Posted by : Unknown Selasa, 31 Desember 2013

Aku Akan Menunggumu Di Tokyo




“Nanti malam, di saung”        
Seutas senyum mengembang di wajah gadis bernama Ernita itu. Setelah melakukan janji jari kelingking, dia melangkah pergi, dengan perasaan riang yang meledak.
Laki-laki yang tadi berjanji dengannya—Aoki—tiba-tiba teringat sesuatu. “Jangan lupa janji kita. Pikirkan dengan baik! Hanya satu permintaan!” teriaknya pada sosok gadis yang sudah nampak blur di matanya yang rabun tanpa kacamata.
Ernita membalikkan badannya, melambaikan tangan dan senyumnya. “Tentu saja. Aku akan meminta hal terbaik”
***
Ernita menghempas tubuhnya ke kasurnya yang berwarnakan biru. Dia meregangkan kedua tangannya, dan menghela nafas panjang. Masih jelas terasa kebahagiaan di rongga-rongga hatinya.
Hari terakhir di tahun 2013 terasa begitu indah baginya. Sesuatu janji Aoki, pada penghujung tahun, mereka akan bertukar satu permintaan yang harus dikabulkan, selama masuk akal. Selain meminta satu permintaan, mereka juga harus memberikan sesuatu, sebagai kenangan di tahun 2013. Itulah janji yang mereka buat, 2 bulan lalu.
Apa yang harus kuminta? Dan apa yang harus kuberikan?
Ernita masih kebingungan dengan permintaannya, dan juga hadiah yang akan ia berikan. Rasanya tak mungkin memberikan koleksi boneka beruangnya pada seorang atlet basket berdarah Jepang. Tak mungkin juga memberinya koleksi komiknya, walaupun Aoki seorang keturunan negeri manga itu.
Kembali Ernita menghela nafas, karena tak kunjung menemukan ide. Lantas mendesah pelan, dan menatap lemari coklat yang ada di dekat pintu.
Ia bangkit, dan mengacak-acak isi lemari itu, berharap menemukan sesuatu yang tepat.
***


Aoki menghela nafas cukup panjang. Suasana persawahan di pinggiran kota Bogor membuatnya larut dalam lamunan, menatap pepadian yang hijau, baru saja ditanam. Hilir mudik angin juga semakin mengosongkan pandangan matanya.
Beberapa saat kemudian, matanya menerawang ke langit yang biru berawan. Pandangannya masih kosong, dan dia seolah melihat ke tempat yang sangat jauh.
Getaran di handphone mengejutkannya. Dirogohnya ponselnya malas. Satu SMS masuk.
Tch!
Seutas senyum getir mengembang di wajahnya setelah melihat isi pesan itu. Hatinya bergemuruh kencang, sekaligus bimbang.
Apa yang harus kukatakan pada Ernita nanti malam?
***
Aoki Eiji, seorang laki-laki keturunan Jepang yang pindah ke Bogor, pertengahan tahun lalu. Semua orang tampak kesulitan mendekatinya, yang memang jarang bicara. Alhasil, minggu pertamanya di SMA Negeri 4 Bogor adalah menghabiskan waktu di meja setiap waktu.
Minggu selanjutnya, dia mulai mendatangi perpustakaan, yang menjadi tempatnya bertemu dengan Ernita Kumala, seorang siswi yang terkenal pandai berbahasa Jepang. Secara alamiah, mereka langsung menyatu ketika pertama bertemu. Rasa penasaran Ernita tentang budaya Jepang, cocok sekali dengan kebutuhan Aoki untuk bicara dengan seseorang.
Tak perlu menunggu lama hingga mereka berdua akrab. Sikap Aoki yang pendiam dan tertutup perlahan mulai membuka dirinya oleh sikap aktif dari Ernita. Sekarang, mereka mengikuti Klub Jepang, walau anggotanya hanya sepuluh orang.
***
Ernita masih tampak sibuk menjelajahi isi lemari besarnya yang sudah hampir kosong. Kamarnya berantakan, dengan peralatannya yang sudah mirip peninggalan sejarah. Penuh debu.
Gadis itu mendesah pelan, sambil menarik punggungnya yang pegal. “Aduh, masih belum ketemu. Apa yang harus kuberikan padanya?” gumamnya pelan, sambil menutup lemarinya.
Ernita kembali berjalan menuju kasurnya, dan menghempaskan tubuhnya. Kamarnya sungguh sudah tak berbentuk. Koleksi novelnya sudah berserakan di bawah. Mulai dari novel setebal Inferno sampai setipis sebuah antologi karya W.S Rendra. Jendelanya dibiarkan terbuka, membuat cahaya matahari merangsek masuk.
Mungkin aku harus mencoba hal yang simple. Seperti jam tangan, atau bola basket. Tapi…  Apakah itu cukup untuk menutupi permintaanku?
Ernita meremas rambutnya sendiri, kesal. Ia menggeram pelan, hingga menghela nafas panjang. Otaknya tak berhenti berpikir. Kiranya benda apakah yang pantas diberikan pada sosok bermata satu lipatan itu.
Ah! Itu dia!
Dia langsung beranjak dari tempat tidurnya, dan kembali menjelajah lemarinya. Kali ini, ia mencari barang yang pasti.
***
Perasaan bimbang menari ria di hati Aoki. Wajahnya keruh, menatap hampa pepadian yang mulai dihinggapi cahaya senja. Ia masih tiduran di sebuah saung kecil di pematang sawah milik ayahnya.
Mungkin… Lebih baik jika Ernita mengetahuinya
Tangannya mengepal, disimpan di depan dadanya, lantas ditekan. Mencoba meneguhkan hatinya yang nyaris luntuh, sama seperti kakinya saat pertama kali mendengar kabar itu.
Aoki meraih ponselnya, dan mulai mengetik dengan lihai. Setelah selesai, dicarinya nomor Ernita.
Jempolnya kembali terhenti, sesaat sebelum ia menekan tombol “Kirim”
Mungkin ini yang terbaik
Wajahnya nanar menatap layar ponselnya yang tak kunjung selesai mengirim pesan. Beberapa saat kemudian, muncul sebuah pesan di layarnya.
Pengiriman Pesan Gagal.
Dia menggerutu, sambil terus mencoba mengirimkan pesan yang teramat penting itu. Beberapa detik kemudian, dia tersadar sesuatu. Kalau sinyal di ponselnya sangat kritis.
***
“Ini dia!”
Bola mata Ernita membesar. Bibirnya sumringah. Tangannya mengangkat sehelai syal berwarnakan biru yang dirajutkan sang nenek untuknya, 5 tahun yang lalu. Ernita menggenggam syal itu, sambil memantapkan keyakinan di hatinya.
Hadiah ini memang sangat pantas untuknya. Ya! Dia pasti tak akan kedinginan dengan syal ini. Sebentar lagi kan musim dingin di Tokyo. Dan juga, sekarang sedang musim hujan di Indonesia.
Dia segera menyambar handphonenya yang sepi, dan mengirim sebuah pesan singkat pada Aoki.
Aku telah menemukan hadiah untukmu. Persiapkan hadiah terbaik unukku.
Send.

***
Denyar cahaya bintang menerobos langit malam kota Bogor. Asap mewangian jagung, daging, dan makanan lain khas tahun baru menyebar dengan cepat. Hiruk pikuk menjejali seluk beluk kota yang malam ini berlangit cerah.
Decit bambu yang digoyangkan angin tak dihiraukan lelaki itu. Saung tempatnya terdiam cukup terang, dengan sinar putih dari lampu yang meneranginya.
Angin malam bergerak pelan pada pepadian yang tak lagi tampak. Aoki hanya menatap lemah langit yang gelap. Matanya hampa. Raut wajahnya keruh. Mulutnya mencoba diangkat, untuk membuat seutas senyum.
Sosok gadis yang berjalan di jalan setapak yang diterangi lampu membuatnya mencoba merombak rautnya yang tak karuan. Sebuah tas anyaman melingkar di pundak kanannya.
Dia membiarkan kakinya tersapa angin.
“Lama menungguku?” sahut Ernita sambil melepas sebuah senyum pada Aoki. Dia melepas sepatunya, dan naik ke saung dengan kaus kaki untuk menepis dingin. “Jadi, hadiah macam apa yang sudah kamu siapkan?”
