Archive for Desember 2014
Saya menulis
ini diakibatkan sebuah keinginan tertawa saat mengingat kejadian sewaktu UAS
beberapa hari kemarin, tepatnya pada saat pelajaran PLH, yang paradoks dengan
postingan di halaman facebook saya malam ini.
Karena saya
tipe orang yang suka good ending, maka, kita awali saja dengan hal ini.
Ada sebuah
kejadian yang mengejutkan, tentang tweet Ustadz Yusuf Mansur yang isinya
mengkritisi sebuah postingan yang muncul di laman sebuah portal berita online,
yang secara sengaja saya tidak cantumkan agar tidak menimbulkan dikotomis yang
makin panjang.
Intinya,
berita itu seolah-olah berkata kalau cara berdo’a di sekolah akan diganti,
karena dianggap tidak BerkeTuhanan Yang Masa Esa, melainkan berdasarkan tradisi
satu agama, dalam hal ini Islam. Dan, masih dalam kutipan berita itu, Anies
Baswedan mengatakan sedang mengkaji perubahan tata cara berdo’a yang sekarang
diterapkan.
Nah, usai
Ustadz Yusuf Mansur men-tweet protesnya terhadap postingan itu, malam
harinya, Pak Anies menghubungi Ustadz guna klarifikasi. Intinya, portal berita
itu salah kutip. Saat itu juga Ustadz langsung mengumumkan klarifikasi itu. Clear.
Padahal
cerita kita ini sudah usai dengan happy ending, di mana Ustadz Yusuf
Mansur dengan elegan menampilkan secara sederhana dan kentara tentang
kerendahan hati dan berani meminta maaf.
Pun dengan pak Anies yang fast response menanggapi berita ini.
Tapi, eh
tapi, pembaca sepertinya kurang puas, seolah meminta halaman lebih setelah
epilog. Maka, bermunculanlah berbagai postingan berbau ‘miring’ (Sebetulnya
saya heran, sejak kapan miring jadi keluarga bebauan?) yang dengan konyolnya,
bukan lagi membahas tentang masalah aqidah, tapi malah menyeretnya ke
ranah politik.
’Kan lucu,’ lalu saya
ingat dialek khusus pak Tantan, lengkap dengan gerakan tangannya. Ya, amat lucu
sekaligus mengerikan memang, saat sebuah perdamaian malah dipakai meruncingkan
dikotomi; memanasi hal yang memang sudah panas.
Tak berhenti
sampai di situ, pada saat saya iseng membuka facebook guna mengontak
seorang kawan, di beranda saya dengan jelas ada seorang kawan—yang nama dan
suaranya disamarkan seperti acara investigasi di The Snow White Murder
Case—menyebar postingan dari situs abal-abal, sambil menambahkan kalimat
beraroma marah yang kira-kira barang tentu tidak pantas saya ungkit kembali.
Intinya, kawan saya ini marah pada Pemerintahan Jokowi berlandaskan berita
tanggapan orang lain terhadap kasus Ustadz Yusuf Mansur – pak Anies Baswedan.
Saya dengan
kalem berkata, “Bro, kita berantem aja, yuk!” eh, salah. Maksud saya, kira-kira
begini: “Soal ini, Pak Anies sudah klarifikasi. Intinya, penulis berita itu
salah kutip. Sila cek tweet Ustadz Yusuf Mansur.” Dan, sampai saat
tulisan ini diposting, kawan saya itu belum menjawab komentar saya. Mungkin dia
sedang asyik menggandrungi ranah twitter yang mengasyikkan itu.
Malah, ada
lagi salah seorang kawan, lagi-lagi kawan facebook, yang memposting
berita senada dengan kawan saya di atas, yakni kalau kita sekarang sedang diuji
reaksi terhadap sebuah kebijakan. Situsnya tidak akan saya beritahu, karena
nanti banyak sapi yang memakan rumput di pekarangan rumah.
Apa yang
menarik dari dua kawan saya diatas adalah, bagaimana reaksi marah mereka tanpa
fondasi yang kokoh. Ya, tanpa fondasi yang jelas, pendapatnya pun tidak rapi,
cacat logika, baik dilihat dari sudut diakronik maupun sinkronik. Kenapa? Karena mereka belum tahu berita yang
sebetulnya, mungkin juga mereka tidak punya waktu untuk berstereotip, karena
sibuk menyapu isi kepala mereka yang berbunyi “Kelentang, Kelentong.” tiap
digoncangkan.
Marah mereka
sungguh tak rasional di mata saya. Seolah baru melihat separuh Interstellar,
lalu pergi dan membuat review, “Awal Interstellar itu gak jelas, masa’
film scifi tapi ngebahas hantu yang ngejatuhin buku?” padahal semua itu
dibahas di ending film. Sama seperti mereka, tak tahu alur ceritanya,
bahkan tak tahu kalau ending-nya sudah happy antara Ustadz Yusuf
Mansur dan pak Anies Baswedan.
Nah, bagian
pertama sudah, sekarang kita ngelantur di bagian kedua.
Jadi,
ceritanya, saya lagi UAS di hari keentah, yang jelas mata pelajarannya PLH. Di
soal essay, ada sebuah pertanyaan yang kira-kira begini: “Jika ada teman
sekolahmu yang membuang sampah sembarangan dan melakukan vandalisme. Langkah
apa yang akan kamu lakukan?”
Saya, dengan
ngawurnya langsung mengambil pulpen dan menulis di LJU, sampai lupa membuka
tutup pulpennya. Eh, ternyata habis. Yasudah saya pakai pensil saja. Dengan
penuh semangat dan dengan bibir yang terus menyeringai, saya tak henti menulis,
sampai kira-kira tiga menit kemudian, selesai. Bangga betul saya dengan jawaban
saya.
Lalu jawaban
itu saya putar ke beberapa orang. (Kebetulan pengawasnya santai-santai saja),
dan semua orang tersenyum, ada beberapa yang tertawa. Entah menertawakan
kebodohan saya, atau sepaham dengan saya betapa konyolnya pertanyaan ini.
Awalnya
jawaban saya begini:
Saya
prihatin. Awalnya saya mau menulis #BukanUrusanSaya, tapi saya urungkan. Jadi,
inilah yang akan saya lakukan.
1) Menegurnya.
Ini merupakan langkah mudah.
2) Memungut
sampah yang dibuang teman saya itu. Meski pun tindakan ini membuat saya tampak
seperti seorang pecundang, tapi setelah saya pikir masak-masak, daripada saya
menegurnya lalu kami berantem dan masing-masing dari kami dapat Surat
Peringatan, alangkah bijaknya jika saya memungut sampahnya diam-diam.
Seperti
itulah jawaban saya. Lalu, pada saat saya memperlihatkan jawaban saya pada
seorang kawan—berinisial ‘I’, dengan riangnya dia merampas kertas saya, dan
membubuhkan kekoplakannya di atas LJU saya.
Kawan saya
itu menambahkan tulisan ini: “3) Saya juga akan joget harlem shake dengan
sampah untuk menunjukkan kepedulian saya terhadap lingkungan. Dan juga saya
akan membawa karung goni untuk memunguti sampah.”
Nah,
sekarang, apa yang dapat saya simpulkan dari kelakuan saya dan teman saya ini?
Ya. Kami memang koplak. Tak akan marah saya jika ada bilang saya ini bego, atau
bodoh, barangkali dungu, atau memang dungu. Saya tak peduli.
Yang ingin
saya katakan, kenapa saya menulis jawaban seperti itu? Alasannya mudah. Karena
saya terlalu lama menulis omong kosong di tiap ulangan. Mengadakan seminar
tentang lingkungan? Menyadarkan betapa pentingnya lingkungan? Omong kosong!
Memang
berapa kali Pembina Upacara ngomel tentang kebersihan? Lalu, apa hasilnya?
Nihil.
Jadi, saya
kira, kita ini butuh jawaban yang dapat dilaksanakan secara konkrit dan real
dan tidak melulu itu-itu saja. Teman saya malah lebih gila. Poin ketiga itu
menyiratkan kalau “kepedulian” kita terhadap lingkungan hanya ada di mulut,
terselip di antara jigong dan kebohongan esok hari.
Inilah yang
saya maksud dengan ‘Ngawur Yang Rasional’. Meski terkesan ngawur, tapi jawaban
saya memang betul adanya. Saya prihatin. Betul. Saya akan menegurnya. Ini kalau
orang yang membuang sampah / melakukan vandalisme itu tidak mudah marah. Dan
memungut sampahnya, itu pun kalau ada gadis yang saya suka.
Nah,
sebetulnya, apanya yang good ending dari tulisan ini? Padahal saya sudah
menulis kalau tulisan ini bakal good ending di awal.
Ah, biarlah.