Tampilkan postingan dengan label KampusFiksi. Tampilkan semua postingan
Kau tahu kalau bintang itu tipuan mata
terbesar di jagat raya?
Bintang yang kau lihat pada malam hari bukanlah
bintang yang sesungguhnya. Yang kau
lihat hanyalah wujud sinar bintang yang melewati jarak jutaan tahun cahaya.
Misalnya, jika malam ini kau lihat bintang
yang berjarak dua juta tahun cahaya, itu artinya, bintang yang kau lihat adalah
bintang dua tahun lalu.
Bagiku sendiri, sebetulnya ada hal yang—kurasa—lebih
pantas disematkan titel ‘Tipuan Mata Terbesar di Jagat Raya’ dibanding bintang. Kau
tahu apa itu?
Dirimu.
***
Pagi ini, sama seperti pagi-pagi lain yang
kulalui selama tujuh belas tahun ini, langit tetaplah biru. Kau duduk di sana, di
atas meja bambu di dekat pohon di samping kelasku, dengan wajah penuh warna. Dapat
dengan jelas kulihat, matamu yang mengayunkan cinta, rambut hitammu yang kau
pangkas sebahu, serta senyumanmu yang lugu, seperti anak panda yang habis
mengunyah bambu.
Aku tanpa kesadaranku tiba-tiba bergerak ke
arahmu. Gegas kuhiraukan buku yang belum sempat kusimpan dengan baik di atas meja.
Jangan salahkan kedua tanganku ini yang begitu tak tahu diri ini karena coba
mengapaimu, sebab angin membisikkan deru napasmu, dan dedaunan yang saling
bergesekkan terus menyemangatiku.
Terhitung baru tiga langkah dari pintu kelas,
saat kudengar satu suara memanggil namamu, aku terpaku.
“Lina, ayo ke kelas,” ajak lelaki itu.
Secara tiba-tiba kau menjauh. Antara tanah
yang kau pijak dan tanah yang kuinjak terbentang bidang hitam yang tak terkira
luasnya. Seolah jika satu senti saja aku mencoba menapaki bidang hitam itu, aku
akan tenggelam dalam kegelapan.
Aku masih terpaku saat kau bangkit dan tersenyum
pada lelaki itu.
Dapat dengan jelas kulihat, matamu yang
mengayunkan cinta, rambut hitammu yang kau pangkas sebahu, serta senyumanmu
yang lugu, seperti anak panda yang habis mengunyah bambu. Tapi, semua itu
bukanlah untukku. Semua itu untuk lelaki yang berjalan di sampingmu.
Kau tahu bukan, kalau bintang itu tipuan mata
terbesar di jagat raya?
Bagiku, kaulah tipuan terbesar di jagat raya.
Kau yang kulihat bukanlah dirimu yang
sekarang; kau yang kulihat adalah dirimu tiga tahun lalu, saat masih jadi
kekasihku. []
Catatan :
[Cerita ini ikut meramaikan tantangan @KampusFiksi bertema #FiksiBuatPacarku]
Nama tokoh cewek dalam cerita ini Lina. Hmm,
sebenarnya Lina itu empat huruf yang saya ambil dan saya susun ulang dari nama
seorang cewek yang selama ini terus saya kagumi. Saya belum sempat jadi pacarnya,
hehehehe.
Banyak sih yang ingin ditulis. Tapi, karena ‘dia’
juga pasti baca cerita ini, lebih baik jangan ditulis semua deh, bisa kepayahan
saya nanti, ckckck. Satu saja yang ingin saya sampaikan, mengutip lagu Perfect Time dari Sheila On 7:
There is always a way for love
But sometimes not on the same road
Dreaming is the only land
Fits for you and me
Tipuan Mata Terbesar di Jagat Raya
Surat dan
Pesan
Gadis itu
sedang asyik-asyiknya menggandrungi lembaran-lembaran surat bertuliskan ceker
ayam. Satu-satunya yang membuat mata bulat gadis itu tidak sakit meski
membacanya di keremangan hanyalah cinta.
Pukul
sepuluh sudah terlewat empat puluh menit yang lalu. Jangkrik makin mengukuhkan
kentalnya hening malam ini. jika bukan karena kelihaian gadis itu dalam melipat
dan membuka kertas, pastilah bunyi kertas sudah berdiaspora ke segala arah.
Puas
melihat-lihat surat yang ditulis Jaka, Dewi dengan hati-hati dan penuh cermat
sambil memekakan telinga, melipat kertas kuning tersebut menjadi empat bagian,
memasukkannya ke dalam amplop, lalu menyelundupkannya ke bawah kasur. Hatinya sesak
oleh cinta. Padahal surat terakhir itu ditulis minggu lalu, di pertemuan mereka
terakhir.
Dewi baru
mengemasi tiga surat, dan masih tersisa enam di depan bantalnya, saat tiba-tiba
bunyi pintu terbuka menyobek ketenangan. Lalu terdengar bunyi ketukan-ketukan
kecil yang menggetarkan. Cepat-cepat gadis itu menelungkup, menutupi
surat-surat yang masih berserakan dengan cara menindih.
Ditariknya
pula selimut sampai dada. Tapi tak berguna. Dingin yang ikut bersama bunyi
sandal yang diseret-seret itu kian pekat membekukan suasana. Gadis itu
memejamkan mata. Tapi telinganya bergerak-gerak peka.
Kaget
meremukkan tubuh gadis itu hingga ke tulang tatkala pemilik suara sandal yang
diseret-seret itu memanggilnya.
“Dewi!”
Gadis itu
tidak berkutik sama sekali. Bahkan untuk sekadar meniup nyamuk yang dengan
nyaman bertengger di batang hidungnya yang pas-pasan itu. Barulah setelah suara
sandal yang diseret-seret itu menjauh, gadis itu tanpa segan membunuh nyamuk
itu.
Ayahnya hanya
ingin memastikan kalau anak gadisnya sedang tidur.
***
Pertama kali
Dewi bertemu Jaka tentu berawal dari ketidaksengajaan yang biasa.
Saat itu
malam habis tujuh-belasan. Seperti yang dilakukan tahun-tahun yang lalu, di
lapangan desa Dewi digelar layar tancap membosankan yang memutar film perang.
Jika bukan
karena Ayah dan Ibunya yang pergi untuk mengobrol, pasti Dewi tak akan berdiam
di sudut lapangan, bersandar pada tembok rumah seorang yang tidak ia kenal,
mengawasi orang-orang dengan kepala menengadah pada layar putih yang memutar
gambar-gambar bergerak, sementara telinga mereka bergerak-gerak, dan kening
mereka berkedut saat suara dar-der-dor meluncur dari pengeras suara.
“Sangat
mengganggu, bukan?”
Dewi terkejut
bukan main saat seseorang berkata seperti itu. Awalnya ia agak kesulitan
menemukan sumber suara dari malam yang tak mengizinkannya mengenali wajah
dengan cepat. Tapi saat suara itu berkata lagi, barulah Dewi menengok ke atas.
Dari lantai
dua rumah yang sedang ia sandari, tampak seorang pemuda tersenyum bodoh. Dengan
serta merta pemuda itu berkata, “Naiklah ke atas sini. Ada sesuatu yang lebih
sedap untuk dipandang.”
Mendengar itu,
Dewi, entah bagaimana merasa tertarik. Mungkin terpikat pada polos senyum bibir
merah apel yang tampak manis itu atau memang terlampau bosan menunggu film yang
baru akan berakhir satu jam lagi, Dewi memutuskan untuk pergi ke atas menemui
lelaki itu lewat tangga yang ada tak jauh dari situ.
Betapa terkejutnya
Dewi begitu sampai di atas karena yang ada hanyalah atap kosong sebagai tempat
jemuran. Tapi pemuda itu melambaikan tangannya untuk menarik Dewi ke tepian.
Ternyata di
sana sudah ada segelas teh manis dan radio yang sedang membunyikan iklan. Ragu-ragu
Dewi ikut duduk.
“Kamu Dewi,
bukan?”
“Dan kamu?”
Dahi pemuda
itu mengernyit mendengarnya. Sejurus kemudian lesung pipitnya terbit
berbarengan dengan gelak tawanya yang renyah. “Panggil saja aku Jaka.”
“Jadi, apa
sesuatu yang sedap untuk dipandang yang kamu tawarkan tadi?” dengan sinis Dewi
melirik ke segala arah. Tapi tak ada apa pun.
“Duduklah. Sebenarnya
ini bukanlah sesuatu yang untuk dilihat menggunakan mata, tapi untuk dinikmati
tiap detiknya.”
Tangan Jaka memutar
volume di radio itu hingga suaranya membesar. Setidaknya nyaman terdengar
karena suara dar-der-dor sudah tak lagi dimuntahkan pengeras suara itu. Dan kini,
dari radio muncul lagu Ahmad Albar – Kendal Dendam.
“Apa isti—”
Jaka menempelkan
telunjuknya cepat-cepat. “Dengar. Lihat. Rasakan.”
Bak sebuah
mantra, usai mendengar itu Dewi memejamkan mata. Gelap sepenuhnya, tapi tidak
buta. Dapat dilihatnya sesuatu bergerak-gerak. Warna oranye yang berdiaspora. Dan
mengapung di udara, seolah suara Ahmad Albar yang begitu khas tampak dalam
bentuk gelombang.
Lalu tercium
bau udara basah. Malam yang kering. Lelehan mentega pada jagung bakar. Asap kacang
rebus. Gula-gula. Serta segala macam wewangian merebak menyeruaki hidung Dewi.
Tanpa terasa
lagu pun usai. Dewi membuka mata dengan perasaan gemas. Bagai seorang anak
kecil yang ingin odong-odong yang dinaikinya memutar satu lagu lagi.
“Tapi tak
bisa,” ucap Jaka seraya memperkecil lagi volumenya. “Untuk bisa mendengarkan
lagu itu lagi, kamu harus menunggu minggu depan. Kamu pun harus mengirim
permintaan supaya lagu itu diputar.”
Lagi-lagi,
bagai tersihir oleh ucapan Jaka, Dewi hanya mampu mengangguk ringan.
“Ngomong-ngomong,
aku sudah lama menyukaimu, tahu. Apa kamu keberatan kalau kita lebih dekat?”
Sesuatu meletup-letup
di hati Dewi. Bagai bunga api yang menemukan melompat dari kembang api yang
baru saja dinyalakan. Lebat, deras, hangat, begitu nyata, hingga tanpa sadar
Dewi mengangguk.
ooOoo
Tapi sayang,
tak semudah yang dikira. Ternyata orang tua Dewi benar-benar keras soal
pergaulan anak satu-satunya itu. Setelah tertangkap sedang mengobrol di beranda
pada suatu sore, Dewi dilarang lagi bertemu Jaka. Plus, hari itu, Jaka pun menerima
sebuah tamparan dari ayah Dewi.
Tentu saja
Dewi marah. Siapa sih yang tak kesal kalau kesenangannya direnggut begitu saja?
Saat memikirkan itu, anak-anak yang melintas di depan rumah merengek saat
ditarik orang tua mereka, enggan menyudahi permainan. Orang tua memang
brengsek. Kalau bisa, Dewi tak ingin jadi orang tua. Ia ingin langsung saja
jadi nenek yang ompong dan mengunyah sepah sirih dan memberi receh pada
cucu-cicitnya.
Alhasil,
jadilah Dewi hanya berkirim surat dan bertemu seminggu sekali, seperti kali
ini.
Sudah nyaris
setengah jam Dewi berdiri di depan sebuah toko di Plaza Kelapa Gading, namun
sosok Jaka tak juga tampak. Mungkinkah lelaki itu lupa kalau di surat minggu
lalu, dia sendirilah yang menulis toko baju Duta merupakan tempat janjiannya
kali ini.
Kecewa
memeluk Dewi. Padahal ia sudah bersolek sedemikian rupa. Keramas mengenakan
shampo agar rambut bergelombang sebahunya harum, mengenakan rok hijau pekat
yang dipadukan kaus merah kotak-kotak berkerah.
Padahal minggu-minggu
sebelumnya, Jaka selalu datang lebih awal di tempat yang dijanjikan.
Mungkin ada
hal yang harus ia lakukan, batin Dewi. Baru saja Dewi meniti langkah pertama
menuju rumah, suara dari informan mengudara.
“Kepada
saudari Cinta ditunggu kehadirannya oleh saudara Jaka di lobi utama. Terima kasih.”
Itu pesan
untuknya.
Surat Dan Pesan
Ice Cream
Kamu masih tepekur di sudut terjauh taman. Dengan buku tempo hari , hanya saja jemarimu kini terselip agak
jauh ke belakang.
Tubuhmu masih kokoh. Tak bergerak sedikit pun meski
kursi yang kamu duduki itu rapuh, seperti hubungan kita. Bahkan hingga jarak
kita tersisa satu langkah, kamu masih diam. Sampai kapan kamu akan tetap diam?
Lamat kupandangi garis tenang yang kamu lukis di wajah cantik
seputih lilin itu. Begitu tenang, hingga tenggelam benar aku di sana. Lupa
untuk berenang ke permukaan, untuk membaca pesan hatimu pada dunia yang lama
kamu simpan.
Lalu angin mengaproksimasi perasaan kita. Saat bibir bunga dedap serta mata kopimu berputar menatapku,
berhasil kuintip sebatang ice cream masih terselip di saku kirimu. Sebuah pesan yang lama ingin kamu ucapkan.
I Scream.
ooOoo
#FiksiLaguKu
ini terinspirasi lagu Goose House – Photograph. Semoga pesan ini tersampaikan >_<
Ice Cream
Suatu ketika,
Ibu pernah datang dengan mata seterang bintang sirius. Pancarannya menghangatkan
tubuhku yang sedang didekap dinginnya sepi sehabis perginya Ayah dengan wanita
lain.
“Ibu berhasil,
Rin!” pekiknya.
Kami berpelukan.
Di depan khalayak penghuni cafe yang kebingungan dengan datangnya seorang
wanita paruh baya berbusana serba putih. Jas yang menjuntai lembut sampai ke
betis.
Ibu tak
berbohong saat mengirimkan pesan kalau ia akan langsung menemuinya selepas dari
bandara.
Bibir Ibu tersenyum selebar kelopak mawar. Pipi
yang biasanya tirus itu kini hidup, bersamaan dengan lesung pipit manisnya yang
kembali datang, menghisap rindu. Hidungku bersentuhan dengan hidung Ibu yang
semulus lambang integral tulisannya.
“Dev, aku
pesen cappucino dua,” pesanku pada Devi, sahabatku yang menjadi pelayan
sekaligus pemilik cafe ini. Beres memesan, tak kusia-siakan waktu untuk mencumbu
tatapan Ibu yang hangat.
“Ibu berhasil,
Rin! Akhirnya...,” ucapnya. Lagi. Dengan nafas yang lebih teratur.
Pandanganku menelisik
jas putih kusam yang dikenakan Ibu. “Berapa hari Ibu pakai baju itu?”
“Satu bulan,
kalau tidak salah. Eh, itu tidak penting!” Ibu memprotes. Bibirnya menikung
seperti payung. Tapi tetap manis. “Yang penting Ibu harus ngasih tau kalau Ibu
berhasil menemukan apa yang selama ini Ibu cari, Rin!”
“Pacar baru?”
tebakku. Asal. Tapi memang itu yang kuinginkan. Ayah baru. Pelindung baru.
“Ish, itu bisa
dilakukan kapan saja kalau Ibu mau.”
Aku terkekeh
mendengarnya. Tidak berlebihan apa yang dikatakan Ibu. Sebulan setelah Ayahku
memutuskan bercerai, terhitung sudah tiga pria memberikanku hadiah. Ketiganya kenalan
Ibu sewaktu kuliah atau SMA.
“Jadi, apa
yang membuat Ibuku tersayang ini jadi sesenang ini?”
Ibu melucuti
senyum terindah miliknya. “Dimensi keempat. Waktu.”
***
Kukira setelah
peristiwa malam itu, hubunganku dengan Ibu akan semakin membaik. Dalam artian,
Ibu akan lebih banyak diam di rumah dibandingkan di tempat kerjanya.
Ternyata, aku
memang masih naif. Setelah tiga hari menghabiskan waktu, Ibu kembali berangkat
ke Jenewa, Swiss. Katanya, masih ada banyak hal yang harus ia lakukan. Mungkin ia
akan lebih sibuk dibanding sebelumnya.
“Mungkin Ibu
akan lebih sering mengirim surat padamu. Kalau ada kesempatan, pasti Ibu akan
pulang.”
Itu pesan Ibu
tiap kali hendak pergi. Bahkan aku sudah hafal intonasi dan pelafalan ibu saat
mengucapkannya.
Dan seperti
biasa juga, aku akan jadi anak baik. Mengangguk sambil mengulum senyum,
sedangkan hati menggigiti sesal. Kenapa harus secepat ini waktu yang kupunya
untuk berduaan dengan Ibu?
Ingin rasanya
aku menyuruh Ibu menghentikan segala macam pekerjaannya tentang fisika. Tentang
waktu. Tentang mesin waktu. Tentang black hole. Tentang anti-materi. Tentang
LHC. Tentang CERN.
Tapi apa daya.
Ibunya sudah sedemikian menggilai profesinya sebagai fisikawan, bahkan sebelum
aku lahir 16 tahun lalu.
Tapi kali ini,
sebelum Ibu menarik kopernya lebih jauh, aku sempat bertanya.
“Kapan Ibu
akan pulang lagi?”
Tak ada
jawaban.
***
Ibu memang
sengaja tak memberi jawaban agar aku makin giat belajar.
Semakin pintar
aku dalam hal fisika, semakin dekat aku menuju Ibu. Suatu hari nanti, aku ingin
bekerja di tempat yang sama dengan Ibu. Atau mungkin menggantikan posisinya. Ah,
sepertinya yang terakhir itu harus kutarik lagi. Aku tak mau bekerja jika harus
berpisah dengan Ibu.
Fisika kuantum
menjadi bidang yang kukagumi. Meski belum diajarkan secara mendalam di SMA,
tetap saja aku melahap permukaannya. Berbekal buku-buku referensi dari teman
yang kudapat di dunia maya, aku belajar fisika kuantum secara otodidak.
Aku juga
mempelajari tentang astro-fisika. Tentang benda hitam yang ternyata tak selalu
berwarna hitam, atau tentang trigonometri planet. Semua itu menyenangkan, meski
kadang membuat isi kepalaku berantakan.
Semakin aku
berusaha keras, semakin cepat aku bisa berlama-lama dengan Ibu. Benar, kan?
***
Tapi semua itu berakhir sudah. Tiba-tiba
Ibu mengirimkan email yang isinya mengatakan kalau ia akan pulang. Ia juga
memutuskan berhenti bekerja di CERN. Aku tak tahu bagaimana penjelasannya, yang
jelas, Ibu akan segera pulang.
Dan benar
saja. Dua minggu setelah pesan itu sampai padaku, Ibu datang.
Hanya berupa
daging tak bercahaya. Pandangannya bagai bintang katai putih yang siap
menghisap segala hal sebelum akhirnya meledak. Pipinya tirus, seolah hendak
sobek saat kusentuh. Senyumnya masih bangkit, tapi kehilangan sesuatu.
Tak banyak
yang kutanyakan saat itu. Meski masih SMA, tapi aku tahu kalau Ibu sedang tak
ingin ditanyai macam-macam. Yang ia inginkan hanyalah kedamaian. Itu tergurat
di kerutan wajahnya yang makin banyak.
Tiga hari
sepulangnya Ibu, yang ia lakukan hanyalah melakukan pekerjaan Ibu Rumah Tangga.
Memasak, mencuci, menyetrika, menonton tv, atau melakukan hal membosankan
lainnya.
Dari bibirnya
yang makin redup tak pernah terucap apa pun tentang fisika. Apalagi dimensi
keempat yang beberapa waktu yang lalu ia banggakan teramat sangat.
Aku masih
belajar fisika. Meski kini tersendat, tak segiat tempo hari sebelum Ibu pulang.
Dan di suatu
malam, usai menulis sesuatu di kamarnya yang sengaja dibuat remang, Ibu keluar.
Cahaya lilin masih bersinar di iris hitamnya. Dia menghampiriku yang sedang
membaca buku fisika kuantum.
“Rin,”
panggilnya.
Kutengok wajahnya.
Agak baikan. Lebih cantik, tapi tak seenerjik dulu. Guratan wajahnya agak
hilang, berganti jadi sesuatu yang lembut.
“Ada apa, Bu?”
Ibu menarik
buku fisika yang hendak kujadikan bantal. Menggantinya dengan buku tebal yang
judulnya dicetak timbul. Dunia Sophie.
Mataku menatap
heran Ibu.
Seolah mendengar
pertanyaan yang belum kuucap, Ibu mengatakan sesuatu. “Time waits for no
one.”
***
Usai malam itu
terlewat, Ibu benar-benar berubah.
Bacaannya adalah
novel-novel sastra atau buku-buku filsafat. Lagu yang mengitari telinganya pun
kebanyakan sesuatu yang tenang. Damai.
Ibu masih
secantik dulu, juga sebaik dulu. Hanya saja ucapannya tak lagi berapi-api
seperti saat ia yakin sekali akan sukses melakukan suatu percobaan, dan
gerakannya jadi lambat. Tidak seperti dulu. Gesit dan efektif.
Wajahnya benar-benar
membuatku bingung. Pembelajaran fisikaku tersendat karena Ibu memaksaku belajar
filsafat. Dia menyuruhku bersenang-senang di siang hari, dan tekun belajar di
malam hari. Bukan lagi Ibu yang disiplin.
Kesal. Hatiku geram.
Jika pada akhirnya semua harus seperti ini, untuk apa semua memori tentang
fisika di otakku? Untuk apa aku mengerti hal yang sulit dimengerti orang lain
jika pada akhirnya hanya akan dibuang?
Hingga suatu
hari, tanpa sadar aku membentaknya. Tepat di kamarnya yang remang.
“Kenapa Ibu
jadi seperti ini? Kenapa Ibu berhenti melakukan pencarian tentang waktu?!”
Ibu tak marah.
Dia tersenyum. Tenang. Justru ketenangannya itu yang membuatku makin kesal. “Ibu
sudah menemukannya.”
“Bohong!”
Remang lilin
di meja baca membuatku agak pusing. Ibu tersenyum. Mistis.
“Ibu sudah
menemukannya, Rin. Dimensi keempat. Waktu. Dan kamu tahu apa isinya? Sesuatu yang
tak ingin kamu lihat. Itu akan menghantuimu tiap malam.”
Jantungku seolah
diperas sesuatu. Sesak. “Kalau sudah menemukannya, kenapa Ibu tak
mempublikasikannya ke dunia agar semua orang tahu?”
“Karena lebih
baik itu tak diketahui. Selamanya jadi misteri.”
Time Waits For No One
Ucapanku
terhenti saat pandangku bersitatap dengan lelaki yang membukakan pintu. Bibir
bunga dedapnya itu benar-benar membawaku pada peristiwa kemarin.
ooOoo
Usai
duduk di kursi kosong taman koleksi, kukeluarkan novel yang baru saja kubeli.
Mengusap judul yang dicetak timbul secara berulang, membuka sembarang halaman,
lalu menyesap bau kertas yang khas.
Ah...,
ritual ini memang menyenangkan tiap kali membeli buku baru.
Perlahan
jemariku membuka prolog. Senyumku mencuat membaca kalimat pembuka yang begitu menjerat
hati.
Baru
saja aku membaca beberapa paragraf, sebuah nyanyian mengganggu.
“Because
tonight will be the night that i will fall for you....”
Huh!
Siapa sih yang bernyanyi?! Aku ‘kan paling tidak bisa membaca kalau ada suara
yang mengiterupsi. Sekali pun itu penyanyi favoritku.
Jadi, kuangkat tatapan buasku, menatap arah suara yang ada di hadapanku.
Jadi, kuangkat tatapan buasku, menatap arah suara yang ada di hadapanku.
Darahku
seolah terhisap pada senyum tipis nan manis itu. Rajukan yang baru saja
kuteriakkan dalam hati pun ikut meleleh bersama kesal, berganti jadi kagum.
Lelaki
itu menerbitkan matanya, menampakkan irisnya yang sewarna kopi. Lembut. Aku
seolah tenggelam dalam lesung pipit di kedua pipinya. Juga, bibir yang sewarna
bunga dedap itu mengecup kenangan di hatiku.
Tak
ada yang bisa kulakukan selain tertegun menatap mug di ujung gitar yang menagih
sesuatu padaku.
“Permisi,”
ucapnya agak sungkan, menghentikan lagunya sejenak.
Perlu
waktu agak lama bagiku untuk menyadari semuanya. Mug yang terpasang di ujung
gitar itu meminta imbalan rupiah atas suara yang dia keluarkan. Dengan cepat
kukeluarkan selembar dua ribuan dari dompet, lantas memasukkannya agak
malu-malu pada mug berwarna hijau terang.
Ternyata
lelaki itu mengembalikannya dengan senyum yang lebih manis. Sayang, senyum itu
hanya bertahan beberapa detik saja, karena pandangannya sudah beralih pada
orang lain yang duduk di kursi melingkar dekat restoran taman.
“Anu...,”
bibirku melenguh, mengeluarkan suara yang teramat kecil.
Setelah
membisikkan itu, tak ada lagi yang bisa kukatakan. Yang bisa kulakukan hanyalah
mengamati punggung kokoh yang tertutup kaus putih itu. Berpindah dari satu
kursi ke kursi lain, dari satu wajah ke wajah lain, meski tak semuanya memberi
rupiah.
Hingga
punggung itu semakin kecil, buram, lalu menghilang. Tak lagi terjangkau mataku.
ooOoo
Seminggu
terlewat sejak aku pindah ke sekolah baruku, SMA Cipta Rasa. Agak sulit mencari
teman bagi orang introvert sepertiku. Jadi, mendapat kawan sebangku saja
sudah cukup. Tapi peraturan sekolah ini agak menyusahkan, yakni mewajibkan
muridnya mengikuti satu klub.
Dari
semua klub yang ada, tentu aku memilih yang paling cepat pulang dan yang tak
terlalu menyusahkan. Jadi, kupilih saja Klub Sastra.
“Wah,
jangan-jangan kamu juga kepincut Kak Venaldi, yah?”
Sejujurnya
aku agak risih mendengar ucapan Linda—temanku satu-satunya—saat dia mengantarku
mengirim formulir ke ruangan klub sastra.
“Kak
Venaldi itu..., siapa?”
“HAH?!”
Linda berteriak tanpa ragu-ragu. Dengan cepat kusumpal mulutnya itu. Setelah
agak tenang, barulah kulepas lagi. “Kamu nggak tau? Dia itu dapat julukan
‘Pangeran’ lho! Dia itu... pokoknya perfect, deh!
Aku
mangut-mangut. Sepertinya memang setiap sekolah itu selalu punya shining
star. Kalau di sekolahku yang sebelumnya, ada Kak Adrian. Pemain voli yang
sangat terkenal.
Usai
mengetuk pintu tiga kali, aku mengucap salam. Pintu ruang klub yang terbuat
dari jati dibuka dari dalam.
“Permisi,
saya mau—”
Ucapanku
terhenti saat pandangku bersitatap dengan lelaki yang membukakan pintu. Bibir
bunga dedapnya itu benar-benar membawaku pada peristiwa kemarin.
Reaksiku
pasti tampak layaknya seorang fans yang bertemu idol. Maksudku,
raut wajahku. Tapi kutahan sedemikian rupa.
Senggolan
yang agak keras menghantam bahu kiriku. Itu Linda. Ah, benar juga. Aku harus
menyerahkan formulir. Kenapa harus pakai acara bengong segala, sih?
“Ah,
itu... saya mau menyerahkan formulir klub sastra.”
Lelaki
itu menerima kertas formulirku. Mengeceknya dengan cepat, lalu menyodorkan
senyum manisnya padaku. Ah! Itu senyum yang kemarin!
“Oke,
kamu bisa ikut kegiatan klub mulai minggu depan. Kegiatannya setiap hari senin
dan kamis. Ada yang perlu ditanyakan?”
“Tidak....”
“Kalau
begitu, sampai jumpa minggu depan, Rin.”
Hembusan
angin saat pintu ruang klub ditutup itu menggetarkan hatiku. Sayang, kawanku
satu-satunya, Linda, malah mengacaukannya dengan suara cengengesan.
“Cie
yang beneran kepincut Kak Venaldi.”
Baru
kusadari kalau wajahku pasti semerah plum sekarang. Ah, jadi malu rasanya!
ooOoo
Begitu
naifnya aku saat mengira kalau hubunganku dengan Kak Venaldi bisa berjalan
lancar, hanya karena aku tahu kalau tiap minggunya dia mengamen di taman
koleksi.
Nyatanya,
di ruang klub, kehadiranku sungguh tak penting. Meski Kak Venaldi sering
tersenyum padaku, tapi hasratku meminta lebih. Diriku berontak.
Haruskah
kugertak Kak Venaldi agar lebih dekat denganku menggunakan ancaman kegiatan
mengamennya yang kuketahui? Ah, tidak. Pasti dia malah membenciku.
Kucoba
beberapa cara yang agak ringan untuk menarik perhatiannya. Berusaha mengikuti
buku-buku yang ia sukai, menulis puisi untuknya, atau hal lain. Tapi, semuanya
gagal.
Dan
kini, tiga bulan setelah aku bergabung dengan klub, rasanya tak ada sesuatu
yang menarik. Layaknya anak babi yang kalah cepat mendapatkan puting susu saat
pertama berebut, aku menyerah mengejar perhatian Kak Venaldi.
ooOoo
Terakhir
kali aku ke taman koleksi itu dua bulan lalu, saat aku masih berusaha mengejar
perhatian Kak Venaldi.
Tak
banyak yang berubah dari taman ini, kecuali pengunjungnya yang kini lebih
banyak. Bahkan aku dapat tempat duduk di sebelah pria perokok yang menyebalkan.
Hanya untuk menonton ‘konser’ Kak Venaldi.
Rupanya
Kak Venaldi masih belum punya penikmat tetap, karena saat ia mulai bernyanyi,
tak terlalu banyak yang memperhatikan. Hingga lagu menyentuh bagian reff,
barulah Kak Venaldi menyodorkan satu mug ke mug lain.
Sengaja
kukenakan kacamata hitam agar Kak Venaldi tak mengenaliku. Begitu Kak Venaldi
datang, Koin seribuanku jatuh nyaman di mug. Kak Venaldi agak
membungkuk, memberikan senyum tipis nan manis yang sering kudapat kalau
menyapanya.
Ah,
senyum itu! Candu aku dibuatnya.
Tapi
kali ini, ada sesuatu yang berbeda.
Senyum
itu seolah hanya milikku seorang. Senyum yang hanya bisa didapat setelah
memberikan uangku padanya. Senyum itu milikku. Seorang.
...
...
Satu
ledakan kembang api seolah meledak di hati, aku kegirangan sampai-sampai
tersenyum sangat lebar.
Kenapa
juga aku harus bersaing, saat aku bisa membeli senyum itu?
Dan
mungkin, untuk itulah kenapa Kak Venaldi—yang setahuku cukup kaya—melakukan
kegiatan yang sering dianggap mengemis ini. Untuk memberikan senyum khususnya
pada orang-orang yang membutuhkan.
Senyum Milik Pribadi
“Keberuntungan itu tak ada.”
“Ada!”
“Hmmph! Kalau pun ada—” Adrian melempar bola volinya ke
atas. “—Keberuntungan itu akan kupukul—” Adrian melompat, lalu bunyi telapak
tangannya yang menampar bola begitu menggema di seluruh ruang olahraga yang
kosong. “—Seperti bola itu.”
Kuambil bola yang berada di sebelah lapangan. Mengangkatnya
ke hadapan wajahku, lalu pandanganku menelusuri seluruh permukaan bola.
Apa sih istimewanya bola ini?
***
Langit sudah jingga saat aku dan Adrian pulang bersama.
Ditemani dua gelas es cendol yang tadi kubeli, kami berbincang-bincang mengenai
apa pun.
Yang kumaksud ‘apa pun’ itu hanya apa yang kubicarakan,
karena Adrian sejak tadi terus mengoceh tentang voli. Smash, kepercayaan teman, pertandingan final, dan yang paling
membuatku geram itu saat Adrian berbicara tentang bola voli.
Huh! Apa menurutnya aku peduli dengan bola-voli-persetan
itu?
Aku tak menyukai olahraga, terutama voli. Selain karena
tubuhku lemah, voli juga banyak merenggut waktu Adrian yang sudah super-sedikit
untuk mengobrol denganku.
Lihat saja jadwalnya yang mengerikan! Sampai-sampai dia
hanya punya waktu luang untuk mengobrol denganku pada hari sabtu. Itu pun
sesudah ia latihan voli. Arrgh! Karena voli jugalah, sampai saat ini Adrian
belum menyadari perasaanku padanya.
Aku menyukainya sejak pertama bertemu di kelas 8 dulu. Dan
hingga kini, mendekati akhir semester kelas 11, aku masih menyukainya. Aku terus memberikan kode-kode perasaanku
padanya, tapi…
Dia tidak
menyadarinya.
Oke, mungkin aku terlalu naif. Menginginkan seorang pelajar
sibuk seperti Adrian yang—kurasa—tak pernah membicarakan cinta dengan siapa pun, untuk mengerti kode yang
kuberikan. Tapi, salahkah aku berharap?
Maksudku, ayolah! Kami hampir empat tahun bersama, dan
masih terjebak dalam lingkaran bernama sahabat. Dan ini semua karena ia terlalu
sibuk latihan voli.
“Cynthia, kamu dengar apa yang kukatakan?” Adrian
sepertinya menyadari kalau aku terus membeo dalam hati. Telunjuknya menusuk
pipiku yang menggembung, membuatku mendelik padanya.
“Aku dengar.”
Alis Adrian bertautan. “Benarkah?”
“Benar,” tukasku cepat. Kurasakan hembusan angin meniupi
kulitku, dengan suara desahan yang nyaris tak terdengar. Kepalaku mendongkak,
menatap segaris hitam yang mulai tampak di langit senja. Sebentar lagi malam,
dan di ujung jalan, rumahku sudah terlihat.
Adrian masih melempar-lempar bolanya pelan sambil bersiul
di sampingku. Bau keringatnya bercampur parfum menyerang hidungku tanpa ampun.
“Sampai besok, Cynthia,” Adrian berbelok ke kanan tanpa
menoleh padaku.
“Adrian!” panggilku setelah menutup gerbang. Lelaki itu
menoleh, bola matanya yang coklat cemerlang menatapku dalam-dalam. “Apa kamu
tahu kalau ada seseorang yang menyukaimu sejak SMP dulu?”
“Hah? Memangnya ada?” Adrian berhenti memainkan bolanya.
Langkahnya mendekati pagarku.
Seringaiku mengembang. Dengan iseng, sengaja aku menjauh
dari pagar. Begitu membuka pintu, kubalikkan tubuhku sejenak. “Ada. Bahkan
sampai sekarang, dia masih menyukaimu, lho!”
“Siapa? Beritahu aku dong,” pintanya dengan nada seperti anak kecil.
Orang itu aku, bodoh! “Kata gadis itu, kalau kamu mau tahu siapa dia, berhentilah bermain
voli.”
***
Pagi-pagi sekali, Adrian sudah tampak menunggu di depan
pagar rumahku. Aku tersenyum dibuatnya. Namun saat kulihat bola voli di telapak
tangannya, senyumku luntur. Padahal ini hari minggu, pasti ia mau latihan.
Tapi, tumben sekali dia menungguku.
Kusibakkan gorden, lalu dengan cepat keluar rumah dengan celana training dan
sweater abu-abu favoritku. Kulihat Adrian tersenyum padaku. Apa ia mengajakku
jogging bersama?
“Kamu mau olahraga pagi?” sapanya sambil membukakan gerbang
rumahku.
“Begitulah,” sahutku penuh harap.
Adrian melempar bolanya cukup tinggi, lalu menangkapnya
dengan cekatan. “Orang yang menyukaiku itu... Bisakah kamu beritahu aku siapa
dia?”
Rautku berubah kecewa. Harapanku untuk jogging bersamanya luluh. Dengan kesal, aku berkata, “Sudah
kubilang, bukan? Kalau ingin tahu siapa orangnya, berhentilah bermain voli.”
***
Hari ini hari sabtu, dan Adrian terlihat masih normal
seperti biasa. Kecuali dia tak lagi bicara padaku sejak hari minggu lalu.
Sepertinya dia marah karena aku merahasiakan sesuatu darinya.
Oke, sepertinya aku salah langkah. Pada awalnya, kuharap
dengan mengatakan seperti itu, Adrian akan penasaran. Mendekatiku, dan
benar-benar berhenti bermain voli. Aku tahu dia anak yang paling tidak tahan
dengan rahasia, namun aku tak tahu kalau dia anak yang gampang marah karena
rahasia.
Itu salahku.
Tapi saat aku bersiap-siap mengemasi barang-barang untuk
pulang, Adrian tiba-tiba saja menghampiriku dengan raut serius. Dia menyodorkan
secarik tiket padaku.
“Datanglah besok. Aku akan bermain di final pertandingan
antar sekolah. Kalau aku menang, beritahu aku siapa orang yang menyukaiku.
Kalau aku kalah, aku akan berhenti bermain voli. Bagaimana?”
Bagai diguyur madu termanis, hatiku merekah luar biasa
cepat. Meski pun aku sangat sangat enggan melihat pertandingan voli yang kubenci, tapi ini
kesempatanku 1 berbanding 1000. Harus kuambil.
“Baiklah.”
***
Esoknya aku benar-benar datang ke gor, tempat dimana pertandingan final digelar. Anehnya, tribun tempatku duduk hanya terisi beberapa orang, sementara
tribun yang lainnya benar-benar penuh penonton yang tampak ramai. Setengah
kuhempaskan tubuhku ke kursi, mengenyahkan rasa enggan.
Aku pasti memenangkan taruhan ini.
Tak lama kemudian peluit berbunyi. Para pemain voli tampak
memasuki lapangan sambil berbaris, membungkuk
memberi hormat, lalu berpencar ke berbagai tempat. Pemain inti berdiri di
lapangan, sisanya di bangku cadangan.
Adrian berada di depan net sebelah kanan. Dia tampak keren
dengan balutan kaos biru.
Priiit!
Peluit berbunyi. Dan dimulailah bunyi-bunyi tamparan yang
tak kusukai.
***
Entah sejak set berapa aku mulai berhenti menutup
telingaku. Dan entah sejak skor berapa, aku mulai menyukai bunyi telapak tangan
yang menampar permukaan bola voli yang terus berpindah sisi.
Yang jelas, ini adalah babak ke – 3, dengan skor 23 – 21 untuk kemenangan sekolahku.
Adrian tampak luar biasa tegang. Begitu pun dengan seisi gor yang hening,
membiarkan bunyi tamparan servis menggema.
Bola berayun ke sisi tim musuh. Dengan beberapa kali
sentuhan, pemain musuh meluncurkan smash
keras yang tak bisa dihadang timku. 23 – 22. Adrian mendesah kecewa, sementara
gor riuh sorak bahagia.
Ketegangan kembai merebak. Musuh melakukan servis cukup
keras, tapi berhasil dibalikkan. Seseorang yang menjadi pengumpan mengangkat
bola ke arah Adrian, dan...
BAM!
Bola hasil smash
Adrian menukik tajam tanpa bisa dibalikkan. 24 – 22.
“Yeeeey!” aku berteriak kegirangan seorang diri, membuat seisi
gor memandangiku heran. Peduli setan dengan tatapan itu!
Adrian tampak menoleh padaku sambil menyikutkan senyumnya.
Ah! Wajahnya seolah bersinar karena peluh. Lama aku memandanginya, hingga bunyi
peluit mengagetkanku. Game kembali
dimulai.
Servis melayang mulus melewati net. Beberapa kali sentuhan, tapi tak ada smash. Bola berayun lagi ke tim Adrian.
Seseorang dengan kaos yang berbeda sendiri tampak menerima bola, lalu si
pengumpan kembali memberikan bola pada Adrian.
Saat itulah, seolah dunia mengalami slow motion, dengan jelas kulihat raut penuh harap saat Adrian
melompat begitu tinggi. Nafasku seolah ikut meloncat. Saat telapak tangan
Adrian beradu dengan permukaan bola, kututup mataku erat-erat.
Keberuntungan itu tak
ada. Kalau pun ada, keberuntungan itu akan kupukul seperti bola itu.
BAM!
Gor terhenyak. Hatiku serasa bergetar sedemikian hebat,
saat teriakan bahagia Adrian memecahkan hening. Kubuka mataku, ternyata Adrian
menang!
“Yaaay Adrian menang!” aku berteriak bahagia, mataku serasa
hangat karena terharu. Ah, tak pernah kubayangkan menonton voli se-menyenangkan
ini. Dengan senyum yang masih bertengger, kuseka mataku.
“Cynthia!” panggil Adrian.
Suasana mendadak kembali hening. Kurasakan darahku mendesir
saat Adrian menatapku serius.
“Katakan padaku, siapa yang menyukaiku itu.”
Volley Love
Seringai senyum kutarik paksa di bibirku yang terbalut gugup. Kurekatkan lagi blazer hitam yang memelukku, saat pandangku berlabuh pada pendaran lampu dari lantai dua rumah yang benderang itu. Dia melambai padaku, sosoknya berhasil kucuri saat rembulan malu-malu memberikan sinarnya. Adinda.
Adinda makin
memancarkan cantiknya seiring langkahku yang kini berada di hadapan pintu
rumahnya. Senyumnya mempersilahkanku masuk, sementara lelaki di sampingnya
mengusirku dengan tatapan sinisnya.
Aku malah membalas usiran itu dengan seringai dan langkah kaki yang yakin.
***
Riuh memecah
seisi ruangan saat Adinda menuruni satu per satu anak tangga, menyebarkan
pesonanya yang sempurna. Malam itu ia bersinar, lebih menyilaukan dari lampu
yang menggantung di atasku.
Langkahnya
makin merekahkan tiap pasang mata, membuat sebagian pandang terkesiap melihat
bidadari yang menjentikkan jarinya pada pegangan kayu yang halus. Mataku seolah
tertuju padanya, padahal kusorot lelaki di sampingnya yang menampakkan kemuakkan
luar biasa di tiap langkahnya.
Tak ada yang
memperdulikan seorang manusia saat berjalan di samping bidadari.
Setelahnya
ruangan kembali tenang, meski bisik-bisik masih melayang, nyaris tak terdengar.
Setelah tetek-bengek lain tentang prosesi pertunangan, tiba saat-saat yang
paling kutunggu.
Senyumku
bertemu senyum Adinda, tapi pandangku terus mencuri-curi wajah lelaki yang
duduk terhalang tubuh bidadari di hadapanku ini. Lengannya terlihat mencengkram
lututnya keras-keras. Kutusukkan seringai padanya.
Lalu kurendahkan
tubuhku, dan kujawil jemari lentik Adinda. Desahan tertahan terdengar
sayup-sayup, tapi aku tak peduli. Kulanjutkan dengan memasangkan cincin
pertunangan pada jari manis Adinda.
Kuangkat
wajahku, dan kudapati pelupuk mata Adinda berair. Terharu. Sementara aku,
tersenyum kecut.
Maafkan aku,
Adinda. Maaf telah menebar benih kebusukan di tengah ladang cintamu yang suci.
Kembali
kucuri pandang ke arah lelaki yang kini rahangnya gemertak. Wajahnya merah
padam. Tentu saja tak akan ada yang menyorot lelaki yang termakan amarah setan
saat di hadapannya ada bidadari yang bertemu pangeran tampan.
Kuangkat
senyum dan alisku berbarengan dalam sekian detik padanya, sebelum akhirnya mencium
punggung lengan Adinda. Lembut.
***
“Tadi
romantis sekali, bukan?”
“Ya... Kukira
begitu.”
“Mana ucapan
selamatmu?”
“Selamat.”
“Hanya itu?”
Kutahan
langkahku hanya untuk mendengar pembicaraan yang berakhir dengan sendirinya
itu. Suara Adinda terdengar melenguh kesal, saat tak lagi kudengar suara lelaki
itu. Segera kujejakkan langkahku.
Ternyata dia
langsung bereaksi saat melihatku. Bengis. Sementara Adinda terlihat kikuk,
sepertinya dia memilah-milah mau bicara apa di depanku. Kukembangkan saja
senyumku sambil terus mendekat.
“Langitnya
indah, yah,” Adinda bergumam sambil membalikkan tubuhnya. Kini ia
memunggungiku.
“Ya, indah,”
sahutku. Kusandarkan punggungku pada pagar kayu yang terasa menyesakkan,
dipenuhi kebencian lelaki itu yang menjalar. “Bisakah aku bicara berdua dengan
Devan?”
Devan
menyikutkan pandangnya padaku. Ia pasti merasa terganggu, karena memang
seharusnya tak ada yang perlu kami bicarakan. Bahkan aku pun ragu, masihkah aku
berhak bicara padanya setelah apa yang kulakukan?
“Aku ikut.”
Adinda menatapku teguh. Beginilah sikapnya, selalu ingin ikut campur. Tak
terlalu bagus menurutku.
“Perbincangan
antar lelaki.” Kusentuh hidung manisnya dengan jemariku. Membuat bekas merona
di kedua pipi Adinda, tapi berhasil membuat gadis itu beringsut pergi dengan
senyum malu.
Setelah
langkah Adinda tak lagi terdengar, hening langsung menyergap.
Kutelusuri
guratan pagar kayu ini perlahan, lalu dengan iseng jemariku berhenti di bahu
Devan yang bergeming. Kaku. Entah sumpah-serapah macam apa yang ia muntahkan
dalam hatinya, yang jelas ia benar-benar tak ingin bicara denganku.
“Malam yang
indah, bukan?”
Kubuka
percakapan yang beku ini, meski aku tahu kalau Devan tak akan menyahut sedikit
pun. Dia pasti hanya akan terus berdiam, dan berdiam, lalu pergi dan mengatakan
pada Adinda kalau aku sudah selesai bicara.
Selalu
seperti itu.
Tapi malam
ini berbeda. Setidaknya, inilah hal terakhir yang bisa kulakukan untukmu,
kawan.
Dalam gerakan
cepat, aku duduk selonjor di hadapannya. Pandangnya dipalingkan, membuatku
merasa makin lelah bersamanya.
“Lihatlah
dirimu, Devan. Sungguh menyedihkan,” cibirku. Tingkah Devan yang tetap
bergeming membuat kesalku meninggi. “Apa yang kau miliki sekarang? Aku sudah merebut
Adinda, adik tiri yang dulu kau cintai sebelum orangtua kalian menikah!”
Devan masih
mengunci mulutnya, membuatku benar-benar mencekik otakku untuk mengatakan
sesuatu yang lain.
“Lembut dan
wangi,” kuendus telapak tangan kananku yang terbuka. Seringaiku mengekor.
“Apa?”
Dia bereaksi. “Punggung lengan Adinda.”
Terdengar
geraman tertahan yang kuhiraukan. Selanjutnya kulingkarkan lenganku sendiri,
seperti sedang memeluk seseorang. Bibir hidungku merekah, pura-pura menghirup
sesuatu.
“Tubuhnya
terasa hangat, rapuh, dan wangi.”
“Brengsek...”
Kata itu nyaris tak terdengar, jika saja gertakan gerahamnya tak
mengucapkannya. Bagus, keluarkan lagi, kawan... Lagi!
Inilah
senjata terakhirku. Kugoreskan jemariku pada bibir tipisku, lalu mengecapnya,
seolah ada rasa manis di ujung jemariku yang hampa. Sekuat tenaga kutarik
senyum sinisku sambil berkata. “Terutama bibirnya, seperti stroberi.”
“BRENGSEK!”
Sebuah
pukulan menghantam wajahku. Telak. Wajahku terpaling, imbas luapan emosinya
yang tertahan selama setahun penuh. Aku belum puas, belum puas! Kutarik lagi
seringai sambil menatapnya dengan ekor pandangku.
“Kau kesal?
Kenapa tidak kau katakan dari dulu kalau kau menyukainya?” Aku setengah
berteriak mengatakannya sambil berdiri. Sorot kami bertautan.
“DIAM!”
Hardiknya. Pukulan lain menghujam perutku, membuatku terhuyung beberapa
langkah, lalu berpegangan pada salah satu tiang rumah yang beku. Daven
menundukkan kepalanya. “Kau tidak tahu apa-apa!”
Aku masih
belum puas! Langkahku yang lemas kembali mendekatinya, lalu kucengkram kerah
pakaiannya yang sudah pasti akan ia buang setelah hari berganti.
“Kalau kau
mengatakannya sejak dulu—”
Tendangan
kekesalan yang terpendam selama setahun tertanam di perutku. Punggungku terpaku
pada tiang tadi, sebelum tubuhku perlahan merosot.
“—Mungkin aku
tak akan melamarnya malam ini—”
Wajahnya
dipalingkan, tapi bulan menyorot matanya yang menampakkan penyesalan luar
biasa.
“—sahabatku.”
Pandangku
berkunang-kunang. Dengan sisa tenagaku, kembali kulanjutkan ucapakanku di
sela-sela nafasku yang terbatuk-batuk.
“Tak ada yang
melarangmu menyukai adik tirimu sendiri, kawan.”
Sesaat
sebelum duniaku menggelap, hatiku bersorak girang. Aku bahagia, karena bisa membuat Devan jujur
pada perasaannya sendiri.
Kuharap
luapan emosinya tadi yang meneriakkan rasa cintanya yang tak kunjung dicuapkan
mulutnya, walau sudah sangat telat. Sungguh. Sangat. Telat.
***
Cerita ini diikutsertakan
dalam tantangan menulis @KampusFiksi tentang #KarakterJahat
***
Pertunangan
*Tulisan ini buat tantangan dari @kampusfiksi tentang #DeskripsiSetting*
***
(1)
***
Hingar bingar
kota mulai redup seiring langkahku yang menjauh. Selesai kudaki bukit yang
cukup tinggi ini, angin malam langsung menyambutku dengan dinginnya. Membuatku
makin merapatkan jaket.
Mataku
beringsut membesar saat kusadari bangunan itu tampak begitu indah. Tokyo Tower.
Ia bagaikan matahari yang menyinari Tokyo di malam hari, sementara
gedung-gedung di sekelilingnya—yang semuanya nyaris mengeluarkan cahaya biru,
bagaikan planet dan asteroid yang mengelilinginya.
Bising sudah
lenyap. Bau kehidupan pun nyaris tak tercium di sini. Yakinlah aku sekarang,
Tokyo Tower benar-benar nyawa kota Tokyo, membuat kota ini bernyawa dan
berwarna, yang kemudian memaksaku mengingat seseorang.
Hiyori…
Baru saja
kusadari satu hal, nyaris tak ada bintang yang terlihat. Pasti kalah terang
dibanding kota ini.
Ah, aku tak
bisa berlama-lama memandangi bangunan itu, yang benar-benar mirip dengan Hiyori
bagiku. Pemberi kehidupan, pemberi warna, penawar hambar, begitu menyilaukan.
Untuk
terakhir kalinya, kutatap selama mungkin bangunan yang terangnya masih tak
berkurang itu. Tak ada bangunan lain yang setara dengannya. Sesaat setelahnya,
sebuah pertanyaan menggelitik meloncati pikiranku.
Apa Tokyo
Tower tidak merasa kesepian?

