MISANGA
Chiba,
Japan.
Natsu,
2015
Kukira waktunya telah habis.
Nyatanya tak butuh waktu empat tahun untuk menganggapmu mati.
Karena sekarang, kamu sudah kuanggap mati. Atau lebih tepatnya, aku melukai
hatiku sendiri sampai mati.
Misanga di
pergelangan tanganku tanpa sadar terlepas begitu saja, seolah rontok bersama harapanku
yang telah menjadi kenyataan.
Tepat di hadapanku, apa yang kuinginkan tiga tahun lalu terwujud.
Tapi, kenapa rasanya menyakitkan sekali? Seolah semua duri dari mawar yang kamu
genggam itu menancap tepat di uluh hatiku.
Riuh hadirin yang menggema saat dahimu dicium pria itu menjelaskan
padaku tentang semuanya.
Seharusnya dulu kuharap kamu tetap bersamaku, bukan berharap kamu
bahagia.
***
Hari
Kelulusan SMA Hodo, Hiroshima.
2012
Dengan nafas yang terengah-engah, aku berhasil menghentikan
langkahmu tepat saat jemarimu yang lentik hendak mendorong pagar rumahmu.
Sepertinya otakku kekurangan oksigen, hingga apa yang kuharapkan
bisa kulihat. Kamu yang masih mengenakan blazer hitam seolah terkejut melihatku.
Matamu yang secoklat kopi tampak cemerlang menatapku, dan rautmu yang sedingin
salju mendadak lebur.
Nafasku seolah tercekik rambut panjangmu yang sepekat malam.
Bibirku mendadak kelu, meski beberapa saat yang lalu aku terus meneriakkan
nama-mu dalam hati. Aku masih jadi pengecut.
“Ki-Kirishima-san, mau ke taman sebentar? Aku punya sesuatu
untukmu.”
Bibirmu yang biasanya sekaku es batu mendadak mengulas senyum yang
sangat manis. Matamu terpejam senang, dan kepalamu ikut memiring. “Ya, aku juga
punya sesuatu untukmu.”
Setelahnya kita jalan bersampingan sepanjang jalan. Ditemani malam
yang hening, kita berbelok ke sebuah taman yang lenggang, dan duduk di salah
satu kursinya yang panjang. Kuberanikan diriku untuk duduk tepat di sampingmu.
“Jadi, em...” kukeluarkan sebuah misanga berwarna hijau yang hampir jadi.
Matamu mendadak melebar melihat apa yang kubawa. “Maukah kamu menungguku
menyelesaikan misanga ini?”
“Ah, ya, tentu,” kamu menyahut cepat, agak kikuk. Dan dengan
gerakan yang ling-lung, kamu juga mengeluarkan sesuatu dari saku blazer-mu. Itu misanga! “Aku juga harus
menyelesaikan ini.”
Kuteguk kembali ludahku. Gugup. Kenapa kita sama-sama mengeluarkan misanga yang belum selesai? Punyamu warna
merah, tapi sama bagusnya dengan buatanku. Apa mungkin kita punya pikiran yang
sama?
Gawat, aku tak bisa konsentrasi!
Memikirkan kemungkinan jika kita memang punya niat yang sama,
punya pikiran yang sama, apa mungkin kita memang ditakdirkan bersama? Aah!
Kalau itu memang terjadi, rasanya lengkaplah hidupku.
“Fukuda-san, kenapa tanganmu gemetar begitu?”
“Aah, tidak...”
Aah, gawat, jangan-jangan Naomi mengetahui kalau aku sedang gugup.
Bahaya, bahaya... Untung saja misanga kerjaanku hanya tinggal dikencangkan.
Jadi tanganku tak harus melingkarkan benang lagi.
Kukencangkan misanga dengan gigiku, frustrasi saat jemariku
tak lagi kuat mengencangkan misanga karena terlalu gemetar. Fiuh, kulihat
dengan seksama buah tanganku penuh rasa bangga. Saat kulirik ke arahmu, kamu
juga sepertinya sudah selesai.
“Ini untukmu,” ucapku sambil menyerahkan misanga buatanku. “Memang tak bagus. Tapi...
Semoga bisa menjadi pengingat kalau kita pernah berkenalan.”
Dengan lembut jemarimu meraih misanga-ku.
Menatapnya lamat-lamat, lantas tersenyum. “Arigatou, Fukuda-san. Ini
juga sebagai kenang-kenangan dariku,” kamu menyodorkan misanga merah yang kamu buat.
“Benarkah?” tanyaku ragu. Dengan cepat kuraih misanga itu, dan menatapnya penuh bahagia.
“Syukurlah.”
“Eh?”
“Ah,” aku tergagap sendiri. Ah, sial, mulutku langsung berujar
begitu saja karena sangat bahagia. Aah, malunya! “Ma-maksudku, syukurlah,
ternyata kamu menganggapku.”
“Harusnya akulah yang bersyukur, karena kamu masih mau memberiku
kenang-kenangan seperti ini, padahal sikapku sangat dingin di kelas.”
Aku terdiam sejenak. Menatap wajahmu yang tersiram pendaran lampu
taman. Ya, wajahmu kini sangat hangat, berbeda dengan sikapmu di kelas. Ketus,
dingin, tanpa ekspresi. Tapi aku tahu, aku tahu kenapa kamu melakukan semuanya.
“Aku sangat senang saat kamu menegurku di depan rumah tadi. Aku
ingin sekali berterima kasih padamu, yang selalu menemani dan membelaku
di kelas. Kamu selalu menolongku kalau aku lemas, meski pun aku terus mencaci
maki dirimu. Aku sungguh sangat senang.”
Saat itu, kurasakan hatiku bergetar sangat keras. Kamu menangis
sambil tersenyum. Meleburkan segala rasa yang selama ini kupendam. Perasaan itu
kini tumpah bersama air mata dan tangismu yang tertahan.
“Sudahlah, Kirishima-san. Aku tahu, kamu bersikap dingin dan ketus
seperti itu karena kamu tak ingin punya teman dekat. Kamu tak ingin membuat
siapa pun bersedih, karena kamu tahu, leukemia yang kamu derita sejak lahir
seolah menjadi kutukan bagimu.”
Kamu kini menenggelamkan wajahmu yang sebam pada pelukanku. Air
matamu menyeruaki hatiku yang ikut menangis, tapi air matanya terhalang ego
laki-laki.
“Jadi, dengan misanga ini, kuharap kamu bisa hidup bahagia.
Seorang Hibakusha sepertimu juga berhak bahagia.”
***
Setelah peristiwa malam itu, aku tak pernah lagi melihatmu. Aku
semakin tenggelam dalam kerjaanku sebagai seorang mangaka, tapi misanga pemberianmu masih melingkari
pergelangan tangan kananku.
Kukatakan pada misanga yang melingkar di tanganku, kalau
dalam empat tahun aku tidak bertemu denganmu—Naomi Kirishima, aku akan
mengganggapnya telah meninggal di suatu tempat, yang tak pernah kuketahui, dan
juga tak ingin kuketahui.
Ayolah, bukankah empat terdengar mirip dengan “kematian”? Jadi,
janjiku masuk akal, bukan?
Sesekali aku sering bertanya dalam hati, kenapa aku percaya mitos
bodoh seperti misanga.
Katanya, misanga merupakan simbol keberuntungan dan
harapan. Jika misanga terlepas sendiri, maka harapan kita
menjadi kenyataan.
Sebagai tambahan, beberapa malam yang lalu aku pun mengatakannya.
Kalau sampai misanga ini terlepas sendiri, maka kuanggap dirimu telah hidup
bahagia.
Haaaa....
Bodoh.
Bahkan kini aku tak tahu bagaimana nasibmu. Aku sedikit menyesal,
kenapa dulu aku tak menanyakan alamat email-mu?
Atau mungkin alamat rumahmu, agar kita bisa berkomunikasi lewat surat.
Kalau dipikir-pikir, sejak kapan aku mulai menyukaimu? Sejak
pertama kali bertemu? Tidak. Aku yakin, saat itu perasaan jengkel yang kudapat.
Jangan salahkan aku, tentu saja semua orang yang tak mengenalmu pasti merasakan
hal yang sama.
Kamu—sejak gadis rapuh pengidap leukemia,
malah memarahi seseorang yang mencoba menolongmu. Bukan hanya sekali, tapi
berkali-kali. Bahkan aku berani bertaruh, semua orang pasti pernah kamu marahi.
Kuakui, awalnya aku tak suka padamu. Kamu adalah orang yang tak
tahu terima kasih, pikirku saat itu. Tapi, saat alasan kenapa kamu melakukannya
sampai di telingaku... aku berubah. Dan aku yakin...
Saat itulah aku mulai jatuh hati padamu.
"Naomi Kirishima melakukan itu karena dia tak mau punya
seorang teman. Dia tak mau membuat orang lain sedih. Dia sudah tahu, leukemia yang ia derita
bisa kapan saja membuat keadaannya kritis. Kamu paham maksudku, bukan?"
Aku ingat itulah yang ibumu ucapkan.
Jadi, jangan heran kalau aku akan selalu menolongmu. Kapan pun.
Tak peduli seberapa keras kamu memarahiku... tak peduli sejauh apa orang-orang
menyingkir dariku... aku akan selalu menemanimu.
Kesendirian menghampiriku. Kuat. Tapi, kesendirian yang kamu
rasakan sebelum kita bertemu pasti lebih sakit, bukan?
Haah, aku ingin tahu bagaimana kabarmu. Volume demi volume manga gambaranku terbit, dan tiga tahun pun
telah kubalik dengan begitu cepat. Tapi aku masih menantimu layaknya orang
bodoh.
Lalu, di suatu hari di musim panas, secarik surat yang masuk ke
mejaku bersama surat fans yang lain. Tapi rasanya surat itu
berbeda. Begitu kubuka, ternyata itu surat darimu. Kamu bilang, kamu selalu
membaca manga buatanku, dan kini kamu mengundangku
ke rumahmu. Lengkap dengan alamatnya.
Kamu bilang kamu akan memberikan sebuah kejutan.
Hatiku mengembang begitu cepat. Dan pada hari yang dijanjikan, aku
pergi ke alamat yang kamu berikan di surat itu.
***
Riuh hadirin yang memenuhi taman berdekorasi pesta pernikahan itu
mulai mereda, namun kedua lututku masih saja gemetar. Dari atas panggung, kamu
nampak anggun dengan balutan baju pengantin berwarnakan putih.
Sebuah misanga hijau masih melingkari pergelangan
tangan kirimu. Aku tersenyum melihatnya. Setidaknya, kamu masih mengingatku.
Dengan langkah yang gemetar, langkahku semakin mendekati panggung.
Di saat aku semakin dekat, kamu yang menyadari kehadiranku
langsung tersenyum padaku. Aku pun balas tersenyum padamu, juga pada pria di
sebelahmu. Namun saat kamu hendak mendekatiku, langkahmu terhenti karena misanga di tangan kirimu terlepas begitu saja.
Hatiku seolah mencelus sambil menatapnya nanar. Sebenarnya,
harapan macam apa yang kamu buat saat menyerahkan misanga itu padaku?
Misanga
“Keberuntungan itu tak ada.”
“Ada!”
“Hmmph! Kalau pun ada—” Adrian melempar bola volinya ke
atas. “—Keberuntungan itu akan kupukul—” Adrian melompat, lalu bunyi telapak
tangannya yang menampar bola begitu menggema di seluruh ruang olahraga yang
kosong. “—Seperti bola itu.”
Kuambil bola yang berada di sebelah lapangan. Mengangkatnya
ke hadapan wajahku, lalu pandanganku menelusuri seluruh permukaan bola.
Apa sih istimewanya bola ini?
***
Langit sudah jingga saat aku dan Adrian pulang bersama.
Ditemani dua gelas es cendol yang tadi kubeli, kami berbincang-bincang mengenai
apa pun.
Yang kumaksud ‘apa pun’ itu hanya apa yang kubicarakan,
karena Adrian sejak tadi terus mengoceh tentang voli. Smash, kepercayaan teman, pertandingan final, dan yang paling
membuatku geram itu saat Adrian berbicara tentang bola voli.
Huh! Apa menurutnya aku peduli dengan bola-voli-persetan
itu?
Aku tak menyukai olahraga, terutama voli. Selain karena
tubuhku lemah, voli juga banyak merenggut waktu Adrian yang sudah super-sedikit
untuk mengobrol denganku.
Lihat saja jadwalnya yang mengerikan! Sampai-sampai dia
hanya punya waktu luang untuk mengobrol denganku pada hari sabtu. Itu pun
sesudah ia latihan voli. Arrgh! Karena voli jugalah, sampai saat ini Adrian
belum menyadari perasaanku padanya.
Aku menyukainya sejak pertama bertemu di kelas 8 dulu. Dan
hingga kini, mendekati akhir semester kelas 11, aku masih menyukainya. Aku terus memberikan kode-kode perasaanku
padanya, tapi…
Dia tidak
menyadarinya.
Oke, mungkin aku terlalu naif. Menginginkan seorang pelajar
sibuk seperti Adrian yang—kurasa—tak pernah membicarakan cinta dengan siapa pun, untuk mengerti kode yang
kuberikan. Tapi, salahkah aku berharap?
Maksudku, ayolah! Kami hampir empat tahun bersama, dan
masih terjebak dalam lingkaran bernama sahabat. Dan ini semua karena ia terlalu
sibuk latihan voli.
“Cynthia, kamu dengar apa yang kukatakan?” Adrian
sepertinya menyadari kalau aku terus membeo dalam hati. Telunjuknya menusuk
pipiku yang menggembung, membuatku mendelik padanya.
“Aku dengar.”
Alis Adrian bertautan. “Benarkah?”
“Benar,” tukasku cepat. Kurasakan hembusan angin meniupi
kulitku, dengan suara desahan yang nyaris tak terdengar. Kepalaku mendongkak,
menatap segaris hitam yang mulai tampak di langit senja. Sebentar lagi malam,
dan di ujung jalan, rumahku sudah terlihat.
Adrian masih melempar-lempar bolanya pelan sambil bersiul
di sampingku. Bau keringatnya bercampur parfum menyerang hidungku tanpa ampun.
“Sampai besok, Cynthia,” Adrian berbelok ke kanan tanpa
menoleh padaku.
“Adrian!” panggilku setelah menutup gerbang. Lelaki itu
menoleh, bola matanya yang coklat cemerlang menatapku dalam-dalam. “Apa kamu
tahu kalau ada seseorang yang menyukaimu sejak SMP dulu?”
“Hah? Memangnya ada?” Adrian berhenti memainkan bolanya.
Langkahnya mendekati pagarku.
Seringaiku mengembang. Dengan iseng, sengaja aku menjauh
dari pagar. Begitu membuka pintu, kubalikkan tubuhku sejenak. “Ada. Bahkan
sampai sekarang, dia masih menyukaimu, lho!”
“Siapa? Beritahu aku dong,” pintanya dengan nada seperti anak kecil.
Orang itu aku, bodoh! “Kata gadis itu, kalau kamu mau tahu siapa dia, berhentilah bermain
voli.”
***
Pagi-pagi sekali, Adrian sudah tampak menunggu di depan
pagar rumahku. Aku tersenyum dibuatnya. Namun saat kulihat bola voli di telapak
tangannya, senyumku luntur. Padahal ini hari minggu, pasti ia mau latihan.
Tapi, tumben sekali dia menungguku.
Kusibakkan gorden, lalu dengan cepat keluar rumah dengan celana training dan
sweater abu-abu favoritku. Kulihat Adrian tersenyum padaku. Apa ia mengajakku
jogging bersama?
“Kamu mau olahraga pagi?” sapanya sambil membukakan gerbang
rumahku.
“Begitulah,” sahutku penuh harap.
Adrian melempar bolanya cukup tinggi, lalu menangkapnya
dengan cekatan. “Orang yang menyukaiku itu... Bisakah kamu beritahu aku siapa
dia?”
Rautku berubah kecewa. Harapanku untuk jogging bersamanya luluh. Dengan kesal, aku berkata, “Sudah
kubilang, bukan? Kalau ingin tahu siapa orangnya, berhentilah bermain voli.”
***
Hari ini hari sabtu, dan Adrian terlihat masih normal
seperti biasa. Kecuali dia tak lagi bicara padaku sejak hari minggu lalu.
Sepertinya dia marah karena aku merahasiakan sesuatu darinya.
Oke, sepertinya aku salah langkah. Pada awalnya, kuharap
dengan mengatakan seperti itu, Adrian akan penasaran. Mendekatiku, dan
benar-benar berhenti bermain voli. Aku tahu dia anak yang paling tidak tahan
dengan rahasia, namun aku tak tahu kalau dia anak yang gampang marah karena
rahasia.
Itu salahku.
Tapi saat aku bersiap-siap mengemasi barang-barang untuk
pulang, Adrian tiba-tiba saja menghampiriku dengan raut serius. Dia menyodorkan
secarik tiket padaku.
“Datanglah besok. Aku akan bermain di final pertandingan
antar sekolah. Kalau aku menang, beritahu aku siapa orang yang menyukaiku.
Kalau aku kalah, aku akan berhenti bermain voli. Bagaimana?”
Bagai diguyur madu termanis, hatiku merekah luar biasa
cepat. Meski pun aku sangat sangat enggan melihat pertandingan voli yang kubenci, tapi ini
kesempatanku 1 berbanding 1000. Harus kuambil.
“Baiklah.”
***
Esoknya aku benar-benar datang ke gor, tempat dimana pertandingan final digelar. Anehnya, tribun tempatku duduk hanya terisi beberapa orang, sementara
tribun yang lainnya benar-benar penuh penonton yang tampak ramai. Setengah
kuhempaskan tubuhku ke kursi, mengenyahkan rasa enggan.
Aku pasti memenangkan taruhan ini.
Tak lama kemudian peluit berbunyi. Para pemain voli tampak
memasuki lapangan sambil berbaris, membungkuk
memberi hormat, lalu berpencar ke berbagai tempat. Pemain inti berdiri di
lapangan, sisanya di bangku cadangan.
Adrian berada di depan net sebelah kanan. Dia tampak keren
dengan balutan kaos biru.
Priiit!
Peluit berbunyi. Dan dimulailah bunyi-bunyi tamparan yang
tak kusukai.
***
Entah sejak set berapa aku mulai berhenti menutup
telingaku. Dan entah sejak skor berapa, aku mulai menyukai bunyi telapak tangan
yang menampar permukaan bola voli yang terus berpindah sisi.
Yang jelas, ini adalah babak ke – 3, dengan skor 23 – 21 untuk kemenangan sekolahku.
Adrian tampak luar biasa tegang. Begitu pun dengan seisi gor yang hening,
membiarkan bunyi tamparan servis menggema.
Bola berayun ke sisi tim musuh. Dengan beberapa kali
sentuhan, pemain musuh meluncurkan smash
keras yang tak bisa dihadang timku. 23 – 22. Adrian mendesah kecewa, sementara
gor riuh sorak bahagia.
Ketegangan kembai merebak. Musuh melakukan servis cukup
keras, tapi berhasil dibalikkan. Seseorang yang menjadi pengumpan mengangkat
bola ke arah Adrian, dan...
BAM!
Bola hasil smash
Adrian menukik tajam tanpa bisa dibalikkan. 24 – 22.
“Yeeeey!” aku berteriak kegirangan seorang diri, membuat seisi
gor memandangiku heran. Peduli setan dengan tatapan itu!
Adrian tampak menoleh padaku sambil menyikutkan senyumnya.
Ah! Wajahnya seolah bersinar karena peluh. Lama aku memandanginya, hingga bunyi
peluit mengagetkanku. Game kembali
dimulai.
Servis melayang mulus melewati net. Beberapa kali sentuhan, tapi tak ada smash. Bola berayun lagi ke tim Adrian.
Seseorang dengan kaos yang berbeda sendiri tampak menerima bola, lalu si
pengumpan kembali memberikan bola pada Adrian.
Saat itulah, seolah dunia mengalami slow motion, dengan jelas kulihat raut penuh harap saat Adrian
melompat begitu tinggi. Nafasku seolah ikut meloncat. Saat telapak tangan
Adrian beradu dengan permukaan bola, kututup mataku erat-erat.
Keberuntungan itu tak
ada. Kalau pun ada, keberuntungan itu akan kupukul seperti bola itu.
BAM!
Gor terhenyak. Hatiku serasa bergetar sedemikian hebat,
saat teriakan bahagia Adrian memecahkan hening. Kubuka mataku, ternyata Adrian
menang!
“Yaaay Adrian menang!” aku berteriak bahagia, mataku serasa
hangat karena terharu. Ah, tak pernah kubayangkan menonton voli se-menyenangkan
ini. Dengan senyum yang masih bertengger, kuseka mataku.
“Cynthia!” panggil Adrian.
Suasana mendadak kembali hening. Kurasakan darahku mendesir
saat Adrian menatapku serius.
“Katakan padaku, siapa yang menyukaiku itu.”
Volley Love
Berawal dari membaca buku Nihon Kara O Miyage karya Supriyanto yang saya pinjam dari perpustakaan, saya mendapatkan sebuah cerita yang sungguh membuat saya terenyuh, begitulah kata pak Supriyanto.
Ada baiknya kita mengetahui dulu siapa itu Hikubasha, yang saya sebut sebagai "Pembisik Perdamaian Yang Tak Pernah Bungkam." Secara bahasa Jepang, Hibakusha artinya 'orang yang terkena dampak ledakan.' Sedangkan ledakan yang dimaksud yaitu ledakan bom atom yang begitu dahsyat pada tahun 1945. Pasti tahu, bukan?
Menurut informasi yang saya dapat dari beberapa situs, Hingga saat ini para Hibakusha masih saja mendapatkan diskriminasi karena luka atau penyakit yang mereka derita. Sungguh menyedihkan.
Penyakit yang mereka derita pun bukan penyakit yang bisa disembuhkan dengan cepat, karena mereka menderita penyakit yang cukup parah dan membutuhkan biaya yang sangat besar untuk mengobatinya, contohnya Leukemia. Tak perlu ditanya lagi, betapa mengerikannya penyakit itu. Apalagi biaya untuk menanganinya. Luar biasa mahal. Untuk itulah, pemerintah Jepang memberikan asuransi kesehatan bagi mereka. Alhamdulillah.
Hibakusha ini dibagi menjadi dua kelompok:
- Pertama yaitu orang-orang yang berada di sekitar satu mil dari pusat ledakan bom.
- Kategori kedua yaitu orang-orang yang berada pada jarak satu dan satu seperempat mil dari pusat ledkan bom (Hiposentrum)
Orang-orang yang terkena dampak radiasi secara tidak langsung juga dianggap Hibakusha, misalkan anak-anak yang masih dalam kandungan dan terkena radiasi.
Saya sangat tersentuh membaca kisah tuturan Chiyoko Watanabe, seorang ketua Himpunan Perawat Daerah Hiroshima sejak 1987 (Buku yang saya kutip itu ditulis berdasarkan pengalaman tahun 2003). Saat peristiwa pengeboman itu, Chiyoko masih berusia 23 Tahun dan menjadi salah seorang perawat di sebuah rumah sakit yang berjarak 1,5km dari hiposentrum. Berikut saya kutip ceritanya yang ada dalam buku.
kilat dan topan bagaikan topan mencapai ruang kami melalui gang dan menghancurkan segala-galanya yang ada di depannya. Saya terhempas ke bawah meja. Bernafas menjadi sukar karena debu beterbangan. Tidak dapat saya buka mata saya. Sesudah beberapa menit saya baru sadar kembali. Dahi saya luka oleh pecahan kaca dan darah menghalangi penglihatan saya, sehingga dengan susah-payah saya bisa keluar. Waktu saya turun ke bawah, saya terperanjat oleh apa yang saya lihat. Staf dan pasien mondar-mandir dalam kebingungan. Seorang siswa SMP, laki-laki, yang kulitnya terbakar sampai hitam, mukanya mengembung, bibir membengkak, kemeja terbakar dan tanpa sepatu, lari ke arah saya dan berkata : "Tolong, tolonglah saya."
Lalu saya skip beberapa bagian yang menjelaskan kalau masih ada orang yang terjebak di rumah yang terbakar. Setelah hari itu, mereka membuat bangsal sementara dan tak mendapatkan makan. Lalu saya kutip lagi.
Luka bakar; yang dibiarkan hampir tidak diobati selama sehari, sangat mengerikan untuk dilihat. Kami membuat larutan asam borat banyak-banyak untuk mendesinfeksinya, dan membuat pembalut untuk menutup luka-luka itu, karena tak dapat kami jahit.Waktu mengganti pembalut, saya sendiri hampir pingsan, karena nyeri dan kehilangan darah.
Kami terkejut melihat kenyataan yang tak terperi di rumah sakit. Belatung menetas dalam otot-otot yang terbakar. Yang dapat kami lakukan hanya mendesinfeksi dan mencuci luka-luka itu. Di daerah yang terbakar lepuh muncul dan terkupas. Larva berbagai ukuran dikeluarkan. Bau yang sangat busuk menyerang hidung saya.1Saya kira dua kutipan di atas cukup untuk mengingatkan betapa ngerinya dampak bom atom. Saya tekankan. Itu bom atom pada tahun 1945. Lalu, bagaimana dengan daya rusak bom atom sekarang ini, yang sudah terbantu dengan mewahnya teknologi? Sungguh tak terbayang, dan saya pun tak mau membayangkan dampaknya yang pasti sangat dahsyat.
Lalu apa hubungannya Hibakusha dengan pembisik perdamaian?
Ternyata setiap tahun ada peringatan hari perdamaian yang diselenggarakan di Hiroshima. Nah, cobalah tanya para Hibakusha yang masih ada tentang betapa nyerinya dampak bom atom yang berakar dari perang.
Maka dari itu, tak berlebihan bukan, jika saya mengatakan Hibakusha ini para pembisik perdamaian yang tak pernah bungkam?
Referensi:
1 Supriyanto, 2006, Nihon Kara O Miyage, Bandung,
Sinergi Pustaka Indonesia, halaman 133-135
Hibakusha, Pembisik Perdamaian Tak Pernah Bungkam.
Distrik 15, Negara Wyver
Musim Panas Kelabu Ke –
200
3 Agustus, 2000.
Seisi kota Wyver dibuat
kocar-kacir saat bangsa Aquilan menghantamkan angin berbentuk bola berduri pada
pusat kota, menghancurkan istana yang tak terlindungi Shishou. Jumlah wyzard yang tersisa bisa
dihitung jari, dan kini hanya mengelilingi Ratu Wyveriana III yang ketakutan
setengah mati di singgasana.
Sementara selusin
pasukan Aquilan memborbardir istana, satu-dua Aquilan yang berbadan tegap serta
hidung panjang-patah itu mengepakkan sayapnya di antara susunan rumah beratap
datar di distrik 15.
Wyzard : Beginning -- Chapter 1
Judul : AnoHana (Ano Hi Mita Hana no Namae wo Bokutachi wa Mada Shiranai)
Alternatif : Kita Belum Tahu Nama Bunga Yang Kita Lihat Hari Itu
Status : Finished, 11 episode.
Tayang : 15 April 2011 - 24 Juni 2011
Genre : Drama, slice of life, romance
Karakter + Seiyuu :
Main Character :
- Honma Meiko (Menma) : Ai Kayano
- Yadomi Jinta (Jintan) : Miyu Irino
Supporting :
- Anjou Naruko (Anaru) : Haruka Tomatsu
- Tsurumi Chiriko (Tsuruko) : Saori Hayami
- Matsuyuki Atsumu (Yukiatsu) : Takahiro Sakurai
- Hisakawa Tetsudou (Poppo) : Takayuki Kondou
Garis Besar Cerita :
Tentang persahabatan 6 anak sewaktu kecil yang hancur setelah kematian Menma yang terjatuh ke sungai. Jintan yang dulu seorang Leader, kini dikenal sebagai seorang yang anti-sosial. Tapi kehidupan Jintan benar-benar berubah saat suatu hari di musim panas, roh Menma kembali mendatanginya. Menma kembali karena ada keinginannya yang belum ia kabulkan. Repotnya itu, hanya Jintan yang bisa melihat Menma, dan Menma juga tidak tahu apa keinginannya. Yang jelas, Menma meminta Super Peace Buster(begitulah nama grup 6 sahabat itu dulu) untuk kembali berkumpul.
Nah, demi mengambulkan permintaan Menma ini, Jintan pun benar-benar berubah total! Berusaha mengumpulkan sahabatnya yang terpecah-pecah, terutama Yukiatsu, sambil terus berusaha mencari tahu apa keinginan Menma yang belum terkabulkan.
Review
Anime yang keren, begitulah menurutku setelah menontonnya, dengan mata yang sudah basah (Heuheu, lebay). Tapi emang kok, anime ini keren. Recomended! cerita yang unik, dipadukan dengan karakter yang kuat. Menma yang polos, Yukiatsu yang munafik, Jintan yang pengecut, Anaru dan Tsuruko yang memendam rasa terlalu lama, sampai Poppo yang sok ceria tapi ternyata... Huaaah
Jujur, tiga episode awal itu lagu opening dan endingnya menurutku kurang cocok. Tapi setelah selesai nonton animenya, lalu denger endingnya "Secret Base - Kimi Ga Kureta Mono (10 years after ver.)" itu bener-bener berasa...
Tema yang diangkat sendiri sederhana, tidak rumit seperti kebanyakan anime lain, tapi justru aku suka tema seperti ini, karena langsung fokus sejak awal. Friendship, itulah yang diusung utama dalam anime ini, meski dibumbui romance.
Kalau kekurangannya sendiri, menurutku terlalu banyak flashback, yang menurutku hanya cukup sekali ditayangkan, juga aku kurang ngerti, kenapa Menma tiba-tiba muncul di hadapan Jintan? Apa karena Jintan sang leader yang begitu mencintainya? Entahlah.
Nonton anime ini sendiri karena digoda temen, katanya kalau mau nangis, tonton anime ini. Tapi jujur aja, aku baru bener-bener sedih sewaktu di Ending, dimana Jintan kehilangan kemampuannya melihat Menma, lalu Menma memutuskan untuk bermain petak umpet untuk menutupi kesedihannya.
Karakter yang paling kusuka sendiri Tsuruko. Aaah kasihan Tsuruko~
Overall, ratingku untuk anime ini 9/10 karena epicnya cerita dan penyelesaian, apalagi karakter Yukiatsu yang benar-benar berkesan dengan sikapnya.
.
AnoHana ~ Ano Hi Mita Hana no Namae wo Bokutachi wa Mada Shiranai
Seringai senyum kutarik paksa di bibirku yang terbalut gugup. Kurekatkan lagi blazer hitam yang memelukku, saat pandangku berlabuh pada pendaran lampu dari lantai dua rumah yang benderang itu. Dia melambai padaku, sosoknya berhasil kucuri saat rembulan malu-malu memberikan sinarnya. Adinda.
Adinda makin
memancarkan cantiknya seiring langkahku yang kini berada di hadapan pintu
rumahnya. Senyumnya mempersilahkanku masuk, sementara lelaki di sampingnya
mengusirku dengan tatapan sinisnya.
Aku malah membalas usiran itu dengan seringai dan langkah kaki yang yakin.
***
Riuh memecah
seisi ruangan saat Adinda menuruni satu per satu anak tangga, menyebarkan
pesonanya yang sempurna. Malam itu ia bersinar, lebih menyilaukan dari lampu
yang menggantung di atasku.
