Posted by : Unknown
Selasa, 24 Desember 2013
Seorang
Pendengar
“Kalau kau? Apa cita-citamu?”
“Aku? Mungkin terdengar
aneh…”
“Ayolah, katakan
saja”
“Cita-citaku…
Menjadi pendengar”
***
“Apa cita-citamu?”
Aku menatap heran
sahabatku, Alvin, yang tiba-tiba bertanya. Pandangannya tampak serius. Tapi,
aku sudah tahu kemana arah pembicaraan ini. Aku tak mengindahkannya. Kubuang pandangku ke
jendela, melihat langit yang sudah mulai jingga.
“Artis? Penyanyi?
Pemain Bola? Polisi? Tentara? Dokter?” Alvin kembali bergumam tak jelas. Entah aku
atau Salman yang ditanyanya.
Aku menghela nafas,
lantas menatapnya. “Bagaimana denganmu?” tanyaku datar.
Seutas senyum
mengembang di wajah Alvin. “Aku? Aku akan menjadi seorang sastrawan!” katanya
penuh semangat, sambil berdiri dari kursi. Tangan kanannya mengepal di dada. “Aku
akan mengirimkan berjuta elegi yang beterbangan bagai bunga sakura yang
berguguran pada negeri yang dikuasai Tirani dan Despotisme ini”
“Hei, tunggu dulu”
Salman memotong pembicaraan Alvin. Matanya yang sedaritadi tertutup kini
membuka, menatap Alvin, tajam. “Kau itu bodoh atau bagaimana sih?”
Alvin tercekat. Ia membalas
tatapan tajam Salman. “Apa yang bodoh dariku?”
“Dengarkan!” kata
Salman tegas. “Kenapa elegimu yang beterbangan dibandingkan dengan sakura yang
berguguran? Bukankah kedua hal itu bertentangan? Dan juga, ini Indonesia! Tak ada
sakura disini”
Alvin memegang dagunya.
“Benar juga” gumamnya sambil kembali duduk.
“Yang kedua… Bisakah
kau hentikan fantasi gilamu?!” kali ini Salman yang berdiri. Aku hanya mendesah
pelan melihat tingkah kedua sahabatku.
Alvin mengernyitkan
dahinya. “Maksudmu?”
“Tirani dan
Despotisme! Kita sudah hidup di negara merdeka! Tak ada yang menembakmu dengan
pistol jika kau menyampaikan aspirasimu!”
Terdengar Alvin
mendesah pelan. “Apa masalahnya? Aku suka Tirani”
“Kau gila!” sentak
Salman sambil menggebrak meja. “Tak ada orang yang mau hidup di negeri Tiran!”
Melihat mereka
berdua berdebat membuatku menahan tawa yang hendak melompat keluar. Setelah menghela
nafas panjang, kutatap sekeliling. Ruang klub sastra memang selalu seperti ini,
setiap sore. Meja panjang ini selalu menjadi tempat debat. Kursi, rak, dan
kumpulan buku usang yang tertata rapi juga seperti menjadi saksi bisu,
perdebatan kami setiap hari.
Loh? Kenapa mereka
berdua terdiam? Sepertinya Alvin kehabisan kata-kata. Dan di saat seperti
inilah bagianku.
“Kaw—“
“Tunggu dulu” sela
Alvin cepat. Dia menatapku mantap. Pandangannnya mengatakan dia belum selesai. “Aku
memang menyukai Tirani dan Despotisme. Karena dengan mereka, aku bisa membuat
berbagai puisi, cerpen, bahkan aspirasiku yang belum tersampaikan hingga
sekarang”
Terdengar Salman
menggeram. “Belum tersampaikan?” ulangnya kesal.
Dia berjalan ke
sebuah rak, matanya jeli menatap tiap punggung buku yang berwarna warni. Kalau saja
kalian melihat sikapnya sekarang, kupastikan kalian tertawa.
Setelah menemukan
apa yang dicarinya, ia mengambil tiga buah buku dari rak itu. Ketiganya tampak
masih baru. Dengan cepat ia kembali ke kursi, dan menyimpan buku itu ke atas
meja, setengah menghempas.
Matanya tajam
menatap Alvin, tangan kanannya menggebrak meja. “Kau bilang belum menyampaikan
aspirasimu?” ulangnya lagi.
Alvin mengangkat
bahunya enteng.
“Lalu, apa isi dari tiga
novel yang sudah kamu terbitkan? Semuanya bertemakan Tirani, politik, dan
berbagai peristiwa pemberontakan ciptaan imajinasimu!”
“Ya. Memang” Alvin
membenarkan.
Salman meremas
rambutnya, kesal. “Lalu, aspirasi mana lagi yang belum kau sampaikan?” tanyanya
pelan.
“Aspirasi manusia
tak akan pernah padam” tukas Alvin cepat. “Kau sendiri, kenapa menerbitkan buku
lagi sebulan yang lalu?”
Mata Salman tampak
sedikit bergetar. Lantas ia mulai mengatur nafasnya hingga teratur. Sebuah senyum
juga mengembang di bibirnya. “Mungkin kamu benar” gumamnya membenarkan.
Setelah itu, mereka
berdua terdiam. Di saat seperti ini juga, kuyakinkan kalian akan bingung
melihat sikap mereka yang sangat tenang, seolah tak pernah ada perdebatan di
antara mereka.
Alvin mulai menulis
di bukunya yang bersampul biru. Salman juga nampak membaca novel Mocking Jay yang sempat tertunda. Semantara
aku, hanya tersenyum melihat mereka telah terdiam.
***
Beginilah mereka,
kedua sahabat terbaikku. Kami bertiga adalah anggota klub sastra. Ya! Hanya kami
bertiga. Aku hanya seorang pelajar normal. Tanpa prestasi, tanpa pernah
melanggar peraturan.
Sedangkan kedua
kawanku, adalah dua orang penulis. Mereka penulis, tapi tidak terkenal. Mereka selalu
enggan terekspos oleh publik. Mereka selalu menggunakan nama pena, dan enggan
memberikan informasi tentang dirinya di halaman terakhir buku yang mereka
tulis.
Pernah sekali aku
menanyakan alasannya pada Alvin. Dan jawaban yang kudapat mungkin membuatku
tersenyum getir.
Aku hanya menyampaikan tulisanku. Aku tak mau terekspos. Bukannya
tak mau bertanggung jawab jika ada yang protes. Hanya saja, aku suka melihat
orang-orang itu berdebat tentang teoriku, tanpa mengetahui aku hanyalah siswa
kelas 1 SMA
***
Kulirik jam yang
sudah menunjuk pukul lima sore. Dan lagi, aku pulang selarut ini. Adikku pasti
mengkhawatirkanku lagi.
Aku bergegas
merapikan buku. Alvin dan Salman juga mungkin berpikiran sama sepertiku, segera
pulang. Karena peraturan sekolah menyebutkan, siswa tak boleh berada di sekolah
lewat pukul setengah enam.
Kami bertiga
berjalan bersama keluar sekolah, tanpa berkata-kata. Alvin asyik dengan
handphonenya, Salman juga tampak tegang dengan novelnya, sedangkan aku… Hanya
menatap pepohonan yang mulai menghitam.
“Jadi, apa
cita-citamu?” gumam Alvin pelan.
Aku dan Salman
menatapnya, sama-sama heran.
Kami berhenti
sejenak di persimpangan jalan, hendak menyebrang. “Maaf, tadi aku malah
membicarakan diriku sendiri. Jadi, apa cita-cita kalian?”
“Aku ingin menjadi guru”
jawab Salman singkat.
Alvin mengangguk
pelan. “Masih belum berubah?”
“Tak akan” tukas
Salman cepat.
Kudengar Alvin
menghela nafas, lantas kembali terdiam.
Dan di saat inilah
saat paling sedih untukku. Aku merasa mereka berdua bukanlah kedua sahabat yang
kukenal sejak kecil. Dua sahabat yang selalu berdebat tentang teori-teori yang
mereka hasilkan. Dua sahabat yang dulu selalu bertengkar hanya karena berbeda
pendapat.
Entah kenapa,
rasanya kendaraan yang melintas tak kunjung mereda, membuat kami tak kunjung
menyebrang. Kulirik Salman yang menatap jalanan dengan pandangan datar.
“Kenapa tidak
bertanya padaku?” kataku sambil menyikutnya pelan.
Salman tampak
terkejut. Dia pasti sedang melamun. Kulihat wajahnya tampak bingung menatapku. “Kenapa?”
tanyanya pelan.
Aku tersenyum tipis,
sambil menggelengkan kepala pelan.
“Kalau kau? Apa cita-citamu?”
Alvin menatapku lembut.
Aku sedikit
menundukkan wajahku. “Aku? Mungkin terdengar aneh…”
“Ayolah, katakan
saja”
“Cita-citaku…
Menjadi pendengar” gumamku pelan.
Sedikit kucuri
pandang ke arah Alvin. Wajahnya tampak puas, tersenyum lega. Aku pun
mengembangkan senyum, merasa senang berhasil memberikan jawaban yang tepat.