Posted by : Unknown
Rabu, 25 Maret 2015
Untuk Rizki,
Maaf tidak memberitahumu sebelumnya tentang kepindahanku.
Kamu pasti kaget, bukan? Hehehe. Karena aku punya janji akan menceritakan
tentang masa lalu kita padamu, maka, kutulis surat ini di kereta yang sedang
mengular menuju Purwokerto.
Melihat persawahan yang begitu menghampar bagai karpet
membuatku teringat rerumputan tak terurus yang ada di samping kelas IX - F,
kelas kita dulu, tempat aku mengenalmu.
ooOoo
Menginjak kelas sembilan, aku benar-benar merasa tak ada satu hal pun yang
berubah dalam diriku. Padahal, aku—Vena Dila Handayani—ini sebentar lagi
keluar dari SMP; mendaftar ke SMA lain; dan terpisah dari teman-teman. Tapi
beginilah aku, benar-benar merasa tak ada bedanya.
Kelas IX – F. Minggu pertama, seperti biasa, diadakan pembentukan pengurus
kelas. Orang-orang mulai mengajukan calon mereka masing-masing. Aku menurut
saja. Mengangkat jari dan memberikan pilihan saat diminta, serta bertepuk
tangan saat Surya terpilih jadi ketua kelas. Tak ada yang menarik.
Aku sendiri lebih senang menghabiskan waktu untuk bicara dengan teman
sebangkuku, Disti. Meski banyak bicara, Disti ini orangnya lucu. Tubuhnya
kecil, rambutnya seperti mangkuk, serta bola matanya begitu bulat. Sayang,
karena lelaki di kelas sering meledeknya, dia jadi sering menangis. Dan
biasanya akulah yang menjadi tempatnya menangis.
Kehidupanku sungguh biasa saja. Belajar, bermain dengan wajar, mengikuti
pelajaran tambahan, les, lalu pulang dan tidur. Begitu dan terus begitu.
Sesekali mengeluh, di lain waktu tertawa, menangis, atau tertawa sambil
menangis.
Menginjak semester terakhir masa SMP, suasana kelas berubah. Meski tidak
terlalu drastis, tapi aku dapat merasakannya dengan jelas. Anak-anak jadi lebih
serius. Disti jadi tidak sering diganggu, malah karena kepintarannya kini dia
selalu didekati orang-orang untuk berdiskusi soal pelajaran-pelajaran. Syukurlah.
“Kamu tau si Aldi, gak?” tanya Disti.
Sore itu, kira-kira dua bulan sebelum UN, aku mengunjungi rumah Disti untuk
belajar bersama. Hanya kami berdua, sebab aku tidak pernah bisa fokus kalau
belajar terlalu banyak orang.
“Si Aldi yang bandel itu?”
“Iya!” Disti berseru kencang. Kelopak matanya terbuka lebar. “Belakangan
ini dia sering banget sms aku.”
“Kamu seneng?”
“Hmm, gimana ya, seneng sih...,” Disti meletakkan pensil. Punggungnya disandarkan
pada dinding kamarnya yang berwarnakan biru. “Awalnya dia nanya-nanya tugas
gitu. Pas udah beres, dia malah nanyain hal-hal gak lain, terus gak kerasa
smsan sampai malem.”
Aku melipat tangan di atas paha. Melihat gerak-geriknya, jelas Disti sedang
bahagia. Ya, wajar saja sih, soalnya dia kan selama ini—setahuku—tak pernah
didekati lelaki mana pun.
Disti meraih gelas dari atas meja dan meminum airnya hingga tak tersisa. Meja
bundar dari kayu mahoni itu dipoles halus sekali. Barang-barang di kamar Disti
memang tergolong mewah. Karpet yang lembut, tempat tidur yang empuk, bingkai
cerminnya pun tampak elegan dengan motif yang tak kuketahui bentuknya. Di balik
semua itu, Disti pandai menyembunyikan derajat orangtua-nya yang bisa
digolongkan sebagai orang kaya.
Tanpa sadar Disti sedang membicarakan sesuatu, dan aku kehilangan beberapa
paragrafnya, jadilah di penghujung kalimat aku hanya bisa mengiyakan.
“Siapa?” todong Disti penasaran.
“Apanya?”
“Itu, cowok yang ngedeketin kamu,” Disti menggodaku dengan suaranya. “Kamu
bilang ada.”
“Eh, bercanda, tahu!”
“Nggak, pasti ada,” Disti merangkak mendekatiku lagi. “Vena, kamu itu
cantik, rambutmu panjang dan bagus. Kulit kamu juga bersih. Pasti ada yang
suka.”
Yeah, jika saja aku mengenakan kerudung, bukan
kalung salib, batinku.
“Nggak ada kok, beneran.”
“Kemaren aku lihat isi hapemu, kok kebanyakan smsnya dari Rizki....”
Oh, Rizki. Rizki pertama kali mengirimkan pesan padaku di hari yang sama
saat kami menjadi teman satu kelompok tugas praktik drama bahasa Inggris. Sekitar
satu bulan yang lalu. Meski sudah saling kenal sejak awal tahun pelajaran, dia baru
mengajakku bicara santai di penghujung semester dua.
Kalau dipikir-pikir, mirip juga kelakuan Rizki dengan Aldi. Seperti Aldi,
Rizki juga sering mengirim pesan soal pelajaran. Kalau sudah selesai, dia
biasanya akan membahas sesuatu yang lain, disertai argumennya. Misalnya saja,
kemarin kami membicarakan sebuah anime
berjudul Baka To Test.
Argumen yang dikemukakan Rizki dapat kutangkap dengan mudah, dan kebanyakan
aku sependapat dengannya.
Aku paling senang kalau dia sudah membahas tentang antariksa. Rizki bilang,
seharusnya manusia yang belajar astronomi itu taat beragama, karena di angkasa
sana banyak sekali ciptaan Tuhan yang belum terjamah manusia. Lebih jauh lagi,
Rizki membandingkan ukuran-ukuran planet bumi dengan matahari, matahari dengan
bintang lain yang ukurannya jauh lebih besar: 10x, 100x, sampai jutaan kali,
dan itu membuktikan tak ada apa-apanya manusia.
“Oh, Rizki emang sering sms, tapi
gak tiap hari,” aku membela diri.
“Tapi deket, kan?”
“Deket sebagai temen, iya,” kututup pembincangan hari ini karena waktu
sudah menunjuk pukul lima sore. “Eh, aku pamit pulang dulu ya, takut orangtuaku
khawatir.”
Disti mengantarku pulang sampai ke pinggir jalan. Saat angkot yang kunaiki
melaju, di jalan yang tadi kulihat Disti melambaikan tangan. Angkot terus
melaju.
ooOoo
Kira-kira pukul sembilan malam aku keluar dari kamar dan mengamati langit
malam. Rizki mengirimkan pesan padaku, memberitahukan kalau langit saat ini
sedang cerah, jadi aku bisa mengamati rasi bintang dengan nyaman.
Lantai dua rumahku memang sengaja dibiarkan terbuka tanpa atap sebagai
tempat jemuran. Ternyata benar. Dari sini aku bisa melihat bintang yang
berkedip di tengah hitamnya langit malam. Bintang-bintang itu, kalau
kuperhatikan seperti intan yang ditabur di angkasa. Betapa kaya Tuhan yang
memiliki segalanya.
Ada rasi bintang pari atau salib di langit sebelah selatan. Tergambar juga
meski buram rasi bintang biduk, aku menyebutnya Beruang Besar. Di sebelahnya
ada Beruang Kecil. Hanya itu yang dapat kukenali, sisanya, hanya memancarkan
gemerlap cahaya.
Selang beberapa saat, Rizki menelepon.
“Bagaimana? Indah, bukan?” ucapnya di ujung sana.
Aku mengangguk. Sesaat kemudian aku tersenyum geli. Memangnya anggukan bisa
terdengar ke ujung sana. “Ya, indah, hehe. Kamu lagi liat bintang apa?”
“Scorpion.”
Kepalaku berputar. “Rasi bintang scorpion itu ada di mana?”
“Di timur, agak ke bawah sedikit...,” nada bicara Rizki seolah dia melihat
setiap gerakanku. “Ketemu?”
“Nggak.”
“Hahaha, memang gak terlalu jelas, sih.”
Kami terdiam. Ponselku masih menempel di telinga, dan di seberang sana pun
Rizki belum memutus sambungan. Hening menyergap. Angin mulai membelaiku dengan
dingin, tapi aku masih enggan pergi. Senyap sekali. Jangkrik terdengar berisik
tapi merdu bersenandung dengan bunyi dedaunan yang bersentuhan satu sama lain.
Aku mendadak merasa dalam kesunyian, hanya aku dan Rizki manusia yang ada di
bumi.
“Coba lihat langit,” ujar Rizki. Aku menurut. “Rasi bintang apa yang kamu
lihat dengan jelas? Biduk? Orion?” saat mengucapkan salib, aku mengiyakan. “Ya,
di sini juga terlihat jelas. Indah sekali, seolah ada benang sutra yang menyambungkan
mereka.”
“Aku setuju,” sahutku.
“Meski kita berada di tempat yang berbeda, kita masih dapat melihat langit
yang sama,” suaranya terdengar lirih, seperti bunyi belalang yang digoyang
angin. “Menurutmu, apa Tuhan menciptakan bintang-bintang di langit hanya untuk
keindahan dan fungsi astronomis?”
“Sebagai penunjuk arah?” tebakku.
“Kalau menurutku, selain semua fungsi itu, bintang juga sebagai penanda. Ya,
bisa penanda apa saja. Sebuah peristiwa bersejarah, peristiwa besar, seperti
peristiwa penggulingan Raja Harold oleh William The Conqueror yang dipercaya ditandai berbarengan dengan munculnya
komet Halley tahun 1066, atau bisa juga sebagai penanda akan sebuah cita-cita.”
Aku menggumamkan ungkapan setuju.
“Coba kamu tunjuk satu bintang. Sambil mengingat-ingat bintang itu,
sebutkan cita-citamu. Suatu hari nanti, kalau kamu sedang bingung atau
kehilangan arah, keluarlah di malam hari, lihat lagi bintang itu. Aku sering
melakukannya, dan kadang aku merasa bintang itu bicara padaku, ‘hei, Rizki! Kenapa
kau putus asa seperti itu? Bukankah kau sudah berjanji padaku akan menjadi
sukses?’ dan tiba-tiba saja aku merasa semangat lagi.”
Ucapannya menggelikan bagiku. Suatu kehangatan mendekap hatiku. Rasa hangat
ini membuatku tersenyum. “Terima kasih.”
“Kembali kasih.”
...
“Omong-omong, ini sudah pukul sepuluh,” Rizki seolah mengatakan padaku
jangan lupa tidur.
“Belum ngantuk, kamu aja yang tidur duluan.”
ooOoo
Surat dari Vena itu datang
tiga hari setelah aku datang ke rumahnya yang kosong. Aku membaca surat itu
saat sedang menaiki commuter line untuk
keperluan bisnis di Jakarta Barat.
Saat membaca surat itu,
sesuatu dalam hatiku menggeliat. Rasa hampa masih saja terasa, tapi kata-kata
dari Vena hangat bagai kunang-kunang yang terbang ke bagian terhampa dalam
tubuhku.
Di bagian terhampa itu tak
ada apa-apa selain kehampaan itu sendiri. Dan sepertinya, kupu-kupu itu melebur
dalam kehampaan, karena satu-dua jam setelah membaca surat itu, aku bersikap
seolah tak ada apa-apa, dan aku pun belum dapat mengingat-ingat perjalanan
hidupku dengan jelas.
Seperti yang ditulis Vena
di penghujung suratnya, aku memang tak harus melakukan apa-apa selain
menunggu surat lain darinya untuk sekarang.
ooOoo
Sekian surat dariku untuk kali ini. Saat kamu menerima
surat ini, aku sudah sampai Purwokerto.
Kira-kira tiga sampai empat hari ke depan aku banyak
kegiatan, jadi mungkin suratnya baru akan kutulis di hari minggu atau pada
malam hari kalau aku tidak kelelahan. Hehehe, tetap do’akan aku sehat agar bisa
terus menulis surat untukmu, ya!
Temanmu,
Vena.