaimana belajar di kampus, kawan-kawan, dosen-dosen yang minim rasa peduli, organisasi-organisasi seperti BEM, sampai rute mikrolet yang ia lalui kalau hendak pergi ke kampus.
Tak pelak makin hari perdebatanku dengan Abah pun makin intens.
Abah bersikeras dengan alasan aku tak punya sanak-saudara di Jakarta. Kubalas dengan cerita-cerita Dio tentang kawannya yang berasal dari Maluku, Sulawesi, atau Kalimantan. Abah masih tak mau. Dia juga menceramahiku tentang kerasnya pergaulan Jakarta. Lalu kuceritakan dengan runtut tentang organisasi-organisasi keislaman yang banyak bertebaran di Jakarta.
Tetap saja, Abah tak mengizinkan.
Hingga pada malam ke-dua puluh tiga, aku bertengkar hebat dengan Abah. Satu piring pecah. Malam itu, aku pulang ke rumah. Adikku Mia terkejut saat aku datang. Tapi aku tak peduli. Aku  menangis pada Umi yang hanya bisa memeluk sambil mengusap tubuh rapuh ini.
Dua hari setelahnya, aku tak kunjung kembali ke penginapan. Ada sedikit khawatir di hatiku saat meninggalkan Abah yang tak lagi muda sendirian mengurus penginapan. Tapi kesal masih menahanku di kaki rumah, bersama Ibu yang tak pernah beranjak dari ranjang.
Lalu pada hari ke-dua puluh enam, secara mengejutkan, Dio datang ke rumahku yang jaraknya agak jauh dari penginapan. Pagi itu dia mengajakku ke hulu sungai citiis. Aku hanya menurut saja.
Perjalanan kali ini lain dari perjalanan sebelumnya. Rasa ganjil sangat kentara. Dio lebih diam dari biasanya selama di perjalanan. Dan ketika sampai di hulu sungai citiis, Dio terdiam cukup lama sambil melempar-lemparkan kerikil ke permukaan sungai.
“Ayahmu terlihat kesepian di penginapan,” Dio mengatakannya perlahan. Suaranya lembut merayap pada telingaku.
Kubuang pandangku sembarang tanpa menjawab apa pun.
“Menurutku kamu lebih baik tinggal di sini.”
Aku menyolotkan tatapan liarku saat lelaki itu mengatakannya. “Apa maksudmu?!”
“Di sini, kamu punya banyak hal. Ayah yang peduli, lingkungan yang nyaman, dan mungkin, masa depan yang lumayan bagus.”
“Maksudmu aku akan mengalami kegagalan kalau tinggal di kota?”
Dio menggelengkan kepalanya lembut. Senyumnya melucuti kejengahanku. “Aku hanya ingin mengatakan kalau tak semua keinginan bisa terwujud.”
“Orang kota sepertimu tak akan mengerti,” keluhku.
Saat aku hendak pergi, tangan itu kembali mengalirkan sesuatu padaku. Harapan. Impian. Kerasnya hidup dari kota yang kuidamkan. Sentuhan Dio hanya membuatku makin ingin pergi ke Jakarta.
“Aku juga ingin tinggal di kampung ini,” ucapnya lebih tenang. “Tapi aku tak bisa.”
“Kenapa kita tidak tukar kehidupan saja?”
Bunyi aliran air yang merangkak lewat batu-batu besar makin jelas terdengar. Dengan polosnya kutatap wajah lelaki itu. Tersenyum ironi tanpa mengatakan apa pun.
Rasanya aku seperti dikoyak sepi!
Sakit yang teramat dalam saat bola mata Dio dalam menatapku. Masih dengan bibir yang tak mengatakan apa pun.
Aku tepekur sejenak, mencoba mengerti sambil menawar pedih dengan hijau pepohonan yang berdiri rapat di seberang. Pada putih bunga kapas yang dihembus angin. Pada bunyi gesekan bambu di belakangku saat angin mengaproksimasikan jaraknya satu sama lain.
Hingga tanah berbatu yang kududuki serasa tak lagi nyaman, aku masih belum mengerti. Sesuatu dalam hatiku meledak. Aku pulang lebih awal hari itu.
ooOoo
Begitu sampai rumah, aku langsung melemparkan tubuh pada kasur yang lama tak dijemur.
Tanganku menyentuh dinding berwarnakan kuning pastel. Dingin merasuki jemari-jemari. Pada detik selanjutnya, kupandangi ijazah SMA yang dengan manis bertengger di samping meja belajar.
Sejurus kemudian, terbayang wajah Dio di pikiranku. Terputar pula ucapan-ucapannya tentang kehidupan di Jakarta yang begitu kuidam-idamkan. Begitu memukau dan menghipnotis. Lalu ingatan itu hancur dipukul piring yang pecah. Wajah Abah yang marah. Bayangan Abah yang kesepian di penginapan.
Rasa kesal dan benci mulai tumbuh keesokan harinya. Saat kembali ke penginapan, kulihat Dio membawa barang bawannya yang tersimpan dalam tas dan koper yang sama seperti saat pertama kali ia datang.
Untuk apa lelaki itu menceritakan indahnya kehidupan di Jakarta, jika sebenarnya dia tak pernah berniat membela mimpiku pergi ke sana?

Pembunuhan 30 Hari

Posted by : Unknown
Sabtu, 04 Oktober 2014
0 Comments

- Copyright © 2013 Peziarah Kata - Shiroi - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -