Posted by : Unknown Senin, 20 Oktober 2014

Surat dan Pesan

Gadis itu sedang asyik-asyiknya menggandrungi lembaran-lembaran surat bertuliskan ceker ayam. Satu-satunya yang membuat mata bulat gadis itu tidak sakit meski membacanya di keremangan hanyalah cinta.
Pukul sepuluh sudah terlewat empat puluh menit yang lalu. Jangkrik makin mengukuhkan kentalnya hening malam ini. jika bukan karena kelihaian gadis itu dalam melipat dan membuka kertas, pastilah bunyi kertas sudah berdiaspora ke segala arah.
Puas melihat-lihat surat yang ditulis Jaka, Dewi dengan hati-hati dan penuh cermat sambil memekakan telinga, melipat kertas kuning tersebut menjadi empat bagian, memasukkannya ke dalam amplop, lalu menyelundupkannya ke bawah kasur. Hatinya sesak oleh cinta. Padahal surat terakhir itu ditulis minggu lalu, di pertemuan mereka terakhir.
Dewi baru mengemasi tiga surat, dan masih tersisa enam di depan bantalnya, saat tiba-tiba bunyi pintu terbuka menyobek ketenangan. Lalu terdengar bunyi ketukan-ketukan kecil yang menggetarkan. Cepat-cepat gadis itu menelungkup, menutupi surat-surat yang masih berserakan dengan cara menindih.
Ditariknya pula selimut sampai dada. Tapi tak berguna. Dingin yang ikut bersama bunyi sandal yang diseret-seret itu kian pekat membekukan suasana. Gadis itu memejamkan mata. Tapi telinganya bergerak-gerak peka.
Kaget meremukkan tubuh gadis itu hingga ke tulang tatkala pemilik suara sandal yang diseret-seret itu memanggilnya.
“Dewi!”
Gadis itu tidak berkutik sama sekali. Bahkan untuk sekadar meniup nyamuk yang dengan nyaman bertengger di batang hidungnya yang pas-pasan itu. Barulah setelah suara sandal yang diseret-seret itu menjauh, gadis itu tanpa segan membunuh nyamuk itu.
Ayahnya hanya ingin memastikan kalau anak gadisnya sedang tidur.
***
Pertama kali Dewi bertemu Jaka tentu berawal dari ketidaksengajaan yang biasa.
Saat itu malam habis tujuh-belasan. Seperti yang dilakukan tahun-tahun yang lalu, di lapangan desa Dewi digelar layar tancap membosankan yang memutar film perang.
Jika bukan karena Ayah dan Ibunya yang pergi untuk mengobrol, pasti Dewi tak akan berdiam di sudut lapangan, bersandar pada tembok rumah seorang yang tidak ia kenal, mengawasi orang-orang dengan kepala menengadah pada layar putih yang memutar gambar-gambar bergerak, sementara telinga mereka bergerak-gerak, dan kening mereka berkedut saat suara dar-der-dor meluncur dari pengeras suara.
“Sangat mengganggu, bukan?”
Dewi terkejut bukan main saat seseorang berkata seperti itu. Awalnya ia agak kesulitan menemukan sumber suara dari malam yang tak mengizinkannya mengenali wajah dengan cepat. Tapi saat suara itu berkata lagi, barulah Dewi menengok ke atas.
Dari lantai dua rumah yang sedang ia sandari, tampak seorang pemuda tersenyum bodoh. Dengan serta merta pemuda itu berkata, “Naiklah ke atas sini. Ada sesuatu yang lebih sedap untuk dipandang.”
Mendengar itu, Dewi, entah bagaimana merasa tertarik. Mungkin terpikat pada polos senyum bibir merah apel yang tampak manis itu atau memang terlampau bosan menunggu film yang baru akan berakhir satu jam lagi, Dewi memutuskan untuk pergi ke atas menemui lelaki itu lewat tangga yang ada tak jauh dari situ.
Betapa terkejutnya Dewi begitu sampai di atas karena yang ada hanyalah atap kosong sebagai tempat jemuran. Tapi pemuda itu melambaikan tangannya untuk menarik Dewi ke tepian.
Ternyata di sana sudah ada segelas teh manis dan radio yang sedang membunyikan iklan. Ragu-ragu Dewi ikut duduk.
“Kamu Dewi, bukan?”
“Dan kamu?”
Dahi pemuda itu mengernyit mendengarnya. Sejurus kemudian lesung pipitnya terbit berbarengan dengan gelak tawanya yang renyah. “Panggil saja aku Jaka.”
“Jadi, apa sesuatu yang sedap untuk dipandang yang kamu tawarkan tadi?” dengan sinis Dewi melirik ke segala arah. Tapi tak ada apa pun.
“Duduklah. Sebenarnya ini bukanlah sesuatu yang untuk dilihat menggunakan mata, tapi untuk dinikmati tiap detiknya.”
Tangan Jaka memutar volume di radio itu hingga suaranya membesar. Setidaknya nyaman terdengar karena suara dar-der-dor sudah tak lagi dimuntahkan pengeras suara itu. Dan kini, dari radio muncul lagu Ahmad Albar – Kendal Dendam.
“Apa isti—”
Jaka menempelkan telunjuknya cepat-cepat. “Dengar. Lihat. Rasakan.”
Bak sebuah mantra, usai mendengar itu Dewi memejamkan mata. Gelap sepenuhnya, tapi tidak buta. Dapat dilihatnya sesuatu bergerak-gerak. Warna oranye yang berdiaspora. Dan mengapung di udara, seolah suara Ahmad Albar yang begitu khas tampak dalam bentuk gelombang.
Lalu tercium bau udara basah. Malam yang kering. Lelehan mentega pada jagung bakar. Asap kacang rebus. Gula-gula. Serta segala macam wewangian merebak menyeruaki hidung Dewi.
Tanpa terasa lagu pun usai. Dewi membuka mata dengan perasaan gemas. Bagai seorang anak kecil yang ingin odong-odong yang dinaikinya memutar satu lagu lagi.
“Tapi tak bisa,” ucap Jaka seraya memperkecil lagi volumenya. “Untuk bisa mendengarkan lagu itu lagi, kamu harus menunggu minggu depan. Kamu pun harus mengirim permintaan supaya lagu itu diputar.”
Lagi-lagi, bagai tersihir oleh ucapan Jaka, Dewi hanya mampu mengangguk ringan.
“Ngomong-ngomong, aku sudah lama menyukaimu, tahu. Apa kamu keberatan kalau kita lebih dekat?”
Sesuatu meletup-letup di hati Dewi. Bagai bunga api yang menemukan melompat dari kembang api yang baru saja dinyalakan. Lebat, deras, hangat, begitu nyata, hingga tanpa sadar Dewi mengangguk.
ooOoo
Tapi sayang, tak semudah yang dikira. Ternyata orang tua Dewi benar-benar keras soal pergaulan anak satu-satunya itu. Setelah tertangkap sedang mengobrol di beranda pada suatu sore, Dewi dilarang lagi bertemu Jaka. Plus, hari itu, Jaka pun menerima sebuah tamparan dari ayah Dewi.
Tentu saja Dewi marah. Siapa sih yang tak kesal kalau kesenangannya direnggut begitu saja? Saat memikirkan itu, anak-anak yang melintas di depan rumah merengek saat ditarik orang tua mereka, enggan menyudahi permainan. Orang tua memang brengsek. Kalau bisa, Dewi tak ingin jadi orang tua. Ia ingin langsung saja jadi nenek yang ompong dan mengunyah sepah sirih dan memberi receh pada cucu-cicitnya.
Alhasil, jadilah Dewi hanya berkirim surat dan bertemu seminggu sekali, seperti kali ini.
Sudah nyaris setengah jam Dewi berdiri di depan sebuah toko di Plaza Kelapa Gading, namun sosok Jaka tak juga tampak. Mungkinkah lelaki itu lupa kalau di surat minggu lalu, dia sendirilah yang menulis toko baju Duta merupakan tempat janjiannya kali ini.
Kecewa memeluk Dewi. Padahal ia sudah bersolek sedemikian rupa. Keramas mengenakan shampo agar rambut bergelombang sebahunya harum, mengenakan rok hijau pekat yang dipadukan kaus merah kotak-kotak berkerah.
Padahal minggu-minggu sebelumnya, Jaka selalu datang lebih awal di tempat yang dijanjikan.
Mungkin ada hal yang harus ia lakukan, batin Dewi. Baru saja Dewi meniti langkah pertama menuju rumah, suara dari informan mengudara.
“Kepada saudari Cinta ditunggu kehadirannya oleh saudara Jaka di lobi utama. Terima kasih.”

Itu pesan untuknya.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2013 Peziarah Kata - Shiroi - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -