Ice Cream
Kamu masih tepekur di sudut terjauh taman. Dengan buku tempo hari , hanya saja jemarimu kini terselip agak
jauh ke belakang.
Tubuhmu masih kokoh. Tak bergerak sedikit pun meski
kursi yang kamu duduki itu rapuh, seperti hubungan kita. Bahkan hingga jarak
kita tersisa satu langkah, kamu masih diam. Sampai kapan kamu akan tetap diam?
Lamat kupandangi garis tenang yang kamu lukis di wajah cantik
seputih lilin itu. Begitu tenang, hingga tenggelam benar aku di sana. Lupa
untuk berenang ke permukaan, untuk membaca pesan hatimu pada dunia yang lama
kamu simpan.
Lalu angin mengaproksimasi perasaan kita. Saat bibir bunga dedap serta mata kopimu berputar menatapku,
berhasil kuintip sebatang ice cream masih terselip di saku kirimu. Sebuah pesan yang lama ingin kamu ucapkan.
I Scream.
ooOoo
#FiksiLaguKu
ini terinspirasi lagu Goose House – Photograph. Semoga pesan ini tersampaikan >_<
Ice Cream
Suatu ketika,
Ibu pernah datang dengan mata seterang bintang sirius. Pancarannya menghangatkan
tubuhku yang sedang didekap dinginnya sepi sehabis perginya Ayah dengan wanita
lain.
“Ibu berhasil,
Rin!” pekiknya.
Kami berpelukan.
Di depan khalayak penghuni cafe yang kebingungan dengan datangnya seorang
wanita paruh baya berbusana serba putih. Jas yang menjuntai lembut sampai ke
betis.
Ibu tak
berbohong saat mengirimkan pesan kalau ia akan langsung menemuinya selepas dari
bandara.
Bibir Ibu tersenyum selebar kelopak mawar. Pipi
yang biasanya tirus itu kini hidup, bersamaan dengan lesung pipit manisnya yang
kembali datang, menghisap rindu. Hidungku bersentuhan dengan hidung Ibu yang
semulus lambang integral tulisannya.
“Dev, aku
pesen cappucino dua,” pesanku pada Devi, sahabatku yang menjadi pelayan
sekaligus pemilik cafe ini. Beres memesan, tak kusia-siakan waktu untuk mencumbu
tatapan Ibu yang hangat.
“Ibu berhasil,
Rin! Akhirnya...,” ucapnya. Lagi. Dengan nafas yang lebih teratur.
Pandanganku menelisik
jas putih kusam yang dikenakan Ibu. “Berapa hari Ibu pakai baju itu?”
“Satu bulan,
kalau tidak salah. Eh, itu tidak penting!” Ibu memprotes. Bibirnya menikung
seperti payung. Tapi tetap manis. “Yang penting Ibu harus ngasih tau kalau Ibu
berhasil menemukan apa yang selama ini Ibu cari, Rin!”
“Pacar baru?”
tebakku. Asal. Tapi memang itu yang kuinginkan. Ayah baru. Pelindung baru.
“Ish, itu bisa
dilakukan kapan saja kalau Ibu mau.”
Aku terkekeh
mendengarnya. Tidak berlebihan apa yang dikatakan Ibu. Sebulan setelah Ayahku
memutuskan bercerai, terhitung sudah tiga pria memberikanku hadiah. Ketiganya kenalan
Ibu sewaktu kuliah atau SMA.
“Jadi, apa
yang membuat Ibuku tersayang ini jadi sesenang ini?”
Ibu melucuti
senyum terindah miliknya. “Dimensi keempat. Waktu.”
***
Kukira setelah
peristiwa malam itu, hubunganku dengan Ibu akan semakin membaik. Dalam artian,
Ibu akan lebih banyak diam di rumah dibandingkan di tempat kerjanya.
Ternyata, aku
memang masih naif. Setelah tiga hari menghabiskan waktu, Ibu kembali berangkat
ke Jenewa, Swiss. Katanya, masih ada banyak hal yang harus ia lakukan. Mungkin ia
akan lebih sibuk dibanding sebelumnya.
“Mungkin Ibu
akan lebih sering mengirim surat padamu. Kalau ada kesempatan, pasti Ibu akan
pulang.”
Itu pesan Ibu
tiap kali hendak pergi. Bahkan aku sudah hafal intonasi dan pelafalan ibu saat
mengucapkannya.
Dan seperti
biasa juga, aku akan jadi anak baik. Mengangguk sambil mengulum senyum,
sedangkan hati menggigiti sesal. Kenapa harus secepat ini waktu yang kupunya
untuk berduaan dengan Ibu?
Ingin rasanya
aku menyuruh Ibu menghentikan segala macam pekerjaannya tentang fisika. Tentang
waktu. Tentang mesin waktu. Tentang black hole. Tentang anti-materi. Tentang
LHC. Tentang CERN.
Tapi apa daya.
Ibunya sudah sedemikian menggilai profesinya sebagai fisikawan, bahkan sebelum
aku lahir 16 tahun lalu.
Tapi kali ini,
sebelum Ibu menarik kopernya lebih jauh, aku sempat bertanya.
“Kapan Ibu
akan pulang lagi?”
Tak ada
jawaban.
***
Ibu memang
sengaja tak memberi jawaban agar aku makin giat belajar.
Semakin pintar
aku dalam hal fisika, semakin dekat aku menuju Ibu. Suatu hari nanti, aku ingin
bekerja di tempat yang sama dengan Ibu. Atau mungkin menggantikan posisinya. Ah,
sepertinya yang terakhir itu harus kutarik lagi. Aku tak mau bekerja jika harus
berpisah dengan Ibu.
Fisika kuantum
menjadi bidang yang kukagumi. Meski belum diajarkan secara mendalam di SMA,
tetap saja aku melahap permukaannya. Berbekal buku-buku referensi dari teman
yang kudapat di dunia maya, aku belajar fisika kuantum secara otodidak.
Aku juga
mempelajari tentang astro-fisika. Tentang benda hitam yang ternyata tak selalu
berwarna hitam, atau tentang trigonometri planet. Semua itu menyenangkan, meski
kadang membuat isi kepalaku berantakan.
Semakin aku
berusaha keras, semakin cepat aku bisa berlama-lama dengan Ibu. Benar, kan?
***
Tapi semua itu berakhir sudah. Tiba-tiba
Ibu mengirimkan email yang isinya mengatakan kalau ia akan pulang. Ia juga
memutuskan berhenti bekerja di CERN. Aku tak tahu bagaimana penjelasannya, yang
jelas, Ibu akan segera pulang.
Dan benar
saja. Dua minggu setelah pesan itu sampai padaku, Ibu datang.
Hanya berupa
daging tak bercahaya. Pandangannya bagai bintang katai putih yang siap
menghisap segala hal sebelum akhirnya meledak. Pipinya tirus, seolah hendak
sobek saat kusentuh. Senyumnya masih bangkit, tapi kehilangan sesuatu.
Tak banyak
yang kutanyakan saat itu. Meski masih SMA, tapi aku tahu kalau Ibu sedang tak
ingin ditanyai macam-macam. Yang ia inginkan hanyalah kedamaian. Itu tergurat
di kerutan wajahnya yang makin banyak.
Tiga hari
sepulangnya Ibu, yang ia lakukan hanyalah melakukan pekerjaan Ibu Rumah Tangga.
Memasak, mencuci, menyetrika, menonton tv, atau melakukan hal membosankan
lainnya.
Dari bibirnya
yang makin redup tak pernah terucap apa pun tentang fisika. Apalagi dimensi
keempat yang beberapa waktu yang lalu ia banggakan teramat sangat.
Aku masih
belajar fisika. Meski kini tersendat, tak segiat tempo hari sebelum Ibu pulang.
Dan di suatu
malam, usai menulis sesuatu di kamarnya yang sengaja dibuat remang, Ibu keluar.
Cahaya lilin masih bersinar di iris hitamnya. Dia menghampiriku yang sedang
membaca buku fisika kuantum.
“Rin,”
panggilnya.
Kutengok wajahnya.
Agak baikan. Lebih cantik, tapi tak seenerjik dulu. Guratan wajahnya agak
hilang, berganti jadi sesuatu yang lembut.
“Ada apa, Bu?”
Ibu menarik
buku fisika yang hendak kujadikan bantal. Menggantinya dengan buku tebal yang
judulnya dicetak timbul. Dunia Sophie.
Mataku menatap
heran Ibu.
Seolah mendengar
pertanyaan yang belum kuucap, Ibu mengatakan sesuatu. “Time waits for no
one.”
***
Usai malam itu
terlewat, Ibu benar-benar berubah.
Bacaannya adalah
novel-novel sastra atau buku-buku filsafat. Lagu yang mengitari telinganya pun
kebanyakan sesuatu yang tenang. Damai.
Ibu masih
secantik dulu, juga sebaik dulu. Hanya saja ucapannya tak lagi berapi-api
seperti saat ia yakin sekali akan sukses melakukan suatu percobaan, dan
gerakannya jadi lambat. Tidak seperti dulu. Gesit dan efektif.
Wajahnya benar-benar
membuatku bingung. Pembelajaran fisikaku tersendat karena Ibu memaksaku belajar
filsafat. Dia menyuruhku bersenang-senang di siang hari, dan tekun belajar di
malam hari. Bukan lagi Ibu yang disiplin.
Kesal. Hatiku geram.
Jika pada akhirnya semua harus seperti ini, untuk apa semua memori tentang
fisika di otakku? Untuk apa aku mengerti hal yang sulit dimengerti orang lain
jika pada akhirnya hanya akan dibuang?
Hingga suatu
hari, tanpa sadar aku membentaknya. Tepat di kamarnya yang remang.
“Kenapa Ibu
jadi seperti ini? Kenapa Ibu berhenti melakukan pencarian tentang waktu?!”
Ibu tak marah.
Dia tersenyum. Tenang. Justru ketenangannya itu yang membuatku makin kesal. “Ibu
sudah menemukannya.”
“Bohong!”
Remang lilin
di meja baca membuatku agak pusing. Ibu tersenyum. Mistis.
“Ibu sudah
menemukannya, Rin. Dimensi keempat. Waktu. Dan kamu tahu apa isinya? Sesuatu yang
tak ingin kamu lihat. Itu akan menghantuimu tiap malam.”
Jantungku seolah
diperas sesuatu. Sesak. “Kalau sudah menemukannya, kenapa Ibu tak
mempublikasikannya ke dunia agar semua orang tahu?”
“Karena lebih
baik itu tak diketahui. Selamanya jadi misteri.”
Time Waits For No One
Ucapanku
terhenti saat pandangku bersitatap dengan lelaki yang membukakan pintu. Bibir
bunga dedapnya itu benar-benar membawaku pada peristiwa kemarin.
ooOoo
Usai
duduk di kursi kosong taman koleksi, kukeluarkan novel yang baru saja kubeli.
Mengusap judul yang dicetak timbul secara berulang, membuka sembarang halaman,
lalu menyesap bau kertas yang khas.
Ah...,
ritual ini memang menyenangkan tiap kali membeli buku baru.
Perlahan
jemariku membuka prolog. Senyumku mencuat membaca kalimat pembuka yang begitu menjerat
hati.
Baru
saja aku membaca beberapa paragraf, sebuah nyanyian mengganggu.
“Because
tonight will be the night that i will fall for you....”
Huh!
Siapa sih yang bernyanyi?! Aku ‘kan paling tidak bisa membaca kalau ada suara
yang mengiterupsi. Sekali pun itu penyanyi favoritku.
Jadi, kuangkat tatapan buasku, menatap arah suara yang ada di hadapanku.
Jadi, kuangkat tatapan buasku, menatap arah suara yang ada di hadapanku.
Darahku
seolah terhisap pada senyum tipis nan manis itu. Rajukan yang baru saja
kuteriakkan dalam hati pun ikut meleleh bersama kesal, berganti jadi kagum.
Lelaki
itu menerbitkan matanya, menampakkan irisnya yang sewarna kopi. Lembut. Aku
seolah tenggelam dalam lesung pipit di kedua pipinya. Juga, bibir yang sewarna
bunga dedap itu mengecup kenangan di hatiku.
Tak
ada yang bisa kulakukan selain tertegun menatap mug di ujung gitar yang menagih
sesuatu padaku.
“Permisi,”
ucapnya agak sungkan, menghentikan lagunya sejenak.
Perlu
waktu agak lama bagiku untuk menyadari semuanya. Mug yang terpasang di ujung
gitar itu meminta imbalan rupiah atas suara yang dia keluarkan. Dengan cepat
kukeluarkan selembar dua ribuan dari dompet, lantas memasukkannya agak
malu-malu pada mug berwarna hijau terang.
Ternyata
lelaki itu mengembalikannya dengan senyum yang lebih manis. Sayang, senyum itu
hanya bertahan beberapa detik saja, karena pandangannya sudah beralih pada
orang lain yang duduk di kursi melingkar dekat restoran taman.
“Anu...,”
bibirku melenguh, mengeluarkan suara yang teramat kecil.
Setelah
membisikkan itu, tak ada lagi yang bisa kukatakan. Yang bisa kulakukan hanyalah
mengamati punggung kokoh yang tertutup kaus putih itu. Berpindah dari satu
kursi ke kursi lain, dari satu wajah ke wajah lain, meski tak semuanya memberi
rupiah.
Hingga
punggung itu semakin kecil, buram, lalu menghilang. Tak lagi terjangkau mataku.
ooOoo
Seminggu
terlewat sejak aku pindah ke sekolah baruku, SMA Cipta Rasa. Agak sulit mencari
teman bagi orang introvert sepertiku. Jadi, mendapat kawan sebangku saja
sudah cukup. Tapi peraturan sekolah ini agak menyusahkan, yakni mewajibkan
muridnya mengikuti satu klub.
Dari
semua klub yang ada, tentu aku memilih yang paling cepat pulang dan yang tak
terlalu menyusahkan. Jadi, kupilih saja Klub Sastra.
“Wah,
jangan-jangan kamu juga kepincut Kak Venaldi, yah?”
Sejujurnya
aku agak risih mendengar ucapan Linda—temanku satu-satunya—saat dia mengantarku
mengirim formulir ke ruangan klub sastra.
“Kak
Venaldi itu..., siapa?”
“HAH?!”
Linda berteriak tanpa ragu-ragu. Dengan cepat kusumpal mulutnya itu. Setelah
agak tenang, barulah kulepas lagi. “Kamu nggak tau? Dia itu dapat julukan
‘Pangeran’ lho! Dia itu... pokoknya perfect, deh!
Aku
mangut-mangut. Sepertinya memang setiap sekolah itu selalu punya shining
star. Kalau di sekolahku yang sebelumnya, ada Kak Adrian. Pemain voli yang
sangat terkenal.
Usai
mengetuk pintu tiga kali, aku mengucap salam. Pintu ruang klub yang terbuat
dari jati dibuka dari dalam.
“Permisi,
saya mau—”
Ucapanku
terhenti saat pandangku bersitatap dengan lelaki yang membukakan pintu. Bibir
bunga dedapnya itu benar-benar membawaku pada peristiwa kemarin.
Reaksiku
pasti tampak layaknya seorang fans yang bertemu idol. Maksudku,
raut wajahku. Tapi kutahan sedemikian rupa.
Senggolan
yang agak keras menghantam bahu kiriku. Itu Linda. Ah, benar juga. Aku harus
menyerahkan formulir. Kenapa harus pakai acara bengong segala, sih?
“Ah,
itu... saya mau menyerahkan formulir klub sastra.”
Lelaki
itu menerima kertas formulirku. Mengeceknya dengan cepat, lalu menyodorkan
senyum manisnya padaku. Ah! Itu senyum yang kemarin!
“Oke,
kamu bisa ikut kegiatan klub mulai minggu depan. Kegiatannya setiap hari senin
dan kamis. Ada yang perlu ditanyakan?”
“Tidak....”
“Kalau
begitu, sampai jumpa minggu depan, Rin.”
Hembusan
angin saat pintu ruang klub ditutup itu menggetarkan hatiku. Sayang, kawanku
satu-satunya, Linda, malah mengacaukannya dengan suara cengengesan.
“Cie
yang beneran kepincut Kak Venaldi.”
Baru
kusadari kalau wajahku pasti semerah plum sekarang. Ah, jadi malu rasanya!
ooOoo
Begitu
naifnya aku saat mengira kalau hubunganku dengan Kak Venaldi bisa berjalan
lancar, hanya karena aku tahu kalau tiap minggunya dia mengamen di taman
koleksi.
Nyatanya,
di ruang klub, kehadiranku sungguh tak penting. Meski Kak Venaldi sering
tersenyum padaku, tapi hasratku meminta lebih. Diriku berontak.
Haruskah
kugertak Kak Venaldi agar lebih dekat denganku menggunakan ancaman kegiatan
mengamennya yang kuketahui? Ah, tidak. Pasti dia malah membenciku.
Kucoba
beberapa cara yang agak ringan untuk menarik perhatiannya. Berusaha mengikuti
buku-buku yang ia sukai, menulis puisi untuknya, atau hal lain. Tapi, semuanya
gagal.
Dan
kini, tiga bulan setelah aku bergabung dengan klub, rasanya tak ada sesuatu
yang menarik. Layaknya anak babi yang kalah cepat mendapatkan puting susu saat
pertama berebut, aku menyerah mengejar perhatian Kak Venaldi.
ooOoo
Terakhir
kali aku ke taman koleksi itu dua bulan lalu, saat aku masih berusaha mengejar
perhatian Kak Venaldi.
Tak
banyak yang berubah dari taman ini, kecuali pengunjungnya yang kini lebih
banyak. Bahkan aku dapat tempat duduk di sebelah pria perokok yang menyebalkan.
Hanya untuk menonton ‘konser’ Kak Venaldi.
Rupanya
Kak Venaldi masih belum punya penikmat tetap, karena saat ia mulai bernyanyi,
tak terlalu banyak yang memperhatikan. Hingga lagu menyentuh bagian reff,
barulah Kak Venaldi menyodorkan satu mug ke mug lain.
Sengaja
kukenakan kacamata hitam agar Kak Venaldi tak mengenaliku. Begitu Kak Venaldi
datang, Koin seribuanku jatuh nyaman di mug. Kak Venaldi agak
membungkuk, memberikan senyum tipis nan manis yang sering kudapat kalau
menyapanya.
Ah,
senyum itu! Candu aku dibuatnya.
Tapi
kali ini, ada sesuatu yang berbeda.
Senyum
itu seolah hanya milikku seorang. Senyum yang hanya bisa didapat setelah
memberikan uangku padanya. Senyum itu milikku. Seorang.
...
...
Satu
ledakan kembang api seolah meledak di hati, aku kegirangan sampai-sampai
tersenyum sangat lebar.
Kenapa
juga aku harus bersaing, saat aku bisa membeli senyum itu?
Dan
mungkin, untuk itulah kenapa Kak Venaldi—yang setahuku cukup kaya—melakukan
kegiatan yang sering dianggap mengemis ini. Untuk memberikan senyum khususnya
pada orang-orang yang membutuhkan.
Senyum Milik Pribadi
Dunia tak pernah tahu kalau lintasan rel selalu membisikkan rahasia.
Di bawah teriknya guyuran sinar matahari adalah saat terbaik untuk
berjalan di atas rel. Biar sekalian beberapa kenangan ikut menguap. Hei, coba
tilap beberapa helai rambut hitammu. Siapa tahu ada rindu yang terjatuh. Iris
hitammu tak bergetar. Bibir yang merekah bagai kelopak mawar itu tetap saja
segar, seperti kedua pipimu yang mulus. Benar-benar belum berubah.
Sudah berapa lama kita berjalan? Sudah berapa banyak kenangan yang kita
injak? Entahlah. Kita menolak mengetahuinya.
Terus kutendangi kerikil yang berkumpul di sekitar, siapa tahu ada masa
lalu yang mengelupas. Oh, lihat! Kristal berwarna biru yang bersinar itu.
Cantik, bukan? Tapi, kenapa benda secantik itu dibuang?
Tak tahu, katamu?
Ah, dasar. Bukankah kristal itu bagai serpihan kenangan kita? Berkilau.
Indah. Langka. Lalu, kenapa pula harus dihancurkan?
Ya. Kamu benar. Tak perlu alasan untuk itu.
Lihat! Bukankah itu koin kuno? Ah, indahnya... meski berdebu, terinjak,
terlindas, dan terbuang, koin ini tetap berharga kok.
Eh? Sama seperti hubungan kita?
Ah, ya... maaf memaksamu mengingatnya. Sakit, bukan? Aku juga.
Tapi... manusia mana yang mau hatinya sakit?
Apa kamu merasa gerah? Kalau aku, ya. Dijejali perasaan yang begitu
sesak. Kamu juga?
Sudah berapa meter kita lipat kenangan kita? Bukankah kita sudah cukup
jauh berjalan di atas rel—yang kamu sebut lintasan cinta ini? Seratus meter?
Lima ratus meter? Ah, mungkin seribu meter baru saja terinjak. Tapi, masih ada
sesuatu yang hilang.
Bukan cinta, tapi alasan.
Kenapa dulu—bahkan sekarang aku begitu mencintaimu?
***
Trivia :
Flashfic ini aku buat karena lelah tak kunjung menemukan tentang Benteng Aldimir atau festival Lamia yang ada di Bulgaria... Dan penulisannya, aku baru jatuh cinta pada gaya bertuturnya Sayuri di novel Girls in The Dark. (Tentang dua hal yang sedang kucaritahu itu pun dapet dari novel ini)
Meski pun masih jauh di bawah penulisan Akiyoshi-sensei, tapi aku akan terus berlatih!!!
Di Antara Rel
MISANGA
Chiba,
Japan.
Natsu,
2015
Kukira waktunya telah habis.
Nyatanya tak butuh waktu empat tahun untuk menganggapmu mati.
Karena sekarang, kamu sudah kuanggap mati. Atau lebih tepatnya, aku melukai
hatiku sendiri sampai mati.
Misanga di
pergelangan tanganku tanpa sadar terlepas begitu saja, seolah rontok bersama harapanku
yang telah menjadi kenyataan.
Tepat di hadapanku, apa yang kuinginkan tiga tahun lalu terwujud.
Tapi, kenapa rasanya menyakitkan sekali? Seolah semua duri dari mawar yang kamu
genggam itu menancap tepat di uluh hatiku.
Riuh hadirin yang menggema saat dahimu dicium pria itu menjelaskan
padaku tentang semuanya.
Seharusnya dulu kuharap kamu tetap bersamaku, bukan berharap kamu
bahagia.
***
Hari
Kelulusan SMA Hodo, Hiroshima.
2012
Dengan nafas yang terengah-engah, aku berhasil menghentikan
langkahmu tepat saat jemarimu yang lentik hendak mendorong pagar rumahmu.
Sepertinya otakku kekurangan oksigen, hingga apa yang kuharapkan
bisa kulihat. Kamu yang masih mengenakan blazer hitam seolah terkejut melihatku.
Matamu yang secoklat kopi tampak cemerlang menatapku, dan rautmu yang sedingin
salju mendadak lebur.
Nafasku seolah tercekik rambut panjangmu yang sepekat malam.
Bibirku mendadak kelu, meski beberapa saat yang lalu aku terus meneriakkan
nama-mu dalam hati. Aku masih jadi pengecut.
“Ki-Kirishima-san, mau ke taman sebentar? Aku punya sesuatu
untukmu.”
Bibirmu yang biasanya sekaku es batu mendadak mengulas senyum yang
sangat manis. Matamu terpejam senang, dan kepalamu ikut memiring. “Ya, aku juga
punya sesuatu untukmu.”
Setelahnya kita jalan bersampingan sepanjang jalan. Ditemani malam
yang hening, kita berbelok ke sebuah taman yang lenggang, dan duduk di salah
satu kursinya yang panjang. Kuberanikan diriku untuk duduk tepat di sampingmu.
“Jadi, em...” kukeluarkan sebuah misanga berwarna hijau yang hampir jadi.
Matamu mendadak melebar melihat apa yang kubawa. “Maukah kamu menungguku
menyelesaikan misanga ini?”
“Ah, ya, tentu,” kamu menyahut cepat, agak kikuk. Dan dengan
gerakan yang ling-lung, kamu juga mengeluarkan sesuatu dari saku blazer-mu. Itu misanga! “Aku juga harus
menyelesaikan ini.”
Kuteguk kembali ludahku. Gugup. Kenapa kita sama-sama mengeluarkan misanga yang belum selesai? Punyamu warna
merah, tapi sama bagusnya dengan buatanku. Apa mungkin kita punya pikiran yang
sama?
Gawat, aku tak bisa konsentrasi!
Memikirkan kemungkinan jika kita memang punya niat yang sama,
punya pikiran yang sama, apa mungkin kita memang ditakdirkan bersama? Aah!
Kalau itu memang terjadi, rasanya lengkaplah hidupku.
“Fukuda-san, kenapa tanganmu gemetar begitu?”
“Aah, tidak...”
Aah, gawat, jangan-jangan Naomi mengetahui kalau aku sedang gugup.
Bahaya, bahaya... Untung saja misanga kerjaanku hanya tinggal dikencangkan.
Jadi tanganku tak harus melingkarkan benang lagi.
Kukencangkan misanga dengan gigiku, frustrasi saat jemariku
tak lagi kuat mengencangkan misanga karena terlalu gemetar. Fiuh, kulihat
dengan seksama buah tanganku penuh rasa bangga. Saat kulirik ke arahmu, kamu
juga sepertinya sudah selesai.
“Ini untukmu,” ucapku sambil menyerahkan misanga buatanku. “Memang tak bagus. Tapi...
Semoga bisa menjadi pengingat kalau kita pernah berkenalan.”
Dengan lembut jemarimu meraih misanga-ku.
Menatapnya lamat-lamat, lantas tersenyum. “Arigatou, Fukuda-san. Ini
juga sebagai kenang-kenangan dariku,” kamu menyodorkan misanga merah yang kamu buat.
“Benarkah?” tanyaku ragu. Dengan cepat kuraih misanga itu, dan menatapnya penuh bahagia.
“Syukurlah.”
“Eh?”
“Ah,” aku tergagap sendiri. Ah, sial, mulutku langsung berujar
begitu saja karena sangat bahagia. Aah, malunya! “Ma-maksudku, syukurlah,
ternyata kamu menganggapku.”
“Harusnya akulah yang bersyukur, karena kamu masih mau memberiku
kenang-kenangan seperti ini, padahal sikapku sangat dingin di kelas.”
Aku terdiam sejenak. Menatap wajahmu yang tersiram pendaran lampu
taman. Ya, wajahmu kini sangat hangat, berbeda dengan sikapmu di kelas. Ketus,
dingin, tanpa ekspresi. Tapi aku tahu, aku tahu kenapa kamu melakukan semuanya.
“Aku sangat senang saat kamu menegurku di depan rumah tadi. Aku
ingin sekali berterima kasih padamu, yang selalu menemani dan membelaku
di kelas. Kamu selalu menolongku kalau aku lemas, meski pun aku terus mencaci
maki dirimu. Aku sungguh sangat senang.”
Saat itu, kurasakan hatiku bergetar sangat keras. Kamu menangis
sambil tersenyum. Meleburkan segala rasa yang selama ini kupendam. Perasaan itu
kini tumpah bersama air mata dan tangismu yang tertahan.
“Sudahlah, Kirishima-san. Aku tahu, kamu bersikap dingin dan ketus
seperti itu karena kamu tak ingin punya teman dekat. Kamu tak ingin membuat
siapa pun bersedih, karena kamu tahu, leukemia yang kamu derita sejak lahir
seolah menjadi kutukan bagimu.”
Kamu kini menenggelamkan wajahmu yang sebam pada pelukanku. Air
matamu menyeruaki hatiku yang ikut menangis, tapi air matanya terhalang ego
laki-laki.
“Jadi, dengan misanga ini, kuharap kamu bisa hidup bahagia.
Seorang Hibakusha sepertimu juga berhak bahagia.”
***
Setelah peristiwa malam itu, aku tak pernah lagi melihatmu. Aku
semakin tenggelam dalam kerjaanku sebagai seorang mangaka, tapi misanga pemberianmu masih melingkari
pergelangan tangan kananku.
Kukatakan pada misanga yang melingkar di tanganku, kalau
dalam empat tahun aku tidak bertemu denganmu—Naomi Kirishima, aku akan
mengganggapnya telah meninggal di suatu tempat, yang tak pernah kuketahui, dan
juga tak ingin kuketahui.
Ayolah, bukankah empat terdengar mirip dengan “kematian”? Jadi,
janjiku masuk akal, bukan?
Sesekali aku sering bertanya dalam hati, kenapa aku percaya mitos
bodoh seperti misanga.
Katanya, misanga merupakan simbol keberuntungan dan
harapan. Jika misanga terlepas sendiri, maka harapan kita
menjadi kenyataan.
Sebagai tambahan, beberapa malam yang lalu aku pun mengatakannya.
Kalau sampai misanga ini terlepas sendiri, maka kuanggap dirimu telah hidup
bahagia.
Haaaa....
Bodoh.
Bahkan kini aku tak tahu bagaimana nasibmu. Aku sedikit menyesal,
kenapa dulu aku tak menanyakan alamat email-mu?
Atau mungkin alamat rumahmu, agar kita bisa berkomunikasi lewat surat.
Kalau dipikir-pikir, sejak kapan aku mulai menyukaimu? Sejak
pertama kali bertemu? Tidak. Aku yakin, saat itu perasaan jengkel yang kudapat.
Jangan salahkan aku, tentu saja semua orang yang tak mengenalmu pasti merasakan
hal yang sama.
Kamu—sejak gadis rapuh pengidap leukemia,
malah memarahi seseorang yang mencoba menolongmu. Bukan hanya sekali, tapi
berkali-kali. Bahkan aku berani bertaruh, semua orang pasti pernah kamu marahi.
Kuakui, awalnya aku tak suka padamu. Kamu adalah orang yang tak
tahu terima kasih, pikirku saat itu. Tapi, saat alasan kenapa kamu melakukannya
sampai di telingaku... aku berubah. Dan aku yakin...
Saat itulah aku mulai jatuh hati padamu.
"Naomi Kirishima melakukan itu karena dia tak mau punya
seorang teman. Dia tak mau membuat orang lain sedih. Dia sudah tahu, leukemia yang ia derita
bisa kapan saja membuat keadaannya kritis. Kamu paham maksudku, bukan?"
Aku ingat itulah yang ibumu ucapkan.
Jadi, jangan heran kalau aku akan selalu menolongmu. Kapan pun.
Tak peduli seberapa keras kamu memarahiku... tak peduli sejauh apa orang-orang
menyingkir dariku... aku akan selalu menemanimu.
Kesendirian menghampiriku. Kuat. Tapi, kesendirian yang kamu
rasakan sebelum kita bertemu pasti lebih sakit, bukan?
Haah, aku ingin tahu bagaimana kabarmu. Volume demi volume manga gambaranku terbit, dan tiga tahun pun
telah kubalik dengan begitu cepat. Tapi aku masih menantimu layaknya orang
bodoh.
Lalu, di suatu hari di musim panas, secarik surat yang masuk ke
mejaku bersama surat fans yang lain. Tapi rasanya surat itu
berbeda. Begitu kubuka, ternyata itu surat darimu. Kamu bilang, kamu selalu
membaca manga buatanku, dan kini kamu mengundangku
ke rumahmu. Lengkap dengan alamatnya.
Kamu bilang kamu akan memberikan sebuah kejutan.
Hatiku mengembang begitu cepat. Dan pada hari yang dijanjikan, aku
pergi ke alamat yang kamu berikan di surat itu.
***
Riuh hadirin yang memenuhi taman berdekorasi pesta pernikahan itu
mulai mereda, namun kedua lututku masih saja gemetar. Dari atas panggung, kamu
nampak anggun dengan balutan baju pengantin berwarnakan putih.
Sebuah misanga hijau masih melingkari pergelangan
tangan kirimu. Aku tersenyum melihatnya. Setidaknya, kamu masih mengingatku.
Dengan langkah yang gemetar, langkahku semakin mendekati panggung.
Di saat aku semakin dekat, kamu yang menyadari kehadiranku
langsung tersenyum padaku. Aku pun balas tersenyum padamu, juga pada pria di
sebelahmu. Namun saat kamu hendak mendekatiku, langkahmu terhenti karena misanga di tangan kirimu terlepas begitu saja.
Hatiku seolah mencelus sambil menatapnya nanar. Sebenarnya,
harapan macam apa yang kamu buat saat menyerahkan misanga itu padaku?
Misanga
“Keberuntungan itu tak ada.”
“Ada!”
“Hmmph! Kalau pun ada—” Adrian melempar bola volinya ke
atas. “—Keberuntungan itu akan kupukul—” Adrian melompat, lalu bunyi telapak
tangannya yang menampar bola begitu menggema di seluruh ruang olahraga yang
kosong. “—Seperti bola itu.”
Kuambil bola yang berada di sebelah lapangan. Mengangkatnya
ke hadapan wajahku, lalu pandanganku menelusuri seluruh permukaan bola.
Apa sih istimewanya bola ini?
***
Langit sudah jingga saat aku dan Adrian pulang bersama.
Ditemani dua gelas es cendol yang tadi kubeli, kami berbincang-bincang mengenai
apa pun.
Yang kumaksud ‘apa pun’ itu hanya apa yang kubicarakan,
karena Adrian sejak tadi terus mengoceh tentang voli. Smash, kepercayaan teman, pertandingan final, dan yang paling
membuatku geram itu saat Adrian berbicara tentang bola voli.
Huh! Apa menurutnya aku peduli dengan bola-voli-persetan
itu?
Aku tak menyukai olahraga, terutama voli. Selain karena
tubuhku lemah, voli juga banyak merenggut waktu Adrian yang sudah super-sedikit
untuk mengobrol denganku.
Lihat saja jadwalnya yang mengerikan! Sampai-sampai dia
hanya punya waktu luang untuk mengobrol denganku pada hari sabtu. Itu pun
sesudah ia latihan voli. Arrgh! Karena voli jugalah, sampai saat ini Adrian
belum menyadari perasaanku padanya.
Aku menyukainya sejak pertama bertemu di kelas 8 dulu. Dan
hingga kini, mendekati akhir semester kelas 11, aku masih menyukainya. Aku terus memberikan kode-kode perasaanku
padanya, tapi…
Dia tidak
menyadarinya.
Oke, mungkin aku terlalu naif. Menginginkan seorang pelajar
sibuk seperti Adrian yang—kurasa—tak pernah membicarakan cinta dengan siapa pun, untuk mengerti kode yang
kuberikan. Tapi, salahkah aku berharap?
Maksudku, ayolah! Kami hampir empat tahun bersama, dan
masih terjebak dalam lingkaran bernama sahabat. Dan ini semua karena ia terlalu
sibuk latihan voli.
“Cynthia, kamu dengar apa yang kukatakan?” Adrian
sepertinya menyadari kalau aku terus membeo dalam hati. Telunjuknya menusuk
pipiku yang menggembung, membuatku mendelik padanya.
“Aku dengar.”
Alis Adrian bertautan. “Benarkah?”
“Benar,” tukasku cepat. Kurasakan hembusan angin meniupi
kulitku, dengan suara desahan yang nyaris tak terdengar. Kepalaku mendongkak,
menatap segaris hitam yang mulai tampak di langit senja. Sebentar lagi malam,
dan di ujung jalan, rumahku sudah terlihat.
Adrian masih melempar-lempar bolanya pelan sambil bersiul
di sampingku. Bau keringatnya bercampur parfum menyerang hidungku tanpa ampun.
“Sampai besok, Cynthia,” Adrian berbelok ke kanan tanpa
menoleh padaku.
“Adrian!” panggilku setelah menutup gerbang. Lelaki itu
menoleh, bola matanya yang coklat cemerlang menatapku dalam-dalam. “Apa kamu
tahu kalau ada seseorang yang menyukaimu sejak SMP dulu?”
“Hah? Memangnya ada?” Adrian berhenti memainkan bolanya.
Langkahnya mendekati pagarku.
Seringaiku mengembang. Dengan iseng, sengaja aku menjauh
dari pagar. Begitu membuka pintu, kubalikkan tubuhku sejenak. “Ada. Bahkan
sampai sekarang, dia masih menyukaimu, lho!”
“Siapa? Beritahu aku dong,” pintanya dengan nada seperti anak kecil.
Orang itu aku, bodoh! “Kata gadis itu, kalau kamu mau tahu siapa dia, berhentilah bermain
voli.”
***
Pagi-pagi sekali, Adrian sudah tampak menunggu di depan
pagar rumahku. Aku tersenyum dibuatnya. Namun saat kulihat bola voli di telapak
tangannya, senyumku luntur. Padahal ini hari minggu, pasti ia mau latihan.
Tapi, tumben sekali dia menungguku.
Kusibakkan gorden, lalu dengan cepat keluar rumah dengan celana training dan
sweater abu-abu favoritku. Kulihat Adrian tersenyum padaku. Apa ia mengajakku
jogging bersama?
“Kamu mau olahraga pagi?” sapanya sambil membukakan gerbang
rumahku.
“Begitulah,” sahutku penuh harap.
Adrian melempar bolanya cukup tinggi, lalu menangkapnya
dengan cekatan. “Orang yang menyukaiku itu... Bisakah kamu beritahu aku siapa
dia?”
Rautku berubah kecewa. Harapanku untuk jogging bersamanya luluh. Dengan kesal, aku berkata, “Sudah
kubilang, bukan? Kalau ingin tahu siapa orangnya, berhentilah bermain voli.”
***
Hari ini hari sabtu, dan Adrian terlihat masih normal
seperti biasa. Kecuali dia tak lagi bicara padaku sejak hari minggu lalu.
Sepertinya dia marah karena aku merahasiakan sesuatu darinya.
Oke, sepertinya aku salah langkah. Pada awalnya, kuharap
dengan mengatakan seperti itu, Adrian akan penasaran. Mendekatiku, dan
benar-benar berhenti bermain voli. Aku tahu dia anak yang paling tidak tahan
dengan rahasia, namun aku tak tahu kalau dia anak yang gampang marah karena
rahasia.
Itu salahku.
Tapi saat aku bersiap-siap mengemasi barang-barang untuk
pulang, Adrian tiba-tiba saja menghampiriku dengan raut serius. Dia menyodorkan
secarik tiket padaku.
“Datanglah besok. Aku akan bermain di final pertandingan
antar sekolah. Kalau aku menang, beritahu aku siapa orang yang menyukaiku.
Kalau aku kalah, aku akan berhenti bermain voli. Bagaimana?”
Bagai diguyur madu termanis, hatiku merekah luar biasa
cepat. Meski pun aku sangat sangat enggan melihat pertandingan voli yang kubenci, tapi ini
kesempatanku 1 berbanding 1000. Harus kuambil.
“Baiklah.”
***
Esoknya aku benar-benar datang ke gor, tempat dimana pertandingan final digelar. Anehnya, tribun tempatku duduk hanya terisi beberapa orang, sementara
tribun yang lainnya benar-benar penuh penonton yang tampak ramai. Setengah
kuhempaskan tubuhku ke kursi, mengenyahkan rasa enggan.
Aku pasti memenangkan taruhan ini.
Tak lama kemudian peluit berbunyi. Para pemain voli tampak
memasuki lapangan sambil berbaris, membungkuk
memberi hormat, lalu berpencar ke berbagai tempat. Pemain inti berdiri di
lapangan, sisanya di bangku cadangan.
Adrian berada di depan net sebelah kanan. Dia tampak keren
dengan balutan kaos biru.
Priiit!
Peluit berbunyi. Dan dimulailah bunyi-bunyi tamparan yang
tak kusukai.
***
Entah sejak set berapa aku mulai berhenti menutup
telingaku. Dan entah sejak skor berapa, aku mulai menyukai bunyi telapak tangan
yang menampar permukaan bola voli yang terus berpindah sisi.
Yang jelas, ini adalah babak ke – 3, dengan skor 23 – 21 untuk kemenangan sekolahku.
Adrian tampak luar biasa tegang. Begitu pun dengan seisi gor yang hening,
membiarkan bunyi tamparan servis menggema.
Bola berayun ke sisi tim musuh. Dengan beberapa kali
sentuhan, pemain musuh meluncurkan smash
keras yang tak bisa dihadang timku. 23 – 22. Adrian mendesah kecewa, sementara
gor riuh sorak bahagia.
Ketegangan kembai merebak. Musuh melakukan servis cukup
keras, tapi berhasil dibalikkan. Seseorang yang menjadi pengumpan mengangkat
bola ke arah Adrian, dan...
BAM!
Bola hasil smash
Adrian menukik tajam tanpa bisa dibalikkan. 24 – 22.
“Yeeeey!” aku berteriak kegirangan seorang diri, membuat seisi
gor memandangiku heran. Peduli setan dengan tatapan itu!
Adrian tampak menoleh padaku sambil menyikutkan senyumnya.
Ah! Wajahnya seolah bersinar karena peluh. Lama aku memandanginya, hingga bunyi
peluit mengagetkanku. Game kembali
dimulai.
Servis melayang mulus melewati net. Beberapa kali sentuhan, tapi tak ada smash. Bola berayun lagi ke tim Adrian.
Seseorang dengan kaos yang berbeda sendiri tampak menerima bola, lalu si
pengumpan kembali memberikan bola pada Adrian.
Saat itulah, seolah dunia mengalami slow motion, dengan jelas kulihat raut penuh harap saat Adrian
melompat begitu tinggi. Nafasku seolah ikut meloncat. Saat telapak tangan
Adrian beradu dengan permukaan bola, kututup mataku erat-erat.
Keberuntungan itu tak
ada. Kalau pun ada, keberuntungan itu akan kupukul seperti bola itu.
BAM!
Gor terhenyak. Hatiku serasa bergetar sedemikian hebat,
saat teriakan bahagia Adrian memecahkan hening. Kubuka mataku, ternyata Adrian
menang!
“Yaaay Adrian menang!” aku berteriak bahagia, mataku serasa
hangat karena terharu. Ah, tak pernah kubayangkan menonton voli se-menyenangkan
ini. Dengan senyum yang masih bertengger, kuseka mataku.
“Cynthia!” panggil Adrian.
Suasana mendadak kembali hening. Kurasakan darahku mendesir
saat Adrian menatapku serius.
“Katakan padaku, siapa yang menyukaiku itu.”
Volley Love
Berawal dari membaca buku Nihon Kara O Miyage karya Supriyanto yang saya pinjam dari perpustakaan, saya mendapatkan sebuah cerita yang sungguh membuat saya terenyuh, begitulah kata pak Supriyanto.
Ada baiknya kita mengetahui dulu siapa itu Hikubasha, yang saya sebut sebagai "Pembisik Perdamaian Yang Tak Pernah Bungkam." Secara bahasa Jepang, Hibakusha artinya 'orang yang terkena dampak ledakan.' Sedangkan ledakan yang dimaksud yaitu ledakan bom atom yang begitu dahsyat pada tahun 1945. Pasti tahu, bukan?
Menurut informasi yang saya dapat dari beberapa situs, Hingga saat ini para Hibakusha masih saja mendapatkan diskriminasi karena luka atau penyakit yang mereka derita. Sungguh menyedihkan.
Penyakit yang mereka derita pun bukan penyakit yang bisa disembuhkan dengan cepat, karena mereka menderita penyakit yang cukup parah dan membutuhkan biaya yang sangat besar untuk mengobatinya, contohnya Leukemia. Tak perlu ditanya lagi, betapa mengerikannya penyakit itu. Apalagi biaya untuk menanganinya. Luar biasa mahal. Untuk itulah, pemerintah Jepang memberikan asuransi kesehatan bagi mereka. Alhamdulillah.
Hibakusha ini dibagi menjadi dua kelompok:
- Pertama yaitu orang-orang yang berada di sekitar satu mil dari pusat ledakan bom.
- Kategori kedua yaitu orang-orang yang berada pada jarak satu dan satu seperempat mil dari pusat ledkan bom (Hiposentrum)
Orang-orang yang terkena dampak radiasi secara tidak langsung juga dianggap Hibakusha, misalkan anak-anak yang masih dalam kandungan dan terkena radiasi.
Saya sangat tersentuh membaca kisah tuturan Chiyoko Watanabe, seorang ketua Himpunan Perawat Daerah Hiroshima sejak 1987 (Buku yang saya kutip itu ditulis berdasarkan pengalaman tahun 2003). Saat peristiwa pengeboman itu, Chiyoko masih berusia 23 Tahun dan menjadi salah seorang perawat di sebuah rumah sakit yang berjarak 1,5km dari hiposentrum. Berikut saya kutip ceritanya yang ada dalam buku.
kilat dan topan bagaikan topan mencapai ruang kami melalui gang dan menghancurkan segala-galanya yang ada di depannya. Saya terhempas ke bawah meja. Bernafas menjadi sukar karena debu beterbangan. Tidak dapat saya buka mata saya. Sesudah beberapa menit saya baru sadar kembali. Dahi saya luka oleh pecahan kaca dan darah menghalangi penglihatan saya, sehingga dengan susah-payah saya bisa keluar. Waktu saya turun ke bawah, saya terperanjat oleh apa yang saya lihat. Staf dan pasien mondar-mandir dalam kebingungan. Seorang siswa SMP, laki-laki, yang kulitnya terbakar sampai hitam, mukanya mengembung, bibir membengkak, kemeja terbakar dan tanpa sepatu, lari ke arah saya dan berkata : "Tolong, tolonglah saya."
Lalu saya skip beberapa bagian yang menjelaskan kalau masih ada orang yang terjebak di rumah yang terbakar. Setelah hari itu, mereka membuat bangsal sementara dan tak mendapatkan makan. Lalu saya kutip lagi.
Luka bakar; yang dibiarkan hampir tidak diobati selama sehari, sangat mengerikan untuk dilihat. Kami membuat larutan asam borat banyak-banyak untuk mendesinfeksinya, dan membuat pembalut untuk menutup luka-luka itu, karena tak dapat kami jahit.Waktu mengganti pembalut, saya sendiri hampir pingsan, karena nyeri dan kehilangan darah.
Kami terkejut melihat kenyataan yang tak terperi di rumah sakit. Belatung menetas dalam otot-otot yang terbakar. Yang dapat kami lakukan hanya mendesinfeksi dan mencuci luka-luka itu. Di daerah yang terbakar lepuh muncul dan terkupas. Larva berbagai ukuran dikeluarkan. Bau yang sangat busuk menyerang hidung saya.1Saya kira dua kutipan di atas cukup untuk mengingatkan betapa ngerinya dampak bom atom. Saya tekankan. Itu bom atom pada tahun 1945. Lalu, bagaimana dengan daya rusak bom atom sekarang ini, yang sudah terbantu dengan mewahnya teknologi? Sungguh tak terbayang, dan saya pun tak mau membayangkan dampaknya yang pasti sangat dahsyat.
Lalu apa hubungannya Hibakusha dengan pembisik perdamaian?
Ternyata setiap tahun ada peringatan hari perdamaian yang diselenggarakan di Hiroshima. Nah, cobalah tanya para Hibakusha yang masih ada tentang betapa nyerinya dampak bom atom yang berakar dari perang.
Maka dari itu, tak berlebihan bukan, jika saya mengatakan Hibakusha ini para pembisik perdamaian yang tak pernah bungkam?
Referensi:
1 Supriyanto, 2006, Nihon Kara O Miyage, Bandung,
Sinergi Pustaka Indonesia, halaman 133-135
