Pada hari yang dijanjikan, sebelum melangkah keluar mengenakan sepatu kets yang menurutnya paling bagus, Rizki membaca lagi surat terakhir dari Vena yang sampai ke rumahnya tiga hari yang lalu. Guratan kata yang ditulis di atas kertas dengan alas yang tidak rata itu tiba-tiba saja membuat wajah Vena terbayang: Mata bulat hitamnya; rambut kuncir kudanya; telinga lancipnya.
Oh tidak. Rizki merasakan hatinya berdebam lagi. Tidak, perintahnya pada diri sendiri. Kau tak boleh mengacaukannya hari ini. Tidak ada lagi pengulangan untuk hari ini. Jika hari berakhir, maka berakhirlah sudah.
Rizki memasukkan surat terakhir itu ke dalam saku jaket abu-abu yang dia kenakan. Rambutnya yang dipotong cepak dibiarkan terbuka. Di langit, dilihatnya ada sekawanan awan yang sedang melintas. Awan baik. Sepertinya tak akan turun hujan. Rizki pun mulai melangkah mengikuti bayangan yang diciptakan Awan baik itu.

Untuk Rizki,
Jadi, kamu akan mengenakan kaus biru bertuliskan Life is Good If You Do Nothing dengan jaket abu-abu? Biar kutebak, kamu pasti akan memakai terusan celana bahan hitam. Betul, bukan? Gaya pakaianmu, entah kenapa aku mudah mengingatnya. Ada baiknya aku juga mengatakan akan memakai pakaian apa nanti, siapa tahu kamu tak lagi mengenali wajahku, hihihi.
Atasanku kemeja biru tua dengan garis beragam: putih, abu, hitam. Aku akan menggulung lengan baju hingga siku, dan untuk bawahan, aku akan mengenakan celana jeans yang tidak terlalu ketat, tidak juga terlalu longgar. Normal saja. Kamu tak perlu tahu sepatu apa yang akan kupakai, kan?
Haaah, setelah kamu bilang akan cukur rambut sebelum bertemu, aku jadi kepikiran bagaimana wajahmu. Apa kamu bertambah tinggi? Apa bicaramu jadi lebih tegas? Memikirkan itu, aku jadi tak sabar untuk bertemu. Jangan buat aku menunggu, ya!
Vena.

Waktu sore memang waktu yang paling tepat untuk berjalan kaki mengitari kota Bogor. Terutama bila hari sedang tidak hujan. Rizki bisa melihat orang-orang berdasi tanpa basa-basi membunyikan klaksonnya seolah dunia punya dia sendiri; langit yang pelan-pelan dilumuri kunyit; serta udara yang jadi lembab. Tanpa terasa, usai berjalan kaki selama dua puluh menit ditambah satu kali naik angkot, Rizki sudah sampai di depan kedai Ramenochi yang mencolok dengan cat merah di permukaan luarnya. Masih ada sepuluh menit sebelum pukul empat.
Rizki menaiki tangga kayu satu per satu. Di kedai yang terletak di lantai dua ruko itu, tampak pelayan di hadapan kasir mengucapkan selamat datang dalam bahasa Jepang, beberapa pembeli yang menyantap pesanan, serta pemutar musik di pojokan yang mengalunkan lagu berbahasa Jepang. Dilewatinya beberapa pasang meja dan kursi, Rizki terus berjalan menuju bagian ujung kedai.
Pemuda itu memang senang sekali duduk di tempatnya sekarang. Atapnya hanyalah fiber hijau yang dihias tanaman merambat. Di sebelah kirinya tembok yang terbuat dari papan bergambar pohon bambu, dan jika menengok ke sebelah kanan, Rizki bisa melihat langit yang pelan-pelan tampak membosankan. Tak jauh dari tempatnya duduk, ada ornamen air mancur yang mendengungkan gemericik air.
Terdengar dari bagian tengah kedai mengalun lagu Supercell – Kimi no Shiranai Monogatari. Mendengar lagu itu, serta-merta kepala Rizki seperti dikocok demikian keras hingga sadar-tak-sadar dia melihat pemandangan tiga tahun lalu, di tempat yang sama, di sore yang sama.
Rizki mengangkat tangannya, dan telinganya mendengar namanya dipanggil. Harum dari kuah ramen menyengat hidung. Kepalanya terasa sakit. Dia melihat lagi pemandangan tiga tahun lalu. Rakish menepuk pundaknya, kembali membicarakan manga Hayate The Combat Butler, dan Ade yang sedang bicara dengan Kevin tentang kelakuan si Andika. Semua terasa nyata. Meski Rizki tahu ini hanyalah memorinya yang keluar begitu saja tanpa dia kehendaki, dia sama sekali tak bisa menghentikannya; dia hanya bicara mendengar Rakish bicara tanpa henti dan melihat Ade serta Kevin yang saling tertawa.
Semua itu lalu terhenti. Ada bunyi hentakan kaki yang menggema. Dari lubang tempat munculnya tangga itu datang Vena serta Adrian dengan tatapan bahagia. Satu tebasan menyayat hatinya.
Jika saja pelayan kedai tidak mengantarkan buku menu, mungkin Rizki tak akan keluar dari kenangan itu.
“Satu porsi udon katsu dengan es teh ramenochi. Untuk ramennya pedes atau miso?” pelayan itu bertanya.
“Pedas.”
“Untuk pedesnya, kami punya lima level,” pelayan itu menerangkan lagi dengan riang, layaknya tour guide museum yang menunjukkan prasasti langka pada anak SD. “mulai dari level TK sampai kuliah. Mas mau pilih yang mana?”
“Yang sedeng itu SMP atau SMA?” Rizki mengajukan pertanyaan.
“SMP, mas.”
“Kalau begitu saya pilih SMA saja.”
Selagi pelayan membacakan pesanan, Rizki melihat Vena muncul dari lubang tangga dengan wajah kebingungan. Lelaki itu melambaikan tangan, mengabaikan pelayan, dan memanggil nama Vena satu kali dengan suara yang tegas hingga gadis itu tersenyum dan berjalan ke arahnya. Pelayan itu pergi.
Vena berjalan ke arahnya sambil sedikit menunduk. Langkahnya mengetuk-ngetuk lantai kayu, dan begitu sampai di meja, Vena pelan-pelan duduk. Senyum dipasang, dan napasnya yang masih tersengal-sengal diatur terlebih dahulu hingga agak tenang, barulah ia tersenyum kembali.
“Di pahlawan macet,” keluh Vena. “Terus angkotnya juga ngetem dulu di deket Sidomampir. Maaf ya kalau sedikit telat.”
“Gak apa-apa.”
Ternyata Vena mengenakan pakaian yang sama seperti yang dia tulis di surat. Dan kalau Rizki lihat, tak banyak yang berubah dari gadis itu kecuali rambutnya yang diurai, tak lagi dikuncir kuda.
“Ciee ganti gaya rambut,” Rizki mencoba mencairkan suasana.
Vena mengusap ujung rambutnya sejenak. “Hehe, ganti rambut, ganti juga kepribadian. Memangnya kamu, dari dulu gak ada kemajuan sedikit pun soal gaya.”
“Yang penting pola pikir berubah,” sahut Rizki diselingi senyum tipis.
Gadis itu ingin menjawab tapi bingung harus bagaimana, jadi dia lebih melempar senyum lalu memilih diam. Kaki kecilnya hanya tampak telapaknya saja yang seputih porselen, sementara mata kaki sampai ke atasnya tertutup celana jeans. Kaki kecil itu bergerak bergantian, dan wajahnya mengedarkan pandangan ke sekeliling, lalu sedikit berdecak kagum.
Dalam waktu satu tahun, Vena sudah sedemikian pesat berubah jadi gadis matang yang begitu menawan. Rambutnya yang seperti bulu kucing hitam begitu legam hingga punggung. Bola matanya yang bagaikan mutiara disandingkan dengan telinga lancip yang terkadang bergerak-gerak. Di bawahnya, ada hidung yang halus serta bibir merah muda sempurna. Ditambah tingginya yang semampai, sungguh membuatnya begitu aduhai.
Es teh pesanan Rizki datang. Pada pelayan, Vena minta dipesankan menu yang sama dengan Rizki. Tapi saat Rizki bilang dia memesan makanan yang pedas, Vena mengatakan tak masalah. Usai perbincangan soal menu makanan itu, tak ada lagi yang bicara.
Berselang beberapa menit, mereka memakan pesanan mereka tanpa bicara sedikit pun. Rizki menambahkan sedikit merica ke mangkuk, menyeruput kuahnya, sementara Vena mencubit tisu dan mengusap dahinya yang basah oleh keringat. Bunyi sumpit yang beradu, aroma kuah yang pedas, serta lagu yang mengalun menuntun Rizki mengingat kembali memori yang sedang dia rangkai secara sistematis.
“Kamu belum menghabiskannya?”
Vena memicingkan mata. “Pedes, tau!”
“Kan tadi udah dikasih tau,” Rizki terkekeh melihat bibir gadis itu yang mengilap.
Iris mata Vena yang seperti kelereng hitam mengamati wajah Rizki. “Ngomong-ngomong, kenapa kamu harus kirim surat padaku, padahal ‘kan jarak rumah kita paling cuman dari 8 kilometer?”
“Kan sudah kubilang,” Rizki mengangkat bahu. “surat itu kutulis begitu saja tanpa pernah merencanakan sebelumnya. Dan kebetulan saja aku sedang ingin pergi ke kantor pos, membeli perangko terbaru.”
“Pasti kamu terpengaruh film 5cm/s .”
“Favoritku.”
“Kalau dipikir-pikir, aneh juga ya aku balas suratmu, lewat pos lagi. Terus, kenapa coba aku tak minta nomer hpmu?” lesung pipit muncul di wajah Vena yang tersenyum. “Kita ini sedikit aneh, ya.”
“Menurutku itu tak aneh, lho. Soalnya, ada rasa khusus yang kita dapat kalau mengirimkan pesan lewat surat. Kamu paham?”
“Paham aja deh, biar cepat selesai, hahaha,” terusnya sambil tertawa renyah.
Rizki mengamati wajah gadis di depannya sambil mengingat-ingat kapan terakhir kali mereka bicara seperti ini. Butuh waktu agak lama sampai Rizki teringat sosok Vena sewaktu kelas 10 dengan seragam abu-abu yang masih baru. Dalam ingatan itu, Rizki teringat dia ada di McD, makan burger ditemani soft drink, masih malu-malu saat beberapa kenalan mereka secara tidak terduga muncul di tempat itu.
Ingatan itu hanya bertahan beberapa saat, sebelum memudar dan hilang. Saat Rizki mencoba mengingatnya kembali, kesulitan yang dia hadapi begitu hebat, dan sampai saat Vena selesai menghabiskan pesanannya, Rizki tak dapat mengingatnya secara sempurna kembali.
“Jadi, bisa kita langsung ke inti?”
“Bicaramu kayak lagi rapat,” komentar Vena.
“Mungkin ini sedikit konyol. Tapi, maukah kamu mendengar satu permintaanku? Mungkin ini akan menyakiti kita berdua; atau mungkin hanya aku yang akan tersakiti, aku tak tahu.”
“Tunggu, aku sedang minum,” sergah Vena.
Rizki bersikeras. “Yang jelas, aku harus menyelesaikan semua ini sekarang.”
“Menyelesaikan apa?” Vena menaruh gelas, mengelap bibir dengan tisu sekenanya, lalu menatap lawan bicaranya.
“Bagian cerita yang rumpang dari masa lalu.”
Vena mengernyit, tapi Rizki segera melanjutkan pembicaraannya yang mengambang.
“Aku dapat mimpi. Dalam mimpi itu, aku sedang menulis sebuah novel tentang pengalaman romansaku selama SMA. Tentang sebuah pengkhianatan, tentang cinta pertama yang begitu lugu, dan semua yang menyeretku hingga jadi seperti sekarang. Dalam mimpi itu aku tampak bahagia, seolah semua beban hilang dan aku bisa sebebasnya memeluk beruang besar berbulu lembut di padang rumput.”
“Cara bicaramu aneh,” Vena bersungut sambil menyeruput teh dinginnya. “Apa hubungannya beruang dengan mimpi menulis novel?”
“Hanya kiasan. Kamu tahu? Selama SMA dulu, rasanya ada suatu sekat penghalang yang membuatku tidak dapat melihat dunia dengan jelas,” Rizki menjeda. “Dan aku tahu, itu semua karena aku tak mau mengingat-ingat saat itu di masa depan. Dan sekarang, aku malah ingin mengingatnya kembali. Intinya, maukah kamu menceritakan kembali cerita sewaktu SMA yang berhubungan denganku? Secara sistematis, sejak kita kelas sembilan SMP dulu, hingga lulus di kelas dua belas. Hanya kamu yang bisa menyelesaikannya.”
“Memangnya kamu tidak bisa menulisnya sendiri?” tanya Vena sambil menggigit bibir bawahnya.
“Aku hanya ingat beberapa bagian saja. Dan sepertinya..., aku sudah melupakan banyak kejadian penting selama ini.”
Gadis itu terbengong. Gemericing hiasan di langit-langit bersuara disentuh angin sore yang membawa suasana lembab. Udara terasa lengket, dan aroma malam samar-samar merebak di udara. Klakson mobil masih berlomba siapa yang paling keras.
“Apa kamu masih menyukaiku?” dengan suara ragu, Vena bertanya.
“Aku suka kamu...,” Rizki mengambangkan jawaban, otot-otot di wajahnya secara cepat tertarik karena malu, dan dia pun menambahkan, “dan seluruh umat manusia yang baik.”
Tak ada suara. Bahkan alunan lagu bergenre rock yang sedang berputar pun tak sampai ke telinga Rizki. Lelaki itu terus menatap Vena yang tampak sedang memutar otak. Bibirnya berharap akan muncul jawaban Ya, meski dia tahu, sedikit sekali peluang jawaban itu akan muncul.
Begini: Ada seorang lelaki yang dulu mengejarmu, kemudian gagal menjadi pacarmu karena kamu menyukai sahabatnya, dan lelaki ini tidak lagi bersahabat dengan sahabatnya karena sahabatnya pacaran denganmu. Kini, setelah dua tahun tak lagi bicara empat mata, lelaki itu memintamu menceritakan tentang perasaanmu yang dulu padanya. Rumit, bukan?
“Kamu tak perlu menjawab pertanyaan itu sekarang, kok. Kalau kamu tak ingat pun, kamu tak usah menceritakannya—”
“Ya!”
“Aku juga sadar betapa tidak sopannya aku meminta itu padamu—”
“Ya!”
“Terlebih, Adrian pasti tak akan—”
“Jawaban untuk permintaanmu,” Vena menekankan kata-katanya dalam-dalam. “Ya.”
Rizki terbengong. Tangannya masih melekat di meja, dan dia sudah bangkit, seolah hendak memukul meja karena kesal terhadap lawan debat.
“Tapi sebelum itu, aku mau menanyakan sesuatu padamu.”
Rizki duduk lagi dan mendengarkan dengan baik. “Apa itu?”
“Aku akan menceritakannya, tapi sebelum itu, aku mau bertanya..., apa kamu akan baik-baik saja setelah aku menceritakannya? Bukannya kamu sangat-tidak-ingin mendengar kisah itu lagi?”
Ternyata itu yang menjadi pertimbangan Vena hingga tak bicara beberapa saat. Mendengarnya, Rizki untuk beberapa alasan menjadi lega. Dia menjawab dengan yakin.
“Dulu aku memang sangat-sangat-tak-ingin mendengarnya,” bola mata Rizki terbuka. “Tapi sekarang, rasa itu hilang. Aku ingin mendengarnya, meski aku akan menerima rasa tebasan pedang di hati; meski telinga ini meleleh menolak mendengarnya; meski bibir ini menjerit memintamu berhenti, aku tetap ingin mendengarnya.”
Vena mengulas senyum. “Kalau begitu, bagaimana kalau minggu depan aku ceritakan padamu? Tak cukup satu-dua jam untuk menceritakan semuanya, bukan?”

Sepasang muda-mudi itu saling tersenyum, meski tentu saja, senyum keduanya punya konotasi yang berbeda.

Chapter 2 - Sebuah Permintaan

Posted by : Unknown
Sabtu, 21 Maret 2015
0 Comments
Untuk Vena,
Salam. Maaf tiba-tiba surat ini datang padamu. Aku sendiri pun tak pernah menyangka akan menulis surat ini sebelumnya; dan memang aku tak pernah ada niat untuk mengirimnya. Ini terjadi begitu saja.
Tujuan dari datangnya surat ini padamu tak lain adalah menanyakan apa kita bisa bertemu akhir pekan ini? Ada sesuatu yang mengganjal pikiranku, dan aku tahu, hanya dengan cara bicara bersamamulah sesuatu yang mengganjal ini bisa enyah.
Mungkin saja surat ini agak memaksa, tapi sebetulnya tidak. Kamu bisa saja hiraukan surat ini. Merobeknya; mengacuhkannya di bawah lemari, mungkin? Ya, ya, kamu bisa melakukannya, tapi aku tahu, kamu tak akan melakukannya, bukan?
Aku nantikan balasanmu.

Teman Lamamu,
Rizki.



Untuk Rizki,
Temanku, aku tak bohong saat kukatakan betapa aku kaget dapat surat ini darimu. Sabtu lalu, aku membukakan pintu untuk seorang pegawai kantor pos. Kukira itu untuk Ibuku, tapi ternyata itu ditujukan padaku: Vena Dila Hanandiya.
Mohon jangan tertawakan ini. Tapi, ini pertama kalinya aku dapat surat!
Hei, kamu tertawa, bukan? Awas saja kalau sampai menceritakannya pada orang lain. Seperti biasa, ya, tulisanmu selalu bertele-tele. Mungkin itu ciri khasmu; atau karena itu juga kamu mampu menulis sebuah novel setebal 507 halaman.
Tentang janjimu, mungkin kita bisa bertemu minggu depan, saat jadwalku kosong.

P.S: Aku sungguh merasa bahagia saat mengantarkan ini ke kantor pos, entah karena apa. Hihihi.

Vena
           


Untuk Vena,
Terima kasih atas surat balasanmu. Aku sangat senang menerima sekaligus mengetahui kalau kamu menyetujui permintaanku yang konyol ini. Untuk tempat, bagaimana kalau di Ramenochi? Aku sudah lama tak makan ramen. Aku akan menunggu di sana jam 4 sore, ya.
Omong-omong, maaf lupa menanyakan bagaimana kabarmu di surat pertama. Jadi, kutanyakan saja di surat ini. Bagaimana kabarmu? Semoga Tuhan menyertaimu.
Kamu tahu kalau aku menulis novel? Bagaimana mungkin, padahal aku tidak mencantumkan biodata dan memakai nama pena. Tapi, syukurlah. Apa kamu menyukainya? Semoga saja.
Oya, kalau kamu senang, mungkin aku akan kirimkan padamu novel ketigaku yang akan terbit bulan depan.

Rizki 






Untuk Rizki,
Ramenochi? Ah, memangnya toko itu masih buka, ya? Sudah 1 tahun aku tidak ke sana. Kabarku baik, sepertinya do’amu sampai padaku. Meski pun kita menyembah Tuhan yang sama dengan cara yang beda.
Mengenai novelmu, aku tak sengaja menemukannya. Mungkin ini terdengar agak lucu, tapi saat sedang berjalan-jalan di toko buku, seolah bukumu itu bercahaya, dan tiba-tiba saja aku mengambilnya.
Hmm, saat menulis ini aku jadi terpikir, bagaimana wajahmu sekarang? Kalau tidak salah, kamu diterima di UI jurusan sastra Indonesia, bukan? Apa kamu masih mengocehkan filsafat seperti tahun lalu? Hahaha, mengingatnya, aku jadi tertawa sendiri.
Baiklah, akan kutunggu novel ketigamu.

Vena


Chapter 1 - Surat-surat

Posted by : Unknown 0 Comments

Saya menulis ini diakibatkan sebuah keinginan tertawa saat mengingat kejadian sewaktu UAS beberapa hari kemarin, tepatnya pada saat pelajaran PLH, yang paradoks dengan postingan di halaman facebook saya malam ini.
Karena saya tipe orang yang suka good ending, maka, kita awali saja dengan hal ini.
Ada sebuah kejadian yang mengejutkan, tentang tweet Ustadz Yusuf Mansur yang isinya mengkritisi sebuah postingan yang muncul di laman sebuah portal berita online, yang secara sengaja saya tidak cantumkan agar tidak menimbulkan dikotomis yang makin panjang.
Intinya, berita itu seolah-olah berkata kalau cara berdo’a di sekolah akan diganti, karena dianggap tidak BerkeTuhanan Yang Masa Esa, melainkan berdasarkan tradisi satu agama, dalam hal ini Islam. Dan, masih dalam kutipan berita itu, Anies Baswedan mengatakan sedang mengkaji perubahan tata cara berdo’a yang sekarang diterapkan.
Nah, usai Ustadz Yusuf Mansur men-tweet protesnya terhadap postingan itu, malam harinya, Pak Anies menghubungi Ustadz guna klarifikasi. Intinya, portal berita itu salah kutip. Saat itu juga Ustadz langsung mengumumkan klarifikasi itu. Clear.
Padahal cerita kita ini sudah usai dengan happy ending, di mana Ustadz Yusuf Mansur dengan elegan menampilkan secara sederhana dan kentara tentang kerendahan hati dan berani meminta maaf.  Pun dengan pak Anies yang fast response menanggapi berita ini.
Tapi, eh tapi, pembaca sepertinya kurang puas, seolah meminta halaman lebih setelah epilog. Maka, bermunculanlah berbagai postingan berbau ‘miring’ (Sebetulnya saya heran, sejak kapan miring jadi keluarga bebauan?) yang dengan konyolnya, bukan lagi membahas tentang masalah aqidah, tapi malah menyeretnya ke ranah politik.
’Kan lucu,’ lalu saya ingat dialek khusus pak Tantan, lengkap dengan gerakan tangannya. Ya, amat lucu sekaligus mengerikan memang, saat sebuah perdamaian malah dipakai meruncingkan dikotomi; memanasi hal yang memang sudah panas.
Tak berhenti sampai di situ, pada saat saya iseng membuka facebook guna mengontak seorang kawan, di beranda saya dengan jelas ada seorang kawan—yang nama dan suaranya disamarkan seperti acara investigasi di The Snow White Murder Case—menyebar postingan dari situs abal-abal, sambil menambahkan kalimat beraroma marah yang kira-kira barang tentu tidak pantas saya ungkit kembali. Intinya, kawan saya ini marah pada Pemerintahan Jokowi berlandaskan berita tanggapan orang lain terhadap kasus Ustadz Yusuf Mansur – pak Anies Baswedan.
Saya dengan kalem berkata, “Bro, kita berantem aja, yuk!” eh, salah. Maksud saya, kira-kira begini: “Soal ini, Pak Anies sudah klarifikasi. Intinya, penulis berita itu salah kutip. Sila cek tweet Ustadz Yusuf Mansur.” Dan, sampai saat tulisan ini diposting, kawan saya itu belum menjawab komentar saya. Mungkin dia sedang asyik menggandrungi ranah twitter yang mengasyikkan itu.
Malah, ada lagi salah seorang kawan, lagi-lagi kawan facebook, yang memposting berita senada dengan kawan saya di atas, yakni kalau kita sekarang sedang diuji reaksi terhadap sebuah kebijakan. Situsnya tidak akan saya beritahu, karena nanti banyak sapi yang memakan rumput di pekarangan rumah.
Apa yang menarik dari dua kawan saya diatas adalah, bagaimana reaksi marah mereka tanpa fondasi yang kokoh. Ya, tanpa fondasi yang jelas, pendapatnya pun tidak rapi, cacat logika, baik dilihat dari sudut diakronik maupun sinkronik.  Kenapa? Karena mereka belum tahu berita yang sebetulnya, mungkin juga mereka tidak punya waktu untuk berstereotip, karena sibuk menyapu isi kepala mereka yang berbunyi “Kelentang, Kelentong.” tiap digoncangkan.
Marah mereka sungguh tak rasional di mata saya. Seolah baru melihat separuh Interstellar, lalu pergi dan membuat review, “Awal Interstellar itu gak jelas, masa’ film scifi tapi ngebahas hantu yang ngejatuhin buku?” padahal semua itu dibahas di ending film. Sama seperti mereka, tak tahu alur ceritanya, bahkan tak tahu kalau ending-nya sudah happy antara Ustadz Yusuf Mansur dan pak Anies Baswedan.
Nah, bagian pertama sudah, sekarang kita ngelantur di bagian kedua.
Jadi, ceritanya, saya lagi UAS di hari keentah, yang jelas mata pelajarannya PLH. Di soal essay, ada sebuah pertanyaan yang kira-kira begini: “Jika ada teman sekolahmu yang membuang sampah sembarangan dan melakukan vandalisme. Langkah apa yang akan kamu lakukan?”
Saya, dengan ngawurnya langsung mengambil pulpen dan menulis di LJU, sampai lupa membuka tutup pulpennya. Eh, ternyata habis. Yasudah saya pakai pensil saja. Dengan penuh semangat dan dengan bibir yang terus menyeringai, saya tak henti menulis, sampai kira-kira tiga menit kemudian, selesai. Bangga betul saya dengan jawaban saya.
Lalu jawaban itu saya putar ke beberapa orang. (Kebetulan pengawasnya santai-santai saja), dan semua orang tersenyum, ada beberapa yang tertawa. Entah menertawakan kebodohan saya, atau sepaham dengan saya betapa konyolnya pertanyaan ini.
Awalnya jawaban saya begini:
Saya prihatin. Awalnya saya mau menulis #BukanUrusanSaya, tapi saya urungkan. Jadi, inilah yang akan saya lakukan.
1)     Menegurnya. Ini merupakan langkah mudah.
2)     Memungut sampah yang dibuang teman saya itu. Meski pun tindakan ini membuat saya tampak seperti seorang pecundang, tapi setelah saya pikir masak-masak, daripada saya menegurnya lalu kami berantem dan masing-masing dari kami dapat Surat Peringatan, alangkah bijaknya jika saya memungut sampahnya diam-diam.
Seperti itulah jawaban saya. Lalu, pada saat saya memperlihatkan jawaban saya pada seorang kawan—berinisial ‘I’, dengan riangnya dia merampas kertas saya, dan membubuhkan kekoplakannya di atas LJU saya.
Kawan saya itu menambahkan tulisan ini: “3) Saya juga akan joget harlem shake dengan sampah untuk menunjukkan kepedulian saya terhadap lingkungan. Dan juga saya akan membawa karung goni untuk memunguti sampah.”
Nah, sekarang, apa yang dapat saya simpulkan dari kelakuan saya dan teman saya ini? Ya. Kami memang koplak. Tak akan marah saya jika ada bilang saya ini bego, atau bodoh, barangkali dungu, atau memang dungu. Saya tak peduli.
Yang ingin saya katakan, kenapa saya menulis jawaban seperti itu? Alasannya mudah. Karena saya terlalu lama menulis omong kosong di tiap ulangan. Mengadakan seminar tentang lingkungan? Menyadarkan betapa pentingnya lingkungan? Omong kosong!
Memang berapa kali Pembina Upacara ngomel tentang kebersihan? Lalu, apa hasilnya? Nihil.
Jadi, saya kira, kita ini butuh jawaban yang dapat dilaksanakan secara konkrit dan real dan tidak melulu itu-itu saja. Teman saya malah lebih gila. Poin ketiga itu menyiratkan kalau “kepedulian” kita terhadap lingkungan hanya ada di mulut, terselip di antara jigong dan kebohongan esok hari.
Inilah yang saya maksud dengan ‘Ngawur Yang Rasional’. Meski terkesan ngawur, tapi jawaban saya memang betul adanya. Saya prihatin. Betul. Saya akan menegurnya. Ini kalau orang yang membuang sampah / melakukan vandalisme itu tidak mudah marah. Dan memungut sampahnya, itu pun kalau ada gadis yang saya suka.
Nah, sebetulnya, apanya yang good ending dari tulisan ini? Padahal saya sudah menulis kalau tulisan ini bakal good ending di awal.
Ah, biarlah.


            

Marah Yang Tak Rasional Dan Ngawur Yang Rasional

Posted by : Unknown
Kamis, 11 Desember 2014
0 Comments
Entah harus saya mulai dari mana tulisan ini.  Banyak hal yang ingin saya sampaikan, tapi saya terlalu malas untuk menulisnya dan Anda pun malas membaca artikel ini jika kelewat panjang. Tapi, biarlah saya coba membagi pengalaman saya kali ini.
Dalam acara #KreatiFiksi yang digelar Klub Buku Bogor dengan penerbit Moka Media, hadir dua pembicara, yakni mas AS. Laksana dan Adam T. Fusama. Tak menarik rasanya jika saya bahas lengking speaker yang amat mengganggu selama jalannya acara. Atau mungkin saja hal itu menarik, bila diceritakan bukan oleh saya. Yang sampai pada kesimpulan kalau saya ini bukan pencerita yang baik.
Oke. Saya tak memperhatikan berapa lama sesi mas Sulak dalam acara ini, karena saya hanyut dalam pembicaraannya yang terkesan ngawur. Yang jelas, mas Sulak membuka pembicaraan dengan Free Writing dan sebuah statement yang menarik: Kecakapan seorang penulis merupakan output. Sedangkan input-nya adalah bacaan.
Bacaan yang baik akan membuat seseorang menelurkan karya yang baik pula. Saya setuju betul dengan pernyataan ini. Dilanjutkan dengan sebuah pernyataan jenaka mas Sulak, bahwasanya seorang dengan bacaan baik, ngawurnya saja akan bagus. Tentu, ngawur dalam konteks ini bukan berarti membicarakan omong kosong yang amat sia-sia bila kita perhatikan.  
Sebagai contoh, bila tiba-tiba kita bertemu Anies Baswedan, kemudian bertanya tentang suatu hal, jawaban yang diberikan beliau—yang sama sekali tidak pernah berencana menjawab pertanyaan kita—itu pastilah pakem dan oke, tidak akan ngalor-ngidul, meski jawabannya ngawur.
Hemat saya, bacaan yang mempengaruhi pola pikir—state of mind jika meminjam istilah Pak Edi—seseorang, yang secara tidak langsung berdampak besar pada tulisannya.
Usai membicarakan soal ke-ngawur-an, sebetulnya mas Sulak beralih ke pembicaraan tentang novel. Tapi itu nanti saja. Saya sedang malas menyusun artikel ini secara sistematis. Jadi, hal yang akan saya bahas selanjutnya tentang siapa itu penulis.
Layaknya bacaan yang mempengaruhi kualitas tulisan seseorang, kebiasaan dan kedisiplinan pun sama pentingnya. Penulis harus bisa memposisikan kegiatan menulis sebagai hal vital dalam kesehariannya, layaknya kebutuhan makan dan minum, atau tidak minum kopi bagi pecinta kopi, atau ngopi tanpa rokok, atau bernapas. Bahkan mas Sulak menyarankan kita beranggapan seperti ini: “Kalau kita tidak menulis, umur kita berkurang. Barang lima menit, saja.”
Tujuannya apa? Agar kita terbiasa menulis. Kita jadi tahu betapa penting kegiatan rutin menulis itu sendiri bagi para penulis—yang mana sering kali dianggap enteng oleh penulis amatir seperti saya. Bahkan, mas Sulak punya beberapa metode unik untuk membuatnya tetap menulis setiap hari.
Jika beliau bangun di pagi hari, hal apa yang ia lihat akan ia tulis. Entah itu cangkir, atau sendok, atau kopi, atau hujan, bahkan ke-tidak-ada-an akan apa pun itu bisa saja ditulis. Ini disebut sebagai Free Writing; Atau saat mas Sulak sedang bingung mau menulis apa, maka, beliau akan mengambil stoples berisi kata yang ia tulis di secarik kertas. Beliau akan mengambil tiga kertas, dan menulis barang satu paragraf dengan tiga kata itu. Bisa juga menulis dengan cara menjawab pertanyaan 5W + 1H.
Mendekati akhir pembicaraan, beliau memberikan sebuah analogi yang menggelitik.
“Penulis itu seharusnya menulis tiap hari, seperti tukang bakso yang tiap hari berjualan bakso.”
Di bagian ini, kita sadari betapa perlunya kita menjadikan menulis itu bukan lagi hanya menunggu mood, tapi sebagai rutinitas. Sebuah kegiatan yang bilamana alfa kita kerjakan, tubuh akan uring-uringan.
Agaknya bisa juga saya buat sebuah kesimpulan, bahwa Writer’s Block itu memang tak pernah eksis. Dia hanya ada pada mereka yang tak rajin menulis dan mengganggap pekerjaan mengarang itu mudah.
Ya. Mengarang memang amat tidak mudah.
“Mereka yang mengatakan kalau mengarang itu mudah pasti belum pernah menuliskan sesuatu yang bagus,” tegas mas Sulak.
Menulis itu pekerjaan yang membutuhkan ketahanan diri yang amat luar biasa. Dan menurut mas Sulak, bagian paling memakan waktu ialah membaca. Memperkaya ruang-ruang pemikiran dalam otak kita. Menjejalkan diksi-diksi baru; metafora keren; belajar bagaimana pengarang lain membuat sebuah kalimat.
Belum lagi, penulis juga haruslah menjadi seorang pendongeng hebat yang dipercaya, seperti Ibu yang menyihir anaknya agar percaya pada dongeng yang dibacakan sebelum tidur. Adalah wajar bagi penulis untuk berbohong pada pembaca tentang beberapa hal, dan tugas penulislah agar pembaca percaya pada hal fiktif yang ada dalam tulisannya.
Jenis tulisan itu ada dua: Yang membuat orang berpikir, dan membuat orang hanyut di dalamnya. Sedang dalam urusan genre, mas Sulak berucap kalau tidak tragedi, pasti komedi. Masalahnya, bagaimana cara menyampaikan kebohongan yang dibungkus dalam bentuk beragam, entah itu rumit atau mengalir, entah itu air mata atau tawa, agar disebut sebagai kenyataan dalam pikiran pembaca.
Itulah beberapa kesulitan menjadi seorang penulis. Tapi, tentu saja itu bisa diatasi dengan bacaan yang bagus dan disiplin menulis yang teratur. Bakat memang diperlukan, tapi perlu sebuah batu asah agar bakat itu menajam.
Penjual bakso berbakat, jika kerjaannya hanya diam saja atau berkutat dengan buku resep bakso tanpa meraciknya sama sekali, atau dia membuat baksonya, tapi tidak menjajakannya, pasti tak akan disebut sebagai pembuat bakso enak. Begitu pun penulis. Akan jadi buang-buang waktu bila ide tulisannya hanya mengambang begitu saja tanpa dituliskan, atau sudah dituliskan tapi ditinggalkan lama-lama, hingga tak kunjung selesai, yang menyebabkan namanya tak pernah dikenal sebagai pengarang ternama Indonesia.

Penulis Dan Tukang Bakso

Posted by : Unknown
Minggu, 23 November 2014
0 Comments
Surat dan Pesan

Gadis itu sedang asyik-asyiknya menggandrungi lembaran-lembaran surat bertuliskan ceker ayam. Satu-satunya yang membuat mata bulat gadis itu tidak sakit meski membacanya di keremangan hanyalah cinta.
Pukul sepuluh sudah terlewat empat puluh menit yang lalu. Jangkrik makin mengukuhkan kentalnya hening malam ini. jika bukan karena kelihaian gadis itu dalam melipat dan membuka kertas, pastilah bunyi kertas sudah berdiaspora ke segala arah.
Puas melihat-lihat surat yang ditulis Jaka, Dewi dengan hati-hati dan penuh cermat sambil memekakan telinga, melipat kertas kuning tersebut menjadi empat bagian, memasukkannya ke dalam amplop, lalu menyelundupkannya ke bawah kasur. Hatinya sesak oleh cinta. Padahal surat terakhir itu ditulis minggu lalu, di pertemuan mereka terakhir.
Dewi baru mengemasi tiga surat, dan masih tersisa enam di depan bantalnya, saat tiba-tiba bunyi pintu terbuka menyobek ketenangan. Lalu terdengar bunyi ketukan-ketukan kecil yang menggetarkan. Cepat-cepat gadis itu menelungkup, menutupi surat-surat yang masih berserakan dengan cara menindih.
Ditariknya pula selimut sampai dada. Tapi tak berguna. Dingin yang ikut bersama bunyi sandal yang diseret-seret itu kian pekat membekukan suasana. Gadis itu memejamkan mata. Tapi telinganya bergerak-gerak peka.
Kaget meremukkan tubuh gadis itu hingga ke tulang tatkala pemilik suara sandal yang diseret-seret itu memanggilnya.
“Dewi!”
Gadis itu tidak berkutik sama sekali. Bahkan untuk sekadar meniup nyamuk yang dengan nyaman bertengger di batang hidungnya yang pas-pasan itu. Barulah setelah suara sandal yang diseret-seret itu menjauh, gadis itu tanpa segan membunuh nyamuk itu.
Ayahnya hanya ingin memastikan kalau anak gadisnya sedang tidur.
***
Pertama kali Dewi bertemu Jaka tentu berawal dari ketidaksengajaan yang biasa.
Saat itu malam habis tujuh-belasan. Seperti yang dilakukan tahun-tahun yang lalu, di lapangan desa Dewi digelar layar tancap membosankan yang memutar film perang.
Jika bukan karena Ayah dan Ibunya yang pergi untuk mengobrol, pasti Dewi tak akan berdiam di sudut lapangan, bersandar pada tembok rumah seorang yang tidak ia kenal, mengawasi orang-orang dengan kepala menengadah pada layar putih yang memutar gambar-gambar bergerak, sementara telinga mereka bergerak-gerak, dan kening mereka berkedut saat suara dar-der-dor meluncur dari pengeras suara.
“Sangat mengganggu, bukan?”
Dewi terkejut bukan main saat seseorang berkata seperti itu. Awalnya ia agak kesulitan menemukan sumber suara dari malam yang tak mengizinkannya mengenali wajah dengan cepat. Tapi saat suara itu berkata lagi, barulah Dewi menengok ke atas.
Dari lantai dua rumah yang sedang ia sandari, tampak seorang pemuda tersenyum bodoh. Dengan serta merta pemuda itu berkata, “Naiklah ke atas sini. Ada sesuatu yang lebih sedap untuk dipandang.”
Mendengar itu, Dewi, entah bagaimana merasa tertarik. Mungkin terpikat pada polos senyum bibir merah apel yang tampak manis itu atau memang terlampau bosan menunggu film yang baru akan berakhir satu jam lagi, Dewi memutuskan untuk pergi ke atas menemui lelaki itu lewat tangga yang ada tak jauh dari situ.
Betapa terkejutnya Dewi begitu sampai di atas karena yang ada hanyalah atap kosong sebagai tempat jemuran. Tapi pemuda itu melambaikan tangannya untuk menarik Dewi ke tepian.
Ternyata di sana sudah ada segelas teh manis dan radio yang sedang membunyikan iklan. Ragu-ragu Dewi ikut duduk.
“Kamu Dewi, bukan?”
“Dan kamu?”
Dahi pemuda itu mengernyit mendengarnya. Sejurus kemudian lesung pipitnya terbit berbarengan dengan gelak tawanya yang renyah. “Panggil saja aku Jaka.”
“Jadi, apa sesuatu yang sedap untuk dipandang yang kamu tawarkan tadi?” dengan sinis Dewi melirik ke segala arah. Tapi tak ada apa pun.
“Duduklah. Sebenarnya ini bukanlah sesuatu yang untuk dilihat menggunakan mata, tapi untuk dinikmati tiap detiknya.”
Tangan Jaka memutar volume di radio itu hingga suaranya membesar. Setidaknya nyaman terdengar karena suara dar-der-dor sudah tak lagi dimuntahkan pengeras suara itu. Dan kini, dari radio muncul lagu Ahmad Albar – Kendal Dendam.
“Apa isti—”
Jaka menempelkan telunjuknya cepat-cepat. “Dengar. Lihat. Rasakan.”
Bak sebuah mantra, usai mendengar itu Dewi memejamkan mata. Gelap sepenuhnya, tapi tidak buta. Dapat dilihatnya sesuatu bergerak-gerak. Warna oranye yang berdiaspora. Dan mengapung di udara, seolah suara Ahmad Albar yang begitu khas tampak dalam bentuk gelombang.
Lalu tercium bau udara basah. Malam yang kering. Lelehan mentega pada jagung bakar. Asap kacang rebus. Gula-gula. Serta segala macam wewangian merebak menyeruaki hidung Dewi.
Tanpa terasa lagu pun usai. Dewi membuka mata dengan perasaan gemas. Bagai seorang anak kecil yang ingin odong-odong yang dinaikinya memutar satu lagu lagi.
“Tapi tak bisa,” ucap Jaka seraya memperkecil lagi volumenya. “Untuk bisa mendengarkan lagu itu lagi, kamu harus menunggu minggu depan. Kamu pun harus mengirim permintaan supaya lagu itu diputar.”
Lagi-lagi, bagai tersihir oleh ucapan Jaka, Dewi hanya mampu mengangguk ringan.
“Ngomong-ngomong, aku sudah lama menyukaimu, tahu. Apa kamu keberatan kalau kita lebih dekat?”
Sesuatu meletup-letup di hati Dewi. Bagai bunga api yang menemukan melompat dari kembang api yang baru saja dinyalakan. Lebat, deras, hangat, begitu nyata, hingga tanpa sadar Dewi mengangguk.
ooOoo
Tapi sayang, tak semudah yang dikira. Ternyata orang tua Dewi benar-benar keras soal pergaulan anak satu-satunya itu. Setelah tertangkap sedang mengobrol di beranda pada suatu sore, Dewi dilarang lagi bertemu Jaka. Plus, hari itu, Jaka pun menerima sebuah tamparan dari ayah Dewi.
Tentu saja Dewi marah. Siapa sih yang tak kesal kalau kesenangannya direnggut begitu saja? Saat memikirkan itu, anak-anak yang melintas di depan rumah merengek saat ditarik orang tua mereka, enggan menyudahi permainan. Orang tua memang brengsek. Kalau bisa, Dewi tak ingin jadi orang tua. Ia ingin langsung saja jadi nenek yang ompong dan mengunyah sepah sirih dan memberi receh pada cucu-cicitnya.
Alhasil, jadilah Dewi hanya berkirim surat dan bertemu seminggu sekali, seperti kali ini.
Sudah nyaris setengah jam Dewi berdiri di depan sebuah toko di Plaza Kelapa Gading, namun sosok Jaka tak juga tampak. Mungkinkah lelaki itu lupa kalau di surat minggu lalu, dia sendirilah yang menulis toko baju Duta merupakan tempat janjiannya kali ini.
Kecewa memeluk Dewi. Padahal ia sudah bersolek sedemikian rupa. Keramas mengenakan shampo agar rambut bergelombang sebahunya harum, mengenakan rok hijau pekat yang dipadukan kaus merah kotak-kotak berkerah.
Padahal minggu-minggu sebelumnya, Jaka selalu datang lebih awal di tempat yang dijanjikan.
Mungkin ada hal yang harus ia lakukan, batin Dewi. Baru saja Dewi meniti langkah pertama menuju rumah, suara dari informan mengudara.
“Kepada saudari Cinta ditunggu kehadirannya oleh saudara Jaka di lobi utama. Terima kasih.”

Itu pesan untuknya.

Surat Dan Pesan

Posted by : Unknown
Senin, 20 Oktober 2014
0 Comments

Tak salah jika aku memang menganugerahkan kagumku padanya. Dio Ramadhan. Karena kalau bukan karenanya, pastilah aku tak akan menderita sehebat ini. Terlebih atas pesan yang ia ukir.
Pertemuan pertama kami hanyalah sebuah cerita yang biasa terjadi antara turis dan anak seorang boss penginapan di desa Ciapus. Pagi itu, seorang pemuda—sepertinya lebih tua satu atau dua tahun dariku—mengetuk pintu. Aku menyambutnya dengan hangat. Lebih hangat lagi saat pemuda itu memesan kamar untuk satu bulan di penginapanku.
Selepas pagi itu, tak ada lagi pembicaraan di antara kami. Aku pun tak terlalu mempedulikan lelaki yang pada tangannya membubuhkan magis pada tiap sentuhan. Bahkan saat kuamati goresan tanda tangan di buku tamu yang ia isi tadi pagi, aku terkesima.
Malam itu juga, sambil mengantarkan teh hangat pesanannya, aku mencoba menyusun kerangka wajahnya yang tak mudah dilukiskan.
Rambut hitam yang dicukur halus bersambung pada dahi agak lebar. Lalu mata itu. Iris hitam dengan cincin putih yang mengisap siapa saja yang menatapnya lamat-lamat. Pandanganku merosot lewat hidung bangirnya. Mendarat pada bibir tipis yang jika tersenyum amat menggoda rindu untuk tidur di sana. Dan terakhir, pada dagu lancip ramai oleh janggut tipis yang menyengat.
Yang kulakukan hanyalah masuk dengan sopan. Menaruh nampan pada meja persegi yang mulai ramai dengan peralatan untuk menggambar, lalu pergi.
Ah, tapi sebelum aku pergi, lelaki itu memberikanku kejadian lain.
“Permisi, apa kamu tahu tempat yang cocok untuk menggambar?” lelaki itu bertanya teramat sopan.
“Maaf?”
“Semacam tempat yang tenang,” ucap pemuda itu.  “Dan tak ramai.”
Saat kutatap, bola matanya sudah mendikteku untuk tidak mengatakan Curug Salak yang sudah pasti ramai. Dan saat itulah, untuk pertama kalinya aku merasa malu yang teramat sangat karena tak kenal daerahku sendiri yang megah karena keindahan alamnya.
Jadi, langkah paling bijak yang kuambil malam itu adalah meminta maaf padanya sambil menjanjikan tempat terbaik yang kutahu keesokan hari. Dan akhirnya pergi tanpa meminta persetujuan.
ooOoo
Hari ketiga.
Pemuda yang menyewa kamar di penginapanku tampak menyenangkan untuk diajak bicara. Dio Ramadhan. Sepertinya tak berlebihan kalau Dio ini anti-tesis dari semua laki-laki yang kukenal di lingkar sederhana kampungku.
Lelaki ini tak banyak cakap. Tatapannya tenang seperti telaga yang sengaja diciptakan jauh dari goncangan. Bibirnya hanya meluncurkan kata-kata yang ringkas dan tegas, tapi dengan sigap berhasil menarik perhatianku.
Mungkin Dio menarik perhatianku karena dia datang dengan impianku yang dua bulan lalu putus. Kuliah ke Jakarta. Atau mungkin karena..., seperti yang kukatakan tadi, peringainya yang sungguh berlawanan denganku.
Aktivitas Dio hanyalah menggambar komik. Pada pagi harinya mengelilingi desa yang masih diduduki kabut, bermasyarakat layaknya penghuni tetap yang hendak berbauh, lalu tepekur di atas meja pada malam hari.
Hari ketujuh, aku tak tahan hanya melihat kepergian Dio ke hulu citiis.
Ah, aku lupa menceritakan hari kedua.
Sesuai janjiku pada malam pertama, semoga kalian ingat, aku akan memberitahukan tempat yang sesuai dengan pertanyaan Dio. Nyaman dan tak ramai. Selepas sarapan pagi itu, Dio kuberitahu sungai citiis.
Tak pernah kuduga sebelumnya kalau Dio akan pergi hari itu juga ke tempat yang kuberitahu. Dan pada hari itu juga, sepertinya Dio sudah menanam hatinya di hulu sungai citiis.
Kembali ke hari ketujuh, pagi ini aku menyelinap lewat pintu belakang. Penasaranku meminta jawaban yang lebih tentang apa yang dilakukan Dio di sungai citiis. Tapi agaknya nasib berkata lain.
Pada tengah perjalanan, langkahku terhenti di antara semak. Bukan karena ada ular atau sesuatu yang mengerikan, tapi karena aku ketahuan mengikuti Dio. Aku malu bukan kepalang.
Namun yang membuatku lebih terkejut adalah Dio yang menjawil tanganku saat hendak kabur.
“Kenapa tidak ikut saja?”
Aku menggeleng. “Aku takut mengganggu.”
“Hahaha,” Dio tertawa renyah. Kontur wajahnya ikut naik-turun menghasilkan kesan tersendiri. “Sudahlah, ikut saja.”
Lalu Dio menuntunku masuk lebih dalam menuju hutan. Pada jalan yang aku sendiri belum hafal. Tak kurasakan sedikit pun takut, malah aku senang. Genggaman lelaki itu punya makna tersendiri bagiku. Seolah dia hendak membawaku ke Jakarta.
Akhirnya kami muncul di hulu sungai citiis. Tempat yang tak pernah kudatangi karena Abah selalu melarangku pergi ke sini. Tak pelak khawatirku menyeruak mengingat pesan Abah itu.
Belum sempat aku lepas dari khawatir itu, ingatanku diberondoli berbagai mitos yang sering ditanam Abah pada diriku, serta cerita-cerita kawanku tentang hutan dan hulu sungai citiis. Bodohnya aku ini, kenapa baru ingat semua itu sekarang?
“Kang, kata Abah di sini ada buaya putih,” ucapku takut.
Senyumnya mengembang. Pada tegas tatapannya, tampak jelas betapa belum dewasanya diriku.
“Daripada di desa, ada buaya darat.”
Dio berhasil mengikis resahku perlahan-lahan. Aku yang takut—Wanita mana yang tak takut—pada mitos-mitos desa tentang hantu-hantu atau larangan-larangan desa perlahan mulai berani memainkan jernihnya air yang dialirkan langsung dari gunung halimun.
Cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok.
Ungkapan apa lagi yang tepat untuk menggambarkan keadaanku pada hari ke-empat belas?
Cerita-cerita Dio tentang kehidupan kuliahnya sebagai mahasiswa seni UNJ mengikis kerasnya batu penghalang yang selama ini menghalangi niatku untuk kembali berjuang mendapat izin Abah agar bisa pergi Jakarta.
Makin hari, Dio makin sering bicara denganku. Mengeluhkan panasnya Jakarta, macetnya, baunya, sampai memuji Bogor; sejuknya, tenangnya, dan indahnya.
Aneh memang. Di saat aku makin keranjingan merengek pada Abah agar diizinkan untuk kuliah di Jakarta, lelaki itu justru sangat ingin tinggal di kampungku.
ooOoo
Pembicaraanku dengan Dio makin hari makin intens.
Sering kali dia mengisahkan berbagai hal tentang perkuliahan: bagaimana belajar di kampus, kawan-kawan, dosen-dosen yang minim rasa peduli, organisasi-organisasi seperti BEM, sampai rute mikrolet yang ia lalui kalau hendak pergi ke kampus.
Tak pelak makin hari perdebatanku dengan Abah pun makin intens.
Abah bersikeras dengan alasan aku tak punya sanak-saudara di Jakarta. Kubalas dengan cerita-cerita Dio tentang kawannya yang berasal dari Maluku, Sulawesi, atau Kalimantan. Abah masih tak mau. Dia juga menceramahiku tentang kerasnya pergaulan Jakarta. Lalu kuceritakan dengan runtut tentang organisasi-organisasi keislaman yang banyak bertebaran di Jakarta.
Tetap saja, Abah tak mengizinkan.
Hingga pada malam ke-dua puluh tiga, aku bertengkar hebat dengan Abah. Satu piring pecah. Malam itu, aku pulang ke rumah. Adikku Mia terkejut saat aku datang. Tapi aku tak peduli. Aku  menangis pada Umi yang hanya bisa memeluk sambil mengusap tubuh rapuh ini.
Dua hari setelahnya, aku tak kunjung kembali ke penginapan. Ada sedikit khawatir di hatiku saat meninggalkan Abah yang tak lagi muda sendirian mengurus penginapan. Tapi kesal masih menahanku di kaki rumah, bersama Ibu yang tak pernah beranjak dari ranjang.
Lalu pada hari ke-dua puluh enam, secara mengejutkan, Dio datang ke rumahku yang jaraknya agak jauh dari penginapan. Pagi itu dia mengajakku ke hulu sungai citiis. Aku hanya menurut saja.
Perjalanan kali ini lain dari perjalanan sebelumnya. Rasa ganjil sangat kentara. Dio lebih diam dari biasanya selama di perjalanan. Dan ketika sampai di hulu sungai citiis, Dio terdiam cukup lama sambil melempar-lemparkan kerikil ke permukaan sungai.
“Ayahmu terlihat kesepian di penginapan,” Dio mengatakannya perlahan. Suaranya lembut merayap pada telingaku.
Kubuang pandangku sembarang tanpa menjawab apa pun.
“Menurutku kamu lebih baik tinggal di sini.”
Aku menyolotkan tatapan liarku saat lelaki itu mengatakannya. “Apa maksudmu?!”
“Di sini, kamu punya banyak hal. Ayah yang peduli, lingkungan yang nyaman, dan mungkin, masa depan yang lumayan bagus.”
“Maksudmu aku akan mengalami kegagalan kalau tinggal di kota?”
Dio menggelengkan kepalanya lembut. Senyumnya melucuti kejengahanku. “Aku hanya ingin mengatakan kalau tak semua keinginan bisa terwujud.”
“Orang kota sepertimu tak akan mengerti,” keluhku.
Saat aku hendak pergi, tangan itu kembali mengalirkan sesuatu padaku. Harapan. Impian. Kerasnya hidup dari kota yang kuidamkan. Sentuhan Dio hanya membuatku makin ingin pergi ke Jakarta.
“Aku juga ingin tinggal di kampung ini,” ucapnya lebih tenang. “Tapi aku tak bisa.”
“Kenapa kita tidak tukar kehidupan saja?”
Bunyi aliran air yang merangkak lewat batu-batu besar makin jelas terdengar. Dengan polosnya kutatap wajah lelaki itu. Tersenyum ironi tanpa mengatakan apa pun.
Rasanya aku seperti dikoyak sepi!
Sakit yang teramat dalam saat bola mata Dio dalam menatapku. Masih dengan bibir yang tak mengatakan apa pun.
Aku tepekur sejenak, mencoba mengerti sambil menawar pedih dengan hijau pepohonan yang berdiri rapat di seberang. Pada putih bunga kapas yang dihembus angin. Pada bunyi gesekan bambu di belakangku saat angin mengaproksimasikan jaraknya satu sama lain.
Hingga tanah berbatu yang kududuki serasa tak lagi nyaman, aku masih belum mengerti. Sesuatu dalam hatiku meledak. Aku pulang lebih awal hari itu.
ooOoo
Begitu sampai rumah, aku langsung melemparkan tubuh pada kasur yang lama tak dijemur.
Tanganku menyentuh dinding berwarnakan kuning pastel. Dingin merasuki jemari-jemari. Pada detik selanjutnya, kupandangi ijazah SMA yang dengan manis bertengger di samping meja belajar.
Sejurus kemudian, terbayang wajah Dio di pikiranku. Terputar pula ucapan-ucapannya tentang kehidupan di Jakarta yang begitu kuidam-idamkan. Begitu memukau dan menghipnotis. Lalu ingatan itu hancur dipukul piring yang pecah. Wajah Abah yang marah. Bayangan Abah yang kesepian di penginapan.
Rasa kesal dan benci mulai tumbuh keesokan harinya. Saat kembali ke penginapan, kulihat Dio membawa barang bawannya yang tersimpan dalam tas dan koper yang sama seperti saat pertama kali ia datang.
Untuk apa lelaki itu menceritakan indahnya kehidupan di Jakarta, jika sebenarnya dia tak pernah berniat membela mimpiku pergi ke sana?

