Archive for April 2014
Berawal dari membaca buku Nihon Kara O Miyage karya Supriyanto yang saya pinjam dari perpustakaan, saya mendapatkan sebuah cerita yang sungguh membuat saya terenyuh, begitulah kata pak Supriyanto.
Ada baiknya kita mengetahui dulu siapa itu Hikubasha, yang saya sebut sebagai "Pembisik Perdamaian Yang Tak Pernah Bungkam." Secara bahasa Jepang, Hibakusha artinya 'orang yang terkena dampak ledakan.' Sedangkan ledakan yang dimaksud yaitu ledakan bom atom yang begitu dahsyat pada tahun 1945. Pasti tahu, bukan?
Menurut informasi yang saya dapat dari beberapa situs, Hingga saat ini para Hibakusha masih saja mendapatkan diskriminasi karena luka atau penyakit yang mereka derita. Sungguh menyedihkan.
Penyakit yang mereka derita pun bukan penyakit yang bisa disembuhkan dengan cepat, karena mereka menderita penyakit yang cukup parah dan membutuhkan biaya yang sangat besar untuk mengobatinya, contohnya Leukemia. Tak perlu ditanya lagi, betapa mengerikannya penyakit itu. Apalagi biaya untuk menanganinya. Luar biasa mahal. Untuk itulah, pemerintah Jepang memberikan asuransi kesehatan bagi mereka. Alhamdulillah.
Hibakusha ini dibagi menjadi dua kelompok:
- Pertama yaitu orang-orang yang berada di sekitar satu mil dari pusat ledakan bom.
- Kategori kedua yaitu orang-orang yang berada pada jarak satu dan satu seperempat mil dari pusat ledkan bom (Hiposentrum)
Orang-orang yang terkena dampak radiasi secara tidak langsung juga dianggap Hibakusha, misalkan anak-anak yang masih dalam kandungan dan terkena radiasi.
Saya sangat tersentuh membaca kisah tuturan Chiyoko Watanabe, seorang ketua Himpunan Perawat Daerah Hiroshima sejak 1987 (Buku yang saya kutip itu ditulis berdasarkan pengalaman tahun 2003). Saat peristiwa pengeboman itu, Chiyoko masih berusia 23 Tahun dan menjadi salah seorang perawat di sebuah rumah sakit yang berjarak 1,5km dari hiposentrum. Berikut saya kutip ceritanya yang ada dalam buku.
kilat dan topan bagaikan topan mencapai ruang kami melalui gang dan menghancurkan segala-galanya yang ada di depannya. Saya terhempas ke bawah meja. Bernafas menjadi sukar karena debu beterbangan. Tidak dapat saya buka mata saya. Sesudah beberapa menit saya baru sadar kembali. Dahi saya luka oleh pecahan kaca dan darah menghalangi penglihatan saya, sehingga dengan susah-payah saya bisa keluar. Waktu saya turun ke bawah, saya terperanjat oleh apa yang saya lihat. Staf dan pasien mondar-mandir dalam kebingungan. Seorang siswa SMP, laki-laki, yang kulitnya terbakar sampai hitam, mukanya mengembung, bibir membengkak, kemeja terbakar dan tanpa sepatu, lari ke arah saya dan berkata : "Tolong, tolonglah saya."
Lalu saya skip beberapa bagian yang menjelaskan kalau masih ada orang yang terjebak di rumah yang terbakar. Setelah hari itu, mereka membuat bangsal sementara dan tak mendapatkan makan. Lalu saya kutip lagi.
Luka bakar; yang dibiarkan hampir tidak diobati selama sehari, sangat mengerikan untuk dilihat. Kami membuat larutan asam borat banyak-banyak untuk mendesinfeksinya, dan membuat pembalut untuk menutup luka-luka itu, karena tak dapat kami jahit.Waktu mengganti pembalut, saya sendiri hampir pingsan, karena nyeri dan kehilangan darah.
Kami terkejut melihat kenyataan yang tak terperi di rumah sakit. Belatung menetas dalam otot-otot yang terbakar. Yang dapat kami lakukan hanya mendesinfeksi dan mencuci luka-luka itu. Di daerah yang terbakar lepuh muncul dan terkupas. Larva berbagai ukuran dikeluarkan. Bau yang sangat busuk menyerang hidung saya.1Saya kira dua kutipan di atas cukup untuk mengingatkan betapa ngerinya dampak bom atom. Saya tekankan. Itu bom atom pada tahun 1945. Lalu, bagaimana dengan daya rusak bom atom sekarang ini, yang sudah terbantu dengan mewahnya teknologi? Sungguh tak terbayang, dan saya pun tak mau membayangkan dampaknya yang pasti sangat dahsyat.
Lalu apa hubungannya Hibakusha dengan pembisik perdamaian?
Ternyata setiap tahun ada peringatan hari perdamaian yang diselenggarakan di Hiroshima. Nah, cobalah tanya para Hibakusha yang masih ada tentang betapa nyerinya dampak bom atom yang berakar dari perang.
Maka dari itu, tak berlebihan bukan, jika saya mengatakan Hibakusha ini para pembisik perdamaian yang tak pernah bungkam?
Referensi:
1 Supriyanto, 2006, Nihon Kara O Miyage, Bandung,
Sinergi Pustaka Indonesia, halaman 133-135
Hibakusha, Pembisik Perdamaian Tak Pernah Bungkam.
Distrik 15, Negara Wyver
Musim Panas Kelabu Ke –
200
3 Agustus, 2000.
Seisi kota Wyver dibuat
kocar-kacir saat bangsa Aquilan menghantamkan angin berbentuk bola berduri pada
pusat kota, menghancurkan istana yang tak terlindungi Shishou. Jumlah wyzard yang tersisa bisa
dihitung jari, dan kini hanya mengelilingi Ratu Wyveriana III yang ketakutan
setengah mati di singgasana.
Sementara selusin
pasukan Aquilan memborbardir istana, satu-dua Aquilan yang berbadan tegap serta
hidung panjang-patah itu mengepakkan sayapnya di antara susunan rumah beratap
datar di distrik 15.
Wyzard : Beginning -- Chapter 1
Judul : AnoHana (Ano Hi Mita Hana no Namae wo Bokutachi wa Mada Shiranai)
Alternatif : Kita Belum Tahu Nama Bunga Yang Kita Lihat Hari Itu
Status : Finished, 11 episode.
Tayang : 15 April 2011 - 24 Juni 2011
Genre : Drama, slice of life, romance
Karakter + Seiyuu :
Main Character :
- Honma Meiko (Menma) : Ai Kayano
- Yadomi Jinta (Jintan) : Miyu Irino
Supporting :
- Anjou Naruko (Anaru) : Haruka Tomatsu
- Tsurumi Chiriko (Tsuruko) : Saori Hayami
- Matsuyuki Atsumu (Yukiatsu) : Takahiro Sakurai
- Hisakawa Tetsudou (Poppo) : Takayuki Kondou
Garis Besar Cerita :
Tentang persahabatan 6 anak sewaktu kecil yang hancur setelah kematian Menma yang terjatuh ke sungai. Jintan yang dulu seorang Leader, kini dikenal sebagai seorang yang anti-sosial. Tapi kehidupan Jintan benar-benar berubah saat suatu hari di musim panas, roh Menma kembali mendatanginya. Menma kembali karena ada keinginannya yang belum ia kabulkan. Repotnya itu, hanya Jintan yang bisa melihat Menma, dan Menma juga tidak tahu apa keinginannya. Yang jelas, Menma meminta Super Peace Buster(begitulah nama grup 6 sahabat itu dulu) untuk kembali berkumpul.
Nah, demi mengambulkan permintaan Menma ini, Jintan pun benar-benar berubah total! Berusaha mengumpulkan sahabatnya yang terpecah-pecah, terutama Yukiatsu, sambil terus berusaha mencari tahu apa keinginan Menma yang belum terkabulkan.
Review
Anime yang keren, begitulah menurutku setelah menontonnya, dengan mata yang sudah basah (Heuheu, lebay). Tapi emang kok, anime ini keren. Recomended! cerita yang unik, dipadukan dengan karakter yang kuat. Menma yang polos, Yukiatsu yang munafik, Jintan yang pengecut, Anaru dan Tsuruko yang memendam rasa terlalu lama, sampai Poppo yang sok ceria tapi ternyata... Huaaah
Jujur, tiga episode awal itu lagu opening dan endingnya menurutku kurang cocok. Tapi setelah selesai nonton animenya, lalu denger endingnya "Secret Base - Kimi Ga Kureta Mono (10 years after ver.)" itu bener-bener berasa...
Tema yang diangkat sendiri sederhana, tidak rumit seperti kebanyakan anime lain, tapi justru aku suka tema seperti ini, karena langsung fokus sejak awal. Friendship, itulah yang diusung utama dalam anime ini, meski dibumbui romance.
Kalau kekurangannya sendiri, menurutku terlalu banyak flashback, yang menurutku hanya cukup sekali ditayangkan, juga aku kurang ngerti, kenapa Menma tiba-tiba muncul di hadapan Jintan? Apa karena Jintan sang leader yang begitu mencintainya? Entahlah.
Nonton anime ini sendiri karena digoda temen, katanya kalau mau nangis, tonton anime ini. Tapi jujur aja, aku baru bener-bener sedih sewaktu di Ending, dimana Jintan kehilangan kemampuannya melihat Menma, lalu Menma memutuskan untuk bermain petak umpet untuk menutupi kesedihannya.
Karakter yang paling kusuka sendiri Tsuruko. Aaah kasihan Tsuruko~
Overall, ratingku untuk anime ini 9/10 karena epicnya cerita dan penyelesaian, apalagi karakter Yukiatsu yang benar-benar berkesan dengan sikapnya.
.
AnoHana ~ Ano Hi Mita Hana no Namae wo Bokutachi wa Mada Shiranai
Seringai senyum kutarik paksa di bibirku yang terbalut gugup. Kurekatkan lagi blazer hitam yang memelukku, saat pandangku berlabuh pada pendaran lampu dari lantai dua rumah yang benderang itu. Dia melambai padaku, sosoknya berhasil kucuri saat rembulan malu-malu memberikan sinarnya. Adinda.
Adinda makin
memancarkan cantiknya seiring langkahku yang kini berada di hadapan pintu
rumahnya. Senyumnya mempersilahkanku masuk, sementara lelaki di sampingnya
mengusirku dengan tatapan sinisnya.
Aku malah membalas usiran itu dengan seringai dan langkah kaki yang yakin.
***
Riuh memecah
seisi ruangan saat Adinda menuruni satu per satu anak tangga, menyebarkan
pesonanya yang sempurna. Malam itu ia bersinar, lebih menyilaukan dari lampu
yang menggantung di atasku.
Langkahnya
makin merekahkan tiap pasang mata, membuat sebagian pandang terkesiap melihat
bidadari yang menjentikkan jarinya pada pegangan kayu yang halus. Mataku seolah
tertuju padanya, padahal kusorot lelaki di sampingnya yang menampakkan kemuakkan
luar biasa di tiap langkahnya.
Tak ada yang
memperdulikan seorang manusia saat berjalan di samping bidadari.
Setelahnya
ruangan kembali tenang, meski bisik-bisik masih melayang, nyaris tak terdengar.
Setelah tetek-bengek lain tentang prosesi pertunangan, tiba saat-saat yang
paling kutunggu.
Senyumku
bertemu senyum Adinda, tapi pandangku terus mencuri-curi wajah lelaki yang
duduk terhalang tubuh bidadari di hadapanku ini. Lengannya terlihat mencengkram
lututnya keras-keras. Kutusukkan seringai padanya.
Lalu kurendahkan
tubuhku, dan kujawil jemari lentik Adinda. Desahan tertahan terdengar
sayup-sayup, tapi aku tak peduli. Kulanjutkan dengan memasangkan cincin
pertunangan pada jari manis Adinda.
Kuangkat
wajahku, dan kudapati pelupuk mata Adinda berair. Terharu. Sementara aku,
tersenyum kecut.
Maafkan aku,
Adinda. Maaf telah menebar benih kebusukan di tengah ladang cintamu yang suci.
Kembali
kucuri pandang ke arah lelaki yang kini rahangnya gemertak. Wajahnya merah
padam. Tentu saja tak akan ada yang menyorot lelaki yang termakan amarah setan
saat di hadapannya ada bidadari yang bertemu pangeran tampan.
Kuangkat
senyum dan alisku berbarengan dalam sekian detik padanya, sebelum akhirnya mencium
punggung lengan Adinda. Lembut.
***
“Tadi
romantis sekali, bukan?”
“Ya... Kukira
begitu.”
“Mana ucapan
selamatmu?”
“Selamat.”
“Hanya itu?”
Kutahan
langkahku hanya untuk mendengar pembicaraan yang berakhir dengan sendirinya
itu. Suara Adinda terdengar melenguh kesal, saat tak lagi kudengar suara lelaki
itu. Segera kujejakkan langkahku.
Ternyata dia
langsung bereaksi saat melihatku. Bengis. Sementara Adinda terlihat kikuk,
sepertinya dia memilah-milah mau bicara apa di depanku. Kukembangkan saja
senyumku sambil terus mendekat.
“Langitnya
indah, yah,” Adinda bergumam sambil membalikkan tubuhnya. Kini ia
memunggungiku.
“Ya, indah,”
sahutku. Kusandarkan punggungku pada pagar kayu yang terasa menyesakkan,
dipenuhi kebencian lelaki itu yang menjalar. “Bisakah aku bicara berdua dengan
Devan?”
Devan
menyikutkan pandangnya padaku. Ia pasti merasa terganggu, karena memang
seharusnya tak ada yang perlu kami bicarakan. Bahkan aku pun ragu, masihkah aku
berhak bicara padanya setelah apa yang kulakukan?
“Aku ikut.”
Adinda menatapku teguh. Beginilah sikapnya, selalu ingin ikut campur. Tak
terlalu bagus menurutku.
“Perbincangan
antar lelaki.” Kusentuh hidung manisnya dengan jemariku. Membuat bekas merona
di kedua pipi Adinda, tapi berhasil membuat gadis itu beringsut pergi dengan
senyum malu.
Setelah
langkah Adinda tak lagi terdengar, hening langsung menyergap.
Kutelusuri
guratan pagar kayu ini perlahan, lalu dengan iseng jemariku berhenti di bahu
Devan yang bergeming. Kaku. Entah sumpah-serapah macam apa yang ia muntahkan
dalam hatinya, yang jelas ia benar-benar tak ingin bicara denganku.
“Malam yang
indah, bukan?”
Kubuka
percakapan yang beku ini, meski aku tahu kalau Devan tak akan menyahut sedikit
pun. Dia pasti hanya akan terus berdiam, dan berdiam, lalu pergi dan mengatakan
pada Adinda kalau aku sudah selesai bicara.
Selalu
seperti itu.
Tapi malam
ini berbeda. Setidaknya, inilah hal terakhir yang bisa kulakukan untukmu,
kawan.
Dalam gerakan
cepat, aku duduk selonjor di hadapannya. Pandangnya dipalingkan, membuatku
merasa makin lelah bersamanya.
“Lihatlah
dirimu, Devan. Sungguh menyedihkan,” cibirku. Tingkah Devan yang tetap
bergeming membuat kesalku meninggi. “Apa yang kau miliki sekarang? Aku sudah merebut
Adinda, adik tiri yang dulu kau cintai sebelum orangtua kalian menikah!”
Devan masih
mengunci mulutnya, membuatku benar-benar mencekik otakku untuk mengatakan
sesuatu yang lain.
“Lembut dan
wangi,” kuendus telapak tangan kananku yang terbuka. Seringaiku mengekor.
“Apa?”
Dia bereaksi. “Punggung lengan Adinda.”
Terdengar
geraman tertahan yang kuhiraukan. Selanjutnya kulingkarkan lenganku sendiri,
seperti sedang memeluk seseorang. Bibir hidungku merekah, pura-pura menghirup
sesuatu.
“Tubuhnya
terasa hangat, rapuh, dan wangi.”
“Brengsek...”
Kata itu nyaris tak terdengar, jika saja gertakan gerahamnya tak
mengucapkannya. Bagus, keluarkan lagi, kawan... Lagi!
Inilah
senjata terakhirku. Kugoreskan jemariku pada bibir tipisku, lalu mengecapnya,
seolah ada rasa manis di ujung jemariku yang hampa. Sekuat tenaga kutarik
senyum sinisku sambil berkata. “Terutama bibirnya, seperti stroberi.”
“BRENGSEK!”
Sebuah
pukulan menghantam wajahku. Telak. Wajahku terpaling, imbas luapan emosinya
yang tertahan selama setahun penuh. Aku belum puas, belum puas! Kutarik lagi
seringai sambil menatapnya dengan ekor pandangku.
“Kau kesal?
Kenapa tidak kau katakan dari dulu kalau kau menyukainya?” Aku setengah
berteriak mengatakannya sambil berdiri. Sorot kami bertautan.
“DIAM!”
Hardiknya. Pukulan lain menghujam perutku, membuatku terhuyung beberapa
langkah, lalu berpegangan pada salah satu tiang rumah yang beku. Daven
menundukkan kepalanya. “Kau tidak tahu apa-apa!”
Aku masih
belum puas! Langkahku yang lemas kembali mendekatinya, lalu kucengkram kerah
pakaiannya yang sudah pasti akan ia buang setelah hari berganti.
“Kalau kau
mengatakannya sejak dulu—”
Tendangan
kekesalan yang terpendam selama setahun tertanam di perutku. Punggungku terpaku
pada tiang tadi, sebelum tubuhku perlahan merosot.
“—Mungkin aku
tak akan melamarnya malam ini—”
Wajahnya
dipalingkan, tapi bulan menyorot matanya yang menampakkan penyesalan luar
biasa.
“—sahabatku.”
Pandangku
berkunang-kunang. Dengan sisa tenagaku, kembali kulanjutkan ucapakanku di
sela-sela nafasku yang terbatuk-batuk.
“Tak ada yang
melarangmu menyukai adik tirimu sendiri, kawan.”
Sesaat
sebelum duniaku menggelap, hatiku bersorak girang. Aku bahagia, karena bisa membuat Devan jujur
pada perasaannya sendiri.
Kuharap
luapan emosinya tadi yang meneriakkan rasa cintanya yang tak kunjung dicuapkan
mulutnya, walau sudah sangat telat. Sungguh. Sangat. Telat.
***
Cerita ini diikutsertakan
dalam tantangan menulis @KampusFiksi tentang #KarakterJahat
***
Pertunangan
Akui saja, kawan, aku yakin sebenarnya kau takut.
Tak masalah jika kau mengakuinya, karena kuakui, aku juga takut.
Kita berdua akan melangkah ke entah, hanya didampingi pengetahuan dan
kemauan yang menggebu-gebu meminta lagi dan lagi. Kutatap langit barat,
sementara kau siap melangkah ke langit timur. Kita akan berpisah.
Kita duduk di salah satu kursi bandara, canda dan tawa kita saling
merangkul. Kuharap bukan untuk yang terakhir kalinya. Berbincang tentang masa
lalu yang tersusun rapi di langit bersih pagi ini, sesekali terdiam. Merenung.
Aku tahu langkah kita berat.
Kita pernah membahas ini, bukan?
Tentang ketakutan kita yang sama. Takut tersesat saat tak ada yang
mengayomi di tengah badai keasingan. Saat membaca di kegelapan hening, kita
takut langkah kita salah. Lalu kita akan menangis dalam diam, menyesali
perpisahan kita.
Tapi tak masalah, kawan. Sendiri bukan berarti tersesat, dan tersesat tak
selalu sendiri. Kalau kau ragu, coba kau rangkai kesendirianmu menyerupaiku,
yang akan selalu setia mendengarmu. Aku pun akan melakukan bersama.
Jika kau merasa hilang dalam kegelapan rasa takut, dengarlah suaraku yang
akan dihantarkan angin. Kita akan saling menyemangati dalam damai. Bukankah kau
sendiri yang selalu mengatakan kalau dalam kegelapan, atau pun kesendirian
selalu ada kedamaian? Nah, pada saat itulah suaraku akan mendatangimu.
Panggilan pesawatmu terdengar. Kopermu siap kau seret, saat jabatan
tanganmu terasa hangat dan bergetar. Banyak rasa tercampur. Takut. Sedih.
Rindu. Senang. Entah rasa apalagi yang tak bisa kujelaskan dalam sekian detik
jabatmu.
Lalu kau melambaikan tanganmu.
Hingga saat terakhir, kau terus tersenyum. Tidakkah kau merasa sedih
sepertiku? Jujur saja, jika saja aku perempuan, akan kupeluk tubuhmu dengan
tangisku selama mungkin, tak peduli pada apa kata orang. Hingga akan terlepas
saat kau meminta.
Tapi kita lelaki, dan ego kita masih terlalu tebal melapisi wajah kita
yang terus menautkan senyum miris.
Tanpa kuduga, kau kembali. Menyodorkan kepalan tanganmu sambil tersenyum
padaku.
“Kawan, ayo kita bertemu lagi. Lalu akan kutunjukkan bidadari yang
kudapat selama belajar. Kau juga, oke?”
Kuadukan kepalan tanganku yang meringis.
“Ya, ayo kita lakukan.”
Salam Perpisahan
(ilustrasi. Sumber: kaskus.co.id)
Teriakmu aku gila,
Saat aku tertawa bahagia sambil bersuit-suit menyaksikan panggung sandiwara dunia. Kamu berkoar-koar memuntahkan kata-kata kasar pada pemeran sandiwara yang kalah, bukan pada yang salah. Karena mereka mengingatkan siapa dirimu.
Teriakmu aku gila,
Saat kusenyumi fajar yang sunyi, pada matahari yang meradang, pada senja tua, dan pada malam yang padam. Kamu mengaduh pada fajar yang terlalu subuh, mengerang pada matahari yang garang, lalu menjahit mimpi suram pada malam yang kelam.
Teriakmu aku bisu,
Saat persediaan senangku habis, kuisi waktuku dengan melipat diam. Kamu menjajakan kebusukan orang lain, agar sekiranya dapat mengais-ngais percakapan, karena kamu sangat bermusuhan dengan keheningan.
Teriakmu aku penakut,
Saat senyumku yang mulai terisi malah tercekat kilat yang merambat, aku tertunduk lalu duduk tepekur. Kamu malah mengumpat, dengan tegak mengenakan panji berani yang semu, padahal nyalimu terbirit-birit ke entah.
Teriakmu aku gila,
Tapi kenapa tiap malam kudengar kamu menggeluti frustasi dengan amarah saat aku mengulas senyum dalam lelap?
Lalu kenapa kaucibir tiap senyum tulus wajah-wajah yang hanya ingin beramah-tamah itu?
Kalau kamu merasa tersiksa hidup bersama derita, kenapa tidak kamu berubah saja menjadi gila sepertiku?
Lalu kita berdua akan menyantap malam dengan tawa, saling mengayomi saat angin menguliti. Bukankah dunia akan terasa lebih indah?
Teriakmu Aku Gila
Time
Riders
oleh
Alex Scarrow
Penerbit : Elex
Media Komputindo
Editor :
Andriyani
ISBN :
9786020221007
Format Cover : Soft Cover
Ukuran :
13.5 X 20
Est. Terbit :
30-Oct-2013
Tebal : 432 Hlm
LIAM O’CONNOR harusnya meninggal di lautan pada tahun 1912
MADDY CARTER harusnya meninggal di dalam pesawat pada tahun 2010
SAL VIKRAM harusnya meninggal dalam kebakaran pada tahun 2026
Tapi sesaat sebelum kematian mereka, seseorang muncul secara
misterius dan berkata, “Raih tanganku....” Tapi Liam, Maddy, dan Sal bukanlah
diselamatkan. Mereka direkrut oleh sebuah agen rahasia yang tidak diketahui
siapa pun, dengan satu-satunya tujuan—memperbaiki sejarah yang diubah.
Karena adanya perjalanan waktu ini, dan karena mereka yang ingin
kembali ke masa lalu dan mengubahnya. Maka TIMERIDERS ada untuk melindungi
kita. Untuk menghentikan perjalanan waktu yang bisa menghancurkan dunia....
Time Riders - Alex Scarrow
Secercah sinar yang tiap pagi kau hidangkan padaku adalah semu. Nyatanya, meja makanku kini kosong, dan aku pun sangat lapar akan senyummu yang memuaskan hati buasku tiap kupandang. Langkahmu yang menyelinap melewati senyap bagai alarm pagiku, yang kini aku meringkuk menantinya di atas kursi.
Kau adalah bayang yang diciptakan kesendirian yang lelah mendengar lolonganku yang kian mengerikan.
Pandangmu yang teduh hanya pendaran lampu yang tergantung di sudut. Pelukmu yang hangat tak lebih dari dekapan angin yang kian garang menggagahiku. Juga bibirmu yang merah semu... Ah! Aku tak kuasa mengungkapnya!
Kau sangat kejam.
Menerangiku dengan secercah lilin harapan, lalu menelanku pada kenyataan yang dulu kuacuhkan. Berkata padaku bahwa semuanya baik-baik saja, bahwa angin dingin tak akan lagi menyergapku karena kau akan selalu memelukku.
"Kau tidak berbohong. Dunialah yang berbohong padamu," katamu sebelum hilang kemarin.
Mana mungkin aku mempercayainya, jika kini hadirmu tak lebih dari keheningan yang membisu. Aku seorang pembohong yang dipasung kebohonganku sendiri, dan kamu... mungkin kamu adalah semu yang dibuat untuk mengingatkan siapa diriku.
Aku hanyalah seonggok hati yang termakan kesendirian hingga menjadi buas, sementara kau bagaikan inti matahari yang menyinariku, memberiku harapan, memberitahuku bahwa setidaknya aku masih hidup.
Atau mungkin saja... Kau adalah kebohonganku yang menjadi kenyataan?
Pembohong
*Tulisan ini buat tantangan dari @kampusfiksi tentang #DeskripsiSetting*
***
(1)
***
Hingar bingar
kota mulai redup seiring langkahku yang menjauh. Selesai kudaki bukit yang
cukup tinggi ini, angin malam langsung menyambutku dengan dinginnya. Membuatku
makin merapatkan jaket.
Mataku
beringsut membesar saat kusadari bangunan itu tampak begitu indah. Tokyo Tower.
Ia bagaikan matahari yang menyinari Tokyo di malam hari, sementara
gedung-gedung di sekelilingnya—yang semuanya nyaris mengeluarkan cahaya biru,
bagaikan planet dan asteroid yang mengelilinginya.
Bising sudah
lenyap. Bau kehidupan pun nyaris tak tercium di sini. Yakinlah aku sekarang,
Tokyo Tower benar-benar nyawa kota Tokyo, membuat kota ini bernyawa dan
berwarna, yang kemudian memaksaku mengingat seseorang.
Hiyori…
Baru saja
kusadari satu hal, nyaris tak ada bintang yang terlihat. Pasti kalah terang
dibanding kota ini.
Ah, aku tak
bisa berlama-lama memandangi bangunan itu, yang benar-benar mirip dengan Hiyori
bagiku. Pemberi kehidupan, pemberi warna, penawar hambar, begitu menyilaukan.
Untuk
terakhir kalinya, kutatap selama mungkin bangunan yang terangnya masih tak
berkurang itu. Tak ada bangunan lain yang setara dengannya. Sesaat setelahnya,
sebuah pertanyaan menggelitik meloncati pikiranku.
Apa Tokyo
Tower tidak merasa kesepian?







