Posted by : Unknown
Sabtu, 12 April 2014
Akui saja, kawan, aku yakin sebenarnya kau takut.
Tak masalah jika kau mengakuinya, karena kuakui, aku juga takut.
Kita berdua akan melangkah ke entah, hanya didampingi pengetahuan dan
kemauan yang menggebu-gebu meminta lagi dan lagi. Kutatap langit barat,
sementara kau siap melangkah ke langit timur. Kita akan berpisah.
Kita duduk di salah satu kursi bandara, canda dan tawa kita saling
merangkul. Kuharap bukan untuk yang terakhir kalinya. Berbincang tentang masa
lalu yang tersusun rapi di langit bersih pagi ini, sesekali terdiam. Merenung.
Aku tahu langkah kita berat.
Kita pernah membahas ini, bukan?
Tentang ketakutan kita yang sama. Takut tersesat saat tak ada yang
mengayomi di tengah badai keasingan. Saat membaca di kegelapan hening, kita
takut langkah kita salah. Lalu kita akan menangis dalam diam, menyesali
perpisahan kita.
Tapi tak masalah, kawan. Sendiri bukan berarti tersesat, dan tersesat tak
selalu sendiri. Kalau kau ragu, coba kau rangkai kesendirianmu menyerupaiku,
yang akan selalu setia mendengarmu. Aku pun akan melakukan bersama.
Jika kau merasa hilang dalam kegelapan rasa takut, dengarlah suaraku yang
akan dihantarkan angin. Kita akan saling menyemangati dalam damai. Bukankah kau
sendiri yang selalu mengatakan kalau dalam kegelapan, atau pun kesendirian
selalu ada kedamaian? Nah, pada saat itulah suaraku akan mendatangimu.
Panggilan pesawatmu terdengar. Kopermu siap kau seret, saat jabatan
tanganmu terasa hangat dan bergetar. Banyak rasa tercampur. Takut. Sedih.
Rindu. Senang. Entah rasa apalagi yang tak bisa kujelaskan dalam sekian detik
jabatmu.
Lalu kau melambaikan tanganmu.
Hingga saat terakhir, kau terus tersenyum. Tidakkah kau merasa sedih
sepertiku? Jujur saja, jika saja aku perempuan, akan kupeluk tubuhmu dengan
tangisku selama mungkin, tak peduli pada apa kata orang. Hingga akan terlepas
saat kau meminta.
Tapi kita lelaki, dan ego kita masih terlalu tebal melapisi wajah kita
yang terus menautkan senyum miris.
Tanpa kuduga, kau kembali. Menyodorkan kepalan tanganmu sambil tersenyum
padaku.
“Kawan, ayo kita bertemu lagi. Lalu akan kutunjukkan bidadari yang
kudapat selama belajar. Kau juga, oke?”
Kuadukan kepalan tanganku yang meringis.
“Ya, ayo kita lakukan.”