Langkahnya
makin merekahkan tiap pasang mata, membuat sebagian pandang terkesiap melihat
bidadari yang menjentikkan jarinya pada pegangan kayu yang halus. Mataku seolah
tertuju padanya, padahal kusorot lelaki di sampingnya yang menampakkan kemuakkan
luar biasa di tiap langkahnya.
Tak ada yang
memperdulikan seorang manusia saat berjalan di samping bidadari.
Setelahnya
ruangan kembali tenang, meski bisik-bisik masih melayang, nyaris tak terdengar.
Setelah tetek-bengek lain tentang prosesi pertunangan, tiba saat-saat yang
paling kutunggu.
Senyumku
bertemu senyum Adinda, tapi pandangku terus mencuri-curi wajah lelaki yang
duduk terhalang tubuh bidadari di hadapanku ini. Lengannya terlihat mencengkram
lututnya keras-keras. Kutusukkan seringai padanya.
Lalu kurendahkan
tubuhku, dan kujawil jemari lentik Adinda. Desahan tertahan terdengar
sayup-sayup, tapi aku tak peduli. Kulanjutkan dengan memasangkan cincin
pertunangan pada jari manis Adinda.
Kuangkat
wajahku, dan kudapati pelupuk mata Adinda berair. Terharu. Sementara aku,
tersenyum kecut.
Maafkan aku,
Adinda. Maaf telah menebar benih kebusukan di tengah ladang cintamu yang suci.
Kembali
kucuri pandang ke arah lelaki yang kini rahangnya gemertak. Wajahnya merah
padam. Tentu saja tak akan ada yang menyorot lelaki yang termakan amarah setan
saat di hadapannya ada bidadari yang bertemu pangeran tampan.
Kuangkat
senyum dan alisku berbarengan dalam sekian detik padanya, sebelum akhirnya mencium
punggung lengan Adinda. Lembut.
***
“Tadi
romantis sekali, bukan?”
“Ya... Kukira
begitu.”
“Mana ucapan
selamatmu?”
“Selamat.”
“Hanya itu?”
Kutahan
langkahku hanya untuk mendengar pembicaraan yang berakhir dengan sendirinya
itu. Suara Adinda terdengar melenguh kesal, saat tak lagi kudengar suara lelaki
itu. Segera kujejakkan langkahku.
Ternyata dia
langsung bereaksi saat melihatku. Bengis. Sementara Adinda terlihat kikuk,
sepertinya dia memilah-milah mau bicara apa di depanku. Kukembangkan saja
senyumku sambil terus mendekat.
“Langitnya
indah, yah,” Adinda bergumam sambil membalikkan tubuhnya. Kini ia
memunggungiku.
“Ya, indah,”
sahutku. Kusandarkan punggungku pada pagar kayu yang terasa menyesakkan,
dipenuhi kebencian lelaki itu yang menjalar. “Bisakah aku bicara berdua dengan
Devan?”
Devan
menyikutkan pandangnya padaku. Ia pasti merasa terganggu, karena memang
seharusnya tak ada yang perlu kami bicarakan. Bahkan aku pun ragu, masihkah aku
berhak bicara padanya setelah apa yang kulakukan?
“Aku ikut.”
Adinda menatapku teguh. Beginilah sikapnya, selalu ingin ikut campur. Tak
terlalu bagus menurutku.
“Perbincangan
antar lelaki.” Kusentuh hidung manisnya dengan jemariku. Membuat bekas merona
di kedua pipi Adinda, tapi berhasil membuat gadis itu beringsut pergi dengan
senyum malu.
Setelah
langkah Adinda tak lagi terdengar, hening langsung menyergap.
Kutelusuri
guratan pagar kayu ini perlahan, lalu dengan iseng jemariku berhenti di bahu
Devan yang bergeming. Kaku. Entah sumpah-serapah macam apa yang ia muntahkan
dalam hatinya, yang jelas ia benar-benar tak ingin bicara denganku.
“Malam yang
indah, bukan?”
Kubuka
percakapan yang beku ini, meski aku tahu kalau Devan tak akan menyahut sedikit
pun. Dia pasti hanya akan terus berdiam, dan berdiam, lalu pergi dan mengatakan
pada Adinda kalau aku sudah selesai bicara.
Selalu
seperti itu.
Tapi malam
ini berbeda. Setidaknya, inilah hal terakhir yang bisa kulakukan untukmu,
kawan.
Dalam gerakan
cepat, aku duduk selonjor di hadapannya. Pandangnya dipalingkan, membuatku
merasa makin lelah bersamanya.
“Lihatlah
dirimu, Devan. Sungguh menyedihkan,” cibirku. Tingkah Devan yang tetap
bergeming membuat kesalku meninggi. “Apa yang kau miliki sekarang? Aku sudah merebut
Adinda, adik tiri yang dulu kau cintai sebelum orangtua kalian menikah!”
Devan masih
mengunci mulutnya, membuatku benar-benar mencekik otakku untuk mengatakan
sesuatu yang lain.
“Lembut dan
wangi,” kuendus telapak tangan kananku yang terbuka. Seringaiku mengekor.
“Apa?”
Dia bereaksi. “Punggung lengan Adinda.”
Terdengar
geraman tertahan yang kuhiraukan. Selanjutnya kulingkarkan lenganku sendiri,
seperti sedang memeluk seseorang. Bibir hidungku merekah, pura-pura menghirup
sesuatu.
“Tubuhnya
terasa hangat, rapuh, dan wangi.”
“Brengsek...”
Kata itu nyaris tak terdengar, jika saja gertakan gerahamnya tak
mengucapkannya. Bagus, keluarkan lagi, kawan... Lagi!
Inilah
senjata terakhirku. Kugoreskan jemariku pada bibir tipisku, lalu mengecapnya,
seolah ada rasa manis di ujung jemariku yang hampa. Sekuat tenaga kutarik
senyum sinisku sambil berkata. “Terutama bibirnya, seperti stroberi.”
“BRENGSEK!”
Sebuah
pukulan menghantam wajahku. Telak. Wajahku terpaling, imbas luapan emosinya
yang tertahan selama setahun penuh. Aku belum puas, belum puas! Kutarik lagi
seringai sambil menatapnya dengan ekor pandangku.
“Kau kesal?
Kenapa tidak kau katakan dari dulu kalau kau menyukainya?” Aku setengah
berteriak mengatakannya sambil berdiri. Sorot kami bertautan.
“DIAM!”
Hardiknya. Pukulan lain menghujam perutku, membuatku terhuyung beberapa
langkah, lalu berpegangan pada salah satu tiang rumah yang beku. Daven
menundukkan kepalanya. “Kau tidak tahu apa-apa!”
Aku masih
belum puas! Langkahku yang lemas kembali mendekatinya, lalu kucengkram kerah
pakaiannya yang sudah pasti akan ia buang setelah hari berganti.
“Kalau kau
mengatakannya sejak dulu—”
Tendangan
kekesalan yang terpendam selama setahun tertanam di perutku. Punggungku terpaku
pada tiang tadi, sebelum tubuhku perlahan merosot.
“—Mungkin aku
tak akan melamarnya malam ini—”
Wajahnya
dipalingkan, tapi bulan menyorot matanya yang menampakkan penyesalan luar
biasa.
“—sahabatku.”
Pandangku
berkunang-kunang. Dengan sisa tenagaku, kembali kulanjutkan ucapakanku di
sela-sela nafasku yang terbatuk-batuk.
“Tak ada yang
melarangmu menyukai adik tirimu sendiri, kawan.”
Sesaat
sebelum duniaku menggelap, hatiku bersorak girang. Aku bahagia, karena bisa membuat Devan jujur
pada perasaannya sendiri.
Kuharap
luapan emosinya tadi yang meneriakkan rasa cintanya yang tak kunjung dicuapkan
mulutnya, walau sudah sangat telat. Sungguh. Sangat. Telat.
***
Cerita ini diikutsertakan
dalam tantangan menulis @KampusFiksi tentang #KarakterJahat
***
Pertunangan
Akui saja, kawan, aku yakin sebenarnya kau takut.
Tak masalah jika kau mengakuinya, karena kuakui, aku juga takut.
Kita berdua akan melangkah ke entah, hanya didampingi pengetahuan dan
kemauan yang menggebu-gebu meminta lagi dan lagi. Kutatap langit barat,
sementara kau siap melangkah ke langit timur. Kita akan berpisah.
Kita duduk di salah satu kursi bandara, canda dan tawa kita saling
merangkul. Kuharap bukan untuk yang terakhir kalinya. Berbincang tentang masa
lalu yang tersusun rapi di langit bersih pagi ini, sesekali terdiam. Merenung.
Aku tahu langkah kita berat.
Kita pernah membahas ini, bukan?
Tentang ketakutan kita yang sama. Takut tersesat saat tak ada yang
mengayomi di tengah badai keasingan. Saat membaca di kegelapan hening, kita
takut langkah kita salah. Lalu kita akan menangis dalam diam, menyesali
perpisahan kita.
Tapi tak masalah, kawan. Sendiri bukan berarti tersesat, dan tersesat tak
selalu sendiri. Kalau kau ragu, coba kau rangkai kesendirianmu menyerupaiku,
yang akan selalu setia mendengarmu. Aku pun akan melakukan bersama.
Jika kau merasa hilang dalam kegelapan rasa takut, dengarlah suaraku yang
akan dihantarkan angin. Kita akan saling menyemangati dalam damai. Bukankah kau
sendiri yang selalu mengatakan kalau dalam kegelapan, atau pun kesendirian
selalu ada kedamaian? Nah, pada saat itulah suaraku akan mendatangimu.
Panggilan pesawatmu terdengar. Kopermu siap kau seret, saat jabatan
tanganmu terasa hangat dan bergetar. Banyak rasa tercampur. Takut. Sedih.
Rindu. Senang. Entah rasa apalagi yang tak bisa kujelaskan dalam sekian detik
jabatmu.
Lalu kau melambaikan tanganmu.
Hingga saat terakhir, kau terus tersenyum. Tidakkah kau merasa sedih
sepertiku? Jujur saja, jika saja aku perempuan, akan kupeluk tubuhmu dengan
tangisku selama mungkin, tak peduli pada apa kata orang. Hingga akan terlepas
saat kau meminta.
Tapi kita lelaki, dan ego kita masih terlalu tebal melapisi wajah kita
yang terus menautkan senyum miris.
Tanpa kuduga, kau kembali. Menyodorkan kepalan tanganmu sambil tersenyum
padaku.
“Kawan, ayo kita bertemu lagi. Lalu akan kutunjukkan bidadari yang
kudapat selama belajar. Kau juga, oke?”
Kuadukan kepalan tanganku yang meringis.
“Ya, ayo kita lakukan.”