Aoki hanya mengangkat bahu pelan, sambil tersenyum tipis. “Nanti juga tau. Oh ya, masih ada satu jam lagi sebelum malam tahun baru. Mau makan sesuatu? Aku ada jagung di rumah”
Ernita menggeleng pelan. “Tidak, aku sudah makan jagung bakar juga di rumah” tolaknya halus. “Kamu sudah makan sesuatu, Aoki-san?”
“Ayam goreng dengan nasi, ditambah—”
“Baik baik” sela Ernita cepat.
Tapi itu kumakan kemarin batin Aoki.
Mereka berdua terdiam, menatap langit malam yang sangat ramai oleh bintang yang tak henti berkedip. Sesekali bunyi terompet samar terdengar, serta teriakan suka cita lain dari desa terdekat.
Sesekali Ernita melirik ke arah lelaki yang sedang menunduk itu. Wajahnya tersenyum tanpa alasan, tanpa bisa didatarkan kembali.
“Sudah setengah tahun, yah” gumam Ernita pelan. Dia melirik ke arah Aoki yang kini menatapnya. “Kamu pindah ke Bogor”
Aoki tersenyum lagi. “Sou desu ne1…” desisnya.
“Aoki-san. Apa kamu… Rindu Tokyo?” tanya Ernita pelan.
Sekelebat rasa ragu tergambar di mata Aoki yang kembali menerawang langit. Dia menghela nafas pelan. “tabun2… Aku sedikit rindu pada Kadomatsu, kuil meiji, dan nengajou yang biasanya kudapat”
Ernita mengernyitkan dahinya. “Kadomatsu? Nengajou?
Kadomatsu semacam hiasan tahun baru yang terdiri dari pohon bambu, ranting dan daun pinus yang diikat dengan jerami. Digunakan untuk menyambut arwah leluhur yang kembali ke rumah saat tahun baru”
Bibir Ernita membentuk huruf ‘o’ kecil, sambil bergumam pelan. “Kalau nengajou?
“Kartu pos ucapan tahun baru” jawab Aoki cepat. “Saat menerima itu, biasanya aku jadi iri pada temanku. Tulisan mereka bagus sekali, tidak seperti tulisanku”
Ernita terkekeh pelan. “Tahun ini… Kamu tidak mendapatkannya, yah? Kasihan…”
“Begitulah. Oh ya! Aku juga rindu hanabi3 yang biasanya ramai tiap tahunnya.” katanya membenarkan. “Tapi, tak apa. Aku juga bisa merasakan sejuknya Bogor yang jarang kutemukan di perkotaan Tokyo”
“Oh ya! Aku juga merindukan mie soba. Kami biasa menyebutnya Toshikoshi Soba. Mie soba yang biasanya dinikmati pada perayaan akhir tahun” lanjut Aoki sambil mengingat-ingat sensasi lezat dari mie khas Jepang itu.
Ernita tiba-tiba menajamkan matanya. “Kalau itu sih, aku juga tahu. Tak usah kamu jelaskan lagi,”
“Kenapa?”
“Karena kamu seperti menganggapku sebagai orang awam yang menyukai budaya dari negaramu”
Sou ka
Mereka kembali terdiam. Sama-sama bingung apa yang harus mereka katakan. Pikiran Ernita runyam, mencoba menyusun kalimat apa yang harus ia katakan selanjutnya. Sementara pikiran Aoki berkecamuk, dan keruh.
Entah kalimat apa yang harus ia gunakan untuk menyampaikan maksudnya pada gadis di sebelahnya, tanpa melukai perasaannya. Walaupun ia yakini, tak ada satu cara pun yang bisa ia gunakan, tanpa melukai perasaannya.
Kali ini Aoki melirik ke arah Ernita, yang tampak ragu-ragu menengok ke arahnya.
“Menurutmu, bagaimana tahun ini?” tanya Aoki.
Ernita langsung bereaksi. “Menyenangkan. Aku bisa bertemu orang Jepang sungguhan. Aku jadi bisa mengembangkan kemampuan bahasa Jepangku. Sekaligus, mengenal kultur budaya negeri mangaka itu. Langsung dari orangnya”
“Dasar, seorang pecandu manga” komentar Aoki cepat.
Ernita menajamkan matanya. “Apa maksudmu itu? Manga adalah mediaku untuk mendekati negeri tempat kelahiranmu itu! Lihat saja! Aku akan belajar di Tokyo University, suatu hari nanti. Aku akan fasih berbahasa Jepang, dan aku akan mengajak adik kecilku, Linda, mengunjungi Tokyo Tower”
Aoki terkekeh pelan, melihat tingkah gadis di sampingnya yang terlihat berapi-api. Tangannya mengepal, dan matanya tampak sangat yakin. Dia menghela nafas panjang.
“Kalau begitu, aku akan menunggumu di Tokyo” katanya pelan. “Pastikan kamu menepati janjimu, ya?” lanjutnya sambil mendekatkan jari kelingkingnya.
Ernita tersenyum, wajahnya sedikit tersipu. Ia menyambut jari kelingking yang lebih besar darinya itu. Setelah kelingking mereka bersentuhan, mereka saling tersenyum seperti orang bodoh.
Setelahnya, Aoki kembali menghela nafas dan menarik kakinya, menuju ke bagian tengah saung. “Setengah jam lagi menuju tahun baru”
“Ya. Begitulah"

***
Aku sedikit lega mendengar keinginan Ernita-san. Yah, walaupun aku tahu, tak akan mudah baginya untuk masuk ke Tokyo University. Terutama dengan nilainya yang rata-rata, selain nilai Bahasa Jepangnya yang cukup gila. Selalu di atas sembilan puluh, sejak kelas satu.
Dengan begini, apa artinya Ernita-san telah menerima pesanku? Tapi… Bukankah pesanku masih belum terkirim? Atau… Dia mungkin sudah menyadari perubahan sikapku seminggu terakhir ini?
Gadis ini, bisa seceria ini. Ah… Aku selalu berangan-angan, bisa menjadikannya milikku. Aku selalu menginginkan senyumnya yang selalu menghiasi wajahnya yang manis. Aku selalu menginginkan rambut hitamnya yang terurai panjang. Aku selalu menginginkan tatapannya yang ramah. Aku selalu menginginkan matanya yang besar. Aku selalu menginginkan dirinya, seorang berparas sunda asli, untuk kupersunting menjadi istriku, suatu hari nanti.
Ernita-san sangat ceria sekarang. Apa mungkin, dia sudah bisa melepaskanku? Tidak tidak. Sebaiknya, aku berhati-hati. Aku tak ingin terjebak oleh keceriaannya, seperti dua bulan lalu, yang membuatku harus memberinya janji seperti sekarang. Bertukar sesuatu, dan mengabulkan satu permintaan.
Aku tak boleh tertipu lagi oleh sifat dasarnya yang memang periang. Bisa saja dia mendadak berubah menjadi gadis yang sangat rapuh, seperti dua bulan lalu. Bisa saja dia mendadak berubah menjadi sosok yang mudah menangis, seperti dua bulan lalu. Bisa saja dia mendadak berubah menjadi sosok yang paling kuat manahanku untuk tidak pergi, seperti dua bulan lalu.
Lantas… Apa yang harus kukatakan? Kata-kata seperti apa yang harus kujelaskan padanya? Aku tak bisa membatalkan kepergianku. Ya! Tak bisa. Aku paham. Sangat paham. Ayahku tak mungkin menerima keinginanku untuk menolak setiap perintahnya. Berkomentar saja, tak boleh.
Aku terkadang iri, pada kebebasan yang diberikan orang tua Ernita-san. Kebebasan yang diberikan orang-orang Bogor. Orang-orang Indonesia. Orang-orang yang tidak terikat aturan.
Tapi… Tak ada gunanya menyiram iri dalam hati. Hanya rasa sakit yang tersisa, karena rasa iri ini tak akan pernah berubah menjadi kenyataan. Tak akan, dan tak akan pernah.
Pokoknya, untuk sekarang, aku harus menjelaskan semuanya. Biarlah dia menangis kali ini. Biarlah kali ini aku melihat kembali air matanya. Biarlah kali ini aku kembali mendengar rintihannya agar aku tak pergi.
Biarlah semua itu terjadi. Karena aku…
Hanyalah debu yang ditiupkan seorang pengusaha Jepang ke ranah Sunda, karena kesalahannya.
***
Rentetan kembang api mulai tampak di langit malam yang gelap. Ledakan demi ledakan mulai terdengar. Satu demi satu menggelegar, mengisi kebisuan malam, yang mendekap dua insan yang saling terdiam di saung kecil, di tengah persawahan itu.
Bunga-bunga api itu mulai tergambar, menerangi gelap malam. Memancing kedua pandangan mereka pada satu titik, di langit tercerah.
Di mata kedua orang itu tergambar jelas bunga yang berwarna-warni itu. Mata mereka sama-sama bergetar, menikmati keindahan yang hanya bisa dinikmati setahun sekali itu.
“Padahal tinggal sepuluh menit lagi, yah” gumam Aoki pelan. “Tapi sudah dinyalakan lagi. Hahaha, mungkin jam di rumah mereka tidak beres”
Ernita tersenyum tipis. “Begitulah, Indonesia. Selalu ingin paling cepat ketika suatu perayaan yang menyenangkan. Tapi, kadang paling telat, apabila diundang ke sebuah rapat” Ernita menggerutu pelan.
“Jadi… Merendahkan dirimu sendiri?” tanya Aoki.
Ernita menggeleng pelan. “Tidak. Aku hanya ingin mengatakan, kalau negara ini unik. Banyak hal yang hanya bisa kamu temukan di negeri yang indah ini”
Seutas senyum mengembang cepat di bibir Aoki. Lantas dia mengulurkan tangannya. “Jadi, mana hadiahnya?”
Ernita tertawa pelan, sambil melepaskan tas yang sejak tadi terus melingkar di tangan kanannya. Tapi, ketika Aoki hendak mengambilnya, cepat-cepat Ernita mendekap erat tas itu.
“Eits, tunggu” Ernita mencoba menggoda Aoki. “Masih belum jam dua belas. Ahaha, sekarang, kamu sudah seperti orang Indonesia”
Aoki tersipu, menyadari ia melakukan sesuatu yang memalukan.
Setelahnya, lelaki itu terus menerus melihat ponselnya. Masih kurang satu menit lagi. Ya! Satu menit lagi, sebelum ia menerima hadiah dari gadis di depannya.
Akemashite Omedetou Gozaimasu4
Matanya bergetar ketika melihat Ernita yang tersenyum manis sambil menyodorkan sebuah syal berwarnakan biru. Semerbak harum minyak wangi langsung menyertai syal itu. Mulutnya kelu, entah harus mengatakan apa.
A-akemashite O-omedetou” balasnya terbata-bata, sambil menundukkan kepala dan menerima syal itu. Tangan mereka bersentuhan. Terasa kulit kuning langsat Ernita yang lembut, bersentuhan dengan kulit putih Aoki.
Ernita mengangkat wajahnya. “Itu saja?” tanyanya.
“Itu saja?” ulang Aoki tak mengerti.
Ernita mendesah pelan. “Itu saja yang ingin kamu katakan?” lanjutnya sedikit kesal.
Aoki terlihat gelagapan, bingung harus mengatakan apa. “Ah! Sumimasen5. Kotoshimo douzo yoroshiku6” katanya pelan, sambil kembali menunduk.
Beberapa saat, mereka berdua saling tertunduk. “Kotoshimo douzo yoroshiku” balas Ernita sambil tersenyum.
Setelah mengangkat kepala mereka, kali ini giliran Ernita yang menyodorkan tangannya. “Itu adalah syal yang diberikan nenekku lima tahun lalu. Buatan tangan asli! Jangan sampai rusak” katanya mencoba menjelaskan. “Jadi, mana hadiahku?” pintanya penuh girang.
Gomen7” gumam Aoki pelan. “Hadiahku belakangan. Untuk sekarang, sebutkan saja permintaanmu” lanjutnya sambil memejamkan mata. Maafkan aku, Ernita-san… Aku tak bisa mengabulkan permintaanmu yang satu ini.
“Keinginanku, sebenarnya mudah” kata Ernita.
Kumohon! Apa pun selain itu!
Bibir Ernita kembali bergetar, hendak mengatakan sesuatu. Tapi, terhenti ketika dering ponselnya bergetar. Dengan cepat ia mengambil ponselnya, sambil menggerutu pelan.
Dari: Aoki Eiji
Aku akan menunggumu, di Tokyo.
Ernita terkekeh ketika membaca isi pesan itu. Ia menunjukkan ponselnya pada Aoki yang terdiam, menanti kelanjutan dari keinginan Ernita.
“Apa maksudnya ini? Tunggu saja! Aku akan datang ke Tokyo, suatu hari nanti!” katanya dengan gigih. “Tunggu saja aku di depan rumahmu. Oh tunggu, aku kan tidak tahu dimana alamat rumahmu yang di Tokyo”
Seutas senyum getir terpajang di bibir Aoki. Ia memejamkan matanya, sambil mencoba menghapus senyum itu. “Jadi, apa keinginanmu?” tanyanya.
Ernita kembali menunduk. Ia diam seribu bahasa. Mulutnya beberapa kali mencoba mengatakan sesuatu, tapi, suaranya tak kunjung keluar.
Matanya terus menatap Aoki dengan gemetar. Tangannya disilangkan ke belakang. Badannya tak kunjung berhenti. Terus bergerak-gerak.
“Ayolah, katakan saja. Jangan-jangan… Kamu akan menembak aku?” goda Aoki sambil tersenyum sumringah.
Ernita menggeleng pelan. “Bukan itu, baka8!” kilahnya cepat. Lantas kembali menjadi gugup. Tapi kali ini, Ernita mencoba bicara. Suaranya berhasil keluar, walau sangat pelan, terdengar mendesis. “Mungkin, permintaanku terdengar sangat aneh”
“Selama masuk akal, akan aku kabulkan” jawab Aoki cepat. Apa pun selain itu, Kumohon!
“Kalau begitu, bolehkah aku meminta…”
“Meminta?”
“Meminta… I-itu… Meminta…”
Aoki menghela nafas pelan, mencoba tetap bersabar. Lantas, ia memegang tangan Ernita, walaupun ia juga malu tak terbayang. Tapi, ia mencoba menekan rasa malu itu, demi meyakinkan gadis di depannya. “Katakan saja” katanya mencoba meyakinkan.
“Bi-bisakah kamu tetap di Bogor?” desis Ernita.
Aoki terkejut. Matanya bergetar tak percaya. Bibirnya kelu. Hatinya bergemuruh kencang, seolah sebuah pukulan telak telah diterimanya.
Gadis di depannya hanya menunduk, dengan wajah yang sangat merah karena malu. “Tolong jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku hanya merasa, belakangan ini… Sikapmu sangat aneh. Dan juga, entah kenapa, aku merasa… Takut kehilangan kamu. Bukan berarti aku sering memikirkanmu. Hanya saja, kamu sering datang di mimpiku, belakangan ini. Dan dalam mimpi itu, kamu selalu pergi menjauh, menjauh, dan menjauh dari jangkauanku. Aku merasakan bahwa kamu akan pergi ke tempat yang jauh dari jangkauanku. Bahkan, aku juga merasa kalau aku tak akan bisa mencapai tempatmu berada”
“Lalu?”
“Lalu… Aku mulai berpikir. Suatu saat, kamu akan kembali… Ke Tokyo”
Aoki terpaku. Sebuah pukulan telak menimpa hatinya, yang seolah runtuh. Mulutnya kelu, tak bisa mengekspresikan keterkejutan yang menyengatnya begitu telak. Tangannya mulai gemetar, tapi ditekannya gemetar itu. Dia berusaha memegang tangan Ernita.
“Percaya saja padaku, oke?” desisnya pelan.
Dari sudut mata Ernita tampak mulai basah. “Percaya kamu tidak akan pergi?”
“Oh ya, ngomong-ngomong” lanjut Aoki mencoba gentar. Lelaki itu tak mau terlihat lemah di hadapannya. “Mau mendengar apa keinginanku? Aku rasa, aku menemukan keinginan yang tepat”
“Apa itu?”
Aoki terdengar menghela nafas panjang. Ia terdiam sejenak, memandangi langit yang makin ramai dengan ledakan demi ledakan yang mewarnai langit hitam. Mereka berdua tak bicara. Saling terdiam.
Aoki sedang mencoba menyusun kata-kata yang paling tepat. Sementara Ernita, sedang menanti kalimat selanjutnya yang akan keluar dari bibir Aoki.
“Mungkin… Ini terdengar sedikit memalukan” Aoki kembali mulai bicara, walau terdengar ragu-ragu. “Tapi… Kumohon, jangan tertawa. Oke?”
“Oke” jawab Ernita yakin. Dia terus menatap Aoki penasaran. “Cepatlah! Apa yang ingin kamu sampaikan?” lanjutnya dengan nada menuntut.
“Dengarkan. Sebenarnya, hadiahku bukanlah berupa benda nyata seperti apa yang kamu berikan padaku. Mungkin juga, hadiahku ini tidak sebanding dengan apa yang kamu berikan padaku. Tidak juga sebanding dengan keinginanku yang terlalu tinggi, walau masuk akal. Tapi… Setidaknya, tolong dengarkan, dan jangan tertawa”
“Iya-iya” jawab Ernita malas.
Sekali lagi, Aoki terdengar menghela nafas panjang, mungkin untuk terakhir kalinya. “Aku akan memberikan hatiku” desisnya pelan, dengan wajah yang memerah.
Ernita mengernyitkan dahinya, tak mengerti. “Maksudmu?”
“Aku akan memberikan hatiku. Dan juga, aku… Meminta kamu untuk menjadi pacarku” lanjutnya yakin, sambil kembali memegang tangan Ernita yang terlepas.
Ernita terkejut bukan main. Hatinya bergetar begitu kencang. Matanya berkaca-kaca. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, hendak menahan teriakan girang yang nyaris terlepas.
Dua bulir air mata mengalir dengan manis di pipi Ernita, membuat dua garis di wajahnya yang lembut. Tak henti-hentinya ia mengangguk pelan, sambil mengguram tak karuan.
Aoki merentangkan kedua tangannya. Ernita menyambutnya dengan menjatuhkan tubuhnya yang ringan ke arah pelukan pemuda itu. Wajah mereka sama-sama memerah. Tapi, rasa senang mengalahkan rasa malu mereka.
Dengan susah payah, Aoki mencoba meminta Ernita untuk mengangkat wajahnya.
“Bagaimana jawabanmu?” tanya Aoki sambil tersenyum.
Ernita menyeka wajahnya yang basah. Ia berusaha membentuk senyum terindahnya. “Tentu saja aku mau! Jadi… Kamu tidak akan pergi, kan?”
Aoki tak menjawab. Ia hanya tersenyum getir, sambil mempererat pelukannya pada gadis itu.
Kini, Ernita merasakan perasaan tak enak menyerang hatinya. Segera ia mencoba melepas pelukan lelaki itu.
“Hei, Aoki-kun! Kamu tidak akan pergi, kan?” tanyanya lagi, ragu.
Aoki hanya tertunduk, sambil mencoba memeluk tubuh gadis itu lagi. Namun, Ernita mencoba mengelak.
“Jawab aku, Aoki-kun! Jawab aku!” katanya lagi dengan nada menuntut. Melihat kepala Aoki yang menggeleng pelan, membuat air mata Ernita berjatuhan begitu deras. Tak terhindarkan lagi, tangisnya pecah.
Ia menenggelamkan tangisnya pada pelukan Aoki yang terasa hangat. “Aku akan menunggumu di Tokyo, Ernita-san. Aku akan menunggumu, hingga kapanpun itu”


 1Sou desu ne = Benar juga yah
2Tabun = mungkin
3Hanabi = kembang api
4 Akemashite Omedetou Gozaimasu = Selamat tahun baru
5 Sumimasen = maaf
6 Kotoshimo Douzo Yoroshiku = semoga tahun depan berjalan dengan baik
7Gomen = maaf
8Baka = bodoh

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2013 Peziarah Kata - Shiroi - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -