Archive for April 2015


Kau tahu kalau bintang itu tipuan mata terbesar di jagat raya?
Bintang yang kau lihat pada malam hari bukanlah bintang yang sesungguhnya. Yang kau lihat hanyalah wujud sinar bintang yang melewati jarak jutaan tahun cahaya.
Misalnya, jika malam ini kau lihat bintang yang berjarak dua juta tahun cahaya, itu artinya, bintang yang kau lihat adalah bintang dua tahun lalu.
Bagiku sendiri, sebetulnya ada hal yang—kurasa—lebih pantas disematkan titel ‘Tipuan Mata Terbesar di Jagat Raya’ dibanding bintang. Kau tahu apa itu?
Dirimu.
***
Pagi ini, sama seperti pagi-pagi lain yang kulalui selama tujuh belas tahun ini, langit tetaplah biru. Kau duduk di sana, di atas meja bambu di dekat pohon di samping kelasku, dengan wajah penuh warna. Dapat dengan jelas kulihat, matamu yang mengayunkan cinta, rambut hitammu yang kau pangkas sebahu, serta senyumanmu yang lugu, seperti anak panda yang habis mengunyah bambu.
Aku tanpa kesadaranku tiba-tiba bergerak ke arahmu. Gegas kuhiraukan buku yang belum sempat kusimpan dengan baik di atas meja. Jangan salahkan kedua tanganku ini yang begitu tak tahu diri ini karena coba mengapaimu, sebab angin membisikkan deru napasmu, dan dedaunan yang saling bergesekkan terus menyemangatiku.
Terhitung baru tiga langkah dari pintu kelas, saat kudengar satu suara memanggil namamu, aku terpaku.
“Lina, ayo ke kelas,” ajak lelaki itu.
Secara tiba-tiba kau menjauh. Antara tanah yang kau pijak dan tanah yang kuinjak terbentang bidang hitam yang tak terkira luasnya. Seolah jika satu senti saja aku mencoba menapaki bidang hitam itu, aku akan tenggelam dalam kegelapan.
Aku masih terpaku saat kau bangkit dan tersenyum pada lelaki itu.
Dapat dengan jelas kulihat, matamu yang mengayunkan cinta, rambut hitammu yang kau pangkas sebahu, serta senyumanmu yang lugu, seperti anak panda yang habis mengunyah bambu. Tapi, semua itu bukanlah untukku. Semua itu untuk lelaki yang berjalan di sampingmu.
Kau tahu bukan, kalau bintang itu tipuan mata terbesar di jagat raya?
Bagiku, kaulah tipuan terbesar di jagat raya.
Kau yang kulihat bukanlah dirimu yang sekarang; kau yang kulihat adalah dirimu tiga tahun lalu, saat masih jadi kekasihku. []

Catatan              :
[Cerita ini ikut meramaikan tantangan @KampusFiksi bertema #FiksiBuatPacarku]
Nama tokoh cewek dalam cerita ini Lina. Hmm, sebenarnya Lina itu empat huruf yang saya ambil dan saya susun ulang dari nama seorang cewek yang selama ini terus saya kagumi. Saya belum sempat jadi pacarnya, hehehehe.
Banyak sih yang ingin ditulis. Tapi, karena ‘dia’ juga pasti baca cerita ini, lebih baik jangan ditulis semua deh, bisa kepayahan saya nanti, ckckck. Satu saja yang ingin saya sampaikan, mengutip lagu Perfect Time dari Sheila On 7:
There is always a way for love
But sometimes not on the same road
Dreaming is the only land
Fits for you and me


Tipuan Mata Terbesar di Jagat Raya

Posted by : Unknown
Rabu, 08 April 2015
0 Comments
CHAPTER 6
Aproksimasi (Bagian Kedua)


Untuk Rizki,
Wah, sangat disayangkan, ternyata kamu benar-benar tak ingat. Huh, padahal aku yakin bakal seru jadinya kalau kita saling bertukar cerita lewat surat. Eh, ngomong-ngomong, aku jadi menemukan kesenangan lho saat menulis surat ini!
 Seolah, aku tidak sendirian!
Tapi, tentu aku tidak mungkin memegang pulpen dan kertas setiap saat, jadi ada waktu di mana aku jauh dari pulpen dan kertas, dan di saat itu aku benar-benar tersiksa. Aku jadi ingin tidak melakukan apa pun kecuali menulis.
Baiklah, pada surat kali ini, aku akan menceritakan padamu tentang bagaimana masa awal-awal SMA yang bisa dikatakan sebagai mawar yang berwarnakan pink. :p
ooOoo
Hari pertamaku di sekolah, sambil melihat teman-teman baru aku pun berkata dalam hati. Di kehidupan SMA yang baru ini, aku akan mencoba untuk berubah! Tidak akan lagi menjadi perempuan yang pendiam, yang gampang menangis, yang malas belajar. Aku ingin membanggakan orangtua!
Begitulah. Kemudian saat aku memasuki gerbang, hembusan angin yang begitu kencang datang dari arah halaman sekolah, menggetarkan aku yang masih ragu-ragu untuk masuk. Tapi kurekatkan tas yang kupakai.
Kalau kulihat-lihat, desain sekolah baruku ini tidak terlalu bagus. Gerbangnya meski baru dicat agak sulit dibuka. Pagar yang mengelilinginya tampak tak terurus. Begitu melewati gerbang, ada ruang kosong untuk parkir kendaraan yang cukup luas. Di sebelah kiri, ada satu jajar bangunan satu tingkat yang begitu suram (Aku baru tahu itu bangunan ekskul KAMPALA, Pramuka, dan sanggar). Di depan bangunan suram itu, ada ruang perpustakaan yang atapnya berlubang, serta buku-bukunya berdebu. Tempat itu saat pertama kumasuki lebih mirip tempat penjual buku loak dibanding perpustakaan.
Di sebelah kanan dari gerbang ada lapangan upacara serta bangunan dua tingkat milik kelas 12, ruang guru, Tata Usaha, serta Laboratorium. Di belakang ruang guru ada ruangan kelas 11, dan begitu aku melangkah lebih dalam, aku melihat ruang Konseling berada di samping perpustakaan, serta gedung dua tingkat milik kelas 10 yang kokoh di samping ruang Konseling, terpisah oleh lorong. Ada juga masjid dan lapangan olahraga saat aku melangkah lebih jauh. Di bagian paling kanan dan paling belakang, ada kantin.
Langit masih gelap saat aku duduk di depan kelas yang masih terkunci bersama beberapa siswa lain. Ya, sekarang sedang MOPDB, kami—murid-murid baru—disuruh hadir di sekolah paling telat pukul lima pagi lebih empat puluh tiga menit dua puluh satu detik. Ya! 5:43:21! Mengerikan, bukan?
Saat pertama kali mendapat surat edaran pun aku bergumam, wah, apa-apaan ini? Kenapa aku harus ke sekolah sepagi ini? Tapi karena ini rutinitas tiap tahun, dan aku pun tak berani bicara, maka aku menurut saja.
Aku duduk di lantai yang dingin. Selain jam masuk yang menyebalkan itu, ada juga peraturan lain yang tak kalah menyebalkan: papan nama dari karton yang ditulisi nama,gugus kelas,dan cita-cita, kemudian aku harus menggantungkannya di leher; tas yang kami gunakan haruslah dari kardus; perempuan harus mengenakan pita merah-putih di rambut; sepatu harus hitam; serta sederet peraturan lain yang bila kusebutkan semua pasti aku akan berteriak tidak tahan.
Baru saja aku dapat berbicara dengan seorang murid dari sekolah lain bernama Marlin, tiba-tiba dari arah lapangan datang seorang lelaki yang mengenakan seragam putih-abu dan di lengannya ada pita biru. OSIS.
Kami—siswa baru—dengan sigap langsung bangkit dan berbaris. Kakak OSIS itu sambil melipat tangan di dada memandangi kami satu per satu secara bergantian. Lelaki di barisanku yang paling kanan menjadi komandan.
“Salam Kakak OSIS!” ucapnya keras.
Dan yang paling menyebalkan, tiap kali bertemu OSIS dan dia minta salam, salam seperti inilah yang harus kami lakukan. Kutekuk kakiku sedikit hingga tubuh agak menjongkok, telapak tangan dibuka dan diangkat setinggi dada, kemudian mulai mengucapkan salam.
“Kakak-kakak OSIS, kakaknyaa ganteng. Kakaknyaa ganteng. Berasa kerennya!”
Sambil menyanyikan itu, tangan kami haruslah berputar-putar, dan bibir harus tersenyum. Seperti iklan tori-tori chees yang sempat populer itu. Apa ini selesai? Tentu tidak. Ada lagi satu-penghinaan-lain.
“Cememem!” kata lelaki di paling kanan, kali ini lebih mirip umpatan.
Kami memasang pose seperti tadi. “Ce-e-ceu em-e-me em-eme em! Cememem! Cememem! Cememem! Aye!”
Memalukan, bukan? Arrgh! Aku saja sampai ingin menangis tiap kali melakukan ini. Usai melakukan dua-penghinaan itu, kami berdiri tegak. Kakak OSIS itu mengamati perlengkapan yang kami gunakan. Dua orang di samping kiriku—seorang laki-laki, ditanya kenapa di papan namanya tidak tertulis cita-cita.
“Malu, kak,” anak itu berkelit.
“Memangnya kamu mau apa? Jadi copet?” Kakak OSIS itu membentak. “Yang punya pulpen atau spidol, sini, saya pinjem!”
Salah seorang dari kami memberi. Kakak OSIS itu menuliskan sesuatu di papan nama lelaki tadi. Selesai menulis, Kakak OSIS itu mengatakan kalau dia akan jadi penanggungjawab kami, Gugus Elang. Beres menjelaskan, pintu kelas dibuka, kami pun dipersilahkan masuk.
Begitu duduk, aku melihat anak lelaki tadi ternyata mendapat sebuah hadiah, yakni poin 5 buah, plus kolom cita-cita di papan namanya diisi seperti ini: Cita-cita saya mendapatkan nilai matematika 100. Bukannya tertawa, aku malah merasa kasihan.
MOPDB berlangsung dari senin hingga kamis. Dan setiap hari, kami diberi tugas untuk membawa makanan yang diminta Kakak OSIS. Masalahnya, Kakak OSIS hanya memberikan riddle tentang makanan yang harus kami bawa. Misalnya, pensil Persebaya FC. Nah, tahu apa artinya? Pensil Faber Casttle. Kalau pensil ini, aku masih tahu fungsinya.
Nah, pernah aku disuruh membawa nasi buruk rupa. Nasi goreng, karena goreng dalam arti Sunda berarti jelek. Wah, aku pun berpikir, buat apa bawa nasi goreng ke sekolah? Mungkin untuk makan bareng. Tapi ternyata nasi-buruk-rupa itu dikumpulkan dan tak tahu ke mana lenyapnya. Selagi makan bekal sewaktu istirahat, aku jadi ingin ketawa memikirkan anggota OSIS yang jumlahnya tak sampai 30 itu makan nyaris 300 kotak nasi goreng. Apa mereka sebegitu laparnya?
Sebetulnya, kalau bukan karena tingkah dan peraturan menyebalkan dari OSIS, MOPDB ini tidaklah buruk, sebab sekolahku memang betul-betul mengorientasikan kami dengan sistem SMAN 4. Mengenalkan sekolah beserta tata terbitnya; staff pengajar dan tata usaha; lokasi-lokasi sekolah; serta sistem pembelajaran.
Di hari pertama, usai upacara pembukaan, kami kembali ke kelas. Lorong begitu penuh hingga harus berdesak-desakan. Dikelas, Kakak OSIS memeriksa barang bawaan yang harus kami bawa. Kalau tidak membawa sesuatu, akan dapat poin. Konon, kalau poin kami sampai di angka tertentu, kami akan dibawa ke ‘Ruang Pengakuan Dosa’. Aku sendiri karena takut dengan ruangan itu, tak pernah berpikir untuk mendapat satu butir poin pun.
Usai pengecekan barang-barang, Kakak pembimbing kami memperkenalkan diri. Yang perempuan bernama Rahmi, yang laki-laki berkulit gelap namanya Fadli, sedangkan yang laki-laki berkulit putih namanya Fauzan.
“Pasal istimewa,” Kak Fauzan mengucapkan keras-keras. “Satu. Senior selalu benar. Dua. Jika senior salah, ingat pasal satu. Tiga. Bila bertemu senior, ucapkan salam. Empat. Gunakan EYD yang benar. Lima. Terapkan lima S. Ada pertanyaan?”
Perempuan di depanku mengangkat jari.
“Maaf Kak, untuk pasal nomor tiga, apa tiap bertemu senior harus cememem?”
“Salam yang satu lagi, bukan cememem. Cememem dan Kakak OSIS hanya jika diminta.”
“Salam yang bagaimana?” tanya gadis itu. Oh, sepertinya dia tidak masuk sewaktu hari jumat sebelum MOPDB, padahal saat itu dijelaskan peraturan dan salam-salam.
Tapi nyatanya Kak Fauzan tidak protes. “Untuk laki-laki, salamnya seperti ini: Wilujeng enjing raden kanjeng roro kang mas, dan sebutkan namanya. Untuk perempuan, salamnya seperti ini: Wilujeng enjing raden ajeng ayu roro dewi, dan sebutkan namanya. Paham? Tidak, tak ada pengulangan.”
Kejam.
Kak Rahmi melirik jam dan mengambil alih situasi. Ia mendekati Kak Fauzan dan membisikkan sesuatu. “Oke, sekarang waktunya materi. Siapkan catatan kalian, dengarkan baik-baik, dan pahami apa yang disampaikan oleh guru. Mengerti?”
Terdengar sahutan rendah.
“Mengerti?” Kak Fauzan seperti berteriak.
“Mengerti....”
Tak lama setelah itu seorang guru laki-laki masuk dan menjelaskan materi keagamaan. Aku kaget saat ternyata materi yang disampaikan adalah materi Islam. Dalam hati, aku ingin sekali meminta izin untuk keluar, tapi takut dimarahi. Alhasil, aku terus berdiam sampai materi usai.
ooOoo
 Kegiatan hari itu dilanjutkan dengan berbagai games dan latihan. Kami disuruh menghafal tiga buah lagu: Mars sekolah, Mars patriot olahraga, serta yel-yel gugus. Saat pertama kali ambil suara untuk Mars sekolah, suara kami betul-betul berantakan. Begitu latihan mencapai lima kali, suara kami mulai enak didengar.
Belajarlah...
Berjuanglah...
SMA Negeri 4 pasti jaya...
Kegiatan berakhir pukul lima sore. Saat senja merekah, dengan wajah yang lelah kami pulang. Karena tidak diperbolehkan membawa handphone, aku pulang naik angkot berdesakan dengan siswa lain yang sama sepertiku, ingin cepat-cepat semua ini berakhir.
Malam hari sekitar pukul sembilan, tubuhku seperti tercerai berai saking lelahnya. Yang bisa kulakukan hanyalah terbaring usai menyiapkan barang bawaan buat besok. Aku nyaris terlelap jika saja telepon dari Rizki tidak muncul.
“Ya?”
“Suaramu lelah sekali,” sahut Rizki di seberang sana. “Semoga kamu tidak lupa kalau kita akan menjalani hal seperti ini tiga hari ke depan.”
“Kamu itu ngerusak mood, tahu!”
“Biar mood kamu membaik, bagaimana kalau kita bicarakan soal hari ini? Setuju? Baik. Hmm, hari ini aku berkenalan dengan Adrian. Orangnya baik, kalau kupikir masak-masak, dia termasuk dalam kategori pendengar yang baik.”
Suara Rizki malam itu seperti bisikan yang membangkitkan sesuatu dalam diriku. Seberkas semangat yang menjagaku tetap terjaga. Bunyi suaranya begitu nyaman terdengar.
“Pendengar yang baik? Kayak gimana?”
“Begini,” Rizki berdeham sekali, seolah aku ada di hadapannya dan dia akan menerangkan sesuatu padaku. “Ada dua tipe orang. Satu, yang mendengar untuk menjawab. Yang satu lagi, yang mendengar untuk mengerti. Nah, Adrian ini termasuk tipe kedua. Bisa dipahami?”
“Ya, kurang lebih aku ngerti.”
“Kamu sendiri? Adakah sesuatu yang menyenangkan hari ini?”
Kupermainkan rambut sambil mengatakan, “Maaf, aku sedang malas bicara, hehe, kamu aja yang cerita, ya?”
“Hmm, oke. Omong-omong, aku sendiri tak setuju pada sikap OSIS yang begitu otoriter. Membentak hanya karena hal remeh, menghukum atas hal yang tidak masuk akal, melarang siswa kelas 10 melintasi lapangan atas. Aku sendiri lebih heran kenapa guru-guru membiarkan saja sikap senior yang seperti itu. Padahal, sikap seperti itu hanya menimbulka stigma negatif pada adik kelas. Dan yang jelas, pasti membuat MOPDB tahun depan tak jauh beda dengan tahun ini. Hanya pengulangan akibat dendam.”
“Aku juga berpikir begitu.”
“Eh, daripada membicarakan OSIS, lebih baik kita bicarakan hal lain. Apa yang sebaiknya kita bicarakan? Oh ya, apa yang kamu tulis di kolom cita-cita papan nama?”
“Jadi dokter, cita-cita masa kecilku, hehe.”
“Aku sendiri menulis sastrawan. Saat membaca itu, OSIS yang melihatnya mengatakan kalau aku pastilah jago menulis surat cinta atau puisi cinta, seolah yang ada di otaknya hanyalah cinta. Kalau bukan masa MOPDB, pasti orang itu kudebat. Coba pikir sedikit, untuk apa sekolah tinggi-tinggi kalau hanya untuk menulis surat cinta atau menulis puisi cinta?”
“Wah, aku terlalu lelah buat mikir, hehe.”
“Pokoknya, bayangkan sajalah. Kamu benar-benar kelelahan, ya?” Rizki bertanya simpatik.
“Begitulah. Kamu sendiri tidak lelah?”
Kutanya begitu, Rizki tidak mengatakan apa pun beberapa saat, sampai-sampai aku terpikir kalau mungkin tiba-tiba saja dia tertidur setelah menceritakan hal panjang lebar padaku. Tapi ternyata tidak.
“Aku lelah, kok. Tapi ada seseorang yang membuatku semangat,” suara Rizki terdengar lebih hangat. Nada suaranya begitu menyelinap lembut.
“Eh? Siapa? Kok kamu gak pernah cerita sama aku?”
“Apa aku harus memberitahukan semua rahasiaku padamu?”
“Ih, pelit! Cepet kasih tahu!” aku merajuk. Tapi karena Rizki bungkam, aku mulai menebak. “Sejak kapan suka sama dia?”
“Sejak SMP.”
“Wah, sekarang dia sekolah di mana?”
“Sama denganku.”
“Kelas berapa?”
Rizki mendengus. “Bukankah kamu lelah?”
“Tidak untuk hal ini,” aku membela. “Kelas berapa? Rizki, jawab, kelas berapa?”
“Sepuluh.”
Bip. Panggilan berakhir.

Chapter 6 - Aproksimasi (Bagian Kedua)

Posted by : Unknown
Minggu, 05 April 2015
0 Comments

- Copyright © 2013 Peziarah Kata - Shiroi - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -