Posted by : Unknown
Minggu, 17 Agustus 2014
Suatu ketika,
Ibu pernah datang dengan mata seterang bintang sirius. Pancarannya menghangatkan
tubuhku yang sedang didekap dinginnya sepi sehabis perginya Ayah dengan wanita
lain.
“Ibu berhasil,
Rin!” pekiknya.
Kami berpelukan.
Di depan khalayak penghuni cafe yang kebingungan dengan datangnya seorang
wanita paruh baya berbusana serba putih. Jas yang menjuntai lembut sampai ke
betis.
Ibu tak
berbohong saat mengirimkan pesan kalau ia akan langsung menemuinya selepas dari
bandara.
Bibir Ibu tersenyum selebar kelopak mawar. Pipi
yang biasanya tirus itu kini hidup, bersamaan dengan lesung pipit manisnya yang
kembali datang, menghisap rindu. Hidungku bersentuhan dengan hidung Ibu yang
semulus lambang integral tulisannya.
“Dev, aku
pesen cappucino dua,” pesanku pada Devi, sahabatku yang menjadi pelayan
sekaligus pemilik cafe ini. Beres memesan, tak kusia-siakan waktu untuk mencumbu
tatapan Ibu yang hangat.
“Ibu berhasil,
Rin! Akhirnya...,” ucapnya. Lagi. Dengan nafas yang lebih teratur.
Pandanganku menelisik
jas putih kusam yang dikenakan Ibu. “Berapa hari Ibu pakai baju itu?”
“Satu bulan,
kalau tidak salah. Eh, itu tidak penting!” Ibu memprotes. Bibirnya menikung
seperti payung. Tapi tetap manis. “Yang penting Ibu harus ngasih tau kalau Ibu
berhasil menemukan apa yang selama ini Ibu cari, Rin!”
“Pacar baru?”
tebakku. Asal. Tapi memang itu yang kuinginkan. Ayah baru. Pelindung baru.
“Ish, itu bisa
dilakukan kapan saja kalau Ibu mau.”
Aku terkekeh
mendengarnya. Tidak berlebihan apa yang dikatakan Ibu. Sebulan setelah Ayahku
memutuskan bercerai, terhitung sudah tiga pria memberikanku hadiah. Ketiganya kenalan
Ibu sewaktu kuliah atau SMA.
“Jadi, apa
yang membuat Ibuku tersayang ini jadi sesenang ini?”
Ibu melucuti
senyum terindah miliknya. “Dimensi keempat. Waktu.”
***
Kukira setelah
peristiwa malam itu, hubunganku dengan Ibu akan semakin membaik. Dalam artian,
Ibu akan lebih banyak diam di rumah dibandingkan di tempat kerjanya.
Ternyata, aku
memang masih naif. Setelah tiga hari menghabiskan waktu, Ibu kembali berangkat
ke Jenewa, Swiss. Katanya, masih ada banyak hal yang harus ia lakukan. Mungkin ia
akan lebih sibuk dibanding sebelumnya.
“Mungkin Ibu
akan lebih sering mengirim surat padamu. Kalau ada kesempatan, pasti Ibu akan
pulang.”
Itu pesan Ibu
tiap kali hendak pergi. Bahkan aku sudah hafal intonasi dan pelafalan ibu saat
mengucapkannya.
Dan seperti
biasa juga, aku akan jadi anak baik. Mengangguk sambil mengulum senyum,
sedangkan hati menggigiti sesal. Kenapa harus secepat ini waktu yang kupunya
untuk berduaan dengan Ibu?
Ingin rasanya
aku menyuruh Ibu menghentikan segala macam pekerjaannya tentang fisika. Tentang
waktu. Tentang mesin waktu. Tentang black hole. Tentang anti-materi. Tentang
LHC. Tentang CERN.
Tapi apa daya.
Ibunya sudah sedemikian menggilai profesinya sebagai fisikawan, bahkan sebelum
aku lahir 16 tahun lalu.
Tapi kali ini,
sebelum Ibu menarik kopernya lebih jauh, aku sempat bertanya.
“Kapan Ibu
akan pulang lagi?”
Tak ada
jawaban.
***
Ibu memang
sengaja tak memberi jawaban agar aku makin giat belajar.
Semakin pintar
aku dalam hal fisika, semakin dekat aku menuju Ibu. Suatu hari nanti, aku ingin
bekerja di tempat yang sama dengan Ibu. Atau mungkin menggantikan posisinya. Ah,
sepertinya yang terakhir itu harus kutarik lagi. Aku tak mau bekerja jika harus
berpisah dengan Ibu.
Fisika kuantum
menjadi bidang yang kukagumi. Meski belum diajarkan secara mendalam di SMA,
tetap saja aku melahap permukaannya. Berbekal buku-buku referensi dari teman
yang kudapat di dunia maya, aku belajar fisika kuantum secara otodidak.
Aku juga
mempelajari tentang astro-fisika. Tentang benda hitam yang ternyata tak selalu
berwarna hitam, atau tentang trigonometri planet. Semua itu menyenangkan, meski
kadang membuat isi kepalaku berantakan.
Semakin aku
berusaha keras, semakin cepat aku bisa berlama-lama dengan Ibu. Benar, kan?
***
Tapi semua itu berakhir sudah. Tiba-tiba
Ibu mengirimkan email yang isinya mengatakan kalau ia akan pulang. Ia juga
memutuskan berhenti bekerja di CERN. Aku tak tahu bagaimana penjelasannya, yang
jelas, Ibu akan segera pulang.
Dan benar
saja. Dua minggu setelah pesan itu sampai padaku, Ibu datang.
Hanya berupa
daging tak bercahaya. Pandangannya bagai bintang katai putih yang siap
menghisap segala hal sebelum akhirnya meledak. Pipinya tirus, seolah hendak
sobek saat kusentuh. Senyumnya masih bangkit, tapi kehilangan sesuatu.
Tak banyak
yang kutanyakan saat itu. Meski masih SMA, tapi aku tahu kalau Ibu sedang tak
ingin ditanyai macam-macam. Yang ia inginkan hanyalah kedamaian. Itu tergurat
di kerutan wajahnya yang makin banyak.
Tiga hari
sepulangnya Ibu, yang ia lakukan hanyalah melakukan pekerjaan Ibu Rumah Tangga.
Memasak, mencuci, menyetrika, menonton tv, atau melakukan hal membosankan
lainnya.
Dari bibirnya
yang makin redup tak pernah terucap apa pun tentang fisika. Apalagi dimensi
keempat yang beberapa waktu yang lalu ia banggakan teramat sangat.
Aku masih
belajar fisika. Meski kini tersendat, tak segiat tempo hari sebelum Ibu pulang.
Dan di suatu
malam, usai menulis sesuatu di kamarnya yang sengaja dibuat remang, Ibu keluar.
Cahaya lilin masih bersinar di iris hitamnya. Dia menghampiriku yang sedang
membaca buku fisika kuantum.
“Rin,”
panggilnya.
Kutengok wajahnya.
Agak baikan. Lebih cantik, tapi tak seenerjik dulu. Guratan wajahnya agak
hilang, berganti jadi sesuatu yang lembut.
“Ada apa, Bu?”
Ibu menarik
buku fisika yang hendak kujadikan bantal. Menggantinya dengan buku tebal yang
judulnya dicetak timbul. Dunia Sophie.
Mataku menatap
heran Ibu.
Seolah mendengar
pertanyaan yang belum kuucap, Ibu mengatakan sesuatu. “Time waits for no
one.”
***
Usai malam itu
terlewat, Ibu benar-benar berubah.
Bacaannya adalah
novel-novel sastra atau buku-buku filsafat. Lagu yang mengitari telinganya pun
kebanyakan sesuatu yang tenang. Damai.
Ibu masih
secantik dulu, juga sebaik dulu. Hanya saja ucapannya tak lagi berapi-api
seperti saat ia yakin sekali akan sukses melakukan suatu percobaan, dan
gerakannya jadi lambat. Tidak seperti dulu. Gesit dan efektif.
Wajahnya benar-benar
membuatku bingung. Pembelajaran fisikaku tersendat karena Ibu memaksaku belajar
filsafat. Dia menyuruhku bersenang-senang di siang hari, dan tekun belajar di
malam hari. Bukan lagi Ibu yang disiplin.
Kesal. Hatiku geram.
Jika pada akhirnya semua harus seperti ini, untuk apa semua memori tentang
fisika di otakku? Untuk apa aku mengerti hal yang sulit dimengerti orang lain
jika pada akhirnya hanya akan dibuang?
Hingga suatu
hari, tanpa sadar aku membentaknya. Tepat di kamarnya yang remang.
“Kenapa Ibu
jadi seperti ini? Kenapa Ibu berhenti melakukan pencarian tentang waktu?!”
Ibu tak marah.
Dia tersenyum. Tenang. Justru ketenangannya itu yang membuatku makin kesal. “Ibu
sudah menemukannya.”
“Bohong!”
Remang lilin
di meja baca membuatku agak pusing. Ibu tersenyum. Mistis.
“Ibu sudah
menemukannya, Rin. Dimensi keempat. Waktu. Dan kamu tahu apa isinya? Sesuatu yang
tak ingin kamu lihat. Itu akan menghantuimu tiap malam.”
Jantungku seolah
diperas sesuatu. Sesak. “Kalau sudah menemukannya, kenapa Ibu tak
mempublikasikannya ke dunia agar semua orang tahu?”
“Karena lebih
baik itu tak diketahui. Selamanya jadi misteri.”
kereenn.. :)
BalasHapus