Posted by : Unknown Minggu, 10 Agustus 2014

Ucapanku terhenti saat pandangku bersitatap dengan lelaki yang membukakan pintu. Bibir bunga dedapnya itu benar-benar membawaku pada peristiwa kemarin. 

ooOoo

Usai duduk di kursi kosong taman koleksi, kukeluarkan novel yang baru saja kubeli. Mengusap judul yang dicetak timbul secara berulang, membuka sembarang halaman, lalu menyesap bau kertas yang khas.
Ah..., ritual ini memang menyenangkan tiap kali membeli buku baru.
Perlahan jemariku membuka prolog. Senyumku mencuat membaca kalimat pembuka yang begitu menjerat hati.
Baru saja aku membaca beberapa paragraf, sebuah nyanyian mengganggu.
Because tonight will be the night that i will fall for you....”
Huh! Siapa sih yang bernyanyi?! Aku ‘kan paling tidak bisa membaca kalau ada suara yang mengiterupsi. Sekali pun itu penyanyi favoritku.
Jadi, kuangkat tatapan buasku, menatap arah suara yang ada di hadapanku.
Darahku seolah terhisap pada senyum tipis nan manis itu. Rajukan yang baru saja kuteriakkan dalam hati pun ikut meleleh bersama kesal, berganti jadi kagum.
Lelaki itu menerbitkan matanya, menampakkan irisnya yang sewarna kopi. Lembut. Aku seolah tenggelam dalam lesung pipit di kedua pipinya. Juga, bibir yang sewarna bunga dedap itu mengecup kenangan di hatiku.
Tak ada yang bisa kulakukan selain tertegun menatap mug di ujung gitar yang menagih sesuatu padaku.
“Permisi,” ucapnya agak sungkan, menghentikan lagunya sejenak.
Perlu waktu agak lama bagiku untuk menyadari semuanya. Mug yang terpasang di ujung gitar itu meminta imbalan rupiah atas suara yang dia keluarkan. Dengan cepat kukeluarkan selembar dua ribuan dari dompet, lantas memasukkannya agak malu-malu pada mug berwarna hijau terang.
Ternyata lelaki itu mengembalikannya dengan senyum yang lebih manis. Sayang, senyum itu hanya bertahan beberapa detik saja, karena pandangannya sudah beralih pada orang lain yang duduk di kursi melingkar dekat restoran taman.
“Anu...,” bibirku melenguh, mengeluarkan suara yang teramat kecil.
Setelah membisikkan itu, tak ada lagi yang bisa kukatakan. Yang bisa kulakukan hanyalah mengamati punggung kokoh yang tertutup kaus putih itu. Berpindah dari satu kursi ke kursi lain, dari satu wajah ke wajah lain, meski tak semuanya memberi rupiah.
Hingga punggung itu semakin kecil, buram, lalu menghilang. Tak lagi terjangkau mataku.

ooOoo

Seminggu terlewat sejak aku pindah ke sekolah baruku, SMA Cipta Rasa. Agak sulit mencari teman bagi orang introvert sepertiku. Jadi, mendapat kawan sebangku saja sudah cukup. Tapi peraturan sekolah ini agak menyusahkan, yakni mewajibkan muridnya mengikuti satu klub.
Dari semua klub yang ada, tentu aku memilih yang paling cepat pulang dan yang tak terlalu menyusahkan. Jadi, kupilih saja Klub Sastra.
“Wah, jangan-jangan kamu juga kepincut Kak Venaldi, yah?”
Sejujurnya aku agak risih mendengar ucapan Linda—temanku satu-satunya—saat dia mengantarku mengirim formulir ke ruangan klub sastra.
“Kak Venaldi itu..., siapa?”
“HAH?!” Linda berteriak tanpa ragu-ragu. Dengan cepat kusumpal mulutnya itu. Setelah agak tenang, barulah kulepas lagi. “Kamu nggak tau? Dia itu dapat julukan ‘Pangeran’ lho! Dia itu... pokoknya perfect, deh!
Aku mangut-mangut. Sepertinya memang setiap sekolah itu selalu punya shining star. Kalau di sekolahku yang sebelumnya, ada Kak Adrian. Pemain voli yang sangat terkenal.
Usai mengetuk pintu tiga kali, aku mengucap salam. Pintu ruang klub yang terbuat dari jati dibuka dari dalam.
“Permisi, saya mau—”
Ucapanku terhenti saat pandangku bersitatap dengan lelaki yang membukakan pintu. Bibir bunga dedapnya itu benar-benar membawaku pada peristiwa kemarin.
Reaksiku pasti tampak layaknya seorang fans yang bertemu idol. Maksudku, raut wajahku. Tapi kutahan sedemikian rupa. 
Senggolan yang agak keras menghantam bahu kiriku. Itu Linda. Ah, benar juga. Aku harus menyerahkan formulir. Kenapa harus pakai acara bengong segala, sih?
“Ah, itu... saya mau menyerahkan formulir klub sastra.”
Lelaki itu menerima kertas formulirku. Mengeceknya dengan cepat, lalu menyodorkan senyum manisnya padaku. Ah! Itu senyum yang kemarin!
“Oke, kamu bisa ikut kegiatan klub mulai minggu depan. Kegiatannya setiap hari senin dan kamis. Ada yang perlu ditanyakan?”
“Tidak....”
“Kalau begitu, sampai jumpa minggu depan, Rin.”
Hembusan angin saat pintu ruang klub ditutup itu menggetarkan hatiku. Sayang, kawanku satu-satunya, Linda, malah mengacaukannya dengan suara cengengesan.
“Cie yang beneran kepincut Kak Venaldi.”
Baru kusadari kalau wajahku pasti semerah plum sekarang. Ah, jadi malu rasanya!

ooOoo

Begitu naifnya aku saat mengira kalau hubunganku dengan Kak Venaldi bisa berjalan lancar, hanya karena aku tahu kalau tiap minggunya dia mengamen di taman koleksi.
Nyatanya, di ruang klub, kehadiranku sungguh tak penting. Meski Kak Venaldi sering tersenyum padaku, tapi hasratku meminta lebih. Diriku berontak.
Haruskah kugertak Kak Venaldi agar lebih dekat denganku menggunakan ancaman kegiatan mengamennya yang kuketahui? Ah, tidak. Pasti dia malah membenciku.
Kucoba beberapa cara yang agak ringan untuk menarik perhatiannya. Berusaha mengikuti buku-buku yang ia sukai, menulis puisi untuknya, atau hal lain. Tapi, semuanya gagal.
Dan kini, tiga bulan setelah aku bergabung dengan klub, rasanya tak ada sesuatu yang menarik. Layaknya anak babi yang kalah cepat mendapatkan puting susu saat pertama berebut, aku menyerah mengejar perhatian Kak Venaldi.

ooOoo

Terakhir kali aku ke taman koleksi itu dua bulan lalu, saat aku masih berusaha mengejar perhatian Kak Venaldi.
Tak banyak yang berubah dari taman ini, kecuali pengunjungnya yang kini lebih banyak. Bahkan aku dapat tempat duduk di sebelah pria perokok yang menyebalkan. Hanya untuk menonton ‘konser’ Kak Venaldi.
Rupanya Kak Venaldi masih belum punya penikmat tetap, karena saat ia mulai bernyanyi, tak terlalu banyak yang memperhatikan. Hingga lagu menyentuh bagian reff, barulah Kak Venaldi menyodorkan satu mug ke mug lain.
Sengaja kukenakan kacamata hitam agar Kak Venaldi tak mengenaliku. Begitu Kak Venaldi datang, Koin seribuanku jatuh nyaman di mug. Kak Venaldi agak membungkuk, memberikan senyum tipis nan manis yang sering kudapat kalau menyapanya.
Ah, senyum itu! Candu aku dibuatnya.
Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda.
Senyum itu seolah hanya milikku seorang. Senyum yang hanya bisa didapat setelah memberikan uangku padanya. Senyum itu milikku. Seorang.
...
...
Satu ledakan kembang api seolah meledak di hati, aku kegirangan sampai-sampai tersenyum sangat lebar.
Kenapa juga aku harus bersaing, saat aku bisa membeli senyum itu?
Dan mungkin, untuk itulah kenapa Kak Venaldi—yang setahuku cukup kaya—melakukan kegiatan yang sering dianggap mengemis ini. Untuk memberikan senyum khususnya pada orang-orang yang membutuhkan.

Atau..., entahlah. Aku tak terlalu peduli pada alasannya. Yang penting, akan kubeli semua senyum kak Venaldi.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2013 Peziarah Kata - Shiroi - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -