Posted by : Unknown
Sabtu, 04 Oktober 2014
Tak salah jika aku memang menganugerahkan
kagumku padanya. Dio Ramadhan. Karena kalau bukan karenanya, pastilah aku tak
akan menderita sehebat ini. Terlebih atas pesan yang ia ukir.
Pertemuan pertama kami hanyalah sebuah cerita
yang biasa terjadi antara turis dan anak seorang boss penginapan di desa Ciapus.
Pagi itu, seorang pemuda—sepertinya lebih tua satu atau dua tahun dariku—mengetuk
pintu. Aku menyambutnya dengan hangat. Lebih hangat lagi saat pemuda itu
memesan kamar untuk satu bulan di penginapanku.
Selepas pagi itu, tak ada lagi pembicaraan di
antara kami. Aku pun tak terlalu mempedulikan lelaki yang pada tangannya
membubuhkan magis pada tiap sentuhan. Bahkan saat kuamati goresan tanda tangan
di buku tamu yang ia isi tadi pagi, aku terkesima.
Malam itu juga, sambil mengantarkan teh
hangat pesanannya, aku mencoba menyusun kerangka wajahnya yang tak mudah
dilukiskan.
Rambut hitam yang dicukur halus bersambung
pada dahi agak lebar. Lalu mata itu. Iris hitam dengan cincin putih yang
mengisap siapa saja yang menatapnya lamat-lamat. Pandanganku merosot lewat
hidung bangirnya. Mendarat pada bibir tipis yang jika tersenyum amat menggoda
rindu untuk tidur di sana. Dan terakhir, pada dagu lancip ramai oleh janggut
tipis yang menyengat.
Yang kulakukan hanyalah masuk dengan sopan.
Menaruh nampan pada meja persegi yang mulai ramai dengan peralatan untuk
menggambar, lalu pergi.
Ah, tapi sebelum aku pergi, lelaki itu
memberikanku kejadian lain.
“Permisi, apa kamu tahu tempat yang cocok
untuk menggambar?” lelaki itu bertanya teramat sopan.
“Maaf?”
“Semacam tempat yang tenang,” ucap pemuda
itu. “Dan tak ramai.”
Saat kutatap, bola matanya sudah mendikteku
untuk tidak mengatakan Curug Salak yang sudah pasti ramai. Dan saat itulah,
untuk pertama kalinya aku merasa malu yang teramat sangat karena tak kenal
daerahku sendiri yang megah karena keindahan alamnya.
Jadi, langkah paling bijak yang kuambil malam
itu adalah meminta maaf padanya sambil menjanjikan tempat terbaik yang kutahu
keesokan hari. Dan akhirnya pergi tanpa meminta persetujuan.
ooOoo
Hari ketiga.
Pemuda yang menyewa kamar di penginapanku tampak
menyenangkan untuk diajak bicara. Dio Ramadhan. Sepertinya tak berlebihan kalau
Dio ini anti-tesis dari semua laki-laki yang kukenal di lingkar sederhana
kampungku.
Lelaki ini tak banyak cakap. Tatapannya
tenang seperti telaga yang sengaja diciptakan jauh dari goncangan. Bibirnya
hanya meluncurkan kata-kata yang ringkas dan tegas, tapi dengan sigap berhasil
menarik perhatianku.
Mungkin Dio menarik perhatianku karena dia
datang dengan impianku yang dua bulan lalu putus. Kuliah ke Jakarta. Atau
mungkin karena..., seperti yang kukatakan tadi, peringainya yang sungguh
berlawanan denganku.
Aktivitas Dio hanyalah menggambar komik. Pada
pagi harinya mengelilingi desa yang masih diduduki kabut, bermasyarakat
layaknya penghuni tetap yang hendak berbauh, lalu tepekur di atas meja pada
malam hari.
Hari ketujuh, aku tak tahan hanya melihat kepergian
Dio ke hulu citiis.
Ah, aku lupa menceritakan hari kedua.
Sesuai janjiku pada malam pertama, semoga
kalian ingat, aku akan memberitahukan tempat yang sesuai dengan pertanyaan Dio.
Nyaman dan tak ramai. Selepas sarapan pagi itu, Dio kuberitahu sungai citiis.
Tak pernah kuduga sebelumnya kalau Dio akan
pergi hari itu juga ke tempat yang kuberitahu. Dan pada hari itu juga,
sepertinya Dio sudah menanam hatinya di hulu sungai citiis.
Kembali ke hari ketujuh, pagi ini aku
menyelinap lewat pintu belakang. Penasaranku meminta jawaban yang lebih tentang
apa yang dilakukan Dio di sungai citiis. Tapi agaknya nasib berkata lain.
Pada tengah perjalanan, langkahku terhenti di
antara semak. Bukan karena ada ular atau sesuatu yang mengerikan, tapi karena
aku ketahuan mengikuti Dio. Aku malu bukan kepalang.
Namun yang membuatku lebih terkejut adalah
Dio yang menjawil tanganku saat hendak kabur.
“Kenapa tidak ikut saja?”
Aku menggeleng. “Aku takut mengganggu.”
“Hahaha,” Dio tertawa renyah. Kontur wajahnya
ikut naik-turun menghasilkan kesan tersendiri. “Sudahlah, ikut saja.”
Lalu Dio menuntunku masuk lebih dalam menuju
hutan. Pada jalan yang aku sendiri belum hafal. Tak kurasakan sedikit pun
takut, malah aku senang. Genggaman lelaki itu punya makna tersendiri bagiku.
Seolah dia hendak membawaku ke Jakarta.
Akhirnya kami muncul di hulu sungai citiis.
Tempat yang tak pernah kudatangi karena Abah selalu melarangku pergi ke sini.
Tak pelak khawatirku menyeruak mengingat pesan Abah itu.
Belum sempat aku lepas dari khawatir itu,
ingatanku diberondoli berbagai mitos yang sering ditanam Abah pada diriku,
serta cerita-cerita kawanku tentang hutan dan hulu sungai citiis. Bodohnya aku
ini, kenapa baru ingat semua itu sekarang?
“Kang, kata Abah di sini ada buaya putih,”
ucapku takut.
Senyumnya mengembang. Pada tegas tatapannya,
tampak jelas betapa belum dewasanya diriku.
“Daripada di desa, ada buaya darat.”
Dio berhasil mengikis resahku perlahan-lahan.
Aku yang takut—Wanita mana yang tak takut—pada mitos-mitos desa tentang
hantu-hantu atau larangan-larangan desa perlahan mulai berani memainkan
jernihnya air yang dialirkan langsung dari gunung halimun.
Cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok.
Cerita-cerita Dio tentang kehidupan kuliahnya
sebagai mahasiswa seni UNJ mengikis kerasnya batu penghalang yang selama ini
menghalangi niatku untuk kembali berjuang mendapat izin Abah agar bisa pergi
Jakarta.
Makin hari, Dio makin sering bicara denganku.
Mengeluhkan panasnya Jakarta, macetnya, baunya, sampai memuji Bogor; sejuknya,
tenangnya, dan indahnya.
Aneh memang. Di saat aku makin keranjingan
merengek pada Abah agar diizinkan untuk kuliah di Jakarta, lelaki itu justru
sangat ingin tinggal di kampungku.
ooOoo
Pembicaraanku dengan Dio makin hari makin
intens.
Sering kali dia mengisahkan berbagai hal
tentang perkuliahan: bagaimana belajar di kampus, kawan-kawan, dosen-dosen yang
minim rasa peduli, organisasi-organisasi seperti BEM, sampai rute mikrolet yang
ia lalui kalau hendak pergi ke kampus.
Tak pelak makin hari perdebatanku dengan Abah
pun makin intens.
Abah bersikeras dengan alasan aku tak punya
sanak-saudara di Jakarta. Kubalas dengan cerita-cerita Dio tentang kawannya
yang berasal dari Maluku, Sulawesi, atau Kalimantan. Abah masih tak mau. Dia
juga menceramahiku tentang kerasnya pergaulan Jakarta. Lalu kuceritakan dengan
runtut tentang organisasi-organisasi keislaman yang banyak bertebaran di
Jakarta.
Tetap saja, Abah tak mengizinkan.
Hingga pada malam ke-dua puluh tiga, aku
bertengkar hebat dengan Abah. Satu piring pecah. Malam itu, aku pulang ke
rumah. Adikku Mia terkejut saat aku datang. Tapi aku tak peduli. Aku menangis pada Umi yang hanya bisa memeluk
sambil mengusap tubuh rapuh ini.
Dua hari setelahnya, aku tak kunjung kembali
ke penginapan. Ada sedikit khawatir di hatiku saat meninggalkan Abah yang tak
lagi muda sendirian mengurus penginapan. Tapi kesal masih menahanku di kaki
rumah, bersama Ibu yang tak pernah beranjak dari ranjang.
Lalu pada hari ke-dua puluh enam, secara
mengejutkan, Dio datang ke rumahku yang jaraknya agak jauh dari penginapan.
Pagi itu dia mengajakku ke hulu sungai citiis. Aku hanya menurut saja.
Perjalanan kali ini lain dari perjalanan
sebelumnya. Rasa ganjil sangat kentara. Dio lebih diam dari biasanya selama di
perjalanan. Dan ketika sampai di hulu sungai citiis, Dio terdiam cukup lama
sambil melempar-lemparkan kerikil ke permukaan sungai.
“Ayahmu terlihat kesepian di penginapan,” Dio
mengatakannya perlahan. Suaranya lembut merayap pada telingaku.
Kubuang pandangku sembarang tanpa menjawab
apa pun.
“Menurutku kamu lebih baik tinggal di sini.”
Aku menyolotkan tatapan liarku saat lelaki
itu mengatakannya. “Apa maksudmu?!”
“Di sini, kamu punya banyak hal. Ayah yang
peduli, lingkungan yang nyaman, dan mungkin, masa depan yang lumayan bagus.”
“Maksudmu aku akan mengalami kegagalan kalau
tinggal di kota?”
Dio menggelengkan kepalanya lembut. Senyumnya
melucuti kejengahanku. “Aku hanya ingin mengatakan kalau tak semua keinginan
bisa terwujud.”
“Orang kota sepertimu tak akan mengerti,”
keluhku.
Saat aku hendak pergi, tangan itu kembali
mengalirkan sesuatu padaku. Harapan. Impian. Kerasnya hidup dari kota yang
kuidamkan. Sentuhan Dio hanya membuatku makin ingin pergi ke Jakarta.
“Aku juga ingin tinggal di kampung ini,”
ucapnya lebih tenang. “Tapi aku tak bisa.”
“Kenapa kita tidak tukar kehidupan saja?”
Bunyi aliran air yang merangkak lewat
batu-batu besar makin jelas terdengar. Dengan polosnya kutatap wajah lelaki
itu. Tersenyum ironi tanpa mengatakan apa pun.
Rasanya aku seperti dikoyak sepi!
Sakit yang teramat dalam saat bola mata Dio
dalam menatapku. Masih dengan bibir yang tak mengatakan apa pun.
Aku tepekur sejenak, mencoba mengerti sambil
menawar pedih dengan hijau pepohonan yang berdiri rapat di seberang. Pada putih
bunga kapas yang dihembus angin. Pada bunyi gesekan bambu di belakangku saat
angin mengaproksimasikan jaraknya satu sama lain.
Hingga tanah berbatu yang kududuki serasa tak
lagi nyaman, aku masih belum mengerti. Sesuatu dalam hatiku meledak. Aku pulang
lebih awal hari itu.
ooOoo
Begitu sampai rumah, aku langsung melemparkan
tubuh pada kasur yang lama tak dijemur.
Tanganku menyentuh dinding berwarnakan kuning
pastel. Dingin merasuki jemari-jemari. Pada detik selanjutnya, kupandangi
ijazah SMA yang dengan manis bertengger di samping meja belajar.
Sejurus kemudian, terbayang wajah Dio di
pikiranku. Terputar pula ucapan-ucapannya tentang kehidupan di Jakarta yang
begitu kuidam-idamkan. Begitu memukau dan menghipnotis. Lalu ingatan itu hancur
dipukul piring yang pecah. Wajah Abah yang marah. Bayangan Abah yang kesepian
di penginapan.
Rasa kesal dan benci mulai tumbuh keesokan
harinya. Saat kembali ke penginapan, kulihat Dio membawa barang bawannya yang
tersimpan dalam tas dan koper yang sama seperti saat pertama kali ia datang.
Untuk apa lelaki itu menceritakan indahnya
kehidupan di Jakarta, jika sebenarnya dia tak pernah berniat membela mimpiku
pergi ke sana?