Posted by : Unknown
Minggu, 23 November 2014
Entah harus saya mulai dari mana tulisan ini.
Banyak hal yang ingin saya sampaikan,
tapi saya terlalu malas untuk menulisnya dan Anda pun malas membaca artikel ini
jika kelewat panjang. Tapi, biarlah saya coba membagi pengalaman saya kali ini.
Dalam acara #KreatiFiksi yang digelar Klub
Buku Bogor dengan penerbit Moka Media, hadir dua pembicara, yakni mas AS.
Laksana dan Adam T. Fusama. Tak menarik rasanya jika saya bahas lengking speaker
yang amat mengganggu selama jalannya acara. Atau mungkin saja hal itu menarik,
bila diceritakan bukan oleh saya. Yang sampai pada kesimpulan kalau saya ini bukan
pencerita yang baik.
Oke. Saya tak memperhatikan berapa lama sesi
mas Sulak dalam acara ini, karena saya hanyut dalam pembicaraannya yang
terkesan ngawur. Yang jelas, mas Sulak membuka pembicaraan dengan Free
Writing dan sebuah statement yang menarik: Kecakapan seorang penulis
merupakan output. Sedangkan input-nya adalah bacaan.
Bacaan yang baik akan membuat seseorang
menelurkan karya yang baik pula. Saya setuju betul dengan pernyataan ini.
Dilanjutkan dengan sebuah pernyataan jenaka mas Sulak, bahwasanya seorang
dengan bacaan baik, ngawurnya saja akan bagus. Tentu, ngawur dalam konteks ini
bukan berarti membicarakan omong kosong yang amat sia-sia bila kita perhatikan.
Sebagai contoh, bila tiba-tiba kita bertemu
Anies Baswedan, kemudian bertanya tentang suatu hal, jawaban yang diberikan
beliau—yang sama sekali tidak pernah berencana menjawab pertanyaan kita—itu
pastilah pakem dan oke, tidak akan ngalor-ngidul, meski jawabannya ngawur.
Hemat saya, bacaan yang mempengaruhi pola
pikir—state of mind jika meminjam istilah Pak Edi—seseorang, yang secara
tidak langsung berdampak besar pada tulisannya.
Usai membicarakan soal ke-ngawur-an,
sebetulnya mas Sulak beralih ke pembicaraan tentang novel. Tapi itu nanti saja.
Saya sedang malas menyusun artikel ini secara sistematis. Jadi, hal yang akan
saya bahas selanjutnya tentang siapa itu penulis.
Layaknya bacaan yang mempengaruhi kualitas
tulisan seseorang, kebiasaan dan kedisiplinan pun sama pentingnya. Penulis
harus bisa memposisikan kegiatan menulis sebagai hal vital dalam kesehariannya,
layaknya kebutuhan makan dan minum, atau tidak minum kopi bagi pecinta kopi,
atau ngopi tanpa rokok, atau bernapas. Bahkan mas Sulak menyarankan kita
beranggapan seperti ini: “Kalau kita tidak menulis, umur kita berkurang. Barang
lima menit, saja.”
Tujuannya apa? Agar kita terbiasa menulis. Kita jadi tahu betapa penting kegiatan rutin menulis itu
sendiri bagi para penulis—yang mana sering kali dianggap enteng oleh penulis
amatir seperti saya. Bahkan, mas Sulak punya beberapa metode unik untuk membuatnya
tetap menulis setiap hari.
Jika beliau bangun di pagi hari, hal apa yang
ia lihat akan ia tulis. Entah itu cangkir, atau sendok, atau kopi, atau hujan,
bahkan ke-tidak-ada-an akan apa pun itu bisa saja ditulis. Ini disebut sebagai Free
Writing; Atau saat mas Sulak sedang bingung mau menulis apa, maka, beliau
akan mengambil stoples berisi kata yang ia tulis di secarik kertas. Beliau akan
mengambil tiga kertas, dan menulis barang satu paragraf dengan tiga kata itu. Bisa
juga menulis dengan cara menjawab pertanyaan 5W + 1H.
Mendekati akhir pembicaraan, beliau
memberikan sebuah analogi yang menggelitik.
“Penulis itu seharusnya menulis tiap hari,
seperti tukang bakso yang tiap hari berjualan bakso.”
Di bagian ini, kita sadari betapa perlunya
kita menjadikan menulis itu bukan lagi hanya menunggu mood, tapi sebagai
rutinitas. Sebuah kegiatan yang bilamana alfa kita kerjakan, tubuh akan
uring-uringan.
Agaknya bisa juga saya buat sebuah
kesimpulan, bahwa Writer’s Block itu memang tak pernah eksis. Dia hanya
ada pada mereka yang tak rajin menulis dan mengganggap pekerjaan mengarang itu
mudah.
Ya. Mengarang memang amat tidak mudah.
“Mereka yang mengatakan kalau mengarang itu
mudah pasti belum pernah menuliskan sesuatu yang bagus,” tegas mas Sulak.
Menulis itu pekerjaan yang membutuhkan
ketahanan diri yang amat luar biasa. Dan menurut mas Sulak, bagian paling
memakan waktu ialah membaca. Memperkaya ruang-ruang pemikiran dalam otak kita.
Menjejalkan diksi-diksi baru; metafora keren; belajar bagaimana pengarang lain
membuat sebuah kalimat.
Belum lagi, penulis juga haruslah menjadi
seorang pendongeng hebat yang dipercaya, seperti Ibu yang menyihir anaknya agar
percaya pada dongeng yang dibacakan sebelum tidur. Adalah wajar bagi penulis
untuk berbohong pada pembaca tentang beberapa hal, dan tugas penulislah agar
pembaca percaya pada hal fiktif yang ada dalam tulisannya.
Jenis tulisan itu ada dua: Yang membuat orang
berpikir, dan membuat orang hanyut di dalamnya. Sedang dalam urusan genre, mas
Sulak berucap kalau tidak tragedi, pasti komedi. Masalahnya, bagaimana cara
menyampaikan kebohongan yang dibungkus dalam bentuk beragam, entah itu rumit
atau mengalir, entah itu air mata atau tawa, agar disebut sebagai kenyataan
dalam pikiran pembaca.
Itulah beberapa kesulitan menjadi seorang
penulis. Tapi, tentu saja itu bisa diatasi dengan bacaan yang bagus dan
disiplin menulis yang teratur. Bakat memang diperlukan, tapi perlu sebuah batu
asah agar bakat itu menajam.
Penjual bakso berbakat, jika kerjaannya hanya
diam saja atau berkutat dengan buku resep bakso tanpa meraciknya sama sekali,
atau dia membuat baksonya, tapi tidak menjajakannya, pasti tak akan disebut
sebagai pembuat bakso enak. Begitu pun penulis. Akan jadi buang-buang waktu bila
ide tulisannya hanya mengambang begitu saja tanpa dituliskan, atau sudah
dituliskan tapi ditinggalkan lama-lama, hingga tak kunjung selesai, yang
menyebabkan namanya tak pernah dikenal sebagai pengarang ternama Indonesia.