Archive for Juli 2014
MISANGA
Chiba,
Japan.
Natsu,
2015
Kukira waktunya telah habis.
Nyatanya tak butuh waktu empat tahun untuk menganggapmu mati.
Karena sekarang, kamu sudah kuanggap mati. Atau lebih tepatnya, aku melukai
hatiku sendiri sampai mati.
Misanga di
pergelangan tanganku tanpa sadar terlepas begitu saja, seolah rontok bersama harapanku
yang telah menjadi kenyataan.
Tepat di hadapanku, apa yang kuinginkan tiga tahun lalu terwujud.
Tapi, kenapa rasanya menyakitkan sekali? Seolah semua duri dari mawar yang kamu
genggam itu menancap tepat di uluh hatiku.
Riuh hadirin yang menggema saat dahimu dicium pria itu menjelaskan
padaku tentang semuanya.
Seharusnya dulu kuharap kamu tetap bersamaku, bukan berharap kamu
bahagia.
***
Hari
Kelulusan SMA Hodo, Hiroshima.
2012
Dengan nafas yang terengah-engah, aku berhasil menghentikan
langkahmu tepat saat jemarimu yang lentik hendak mendorong pagar rumahmu.
Sepertinya otakku kekurangan oksigen, hingga apa yang kuharapkan
bisa kulihat. Kamu yang masih mengenakan blazer hitam seolah terkejut melihatku.
Matamu yang secoklat kopi tampak cemerlang menatapku, dan rautmu yang sedingin
salju mendadak lebur.
Nafasku seolah tercekik rambut panjangmu yang sepekat malam.
Bibirku mendadak kelu, meski beberapa saat yang lalu aku terus meneriakkan
nama-mu dalam hati. Aku masih jadi pengecut.
“Ki-Kirishima-san, mau ke taman sebentar? Aku punya sesuatu
untukmu.”
Bibirmu yang biasanya sekaku es batu mendadak mengulas senyum yang
sangat manis. Matamu terpejam senang, dan kepalamu ikut memiring. “Ya, aku juga
punya sesuatu untukmu.”
Setelahnya kita jalan bersampingan sepanjang jalan. Ditemani malam
yang hening, kita berbelok ke sebuah taman yang lenggang, dan duduk di salah
satu kursinya yang panjang. Kuberanikan diriku untuk duduk tepat di sampingmu.
“Jadi, em...” kukeluarkan sebuah misanga berwarna hijau yang hampir jadi.
Matamu mendadak melebar melihat apa yang kubawa. “Maukah kamu menungguku
menyelesaikan misanga ini?”
“Ah, ya, tentu,” kamu menyahut cepat, agak kikuk. Dan dengan
gerakan yang ling-lung, kamu juga mengeluarkan sesuatu dari saku blazer-mu. Itu misanga! “Aku juga harus
menyelesaikan ini.”
Kuteguk kembali ludahku. Gugup. Kenapa kita sama-sama mengeluarkan misanga yang belum selesai? Punyamu warna
merah, tapi sama bagusnya dengan buatanku. Apa mungkin kita punya pikiran yang
sama?
Gawat, aku tak bisa konsentrasi!
Memikirkan kemungkinan jika kita memang punya niat yang sama,
punya pikiran yang sama, apa mungkin kita memang ditakdirkan bersama? Aah!
Kalau itu memang terjadi, rasanya lengkaplah hidupku.
“Fukuda-san, kenapa tanganmu gemetar begitu?”
“Aah, tidak...”
Aah, gawat, jangan-jangan Naomi mengetahui kalau aku sedang gugup.
Bahaya, bahaya... Untung saja misanga kerjaanku hanya tinggal dikencangkan.
Jadi tanganku tak harus melingkarkan benang lagi.
Kukencangkan misanga dengan gigiku, frustrasi saat jemariku
tak lagi kuat mengencangkan misanga karena terlalu gemetar. Fiuh, kulihat
dengan seksama buah tanganku penuh rasa bangga. Saat kulirik ke arahmu, kamu
juga sepertinya sudah selesai.
“Ini untukmu,” ucapku sambil menyerahkan misanga buatanku. “Memang tak bagus. Tapi...
Semoga bisa menjadi pengingat kalau kita pernah berkenalan.”
Dengan lembut jemarimu meraih misanga-ku.
Menatapnya lamat-lamat, lantas tersenyum. “Arigatou, Fukuda-san. Ini
juga sebagai kenang-kenangan dariku,” kamu menyodorkan misanga merah yang kamu buat.
“Benarkah?” tanyaku ragu. Dengan cepat kuraih misanga itu, dan menatapnya penuh bahagia.
“Syukurlah.”
“Eh?”
“Ah,” aku tergagap sendiri. Ah, sial, mulutku langsung berujar
begitu saja karena sangat bahagia. Aah, malunya! “Ma-maksudku, syukurlah,
ternyata kamu menganggapku.”
“Harusnya akulah yang bersyukur, karena kamu masih mau memberiku
kenang-kenangan seperti ini, padahal sikapku sangat dingin di kelas.”
Aku terdiam sejenak. Menatap wajahmu yang tersiram pendaran lampu
taman. Ya, wajahmu kini sangat hangat, berbeda dengan sikapmu di kelas. Ketus,
dingin, tanpa ekspresi. Tapi aku tahu, aku tahu kenapa kamu melakukan semuanya.
“Aku sangat senang saat kamu menegurku di depan rumah tadi. Aku
ingin sekali berterima kasih padamu, yang selalu menemani dan membelaku
di kelas. Kamu selalu menolongku kalau aku lemas, meski pun aku terus mencaci
maki dirimu. Aku sungguh sangat senang.”
Saat itu, kurasakan hatiku bergetar sangat keras. Kamu menangis
sambil tersenyum. Meleburkan segala rasa yang selama ini kupendam. Perasaan itu
kini tumpah bersama air mata dan tangismu yang tertahan.
“Sudahlah, Kirishima-san. Aku tahu, kamu bersikap dingin dan ketus
seperti itu karena kamu tak ingin punya teman dekat. Kamu tak ingin membuat
siapa pun bersedih, karena kamu tahu, leukemia yang kamu derita sejak lahir
seolah menjadi kutukan bagimu.”
Kamu kini menenggelamkan wajahmu yang sebam pada pelukanku. Air
matamu menyeruaki hatiku yang ikut menangis, tapi air matanya terhalang ego
laki-laki.
“Jadi, dengan misanga ini, kuharap kamu bisa hidup bahagia.
Seorang Hibakusha sepertimu juga berhak bahagia.”
***
Setelah peristiwa malam itu, aku tak pernah lagi melihatmu. Aku
semakin tenggelam dalam kerjaanku sebagai seorang mangaka, tapi misanga pemberianmu masih melingkari
pergelangan tangan kananku.
Kukatakan pada misanga yang melingkar di tanganku, kalau
dalam empat tahun aku tidak bertemu denganmu—Naomi Kirishima, aku akan
mengganggapnya telah meninggal di suatu tempat, yang tak pernah kuketahui, dan
juga tak ingin kuketahui.
Ayolah, bukankah empat terdengar mirip dengan “kematian”? Jadi,
janjiku masuk akal, bukan?
Sesekali aku sering bertanya dalam hati, kenapa aku percaya mitos
bodoh seperti misanga.
Katanya, misanga merupakan simbol keberuntungan dan
harapan. Jika misanga terlepas sendiri, maka harapan kita
menjadi kenyataan.
Sebagai tambahan, beberapa malam yang lalu aku pun mengatakannya.
Kalau sampai misanga ini terlepas sendiri, maka kuanggap dirimu telah hidup
bahagia.
Haaaa....
Bodoh.
Bahkan kini aku tak tahu bagaimana nasibmu. Aku sedikit menyesal,
kenapa dulu aku tak menanyakan alamat email-mu?
Atau mungkin alamat rumahmu, agar kita bisa berkomunikasi lewat surat.
Kalau dipikir-pikir, sejak kapan aku mulai menyukaimu? Sejak
pertama kali bertemu? Tidak. Aku yakin, saat itu perasaan jengkel yang kudapat.
Jangan salahkan aku, tentu saja semua orang yang tak mengenalmu pasti merasakan
hal yang sama.
Kamu—sejak gadis rapuh pengidap leukemia,
malah memarahi seseorang yang mencoba menolongmu. Bukan hanya sekali, tapi
berkali-kali. Bahkan aku berani bertaruh, semua orang pasti pernah kamu marahi.
Kuakui, awalnya aku tak suka padamu. Kamu adalah orang yang tak
tahu terima kasih, pikirku saat itu. Tapi, saat alasan kenapa kamu melakukannya
sampai di telingaku... aku berubah. Dan aku yakin...
Saat itulah aku mulai jatuh hati padamu.
"Naomi Kirishima melakukan itu karena dia tak mau punya
seorang teman. Dia tak mau membuat orang lain sedih. Dia sudah tahu, leukemia yang ia derita
bisa kapan saja membuat keadaannya kritis. Kamu paham maksudku, bukan?"
Aku ingat itulah yang ibumu ucapkan.
Jadi, jangan heran kalau aku akan selalu menolongmu. Kapan pun.
Tak peduli seberapa keras kamu memarahiku... tak peduli sejauh apa orang-orang
menyingkir dariku... aku akan selalu menemanimu.
Kesendirian menghampiriku. Kuat. Tapi, kesendirian yang kamu
rasakan sebelum kita bertemu pasti lebih sakit, bukan?
Haah, aku ingin tahu bagaimana kabarmu. Volume demi volume manga gambaranku terbit, dan tiga tahun pun
telah kubalik dengan begitu cepat. Tapi aku masih menantimu layaknya orang
bodoh.
Lalu, di suatu hari di musim panas, secarik surat yang masuk ke
mejaku bersama surat fans yang lain. Tapi rasanya surat itu
berbeda. Begitu kubuka, ternyata itu surat darimu. Kamu bilang, kamu selalu
membaca manga buatanku, dan kini kamu mengundangku
ke rumahmu. Lengkap dengan alamatnya.
Kamu bilang kamu akan memberikan sebuah kejutan.
Hatiku mengembang begitu cepat. Dan pada hari yang dijanjikan, aku
pergi ke alamat yang kamu berikan di surat itu.
***
Riuh hadirin yang memenuhi taman berdekorasi pesta pernikahan itu
mulai mereda, namun kedua lututku masih saja gemetar. Dari atas panggung, kamu
nampak anggun dengan balutan baju pengantin berwarnakan putih.
Sebuah misanga hijau masih melingkari pergelangan
tangan kirimu. Aku tersenyum melihatnya. Setidaknya, kamu masih mengingatku.
Dengan langkah yang gemetar, langkahku semakin mendekati panggung.
Di saat aku semakin dekat, kamu yang menyadari kehadiranku
langsung tersenyum padaku. Aku pun balas tersenyum padamu, juga pada pria di
sebelahmu. Namun saat kamu hendak mendekatiku, langkahmu terhenti karena misanga di tangan kirimu terlepas begitu saja.
Hatiku seolah mencelus sambil menatapnya nanar. Sebenarnya,
harapan macam apa yang kamu buat saat menyerahkan misanga itu padaku?