Pembunuhan 30 Hari

Posted by : Unknown
Sabtu, 04 Oktober 2014
0 Comments
Ice Cream

Kamu masih tepekur di sudut terjauh taman. Dengan buku tempo hari , hanya saja jemarimu kini terselip agak jauh ke belakang.
Tubuhmu masih kokoh. Tak bergerak sedikit pun meski kursi yang kamu duduki itu rapuh, seperti hubungan kita. Bahkan hingga jarak kita tersisa satu langkah, kamu masih diam. Sampai kapan kamu akan tetap diam?
Lamat kupandangi garis tenang yang kamu lukis di wajah cantik seputih lilin itu. Begitu tenang, hingga tenggelam benar aku di sana. Lupa untuk berenang ke permukaan, untuk membaca pesan hatimu pada dunia yang lama kamu simpan.
Lalu angin mengaproksimasi perasaan kita. Saat bibir bunga dedap serta mata kopimu berputar menatapku, berhasil kuintip sebatang ice cream masih terselip di saku kirimu. Sebuah pesan yang lama ingin kamu ucapkan.
I Scream.

ooOoo
#FiksiLaguKu ini terinspirasi lagu Goose House – Photograph. Semoga pesan ini tersampaikan >_<

Ice Cream

Posted by : Unknown
Minggu, 21 September 2014
0 Comments

- Copyright © 2013 Peziarah Kata - Shiroi - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -