Archive for Desember 2013
“Nanti malam, di saung”
Seutas senyum mengembang di wajah gadis bernama Ernita itu. Setelah
melakukan janji jari kelingking, dia melangkah pergi, dengan perasaan riang
yang meledak.
Laki-laki yang tadi berjanji dengannya—Aoki—tiba-tiba teringat sesuatu.
“Jangan lupa janji kita. Pikirkan dengan baik! Hanya satu permintaan!”
teriaknya pada sosok gadis yang sudah nampak blur di matanya yang rabun tanpa
kacamata.
Ernita membalikkan badannya, melambaikan tangan dan senyumnya. “Tentu
saja. Aku akan meminta hal terbaik”
***
Ernita menghempas tubuhnya ke kasurnya yang berwarnakan biru. Dia
meregangkan kedua tangannya, dan menghela nafas panjang. Masih jelas terasa kebahagiaan
di rongga-rongga hatinya.
Hari terakhir di tahun 2013 terasa begitu indah baginya. Sesuatu janji Aoki,
pada penghujung tahun, mereka akan bertukar satu permintaan yang harus
dikabulkan, selama masuk akal. Selain meminta satu permintaan, mereka juga
harus memberikan sesuatu, sebagai kenangan di tahun 2013. Itulah janji yang
mereka buat, 2 bulan lalu.
Apa yang harus kuminta? Dan apa
yang harus kuberikan?
Ernita masih kebingungan dengan permintaannya, dan juga hadiah yang
akan ia berikan. Rasanya tak mungkin memberikan koleksi boneka beruangnya pada
seorang atlet basket berdarah Jepang. Tak mungkin juga memberinya koleksi
komiknya, walaupun Aoki seorang keturunan negeri manga itu.
Kembali Ernita menghela nafas, karena tak kunjung menemukan ide. Lantas
mendesah pelan, dan menatap lemari coklat yang ada di dekat pintu.
Ia bangkit, dan mengacak-acak isi lemari itu, berharap menemukan
sesuatu yang tepat.
***
[CERPEN] Aku Akan Menunggumu Di Tokyo
Seorang
Pendengar
“Kalau kau? Apa cita-citamu?”
“Aku? Mungkin terdengar
aneh…”
“Ayolah, katakan
saja”
“Cita-citaku…
Menjadi pendengar”
***
“Apa cita-citamu?”
Aku menatap heran
sahabatku, Alvin, yang tiba-tiba bertanya. Pandangannya tampak serius. Tapi,
aku sudah tahu kemana arah pembicaraan ini. Aku tak mengindahkannya. Kubuang pandangku ke
jendela, melihat langit yang sudah mulai jingga.
“Artis? Penyanyi?
Pemain Bola? Polisi? Tentara? Dokter?” Alvin kembali bergumam tak jelas. Entah aku
atau Salman yang ditanyanya.
Aku menghela nafas,
lantas menatapnya. “Bagaimana denganmu?” tanyaku datar.
Seutas senyum
mengembang di wajah Alvin. “Aku? Aku akan menjadi seorang sastrawan!” katanya
penuh semangat, sambil berdiri dari kursi. Tangan kanannya mengepal di dada. “Aku
akan mengirimkan berjuta elegi yang beterbangan bagai bunga sakura yang
berguguran pada negeri yang dikuasai Tirani dan Despotisme ini”
“Hei, tunggu dulu”
Salman memotong pembicaraan Alvin. Matanya yang sedaritadi tertutup kini
membuka, menatap Alvin, tajam. “Kau itu bodoh atau bagaimana sih?”
[CERPEN] Seorang Pendengar
Reshare dari Catatan Diva Press
Punten, Bogor.
Temen-temen pengen ngerasain gimana serunya #KampusFiksi yang rutin diadakan di Jogja setiap 2 bulan sekali tetapi gagal lolos dalam seleksi? Jangan khawatir. Kampus Fiksi bersama Bapak @edi_akhiles segera hadir menghampiri para Divamate di kota Bogor di bulan Januari 2014.
Disebabkan animo Divamate @divapress dan @de_teens yang begitu besar dalam mengikuti #KampusFiksi dan karena keterbatasan tempat dalam #KampusFiksi regular, maka Penerbit DIVA Press dengan bangga mempersembahkan #Kampus Fiksi Bogor.
Acara #KampusFiksi ini insya Allah akan diadakan pada:
Punten, Bogor.
Temen-temen pengen ngerasain gimana serunya #KampusFiksi yang rutin diadakan di Jogja setiap 2 bulan sekali tetapi gagal lolos dalam seleksi? Jangan khawatir. Kampus Fiksi bersama Bapak @edi_akhiles segera hadir menghampiri para Divamate di kota Bogor di bulan Januari 2014.
Disebabkan animo Divamate @divapress dan @de_teens yang begitu besar dalam mengikuti #KampusFiksi dan karena keterbatasan tempat dalam #KampusFiksi regular, maka Penerbit DIVA Press dengan bangga mempersembahkan #Kampus Fiksi Bogor.
Acara #KampusFiksi ini insya Allah akan diadakan pada:
[EVENT] #KampusFiksi Road Show Bogor
Jangan Terlalu Baik Padaku
Oleh : Muhamad Farid Aprizal
Kala tatapannya hinggap di mataku
Desir kenyamanan meradang ke jiwaku
Suaraku tertahan membisu
Mulutku bergetar kalut
Dalam hati yang kian menari
Perasaan cinta mulai bernyanyi
